Sekretaris Sang CEO

Sekretaris Sang CEO
Penawaran Kerja


__ADS_3

Yuri, yang sedang tiduran ditempat tidur, sembari mendengarkan musik melalui headset. Kemudian sebuah notifikasi chat masuk dari ponselnya. Tanpa basa-basi, Yuri membuka Chat tersebut. Ia membaca isi pesan itu dengan seksama. Yuri terkejut, terlihat dari matanya yang membelalak seketik. Bagaimana tidak. Kini, ia mendapatkan notifikasi chat dari Destiny Grup, tempat ia menjual desain rancangannya. Ia ditawari pekerjaan oleh perusahaan tersebut. Yang lebih mengejutkannya lagi, ia ditawari bekerja sebagai sekretaris CEO perusahaan itu.


Bukan tanpa alasan ia ditawari pekerjaan diperusahaan itu, terlebih lagi sebagai sekretaris CEO. Ia dipilih, karena Alex masih belum mendapatkan kriteria sekretaris yang ia inginkan. Dan, Yuri masuk didalam kriteria sekretaris yang ia mau. Alex suka akan gaya bicaranya Yuri pada saat presentasi, Yuri juga sangat sopan terhadap karyawannya. Walau Yuri selalu bersikap tidak baik dan kurang ajar terhadap Alex. Tapi tak kenapa, toh Alex menyukai Yuri. Yang lebih penting lagi, Yuri merupakan seorang gadis yang giat bekerja dan juga belajar, itu menjadi poin plus bagi gadis berambut ikal tersebut.


Sebenarnya, semua itu hanya sebuah alasan yang dibuat Alex, agar staf administrasi dan para karyawan tidak mencurigainya. Bahwa kenyataannya ia menyukai Yuri. Ia ingin terus berada disamping Yuri untuk melindunginya.


“Tunggu!! Kalau aku menerima tawaran dari perusahaan ini. Maka, aku akan terus berhadapan dengan orang yang menyebalkan itu. Dan, bagaimana dengan kuliahku nanti? Apa aku berhenti kuliah saja, ya?”


Dengan ekspresi wajah yang kesal, namun nampak kebingungan diwaktu yang sama. Ia terus beradu argumen dengan dirinya sendiri.


“Hah, baiklah nanti aku konsultasi dulu sama kakak. Lagi pula, sayang kan kalau ditolak? Kapan lagi, aku dapat kesempatan untuk bisa bekerja, dan setiap bulan mendapatkan uang hasil jerih payahku sendiri. Tanpa uang kita tidak hidup. zaman sekarang, uang adalah prioritas utama selain cinta dan kasih sayang." Pikiran Yuri kembali tamak. Sedangkan tidak dengan hatinya.


Begitulah Yuri, yang selalu memikirkan bagaimana caranya mendapatkan uang sendiri. Tanpa meminta kepada keluarganya, terutama kepada sang kakak yang memang selalu memanjakan Yuri.


Namun, walau dimanja. Yuri memang merupakan gadis yang mandiri. Kalau bukan karena kakaknya, ia bahkan tak ingin kuliah. Rencananya, setelah tamat dijenjang Menengah Kejuruan, ia akan bekerja. Akan tetapi, Yuri harus mengalah, karena sesuatu yang mengharuskannya mengatakan, iya.


Yuri lebih suka bekerja. Terlebih lagi ia sudah memiliki keterampilan. Ia sangat suka mengutak atik barang elektronik terutama komputer. Apalagi, kalau urusan menggambar.


Setelah berbicara panjang lebar dan membujuk kakaknya, akhirnya ia diizinkan untuk bekerja diperusahaan tersebut. Tentunya, dengan pertimbangan yang sangat berat oleh sang kakak. Pasalnya, Yuri sudah mau menginjak semester tujuh, yang sebentar lagi ia sudah mulai menyusun skripsinya.

