
Yuri mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali. Seakan ia masih belum percaya, seseorang yang sudah lama tidak ia lihat. Kini, berada di depannya.
Pria itu masih mengulurkan tangannya ke arah Yuri. Dengan melemparkan senyuman lebarnya ke arah Yuri. Ia sabar menunggu respon dari Yuri. Ya, seperti biasanya. Kalau sudah kaget karena bertemu orang yang sangat ia kenal. Yuri selalu selow respon.
"Tanganku sudah pegal, dan ternyata kamu tidak pernah berubah ya. Masih pendek." Ucap pria itu menggoda Yuri.
Yuri pun terkejut dengan perkataan yang dilontarkan kepadanya. Secepat kilat, ia meraih tangan pria dihadapannya itu.
"Hai, a..aku masih tidak percaya kamu kembali begitu cepat." Sahut Yuri dengan gelagapan. Pria itu mengerutkan dahinya.
"Apa kamu tidak menyukai kehadiranku?" tanya pria itu dengan tatapan datar.
Yuri yang mengenal betul pria itu pun mengetahui. Bahwa tatapan mata datarnya mengartikan sesuatu, orang itu marah.
Namun, Yuri tidak kalah marahnya kepada pria itu. "Kamu tahu, aku selalu menunggu kabar darimu. Dasar jadi cowo kok brengsek sih." Ucap Yuri dengan nada menjengkelkan.
Nama pria itu adalah Ciko. Ia merupakan sahabat dari Yuri, sejak SMK. Walaupun Jurusan mereka tidak sama. Namun, mereka memilih ekstra kurikuler yang sama yaitu Tenis.
Semenjak lulus SMK, Ciko memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di luar negeri. Sebenarnya, itu bukan kemauannya. Ayahnya lah yang mendesak Ciko untuk melanjutkan pendidikannya di luar negeri. Ya, mau tidak mau, ia harus menuruti semua kemauan ayahnya. Terlebih lagi, ia sangat menyayangi sang ayah. Ia juga disuruh untuk mengambil mata kuliah di bidang bisnis.
Ciko hanya bisa tertawa melihat Yuri yang begitu kesal kepadanya. Yuri pun mengernyit.
"Itu sama sekali tidak lucu Ko."
"Oke!! im so..sorry, aku punya alasan untuk itu." Ucap Ciko sambil mengelus kepala Yuri dengan lembut, ia merangkul pundak Yuri lalu mengacak-acak rambut Yuri.
Kedua orang yang ada di hadapannya hanya menonton mereka dengan senang hati.
"Kalian mau masuk sekarang atau masih ingin tetap disini?" tanya Candra dengan memeluk pinggang kekasihnya.
Akhirnya Yuri dan Ciko pun menghentikan gurauan mereka. Mereka berdua kemudian berlalu meninggalkan air mancur dan masuk ke dalam untuk bermain.
*****
Sebuah mobil terparkir rapi dekat dengan air mancur taman bermain. Namun, pemiliknya dari tadi tidak keluar juga. Sepertinya orang didalam mobil memang tidak berniat untuk keluar. Dibukanya kaca jendela mobil hitam itu, lalu seorang pria yang memegang stir mobil menoleh ke arah air mancur.
"Apa yang harus saya lakukan tuan?" tanya pria itu dengan seorang pria yang di duduk di belakangnya.
Ternyata Alex dan Jordan mengikuti Yuri dari tadi. Cinta itu memang gila. Ia bahkan dengan sabarnya memantau Yuri dari kejauhan seperti mengintai buronan. Alex hanya ingin mengetahui, Yuri membuat janji dengan siapa malam-malam begini.
Alex sudah menyatakan perasaannya bahkan dia sudah mendapatkan ciuman pertama dari Yuri. Tapi, kenapa Yuri tidak menanggapinya sama sekali? Ia bingung dan kesal. Sebenarnya gadis yang di cintainya saat ini, sebenarnya gadis seperti apa?
__ADS_1
Walaupun ia sudah mencari informasi sedetail-detailnya, namun dia merasa informasi itu masih kurang. Masih banyak rahasia Yuri yang tidak ia ketahui. Bahkan, bodyguardnya pun masih belum mengerti jalan pikir dari seorang gadis bernama Yuri.
"Awasi saja, jangan bertindak apa-apa." Ucap Alex.
Mereka pun hanya diam di dalam mobil. Namun, Jordan menyuruh beberapa anak buahnya untuk mengikuti Yuri.
****
(Di taman bermain)
Yuri, Ciko, Candra dan kekasih Candra sepakat untuk memilih permainan roller coster. Setelah itu mereka memutuskan untuk membeli beberapa makanan untuk mengisi perut mereka yang masih kosong.
Yuri nampak canggung, selama berada di taman bermain ia enggan untuk berbicara. Ia hanya mengguk dan tersenyum tipis, menyetujui apapun keputusan mereka bertiga.
"Candra kita main itu yuk." Ucap Kekasih Candra menunjuk permainan bianglala.
Karena makanan Yuri belum habis, Yuri pun memutuskan untuk tidak ikut.
"Kamu yakin tidak ikut Yuri?" tanya Candra meyakinkan Yuri.
"Iya kak, aku duduk di bangku itu saja." Sahut Yuri dengan menunjuk kursi besi panjang dekat dengan ia berdiri.
"Aku? Tentu saja aku .... Ikut Yuri." Jawab Ciko dengan tertawa sambil menjambak ujung rambut Yuri dengan pelan.
