Sekretaris Sang CEO

Sekretaris Sang CEO
Amarah


__ADS_3

Pecahan kaca berserakan dimana-mana, karena Alex melemparkan botol minuman kaca dari tempat duduknya ke arah cermin yang ada di hadapannya.


Bodyguardnya yang sedari tadi dibelakang hanya bisa memandanginya dan tidak berbuat apa-apa, bertanya pun percuma karena akan membuat Alex lebih marah dan membuatnya semakin kesal lagi. Bahkan ayahnya dan anggota keluarga lainnya hanya bisa diam dan mendengarkan pecahan kaca dan juga makian Alex dari bawah.


“Ada apa ini? Kenapa pulang-pulang tuan muda marah?” batin Jordan dalam hati.


“Hhhm ini pasti karena nona Yuri, ya aku sangat yakin. Apa yang diperbuat gadis itu sehingga membuat tuan muda sangat marah?" Jordan berpikir dengan keras.


Memang benar apa yang dipikirkan oleh Jordan, Alex memang sangat kesal setelah melihat kejadian tadi siang, bahkan ia terus mengepalkan tangannya dan melototi kedua orang itu. Siapa lagi kalau bukan Yuri dan Candra, ia tidak mengira bahwa Yuri semanis itu dihadapan karyawannya sendiri. Terlebih lagi kepada seorang laki-laki.


Kalau saja ia tidak menahan amarahnya itu, mungkin saja siang itu ia menelepon Jordan dan menyuruhnya menyeret Candra keluar dari perusahaan tersebut.


Memang, ia menginginkan Yuri untuk kembali seperti dulu, Yuri yang ceria dan bersikap manis dihadapan semua orang. Namun, harusnya ia yang melakukannya, bukan laki-laki lain yang melakukan semua itu. Ia tidak terima dengan apa yang ia lihat, bahkan ia pulang duluan tanpa memberi tahu Yuri.


“Jordan! apa kau tau siapa dia?” tiba-tiba Alex membentak dan menanyakan hal yang tidak diketahui Jordan.


Jordan yang mendengar perkataan alex pun hanya diam dan berpikir keras, apa yang harus ia katakan sekarang? Jordan menarik nafas panjang dan mulai berbicara.


“Apa yang harus saya lakukan dengan orang itu tuan?” jawab Jordan.


Ya, memang itu yang Alex inginkan “Informasi apa yang kau tahu mengenai Yuri?” tanya alex kembali.


“Saya sudah memberi tahu anda waktu ini tuan. Informasi apa lagi yang saya harus kasih tahu kepada anda?” batin Jordan.


“Yang saya tahu, nona dekat dengan laki-laki bernama Ciko tuan. Dulu nona Yuri sering bertemu dengan laki-laki itu, namun setelah laki-laki itu memilih kuliah di luar negeri, nona Yuri tidak pernah berkomunikasi dengannya lagi,” Jawab Jordan lagi.


“Apa itu yang tuan ingin tahu dari saya?” batin Jordan.


“Bukan, selain dia. Orang itu pasti sedang kuliah sekarang, dan namanya bukan Ciko tapi Candra,” ucap Alex.


“Aku ingin tahu siapa laki-laki yang bersamanya di kantor, kalau tidak salah namanya Candra,” Alex pun terus terang kepada Jordan.


“Ahh... Jadi itu sebabnya tuan marah-marah dan kelihatan kesal sekali!” pikir Jordan sambil tersenyum tipis.


“Kalau tuan izinkan saya akan memeriksa siapa laki-laki itu,” pinta Jordan kepada tuan mudanya.


“Memang itu yang harus kau lakukan, aku menggajimu bukan untuk bersantai saja di rumah.” Alex yang semakin kesal, lalu ia menjatuhkan badannya di sofa. Sedangkan Jordan hanya bisa menganggukkan kepalanya.