__ADS_1


Setelah mendapatkan izin dari sang kakak. Kini, ia tinggal mengurus pemberhentian kuliahnya saja. Setelah urusan kuliah selesai, ia langsung pindah ke Ibu Kota, untuk tinggal bersama kakaknya. Mengingat tempat ia bekerja nanti sama dengan Kiran. Sehari sebelum pergi ke Ibu Kota, Yuri sudah mengkonfirmasi, bahwa ia menyetujui penawaran dari perusahaan tersebut.


Di sisi lain. Alex yang mendengar perkataan staf administrasi, langsung tidak bisa membendung rasa senangnya. Setelah Staf administrasi keluar dari ruangannya, Alex meloncat-loncat kegirangan, seperti anak kecil.


"Akhirnya.Yuri akan terus berada disampingku. Aku akan membuatnya nyaman, dan ceria seperti dulu, pada saat pertama kali aku mengenalnya." Begitulah pikirnya sambil terus tersenyum menghadap kaca besar, didalam ruang kerjanya.


Keesokan harinya, Yuri sudah diizinkan bekerja diperusahaan itu. Sebelum bekerja, ia dipaksa berdandan sedikit oleh kakaknya. Yuri wanita manis, akan tetapi, ia membenci yang namanya makeup. Diusianya sekarang yang sudah menginjak 22 tahun. Ia tidak tahu, dan bahkan tidak mau tahu, mengenai yang namanya riasan wajah, atau yang disebut makeup itu. Bisa dibilang, ia gadis yang cuek akan penampilannya sendiri.


Karena kakaknya terus memaksa, ia pun akhirnya menyerah untuk didandani. Akan tetapi, ia memberikan syarat kepada kakaknya.


“Oke, aku menyerah. Kakak boleh mendandaniku. Tapi, dengan syarat kakak jangan menyapaku, apalagi berbicara dikantor denganku. Aku benci itu." Sebuah syarat, yang tidak masuk akal dilontarkan oleh seorang Yuri kepada Kiran.


Kiran pun kebingungan, akan sikap Yuri. Ia tahu, pasti ada alasan tersembunyi dibalik syarat yang Yuri berikan kepadanya. Kiran sangat mengenal adiknya, Yuri memang tidak suka ada yang mengganggu hidupanya, dan suka menyendiri.


Walaupun, mereka bekerja dikantor yang sama. Mereka membawa motor mereka masing-masing. Sang kakak lebih dulu ke kantor, karena ada sesuatu yang harus ia kerjakan dan harus selesai siang ini juga. Sedangkan Yuri, ia belum selesai mengemas barang yang akan dibawanya ke kantor.


Dihari pertamanya ia bekerja. Semua mata tertuju padanya. "Aaargh....Kenapa mereka melihatku seperti ngeliat buronan polisi saja. Ini lagi, roknya terlalu pendek dan kecil buatku. Terakhir kali aku menggunakan rok, pada saat SMK, namun tidak sekecil ini. Membuatku jadi tidak nyaman. Kakak memang ada-ada saja, aku seperti orang bodoh yang menuruti begitu saja perkataannya." Yuri menggerutu dalam hati.


Tidak berhenti sampai disitu. Setibanya dilantai 10, ia melihat pria menyebalkan itu. Pria yang kini akan menjadi bosnya, tepat dihadapannya. Alex memberikan beberapa lembar kertas kepada karyawannya. Pandangan Alex, yang memegangi lembar demi lembar kertas. Kini, teralihkan kearah Yuri yang berdiri didepannya. Dengan tatapan kagum akan kecantikan Yuri. Untuk pertama kalinya, Alex melihat yuri berdandan, ditambah lagi pakaian kerja yang dikenakannya, sangat cocok untuk Yuri. Membuat Alex diam seketika, dengan mulut ternganga. Alhasil, kertas yang disodorkan Alex kepada karyawan yang berada dihadapannya jatuh kelantai.

