Sekretaris Sang CEO

Sekretaris Sang CEO
makan siang


__ADS_3

(Di ruang kerja Alex)


Tatapan kosong Alex membuat Yuri yang melihatnya merasa takut, terlebih lagi ia telah memanggil Alex beberapa kali namun tidak ada jawaban darinya. Akhirnya Yuri memberanikan diri untuk menggoyangkan pundak Alex dengan kuat, akhirnya Alex pun tersadar dari lamunannya.


"Hei kamu kenapa sih?" tanya Alex kepada Yuri.


"Yang harusnya bilang kenapa itu aku." Yuri menatap sinis Alex.


"Kamu kenapa? Sudah beberapa kali aku memanggilmu. Tapi, kamu malah asik melamun." Ucap Yuri dengan tatapan sinisnya.


"Hh itu, aku tidak kenapa-kenapa. Lagian, mana ada melamun itu asik, yang ada nambah pusing." Alex meledek Yuri dengan senyuman sinis.


"Ya terserah kamu saja. Kapan sih aku menang pada saat berdebat denganmu." Yuri kembali ke meja kerjanya, dengan mukan masamnya.


"Alex kenapa sih? Apa yang sedang ia pikirkan?" Batin Yuri, dengan penuh tanda tanya.


"Hah sial. Kenapa aku teringat masa lalu? Hah, sangat menyenangkan melihat ia tersenyum dengan cerianya. Tidak seperti sekarang." Alex diam-diam melirik Yuri yang sedang bekerja.


Pada jam makan siang!!


"Hai Yuri, aku boleh duduk disini?" tanya Kiran, masih berdiri dengan membawa nampan berisi makanan miliknya.


"Tidak, cari tempat lain sana." Jawab Yuri sambil memakan roti yang dipegangnya, tanpa melihat Kiran walau hanya sekilas.


"Kurang ajar kau Yuri. Dasar, percuma cantik sifat dingin kyak es batu!!" Gerutu Kiran dalam hati.


"Hhm baiklah, terserah kau saja." Kiran langsung pindah ke tempat lain, bergabung bersama teman-teman kerjanya.


Beberapa saat kemudian, Alex menghampiri Yuri. "Hai boleh aku duduk disini?" tanya Alex yang langsung duduk dihadapan Yuri.


"Tidak, cari tempat duduk lain sana." Jawab Yuri mengusir Alex dari tempat duduknya, sama yang ia lakukan kepada kakaknya.


"Baiklah." Namun, Alex tetap duduk tepat di depan Yuri, tanpa memperdulikan omongan dari gadis itu.


"Hai, kan sudah aku bilang jangan duduk disini." Yuri langsung berbisik dihadapan Alex karena geram melihat Alex yang tidak mendengarkan perkataannya.


"Disini, aku bosmu. Jadi, jangan pernah menyuruhku. Mengerti!!" Alex balik berbisik kepada Yuri.


Yuri berencana untuk pindah dari tempat duduknya. Namun, baru ia ingin berdiri tangannya ditahan oleh Alex. Menandakan ia tidak boleh pindah dari tempat duduknya. Yuri yang ditahan oleh Alex pun hanya bisa pasrah mengikuti kemauan Alex.


"Bagaimana dokumennya? Sudah kamu selesaikan?" tanya Alex sembari menatap layar ponsel miliknya.


"Sudah hampir selesai tuan. Tinggal menyelesaikan dokumen yang terakhir." Jawab Yuri dengan melahap kembali roti digenggaman tangannya.


"Bagus. Segera selesaikan. Karena setelah itu, kamu harus membuat projek untuk presentasi besok untuk klien kita yang akan datang ke perusahaan ini." sahut Alex


"Apa? ada tugas lagi? Hah, sudahlah namanya juga kerja apapun demi uang, Yuri fighting." Yuri memberi semangat kepada dirinya sendiri

__ADS_1


"Lihat itu Yuri si sekretaris tuan muda yang baru kan?" salah satu karyawan melirik Yuri sambil berbisik kepada rakan kerjanya.


"Oh iya, tidak biasanya tuan muda makan disini." Karyawan lain menyambungkan pembicaraan


Mendengar adiknya jadi bahan pembicaraan kakaknya Yuri geram dan menyuruh mereka berhenti bicara dan menyuruh rekan kerjanya melanjutkan memakan makanan mereka.


"Kamu hanya makan roti saja?"


"Itu bukan urusanmu."


"Aku bosmu jadi aku berhak tau."


Yuri menghentikan aktivitas makannya dan menghela nafas panjang


"Aku lebih suka makan roti saja dan karna aku tidak lapar juga." lebih tepatnya ia sedang menghemat uangnya.


"Ooh aku kira kamu sedang menghemat uangmu." Sahut Alex lagi.


"Ia aku sedang menghemat uang, Mau apa kau!" Batin Yuri.


Tidak lama kemudian pelayan membawakan beberapa makanan ke arah meja Yuri dan Alex, membuat Yuri kaget dan terlihat tergiur akan makanan yang sedang dihidangkan di mejanya.


"Makanlah semua makanan ini." Alex menyodorkan piring kepada Yuri sambil tersenyum.