“Memang perempuan itu sulit ditebak, dan sekarang tuan muda sama halnya seperti perempuan, sulit ditebak juga,” batin Jordan sambil berjalan keluar dari kamar Alex. Perlahan Jordan menutup pintu kamar itu, ia terus berpikir dan nampak terlihat kesal.

__ADS_1


“Disini aku tidak bersantai tuan muda, aku juga punya kerjaan lain walaupun di rumah saja,” Jordan terus berjalan sambil memperlihatkan wajahnya yang sedang kesal


“Lagian, yang salah itu tuan muda sendiri. Harusnya biarkan saya ikut tuan muda ke kantor, saya yang akan mengawasi nona. Namun, apa yang tuan muda lakukan? Setelah nona menjadi sekretaris tuan, tuan malah menyuruh saya untuk bekerja dirumah sambil mengontrol kesehatan tuan besar. Memangnya saya Dokter?” ia terus menggerutu dalam hati dan membuat tuan besar yang melihatnya pun tertawa.


“Kau kenapa Jordan? Kenapa kau terlihat kesal?” tanya Ayahnya Alex.


Mendengar tuan besarnya berbicara dan menertawainya membuat Jordan terkejut “Ti..ehem tidak tuan besar saya tidak kenapa-kenapa.” jawab Jordan.


“Bohong aku melihat wajahmu yang kesal itu ya, kau diapakan sama anakku itu?” tanyanya sekali lagi sambil terus tertawa.


Jordan pun tidak bisa menghindari pertanyaan dari tuan besarnya itu. Apa lagi, kalau ia disuruh berbohong. Ia tidak bisa sama sekali, dan akhirnya ia pun menceritakan apa yang terjadi dan dialami oleh anak kesayangannya itu.


“Ooh jadi begitu, Hhhm aku mau lihat seberapa cantikkah gadis itu, sampai-sampai membuat anakku begitu marah dan cemburu melihat dia bersama laki-laki lain.”


Begitu ucapnya setelah mendengar semua penjelasan dari Jordan, dengan senyumnya yang menawan dan badan tegapnya yang berwibawa. Membuat dia terlihat seperti laki-laki yang sangat sehat, walaupun sebenarnya tidak sama sekali.


Ayahnya Alex memang mendukung penuh apa yang anaknya inginkan, namun ia hanya ingin anak sulungnya ini menjalankan perusahaan miliknya dengan baik. Walaupun anaknya belum mengambil alih sepenuhnya perusahaan tersebut. Selain mengenai perusahaan, terserah anaknya sendiri mau menjalani kehidupan seperti apa. Termasuk kisah percintaannya, asalkan tidak mengotori nama keluarga besarnya, itu tidak masalah baginya.


Tuan besar memang sangat baik dan juga murah senyum, sama seperti Alex. Namun, ia akan menjadi orang yang menyeramkan jika ada sesuatu yang membuat ia kesal. Seperti kata pepatah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Begitulah ungkapan yang cocok untuk ayah dan anak itu.


Nama dari pemilik perusahaan ternama dan sekaligus ayahnya Alex yaitu David. Pria berusia 54 tahun, dengan wajah yang begitu menawan, sama seperti anaknya.


Dilain tempat, terdapat Yuri yang sedang berbaring dikamarnya. Ia sedang merenung, nampaknya ia sedang memikirkan sesuatu, terlihat ia sedang gelisah saat ini.


“Kenapa tadi si bos rese itu pulang tanpa memberi tahuku? Dan bukan cuma itu, dia juga pulang pada saat jam makan siang. Aneh enggak sih?” ia terus-terusan berpikir dan beradu argumen dengan pikirannya sendiri.


“A**pa-apaan ini? Kenapa aku terlihat peduli sekali sama dia ya?” ia kembali lagi berpikir.


“Dia bahkan tidak memperdulikanku tadi. Bahkan, aku kebingungan pada saat aku ingin meminta tanda tangannya.” lagi-lagi Yuri kembali berpikir dan membuat ia pusing sendiri.