__ADS_1


Yuri serta karyawan yang dihadapan Alex melototi kertas-kertas yang berserakan itu. Mereka pun refleks memungut kertas yang telah berjatuhan dilantai. Alex menundukkan kepalanya, untuk terus menatap Yuri, tanpa membantu memungut beberapa lembar kertas yang ia jatuhkan. Alex hanya tersenyum tipis, sampai saat ini. Sedangkan, Yuri sudah mulai geram akan tingkah Alex yang sok berkuasa itu.


Setelah selesai membantu karyawan tadi. Alex meminta Yuri untuk pergi ke ruang kerjanya. Alex masuk keruang kerjanya mendahului Yuri. Beberapa menit kemudian, Yuri menyusul Alex. Ia lalu membuka knop pintu ruang kerja tuan muda itu. Yuri disambut dengan senyuman hangat oleh bosnya tersebut, yang sedang duduk di kursi putar khusus untuk dengan memainkan pulpen berwarna biru.


“Selamat datang diperusaanku, gadis kecil." Begitu Alex menyambut Yuri, dengan penuh antusias. Lalu, Alex mempersilahkan Yuri untuk duduk disofa yang tersedia diruangan itu.


“Apakah kamu memang benar-benar pemilik perusahaan ini? Aku mohon, jangan berlebihan dan jangan sok akrab denganku!!” Begitulah Yuri membalas sambutan dari Alex dengan tatapan tidak senang, sembari melangkah kearah sofa.


Alex pun tertawa tebahak-bahak, sehingga memenuhi ruangan dengan tawanya. Hingga, membuat Yuri tidak nyaman dan kebingungan.


“Kamu bilang apa tadi? Hei...jadi kamu belum tahu siapa aku? Jabatanku disini menjadi CEO. Walau hanya menggantikan ayahku untuk sementara waktu. Tapi ingat, aku adalah ahli waris tunggal. Dan sebentar lagi, akan diangkat sepenuhnya oleh ayahku. Camkan itu baik-baik. Aku kan menggantikan posisi AYAHKU sebagai pemilik perusahaan Destiny Grup, perusahaan terbesar di Ibu Kota ini.” Ucap Alex menyombongkan diri.


“Aah, jadi dia itu anak dari pemilik perusahaan sebesar ini? Gila....Pantas saja dia dipanggil tuan muda. Tidak heran, gayanya sok berkuasa." Yuri berbicara dalam hati dengan tatapan sinis kepada Alex.


“Mulai hari ini kamu menjadi sekretarisku. Semoga kamu betah bekerja denganku. Tenang saja, setelah aku menjadi CEO secara resmi, kau akan tetap menjadi sekretaris kesayanganku.”


Alex selalu menggodanya. Dari dulu, sifat Alex memang tak pernah berubah. Ia sangat pandai menggoda seseorang yang ia sukai. Dan, Yuri adalah cinta pertamanya. Itu artinya, hanya Yuri yang mendapat perlakuan spesial darinya.


Sedangkan Yuri? Sudah menjadi rahasia umum. Bahwa, Yuri tidak pernah peka akan kode seperti itu. Jangankan kode, banyak pria yang menyatakan cinta padanya secara terang-terangan saja. Ia menggap itu hanya candaan belaka. Mungkin, karena ia selalu menganggap dirinya tidak pantas untuk dimiliki oleh siapapun. Terlebih lagi, sampai saat ini tidak ada laki-laki yang bisa meluluhkan hatinya.

__ADS_1


****


Masih diruangan yang sama. Yuri yang masih duduk di sofa dengan raut wajah dinginnya. Walau tidak dengan hatinya. Untuk pertama kalinya, ia senang mendengar perkataan dari Alex. Yang mengatakan tak akan memecatnya, sampai kapanpun. Itu inti pokok yang Yuri dengar dari perkataan Alex.


__ADS_2