Sekretaris Sang CEO

Sekretaris Sang CEO
Ingin tinggal disini


__ADS_3

Tidak terasa sudah dua minggu Alex tinggal di kota Amlapura. kota yang indah nan asri. Kerena, di kota ini masih banyak terdapat pepohonan dan minimnya kendaraan. Ia merasa sangat bahagia tinggal disana terlebih lagi ia selalu mengikuti segala aktivitas gadis itu, kecuali kalau ia kuliah.


Pada saat sore hari, tepatnya pukul lima sore. Alex selalu ke tempat makan itu. Dimana, Yuri bekerja, dan menghabiskan waktu senggangnya. Seperti biasa, Alex memesan dua makanan, dan minuman untuk ia, dan juga Jordan. Mereka juga selalu duduk di tempat yang sama setiap kali ia berkunjung. Sambil menunggu pujaan hatinya datang, untuk bekerja ditempat itu.


Seperti yang diketahui. Sepulang kuliah, Yuri langsung datang dan bekerja di tempat makan itu. Bukan hanya Yuri. Ada pula Cindy, pemilik tempat itu, yang selalu tersenyum lebar kepada pengunjung. Ia juga kuliah di Universitas yang sama. Namun, yang membedakan hanyalah jam kuliah mereka. Yuri mengambil kuliah reguler, sedangkan, Cindy selalu mengambil kuliah malam. Tidak heran, jika Cindy yang selalu ada, ketika tempat makan itu buka ketimbang Yuri.


"Kenapa ia lama sekali, biasanya jam segini ia sudah masuk dengan berlari-lari kecil ketempat ini, sambil berteriak tidak karuan. Manisnya." Alex bergumam sambil melihat arah jarum jam tangannya.


Jordan yang melihat Tuan mudanya yang cemas. Membuatnya langsung berjalan, menghampiri pelayan sekaligus pemilik tempat itu.


"Tumben kau sendiri, dimana temanmu lagi satu?" Jordan bertanya tanpa basa-basi.


Cindy yang asik dengan laptopnya, sontak terkejut. Lalu, mendongakkan kepalanya ke arah sumber suara. "Hmmm ... mungkin, ia ada kelas tambahan jadi agak telat," Ia langsung menjawab pertanyaan Jordan, tidak lupa ia melontarkan senyumannya.


Walaupun, Cindy terlihat kebingungan.


"Baiklah." Jordan pun berbalik badan dan kembali ke tempat duduk Alex.


"Kata nona itu ia sedang ada kelas tambahan tuan." Berbisik Jordan dengan Alex.


Tidak terasa, sudah satu setengah jam ia duduk di kursi yang sama. Akan tetapi, tetap saja gadis itu belum datang juga.


"Kakaaak, aku kembali. Apakah kakak rindu denganku?" Yuri berlari-lari kecil ke dalam menghampiri Cindy.


Gadis itu selalu datang dengan riang ke tempat kerjanya, tidak ada kata lelah walaupun seharian ia kuliah. Terlebih lagi pada saat pembagian hasil


(--- ^~^---)


Ya, Yuri suka yang namanya uang. Bahkan cita-citanya cukup sederhana, namun membuat Cindy geleng-geleng kepala. Cita-cita dari Yuri, yaitu menghasilkan uang yang banyak dari jerih payahnya sendiri. Walaupun tanpa pasangan, yang jelas dekat dengan uang. Menarik bukan? Tapi, begitulah Yuri.


Mendengar suara gadis itu membuat jantung Alex berdebar, dan rasa gelisah yang menghampirinya dari tadi hilang begitu saja.


"Sssttt!! Ada pelanggan, kecilkan suaramu." Cindy berbicara kepada Yuri sambil menempelkan jari telunjuknya di bibirnya sendiri.


Yuri hanya cengengesan, entah dari mana ia selalu ceria dan selalu bersikap sok imut kepada temannya sekaligus kakak tingkatnya di kampus itu.


"Kamu sudah makan?" Cindy bertanya kepada Yuri.