"Apa? Aku tidak mau. Sudah aku bilang aku makan roti saja." Yuri menjawab dengan ketus.


Kalau boleh jujur, Yuri gengsi untuk menerima langsung semua makanan ini.


"Baiklah. Karena kamu memaksa, aku akan memakan makanan yang kamu pesan. Tapi kamu ikut makan juga kan?"


"Hhhm baiklah aku ikut makan juga." dengan senyum hangatnya Alex menjawab.


Sebenarnya apasih yang Alex tidak tahu mengenai Yuri, tentu saja karena Yuri merupakan cinta pertamanya dan akan seterusnya seperti itu. Ia mati-matian mencari tahu mengenai Yuri secara detail lebih tepatnya bodyguardnya yang mencarikan semua informasi mengenai Yuri. Tidak heran, ia mengetahui bahwa Yuri sedang menghemat uangnya Yuri boleh membohongi orang lain, namun tidak dengan Alex. Karena ia orang ternama di kota itu dan apapun bisa ia lakukan termasuk mencari data seorang gadis bernama Yuri.


Melihat Yuri makan dengan lahapnya Alex merasa senang, sambil meminum minuman yang ia pesan tadi ia terus memandangi Yuri dengan senyuman kebahagiaan.


"Hei, pelan-pelan kalau makan, disini tidak ada yang akan mengambil makananmu." Ucap Alex kepada Yuri


Mendengar perkataan Alex, Yuri pun berhenti makanan dan mulai menatap Alex.


"Tuan tidak makan?" Tanya Yuri berbicara formal kepada Alex.


Yuri menyadari bahwa dia sedang berada di luar ruang kerjanya dan semua orang juga mengetahui bahwa Alex dan Yuri merupakan atasan dan juga bawahan, jadi dia harus bersikap sewajarnya layaknya sekretaris kepada bosnya, sesuai perintah Alex juga sebenarnya.


"Tidak, semua makanan ini aku pesankan khusus untukmu."


"Sial, kalau tau ini semua buatku lebih baik dari tadi aku menolak, rencana mau berhemat gagalkan jadinya Sekarang aku harus bayar semua makanan ini." Yuri menunjukkan wajah yang sedih.

__ADS_1


Melihat Yuri seperti itu, Alex menjadi gemas. Ia pun tersenyum sendiri saking gemasnya melihat Yuri.


"Heh kenapa tersenyum, kesambet ya?" Batin Yuri.


"Eemmm kenapa tuan gak makan? Ya, kalau tuan gak makan biarkan saya saja yang mem.." Pembicaraan Yuri dipotong oleh Alex.


"Tidak, biar aku saja yang membayar. Kalau kamu merasa tidak enak aku akan ikut makan bersamamu." Alex yang sudah mengetahui arah pembicaraan Yuri


Setelah mereka selesai makan, mereka berdua pun kembali menuju kantor untuk bekerja. Ditengahan perjalan Yuri meminta izin kepada Alex untuk pergi ke Toilet.


*****


(Di dalam Toilet khusus wanita)


"Hhmmm sejauh ini dia tidak buruk, perlakuannya terhadapku juga sangat baik." Yuri yang mulai berbicara sendirian didepan cermin toilet.


"Apa karena ini di kantor ya, ia bersikap sewajarnya layaknya atasan dan juga bawahan."


Sampai akhirnya ponsel, miliknya berdering. Terdapat sebuah notif chat masuk, yang seketika membuat lamunannya buyar.


"Kamu sedang apa di toilet? Kenapa lama sekali?" sekiranya seperti itu lah chat dari Alex.


"Hah, ternyata orang nyebelin yang mengirim pesan." Yuri yang tidak berniat untuk membalas pesan darinya


"Saya akan segera ke kantor tuan." Ia akhirnya membalas pesan tersebut, karena ia lebih malas lagi kalau bosnya menelpon akibat tidak membalas pesannya.


"Sialan dari dulu dia memang selalu mengangguku." Umpat Yuri kesal.


Dengan buru-buru ia langsung pergi ke kantor, saking buru-burunya ia tidak melihat ada seseorang yang berjalan dengan santainya melewatinya, dan akhirnya ia menabrak orang itu.


Brug!!


Semua dokumen yang dibawa oleh pria yang ditabrak Yuri berserakan dilantai.


"Argh sial sekali nasibku hari ini." Pikir Yuri.


"Eh maaf ya, aku tidak sengaja. Aku sedang buru-buru jadi tidak lihat ada orang." Kata Yuri kepada pria itu.


"Ah iya tidak apa-apa, aku juga salah. Aku tidak melihat jalan karena fokus membaca dokumen-dokumenku." Kata pria itu.


Yuri pun menolong pria itu memungut dokumen-dokumen yang berserakan di lantai. Setelah selesai memungut dokumen tadi, mereka pun berdiri, dan mata mereka bertemu.


"Tunggu aku gak salah lihat kan? Ini benar dia kan?" Kata Yuri tidak percaya.


" Hai kak, maaf aku tidak lihat. Aku sedang buru-buru tadi." Kata Yuri bersikap manis di depan pria itu


Untuk pertama kalinya Yuri tersenyum kembali, tanpa adanya paksaan.

__ADS_1


__ADS_2