“Dasar bos sialan!!” ia pun berteriak, sampai-sampai kakaknya yang mendengarnya pun ikut teriak.


“Berisik kamu. Ngapain teriak-teriak udah malam ini!!” kakaknya masih berkutik dengan laptopnya untuk mengerjakan kerjaan di kantor yang harus ia selesaikan.


“Maaf kak. Kakak juga ikutan teriak kan!!” Yuri langsung membalikkan badannya dan mengambil bantal guling di dekat tempat tidurnya.


“Hhhm... Kak besok aku mau jalan-jalan ya?” Yuri bertanya kepada kakaknya,


“Mau kemana kamu?” kakaknya yang berada di ruang tamu pun langsung beranjak menuju ke kamar adiknya itu.

__ADS_1


“Ngapain kesini? Aku mau jalan-kalan sama kak Candra” jawab yuri.


“Ini rumahku terserah dong mau kemana," jawab Kiran.


"Ooh yang tadi makan siang bareng kamu itu ya?” tanya kakaknya kembali, Yuri pun menganggukkan kepalanya


“Sepertinya adikku ini memang tidak pernah peka sama perasaan lawan jenisnya. Hei adikku yang polos, tuan muda suka sama kamu tau,” batin Kiran.


“Hhm baiklah, tapi jangan sampai larut malam ya,” titah Kiran kepada Yuri.


“Iya iya... Aku tau itu,” jawabnya.


“Eh iya kak, kakak tau kenapa tuan mudanya kak Kiran pulang cepat tadi?” tanya Yuri yang penasaran.


Kiran yang mendengar pertanyaan Yuri pun memutar bola matanya “Asal kamu tau ya kalau...Eemmm,”


Perkataannya terhenti, ia sadar bahwa ia tidak boleh ikut campur urusan adiknya dengan tuan muda itu. Salah-salah adiknya ngomong hal aneh kepada tuan mudanya, lalu bukan hanya Yuri yang diseret keluar namun ia juga akan ikutan diseret keluar dari perusahaan itu.


“Eh jawab itu kenapa omongan isi kepotong sih?” tanya Yuri kesal sambil memukul bahu kakaknya,


“Oh itu asal kamu tau, tuan muda itu banyak urusan. Pasti dia menemui klien-kliennya dulu bukan pulang, kamu jangan memfitnah tuan muda seperti itu.” Kiran pun memberi penjelasan kepada Yuri


“Ya... itu bukan memfitnah kak. Lagian ya, kalau ketemu sama klien-kliennya dia harusnya ngajak aku juga dong, kan aku sekertarisnya.” Yuri yang masih penasaran.


“Benar juga ni anak, aduh jawab apa ya?” batin Kiran.


“Mungkin... Dia tau kamu sibuk, makanya tuan muda tidak mengajak kamu, lagian ngarep banget diajak sama tuan muda,” Kiran yang mulai menggoda adiknya.


“Apaan sih kak, aku gak akan pernah ngarep buat diajak sama dia, lebih baik aku jalan-jalan sama kak Candra ketimbang sama dia,” jawab adiknya.


“Ooh jadi lebih milih Candra ni gitu?” Kiran terus menggoda adiknya yang sudah nampak kesal.


“Apaan sih, udah kerja sana.” Yuri yang mulai kesal dan malu sendiri, ia pun segera menarik selimut di bawah kakinya untuk menutupi wajahnya yang sudah agak kemerahan.


Kiran pun menarik nafas panjang dan berkata “Siapapun yang kamu, pilih kakak akan mendukungmu. Asal dia pria baik-baik dan juga berpendidikan.”


“Hhhm” akhirnya Kiran pergi melanjutkan kerjaannya, meninggalkan Yuri di kamarnya sendirian.


“Apaan sih kakak itu, aku gak mau pacaran kak sebelum dia datang dan bertemu denganku,” batin Yuri.

__ADS_1


__ADS_2