"Sudah dong, tadi siang di kantin." Yuri menjawab sambil melontarkan senyuman dibuat-buat kepada Cindy.


"Ia tadi siang, ini udah sore kan? makan dulu baru kerja." Perintah Cindy.

__ADS_1


"Siap buk bos, eh kakak enggak ke kampus?" tanya Yuri kepada Cindy.


"Tidak aku lagi libur, jadi aku akan menghabiskan waktuku bekerja." Sahut Cindy.


Cindy dan Yuri. Mereka bisa dibilang seperti anak kembar, karena di pikiran mereka hanya uang dan bagaimana cara memajukan tempat usahanya itu.


Setelah makan, Yuri duduk di sofa. Namun, sadar bahwa Alex yang sedari tadi terus memandanginya dengan tatapan dan senyuman yang menurutnya aneh. Yuri pun beranjak dari sofa ke tempat duduk Alex.


"Hai, aku lihat dari kemarin dan kemarinnya lagi kamu selalu datang kemari. Hhhm aku senang memiliki pelanggan tetap. Itu artinya makanan di tempat kami sangatlah enak." Dengan senyum lebarnya, ia berbicara dengan Alex.


Alex yang mendengar perkataan gadis itu yang tiba-tiba membuat Alex bingung, dan salah tingkah.


"Namun, bisakah kamu berhenti memandangiku? apakah selama ini kamu juga memandangi kak Cindy?" Yuri mulai merubah ekspresi wajahnya menjadi tatapan yang mengerikan.


"Ternyata ia menyadarinya, tapi ia selama ini hanya diam saja?" batin Alex.


"hei, kenapa bengong? aku bertanya padamu." Yuri yang sudah nampak geram menahan emosi.


Sedangkan Jordan, ia hanya bisa memandangi gadis itu. Jordan tidak bisa berbuat apa-apa.Karena, kalau ia salah sedikit saja dalam bertindak, tuannya ini bisa murka kepadanya. Dengan senyuman yang manis Alex pun menjawab


"Aku menyukai kamu."


Yuri dan Jordan terkejut dengan ucapan dari Alex yang blak-blakan dan tidak masuk akal.


Alex hanya bisa tertawa "Apakah dia benar tidak menyukaiku?" tanya alex kepada Jordan yang langsung merubah ekspresi wajahnya dari tertawa menjadi serius.


Jordan terkejut dan bingung untuk menjawab pertanyaan Alex "Tidak tuan, ia hanya asal bicara."


"Hhhmm aku sudah gila, benar-benar gila. Kenapa aku melakukan hal konyol itu, kau juga kenapa tidak memperingatkanku." Alex yang menyalahkan bodyguardnya tersebut


"Hah, kenapa aku yang salah disini, seharusnya tuan yang mengontrol diri anda sendiri tuan. Saya mana tahu anda akan berbicara seperti itu, terlebih lagi saya sama kagetnya dengan nona tadi." Gerutu Jordan dalam hati.


"Maafkan saya tuan lain kali saya akan memperingatkan tuan." jawab Jordan dengan pasrah.


"Hhhm" jawab Alex singkat.


Setelah kejadian tadi sore, Alex terus berpikir dan menyalahkan dirinya sendiri.


"Jordan bagaimana kalau kita tinggal lebih lama disini?" Alex melontarkan pertanyaan kepada Jordan.


"Maaf tuan, sudah hampir dua minggu tuan berada disini, dan sudah sepatutnya tuan kembali sekarang juga. Karena masih banyak pekerjaan di kantor yang harus tuan kerjakan dan ada klien yang sudah menunggu tuan muda di Ibu Kota." Begitu pendapat Jordan.

__ADS_1


"Hhhm" Alex yang mulai malas berbicara kepada Jordan, ia memalingkan tubuhnya dan mengangkan tangannya, yang mengisyaratkan agar Jordan pergi dari hadapannya.


Keesokan harinya, ia kembali lagi ke tempat makan itu, Alex yang sudah terbiasa dengan suasana tempat tersebut dan mulai berbicara kepada Cindy.


