
Hening tidak ada suara sedikitpun, ruangan itu seperti kuburan tidak ada aktivitas sama sekali seperti biasanya, walau hening namun ada suara ketikan dari keyboard. Yuri dan Alex berada di sofa mereka duduk beberapa menit yang lalu, mata mereka saling bertemu tanpa berkata sedikitpun.
Namun mata mereka sudah mengisyaratkan berbagai kata yang mungkin hanya mereka yang mengetahuinya namun juga terdapat rasa canggung diantara mereka berdua.
........
(30 menit sebelum kejadian)
Alex dan Jordan masih berada di ruangan yang sama, mereka duduk di sofa membicarakan banyak hal
" sekarang kamu tidak usah dirumah menjaga ayah, kau sudah boleh ke kantor untuk mengurus keperluanku" titah Alex
Jordan hanya menganggukkan kepalanya, ia sudah menduga bahwa tuan mudanya tidak akan bisa berpisah darinya ^~^ lebih tepatnya Jordan diperintahkan untuk mengawasi secara langsung aktivitasnya Yuri pada saat diluar ruang kerjanya dan bila perlu ia harus menyuruh bawahan Jordan untuk mengawasi Yuri kemanapun ia pergi.
" punya tuan muda kenapa bucin banget sih, belum jadian sudah seperti ini apa lagi kalau sudah resmi menjalin hubungan" Jordan yang hanya bisa menganggukkan kepalanya saja mendengarkan apa yang Alex katakan, ada rasa kesal namun juga ia terlihat geli sendiri mendengarkan kata-kata dari Alex.
"oke sekarang hanya itu saja tugasmu, dan kau tidak perlu lagi mengatur jadwalku di kantor karna sekarang aku sudah resmi memiliki sekretaris" ucap Alex sambil mengedipkan salah satu matanya sambil tersenyum. Jordan pun terlihat Alex hanya bisa tersenyum geli
karena sudah dirasa tidak ada lagi yang harus dibicarakan dengan bodyguardnya Alex mempersilahkan Jordan pergi dari hadapannya, Jordan pun berdiri dari sofa dan langsung menundukkan kepalanya memberi hormat kepada Alex, lalu berjalan menuju pintu, namun belum sampai dipintu keluar Jordan mendengar seseorang mengetuk pintu.
tok...tok...tok!!
Jordan pun segera berjalan menuju pintu dan membukakan pintu tersebut, orang yang mengetuk pintu tersebut ternyata adalah Yuri yang nampak kebingungan sendiri bagaimana caranya ia membuka pintu karena kedua tangannya membawa sebuah nampan yang isinya dua cangkir minuman dan juga buah-buahan yang Alex minta tadi.
Yuri kaget disela kebingungannya ia melihat Jordan yang membukakan pintu, ia lalu tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada Jordan yang dibalas dengan senyuman tulus dari Jordan.
Jordan lalu mempersilahkan Yuri untuk masuk ke dalam ruang kerjanya. Yuri pun langsung masuk dan menghampiri Alex.
"Alex aku harus naruh semua ini dimana?" tanya Yuri
"tunggu apa tadi kamu bilang? Alex?" tanya Alex balik
"hah, ia aku panggil Alex jadi ini di taruh dimana?" Yuri kembali bertanya
"tumben kamu memanggil namaku" ucap Alex sinis
"ahh maaf aku keceplosan"
"tidak masalah, lagian tidak ada karyawan disini"
__ADS_1
Alex melemparkan dokumen yang tadi ia baca ke arah meja kerjanya "taruh disana saja" Alex menunjuk meja dekat dengan sofa dan langsung berjalan ke arah sofa disusul dengan Yuri.
Yuri meletakkan nampan berisikan buah dan minuman itu di atas meja, begitu juga Alex yang sesampainya di sofa ia langsung duduk di sofa panjang berwarna hitam itu.Yuri menoleh ke arah pintu dan menyapu seluruh ruangan, seakan-akan ia mencari sesuatu
"kemana Jordan?" pikir Yuri
"Jordan sudah pergi, waktu kamu menghampiriku" ucap Alex menebak pikiran Yuri
"kenapa dia tahu isi pikiranku, apa dia bisa membaca pikiranku?" pikir Yuri kembali
"oh" Yuri menganggukkan kepalanya menandakan ia mengerti
Yuri yang nampak sibuk dengan pikirannya sendiri membuat Alex tertawa kecil melihatnya namun Yuri tidak memperhatikannya.
"lalu minuman ini? buat apa aku repot-repot membuat ini semua" gerutu Yuri
"berhentilah menggerutu dan berpikir yang tidak penting" ucap Alex sambil menyeruput minumannya
"oh jadi kedengeran ya, aku pikir kamu tuli" Yuri meledek Alex dengan puas, membuat Alex mengeluarkan ekspresi wajah yang masam menandakan tidak menyukai gurauan Yuri
"cih, tenanglah jangan marah aku hanya bercanda" Yuri tersenyum sinis
Setelah berbincang dengan Alex dan membuat Alex kesal, Yuri yang ingin beranjak dari meja tempat ia meletakkan nampan namun lengan Yuri dipegang dengan erat oleh Alex secara mendadak, Alex menepuk sofa mengisyaratkan agar Yuri duduk disampingnya. Namun Yuri menggelengkan kepalanya, yang membuat Alex geram hingga menarik Yuri ke sofa, alhasil membuat Yuri yang tadinya berdiri langsung duduk di sofa dekat dengan Alex.
