
Di pagi hari yang cerah. Alex, CEO dari Perusahaan ternama di Ibu Kota itu, nampak sudah sangat rapi, dengan setelan kemeja berwarna putih, dibalut dengan jas berwarna hitam.Tak lupa, dasi berwarna biru dongker, melingar dikerah kemeja yang ia kenakan. Seperti biasa, Alex terlihat sangat tampan, gagah, dan menawan. Membuat semua pelayan wanita yang dilewatinya ingin rasanya menoleh dengan tatapan kagum. Sayang, itu tak boleh mereka lakukan.
"Tuan, mobil anda sudah saya siapkan." Begitulah sekiranya bodyguard-nya berbicara kepada Alex. Yang sedari tadi berdiri dibawah tangga, menunggu kedatangan tuan mudanya. Tentu, sang bodyguard akan menemani kemana pun Alex pergi.
Dengan gagahnya, Alex menuruni tangga. Lalu, dengan cepat ia berjalan kearah mobil yang sudah parkir didepan rumah mewah tersebut.
Semua pelayan yang berada di rumah tersebut, menundukkan kepalanya pada saat tuan muda itu berjalan melewati mereka.
Sopir yang siap mengantar kemana pun Alex pergi, sudah membukakan pintu untuk tuan mudanya. Selang beberapa detik, bodyguard yang selalu mendampinginya setiap saat, sudah berada dikursi depan, bersama dengan sopir pribadinya.
"Kemana kita kali ini?" tanya Alex dengan tatapan fokus mengarah ke layar ponselnya.
"Kita akan meeting di kota Amlapura selama kurang lebih tiga hari tuan." Dengan sigap bodyguard-nya menjawab pertanyaan Alex.
Bodyguard yang sudah lama bekerja di rumah Alex ini, sangatlah mengerti Alex layaknya kerabat dekatnya.
Maka, tidak heran. Biasanya seorang bodyguard hanyalah ditugasi mengawal atasannya saja. Namun, berbeda dengannya. Ia juga bertugas mengatur jadwal kantor, dan juga kegiatan Alex setiap hari. Bahkan, apapun keperluan Alex, ia juga yang mengurusnya.
Nama bodyguard tersebut, ialah Jordan. Pria kulit putih yang memiliki tinggi kira-kira 168 cm itu. Dengan wajah yang bisa dibilang tampan. Namun, dengan sifat dan tatapan dingin, berbanding terbalik dengan Alex. Usianya 2 tahun lebih tua dari Alex.
Ia sudah 7 tahun bekerja menjadi bodyguard pribadi Alex. Pada saat usianya masih belia, ia sudah menguasai hampir semua jenis bela diri. Mulai dari Taekwondo, Judo, Silat, Kempo, Karate, dan masih banyak lagi jenis bela diri yang ia kuasai. Dia sudah dibilang sangat pantas dalam menjaga tuan mudanya ini.
"Tiga hari?" tanya Alex
"Iya tuan, tiga hari. Apakah tuan keberatan? kalau memang tuan..." perkataan Jordan dipotong oleh Alex.
"Tidak... aku hanya bertanya." Begitulah jawabnya.
Mungkin banyak yang bertanya kenapa bodyguard bisa menjadi sekretaris pula.
*****
Jadi, menurut Alex ia tidak membutuhkan yang namanya sekretaris. Apalagi sekretaris wanita. Karena, wanita itu sulit dimengerti, banyak bicara, dan kenapa harus mencari sekretaris lagi? Kalau ia memiliki bodyguard. Yang bukan hanya bisa bela diri, dan mampu menjaganya setiap saat, namun, ia juga pintar dalam mengurus berbagai hal.
Maka tidak heran, jika gaji dari bodyguard tersebut sangatlah tinggi. Namun, sampai sekarang tidak ada yang mengetahui berapa gaji dari Jordan sang bodyguard, yang selalu menjaga dan melindungi tuan mudanya. Dengan sepenuh jiwa dan raganya.
Perjalanan yang sangat panjang. Karena sudah terbiasa dengan perjalanan panjang, Alex tidak mengeluh sama sekali. Selama perjalanan, ia hanya mendengarkan musik, dan terus memainkan ponselnya, tanpa berbicara sepatah kata pun.
Begitu pula dengan kedua orang yang berada didepannya. Hampir sepanjang perjalanan, suasana mobil itu hening bak kuburan.
Selang berapa lama, akhirnya Alex sampai di Kota Amlapura. Ia sudah berdiri di depan pintu mobil dan beberapa orang pengusaha menjemputnya dengan riang gembira.