Membuat Yuri hanya mengerucutkan bibirnya cemberu, dan sepasang kekasih itu hanya bisa tertawa melihat tingkah mereka berdua.
"Oke!! Jagain adik gue ya bro." Ucap Candra dengan menepuk pundak Ciko beberapa kali.
Ciko hanya mengangguk dan mengulurkan ibu jariny ke wajah Candra.
"Hhhmm ...Kamu tidak menyukai tempat ini?" tanya Candra sambil berjalan menuju tempat duduk.
Yuri pun menatap Ciko dengan tatapan sayu. Lalu, dengan cepat ia menundukkan kepala sambil mengikuti langkah Ciko.
"Tidak. Hanya saja, aku canggung dengan kalian." Ucap Yuri.
Ekspresi wajah Yuri tidak terlihat karena menunduk membuat wajahnya tertutup rambutnya yang digerai. Ciko pun menyuruh Yuri duduk tepat disampingnya. Tanpa basa-basi Yuri pun menuruti kemauan Ciko.
"Kamu marah?" tanya Ciko dengan menatap Yuri dengan lekat.
Yuri membelalak. Ia terkejut akan pertanyaan dari Candra, membuat ia menegapkan kepalanya lalu menoleh ke arah Ciko. Mata mereka pun bertemu, mereka saling pandang beberapa menit tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
__ADS_1
"Aku ...Aku tidak marah, hanya aku kesal denganmu. Kau pria pemberi harapan palsu." Ucap Yuri dalam hati.
"Aku tidak marah, kan sudah aku bilang aku hanya canggung saja." Yuri berbohong.
"Hhhmm ....Okay. Bye the way bagaimana kabar kamu?" tanya Ciko
"Aku baik. Terus kenapa kamu tidak pernah menghubungiku walau sekali saja? Jahat sekali." Yuri memasang muka masamnya.
"Ah jadi itu. Aku tidak berani menghubungimu. Karena kalau aku menghubungimu aku teringat sama negara kelahiranku, dan aku akan semakin merindukanmu. Apa kamu tahu? Aku juga takut. Takut setelah selesai menempuh pendidikanku, aku tidak bisa kembali ke tanah air. Jadi, maaf kalau aku tidak bisa menepati janjiku." Ucap Ciko sambil memainkan kuku jarinya.
"Ciko. Lihat aku." Yuri memegang wajah Ciko yang menunduk untuk ditegapkan dan memaksanya untuk menatap Yuri.
"Apa?" tanya Ciko.
"Kenapa kamu takut? Dengar sahabatku. Seorang Ciko tidak pernah takut pada apapun. Dan siapa orang yang dihadapanku ini? Apa kamu memang Ciko yang aku kenal? Ciko yang aku kenal tidak seperti ini. Dia selalu bisa menyelesaikan masalahnya, dan aku tidak marah karena kamu ingkar janji. Setidaknya sekarang aku tahu, kenapa kamu tidak menghubungiku." Ucap Yuri sambil terus memegangi wajah Ciko dengan memancarkan senyum ketulusannya berbicara.
Kini, Ciko pun ikut memegangi wajah Yuri. Dan senyum jahilnya pun muncul menghiasi wajahnya yang mulus itu.
"Kamu memang gadis yang selalu bisa bikin semangatku bangkit lagi. Dan, apa aku sudah bisa menjadi pacarmu sekarang?" tanya Ciko.
"Entahlah, mungkin belum saatnya. Aku masih memikirkan pria itu. Aku tidak bisa melupakannya Ciko, bahkan pada saat aku tidur sekali pun." Ucap Yuri sembari menurunkan tangannya dari wajah Ciko.
"Jadi, kamu belum bisa menerima kenyataan ya? Aku pun tidak bisa memaksamu, itu pilihan sahabatku." Ucap Ciko tenang dengan masih memegangi wajah Yuri.
Yuri kembali tersenyum. Ia masih menatap mata bulat Ciko yang berbinar-binar.
"Aku mau memberi tahu sesuatu. I..Ibu sudah tidak ada." Yuri mulai tidak bisa mengontrol emosinya. Matanya sudah berkaca-kaca menahan air matanya.
Ciko membelalak, ia tercengang mendengar pernyataan dari Yuri. dengan cepat ia memeluk Yuri dengan sangat erat.
"Maaf. Maafkan aku, aku sahabat yang tidak berguna. Aku pantas dibenci olehmu, disaat kamu memerlukaku disampingmu aku tidak ada. Maafkan aku Yuri." Ciko pun mengeratkan pelukannya kembali karena merasa bersalah.
Yuri menangis, ia tidak bisa berkata-kata apa lagi. Ia menangis tersedu-sedu. Antara sedih dan gembira. Sedih karena teringat oleh sang ibu yang telah meninggalkannya, dan gembira karena sahabat terbaiknya kini telah kembali.
*****
(Disisi lain)
"Jadi, Ciko menyukai Yuri? Dan siapa pria yang berhasil mengambil hati Yuti itu?" Alex menarik nafas panjang lalu dihembuskannya dengan kasar.
Jordan yang ada didepannya, tidak berani berbicara. Semua yang ia dengar, dari ponsel miliknya yang langsung terhubung ke pembicaraan Yuri. Membuat ia kebingungan, apakah ia harus menyingkirkan Ciko dari nona Yurinya atau ia harus membiarkannya tetap berada disamping Yuri untuk mendampingi Yuri dikala sedih. Ini sangat membingungkan baginya. Hingga ia hanya bisa bersandar di kuris tempat duduknya, memejamkan mata lalu menarik nafas pelan. Untuk menenangkan pikirannya.
__ADS_1