"duduklah denganku, ini udah siang jadi kamu bisa istirahat dulu disini"
"kalau ini tidak selesai kamu akan marah padaku, katamu besok akan ada meeting dengan klien dan aku harus mempersiapkan semua berkas-berkas untuk besok, masih banyak hal yang harus aku kerjakan jadi jangan menggangguku" Yuri yang berusaha menjelaskan situasinya sekarang
"kamu harus nurut kepadaku, aku ini bosmu dan ingat aku ini tuan muda Alex CEO sekaligus pewaris perusahaan ini, terlebih lagi kamu sekretaris pribadiku, kamu seharusnya lebih patuh padaku" Alex menyeringai penuh kemenangan
"ahh iya aku lupa kamu CEO tuan muda Alex, baiklah tuan muda saya akan menuruti perkataan anda namun jangan salahkan saya jika semua tugas-tugas yang anda berikan kepada saya tidak selesai tepat waktu" Yuri yang sudah nampak kesal dan menahan emosinya yang mungkin akan meledak sebentar lagi.
Alex hanya mengangguk dan menyeruput minumannya lagi dan lagi, namun Yuri nampak kebingungan dengan arti dari anggukan Alex, entah ia berkata iya, atau ia bilang tidak mau tahu, sudahlah hanya Alex yang mengetahuinya.
Melihat Yuri yang menahan emosinya dengan ekspresi yang sedikit menakutkan Alex hanya menaikkan satu alisnya dan tersenyum sinis tanpa menoleh Yuri.
"minumlah minuman ini dan kamu juga boleh memakan buah-buahan yang kamu bawa" Alex menyodorkan sepiring buah-buahan yang sudah dikupas dan dipotong kecil-kecil lengkap dengan sendok garpunya.
Yuri hanya terdiam dan tidak menggubris perkataan Alex, mungkin ia malas berdebat terus dengan bosnya.
__ADS_1
Yuri yang memakan beberapa buah dengan lahapnya membuat Alex yang melihatnya terlihat senang, dengan tatapan datarnya.
Setelah beberapa menit hening tidak ada perdebatan ataupun perbincangan sedikitpun, membuat Alex berbicara terlebih dahulu umtuk mencairkan suasana yang mencekam tadi.
"apa kamu suka bekerja disini?" tanya Alex
Yuri nampak menarik nafas panjang, dengan masih menahan emosinya
"apakah tidak ada pertanyaan lain selain itu, sudah berapa kali kamu mengulang pertanyaan itu beberapa hari ini" ucap Yuri dengan kesal
"iya juga ya, tapi kamu tidak pernah menjawabnya" jawab Alex
"itu karena pertanyaanmu itu tidak berguna menurutku" jawab Yuri yang sudah diambang emosinya
"apa yang aku tanyakan itu penting menurutku" jawab Alex dengan cepat
setelah mendengar perkataan Alex, Yuri yang yang ingin mengambil sepotong buah yang ada dipiring pun menghentikan niatnya dan mulai menatap mata Alex dengan dalam, mata mereka pun bertemu dan tentunya dengan jarak yang begitu dekat dari biasanya.
deg !!
membuat jantung Alex berdegup dengan sangat kencang
"sial, kenapa perasaan ini muncul lagi !!" gerutu Alex dalam hati
Yuri menarik nafas dengan panjang, emosinya sudah tidak bisa ditahan lagi, dan membuat ia meledak dan berbicara blak-blakan kepada Alex.
"maafkan aku sebelumnya, namun kau tahu dari dulu aku tidak menyukaimu kau orang yang paling menjengkelkan yang pernah aku temui, dan untuk pertanyaanmu itu aku akan menjawabnya, aku senang bekerja disini apa kau puas?" Yuri yang sudah meledak, ia berbicara dengan sangat keras, untung saja hanya ada mereka berdua di ruangan itu.
Alex yang menyadari emosi Yuri yang meledak membuat ia tersenyum sinis
"jadi kamu suka bekerja denganku, apa alasannya?"
Yuri pun tanpa berpikir panjang langsung menyambar pertanyaan dari Alex
"ya aku sangat suka bekerja denganmu, aku tidak tahu alasannya aku hanya mengikuti kata hatiku, hatiku bilang aku harus bekerja disini dan aku harus mendampingimu" jawab Yuri dengan nafas terengah-engah karena emosi, ia lalu mengacak-acak rambutnya sehingga ikat rambutnya hampir lepas
"apa itu artinya kau menyukaiku?" tanya Alex dengan tenang
deg!!
__ADS_1
hal inilah yang membuat kedua orang yang berada di ruangan itu diam dan hening beberapa lama.
"apa yang sudah aku katakan tadi" Yuri kebingungan