
Sepulang dari makan malam bersama dengan Candra, Yuri langsung pulang ke rumah Kiran, kakaknya Yuri.
Sesampainya di rumah, ia terkejut karena kakaknya yang duduk di sofa ruang tamu menatapnya dengan tatapan tajam, membuat Yuri merinding melihat kakaknya.
"Jam berapa ini? Kemana saja kamu? Terus kenapa ponsel kamu tidak aktif?" Kiran langsung melontarkan pertanyaan kepada adiknya.
"Waduh kakak kalau marah memang seram, mengalahkan setan yang ada di film horor yang sering aku tonton." Pikir Yuri yang menatap kakaknya sambil mencari ponselnya.
"Emmm itu kak, aku tadi habis makan bareng kakak tingkat, dan aku enggak tahu kalau ponsel aku mati jadi hehe maaf ya kak." Yuri langsung menjelaskan dengan memasang wajah memelas kepada kakaknya.
Kiran yang melihat adiknya seperti itupun, langsung mutar bola matanya tidak tega dan menyuruh Yuri untuk duduk di sofa dekatnya.
"Hhhm ya sudah untuk kali ini kakak maafin kamu, kejadian hari ini jangan kamu ulangi lagi. Kalau kamu mau kemana-mana harus kasih tahu kakak dulu supaya kakak tidak khawatir sama kamu." Setelah dari tadi kiran khawatir dan marah-marah tidak jelas sendiri, akhirnya emosi Kiran mereda.
"Iya kak, aku minta maaf, tadinya aku mau langsung pulang tapi diajak makan dulu sama kakak kelasku." Yuri menjelaskan kepada kakaknya yang nampaknya merasa bersalah karena perbuatannya sendiri.
Melihat adiknya, Kiran pun langsung mengelus kepala Yuri, ia hanya bisa menghembuskan nafas panjang. Ia tahu betul sifat adiknya, sedingin apapun dan secuek apapun adiknya kepadanya ataupun kepada teman-temannya. Kalau sudah dimarahi dan merasa bersalah, Yuri pasti akan menunjukkan wajah yang murung dan entah dari mana sifat dinginnya menghilang.
"Kamu sudah makan?" tanya Kiran mencairkan suasana.
"Sudah kak" Yuri menjawab singkat.
"Tunggu, kamu bilang kalau kamu makan sama kakak kelasmu?" Kiran yang mulai penasaran akan kakak kelasnya Yuri.
"Kakak kelas yang mana? laki-laki atau perempuan?" Kiran yang mulai antusias dan semakin penasaran.
"Idih punya kakak perempuan satu rasa ingin tahunya tinggi banget, inget kata pepatah kak, semakin penasaran seseorang dengan urusan orang lain semakin cepat ajal menjemput orang tersebut." Gerutu Yuri dalam hati,
"Hhhm jadi gini kak, tadi aku gak sengaja bertemu kakak kelasku di kantor, tepatnya kakak kelasku waktu SMP. Nah terus, maunya tadi langsung pulang dan ingin makan malam bareng kakak, tapi pas aku mau pulang dia ngajakin aku makan malam. Maunya sih nolak tapi dia keburu dia bales pesan aku kalau dia sudah nunggu aku di parkiran. Otomatis aku enggak enak sama dia. Ya sudah aku mau ikut sama dia, dan karena aku ngobrol-ngobrol sebentar di parkiran, jadinya lupa ngasi tau kakak, keburu ponselku mati kak." Yuri menjelaskan kejadian tadi siang kepada kakaknya.
"Terus siapa nama kakak kelasmu itu?" sekali lagi ia bertanya kepada adiknya.
"Candra kak." jawab Yuri singkat
"Candra ya. Hhhm Candra siapa ya?" Kiran berpikir, mencari tahu siapa Candra itu.
__ADS_1
"Candra yang mana ya?" Akhirnya Kiran menyerah untuk berpikir dan menanyakan langsung ke adiknya.
"Candra Wibawa, untuk jabatannya disana aku tidak tahu yang jelas dia kakak kelasku dulu dan aku mengenalnya, sudah itu saja." Kata Yuri yang langsung menjawab pertanyaan dari kakaknya dengan nada tinggi.
"Hhm baiklah, eh tapi gimana pekerjaanmu tadi? Kamu enggak dapat omelan dari tuan muda kan?" Kiran lagi bertanya kepada Yuri.
"Aduuh, nanya mulu dari tadi udah kayak ujian CPNS aja tahu." Sekali lagi Yuri bergumam dalam hati.
"Aku sih untuk saat ini enggak ngelakuin kesalahan kak. Jadinya enggak kena omelan, dan semoga saja seperti itu seteruanya. Terus kalau masalah kerjaan, ya gitu deh aku ngerjain kerjaan aku, dia juga ngerjain tugasnya dia, sampai lupa waktu buat pulang. Lagian kakak kenapa nggak ngasi aku pesan kek atau telepon aku kalau udah waktunya pulang?" Yuri langsung melontarkan pertanyaan kepada kakaknya dan menyalahkan kakaknya.