Setelah membawakan makanan dan minuman kepada dua pria tampan itu, Cindy disuruh untuk duduk dan mengobrol sebentar dengan Alex.


Melihat pemandangan ini membuat Yuri penasaran dan menghampiri meja Alex.


"Hai kak, asik banget ngobrolnya enggak ngajak-ngajak lagi." Yuri mulai menyela pembicaraan tanpa memandang Alex


"Hehehe ia kenapa? kamu cemburu?" Cindy yang mulai menggoda Yuri.


"Apaan sih aku hanya bertanya, lagian tumben-tumbenan aku liat kakak berbicara kepada orang asing." Ucap Yuri sambil melirik Alex. Melihat percakapan mereka berdua Alex mulai senyum tidak jelas.


"Kenalin ini namanya Alex, ia menjadi pelanggan kita yang setia. Ya, tentu saja karena setiap hari ia datang kemari." Cindy sambil jari telunjuknya menunjuk ke arah Alex.


Yuri kembali melirik Alex yang sudah melihatnya sedari tadi sambil melemparkan senyum kepada Yuri.


"Hai, aku Yuri mungkin kamu sudah tau aku, karena aku selalu seliweran disini." Yuri mengulurkan tangan kepada Alex sambil senyum.


Alex pun menjabat membalas jabatan tangan Yuri "Namaku Alex, senang berkenalan denganmu."


Melihat keduanya saling berjabat tangan, membuat Cindy tersenyum. "Kalian lanjutkan mengobrolnya ya, aku mau ke dapur dulu sebentar. Dan Yuri, kau temani Alex ngobrol ya." Kata Cindy sambil senyum menggoda Yuri.


"Kak, jangan bilang kakak mau jodohin aku lagi." Yuri berbisik kepada kakaknya, yang tentunya suara Yuri di dengar oleh Alex. Membuat Alex semakin salah tingkah.


"Tidak kok, disini dia pelanggan kita. Dan nampaknya orang ini tertarik padamu, aku hanya melihat situasi saja Yuri." Bisik Cindy.


Cindy langsung pergi dari tempat duduk Alex menuju ke dapur, disusul oleh Jordan yang sudah membaca situasi yang langsung beranjak ke mobil.


"Hai, sudah lama bekerja disini?" tanya Alex


"Aku pernah bilangkan sama kamu, kalau tempat ini baru dibuka dan jangan pernah lupakan, kalau aku dan juga kak Cindy merupakan pemilik tempat ini." Dengan sigap Yuri mengulang kembali perkataannya waktu itu.


"Ah iya aku lupa. Oh ya, apakah kamu selalu ceria seperti ini? Tidakkah kamu merasa lelah setiap kali bekerja disini. Terlebih lagi, kalian kan kuliah" Alex kembali bertanya.


"Kalau itu sih pastilah, kita merasa lelah. Namun, ini sudah menjadi tekad kita. Kalau kita akan membuat tempat nongkrong yang disegani oleh anak muda. Dan menjalankan usaha ini bersama-sama, walaupun dengan kondisi terburuk sekalipun." Jawab Yuri dengan serius.


"Intinya, kita tidak boleh menyerah. Kalau kita terus menyerah maka tidak ada yang namanya sukses. Ya kan?" Yuri tersenyum riang.


"Benar kata kamu, sukses tidaklah datang secara tiba-tiba. Kita harus merasakan susah dulu sebelum kita merasakan yang namanya sukses, terlebih lagi dari jerih payah sendiri." Alex tersenyum tanpa sadar tangannya sudah mengelus kepala Yuri. Tentu, Yuri langsung menepis tangan Alex dari rambutnya, menandakan ia tidak menyukai sentuhan dari Alex.

__ADS_1


"Benar, sesuatu yang kita lakukan dengan jerih payah sendiri pastilah kita akan bangga dan senan.g" Yuri melanjutkan perkataan dari Alex dengan senyuman tidak jelasnya.


Mereka terus mengobrol hingga larut malam, dan tempat itu akan segera tutup.


__ADS_2