"Yee, kakak mana tau kalau kamu asik kerja. Lagian kakak ada urusan sebentar sama klien, jadinya buru-buru deh." jawab Kiran.
"Hhhm iya iya deh percaya." Yuri yang langsung membenarkan penjelasan dari kakaknya sambil memutar bola matanya.
"Tadi siang kamu makan sama tuan muda kan?kok bisa?" lagi-lagi Kiran penasaran
Yuri yang sudah mau beranjak bangun ditahan oleh kakaknya, membuat Yuri terpaksa menjawab pertanyaan kakaknya itu.
"Aaargh kak banyak banget pertanyaannya, gini ya dia bosku dan terserah dia mau makan dimana kek itu urusan dia kak, udah lah kak selesai bertanya, aku mau mandi udah gatal nih badan." Yuri mengeluh kepada kakaknya.
"Awas nanti suka lo sama tuan muda." Celetuk Kiran, meledek Yuri.
Yuri yang sedang berjalan pun membalas ledekan dari kakaknya itu "Terserah kakak mau ngomong apa aku mau mandi." Ucap Yuri yang terus berjalan menuju kamar mandi.
Keesokan harinya (Di ruang kerja Alex !!)
Setibanya di kantor Yuri buru-buru ke ruang kerjanya, ia membuka pintu, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dan melihat disekelilingnya,
"Hah, akhirnya bos rese belum nyampe kantor, bisa bernafas dengan tenang untuk sementara waktu sebelum dia mulai ngoceh gak jelas lagi." Ucap Yuri dengan senyum tipisnya.
Ia masih berdiri di depan pintu, dan kaget dengan apa yang ia dengar.
"Siapa yang mengoceh tidak jelas?" Ucap Alex.
Yuri langsung membalikkan badannya, dan melihat Alex sudah berdiri di belakangnya. Yuri hanya bisa nyengir, ia tidak tahu apa yang harus ia katakan. Lalu ia melihat mata Alex.
__ADS_1
"Hah mata kamu kenapa?" tanya Yuri, mengalihkan pembicaraan.
"Itu bukan urusanmu." Jawab Alex singakat
"Hei itu kata-kataku jangan dipakai." Sahut Yuri
"Memangnya kenapa kalau aku memakainya? Kata itu sudah ada sebelum kamu lahir, jadi siapa pun boleh mempergunakannya." Alex yang tidak mau kalah dengannya
"Hhm benar juga sih." Yuri yang sudah kehabisan akalnya untuk menjawab.
"Tapi itu mata kenapa? Kayak habis ditinju eh bukan kayak mata panda, hitam. Tapi bedanya panda itu imut kamu sih enggak." Yuri meledek Alex.
"*I*ni semua gara-gara kamu, seandainya kau tidak berkeliaran di otakku mungkin saja tidurku nyenyak." Gerutu Alex dalam hati.
"Aku habis bergadang, ada projek yang harus aku selesaikan, apa kamu puas?" jawab Alex dengan tatapan yang lembut kepada Yuri, walau sedikit berbohong.
"Ooh, jadi CEO melelahkan juga ya? Tapi kamu enggak boleh nyerah harus semangat dong." Sahut Yuri dengan penuh semangat.
"Kenapa dia, otaknya sudah berpindah tempat kah? Sehingga ekspresi wajahnya sedikit ceria, tidak dingin lagi." Pikir Alex.
"Hhm aku memang selalu semangat, kamu saja yang tidak tahu." Ucap Alex.
"Hhm terserah, udah kerja sana." Sahut Yuri
"Kumat lagi, aku tarik kata-kataku tadi. Kau masih sama dingin seperti es dan yang seharusnya menyuruh untuk bekerja itu aku bukan kamu disini aku bosnya." Gumam Alex dalam hati
ddrrttt....ddrrtt !!
Yuri melirik ponselnya yang berada di samping komputer tempat ia bekerja, ia melihat sekilas, "Kak Candra" Begitu nama yang tertera dari notif chat ponsel milik Yuri, ia pun segera mengambil ponsel itu.
"Nanti siang makan bareng yuk?" begitu pesan dari Candra.
"Oke deh kak, nanti ketemunya di kantin saja ya!!" Yuri langsung menjawab pesan dari Candra, dan langsung meletakkan ponselnya kembali ke tempat semula.
"Siap dik." Jawaban dari Candra.
__ADS_1
Yuri hanya melihat sekilas balasan dari Candra, dan langsung memalingkan pandangannya ke layar monitor tanpa membalas pesan dari kakak kelasnya itu.