__ADS_1
Orang-orang itu menyapa Alex. Dengan senyuman hangat, namun tidak berbicara sepatah kata pun. Ia berjalan menuju kantor yang ada di depannya, disusul oleh para pengusaha yang menyambutnya tadi.
Walaupun Alex tersenyum. Namun tidak dengan hatinya, yang mengatakan ia malas dan kalau bukan karena permohonan mereka. Ia pun tidak sudi datang kemari.
Alex memang sangat pandai berakting, akan tetapi tidak dengan urusan asmaranya. Dengan ketampanan yang ia miliki dan senyuman yang menawan. Gadis mana yang tidak terpana dengan Alex. Terlebih lagi, ia kaya raya menjadi poin plus untuknya. Tak heran, banyak gadis yang ingin menikah dengannya.
Entah kenapa, ia tidak pernah tertarik kepada satu gadis pun. Walau secantik dan sepintar apapun gadis tersebut. Mungkin, ia memiliki kelainan atau belum ada gadis yang cocok untuk hatinya. sehingga ia demikian. Entahlah, hanya ia dan tuhan yang mengetahuinya.
Hari mulai gelap. Meeting pun terpaksa harus dihentikan. Alex pun segera pergi dari kantor tersebut. Menuju penginapan yang sudah dipesankan oleh salah satu pengusaha tadi.
Namun, sebelum ke hotel. Perut Alex sudah keroncongan, karena ia tidak makan apapun tadi. Kecuali buah apel yang disuguhkan diatas meja meetingnya. Akhirnya, Alex menyuruh sopir pribadinya untuk singgah ke salah satu tempat makan. Untuk membeli makanan dan minuman, untuk mengisi perutnya yang keroncongan.
Setelah sampai di salah satu caffe. Ia segera turun dari mobil dan menghampiri tempat makan itu.
"Selamat malam, selamat datang di tempat makan kami. Silahkan anda mau pesan apa?" begitu pelayan berbicara kepada Alex dengan senyumannya yang hangat.
Setelah memesan, rencananya Alex akan segera kembali ke mobil. Dan menyuruh bodyguardnya mengambil makanan dan minuman yang ia pesan.
*****
"Kakaaaak, aku kembali maaf telat. aku, aku capek aku mau air." Seorang gadis berlari menghampiri pelayan tadi. Dengan tampang pucat dan penuh keringat, ia tepat berada di samping Alex.
"Kenapa lari-larian sih, tempat ini tidak akan tutup jadi santai saja." Pelayan itu menenangkan gadis itu.
"Yuri kamu tu ya udah aku bilang jangan lewat jalan pintas, kamu masih saja nekat akhirnya kena karma kan" Pelayan itu berbisik untuk memarahi dirinya.
Mendengar pembicaraan mereka dan melihat tingkah gadis tadi, Alex pun senyum-senyum sendiri.
Pelayan itu sadar dengan pengunjung di hadapannya, yang akhirnya melirik Yuri dan memutar bola matanya ke arah pengunjung itu. sebuah isyarat, bahwa yang disamping itu pengunjung tempat makan mereka.
Yuri pun melirik Alex dengan senyuman yang dibuat-buat. Melihat Yuri seperti itu membuat Alex tertawa. Pelayan itu dan juga Yuri tampak kebingungan.
"Tunggu sebentar lagi pak ya. Makanannya masih dibungkuskan." karyawan itu langsung mencairkan suasana yang tidak karuan itu.
Yuri yang sudah berada di sebelah pelayan tadi untuk membantu membungus makanan yang dipesan oleh Alex.
"Tidak saya makan disini saja." Refleks Alex menjawab.
"Ah, baiklah." Ucap pelayan itu menjawab dengan wajah ceria dan senyuman hangat.
Sedangkan Yuri masih sibuk dengan bungkusan makanan yang dipesan oleh Alex.
__ADS_1
Melihat tuan mudanya yang berbicara demikian membuat Jordan kebingungan. Namun, ia enggan untuk berbicara.
Alex pun memilih tempat duduk yang nyaman untuk duduk, dan tentunya agar ia bisa memandang dengan jelas gadis itu.
Ya, Alex jatuh cinta pada pandangan pertama. Sudah sangat jelas pada saat Yuri membawakan pesanan yang dipesan Alex sampai ia mulai sibuk bekerja lagi. Alex selalu memandangi Yuri, walau dari kejauhan dan terus senyum-senyum tidak jelas.
Melihat pemandangan itu, bodyguardnya langsung menggelengkan kepala keheranan. Bagaimana tidak heran, orang yang kaku akan percintaan dan bahkan katanya tidak ingin memiliki seorang istri. Kini, ia bisa dengan mudahnya senyum-senyum tidak jelas dengan gadis yang ia belum kenal. Bahkan tidak tahu asal usulnya sekalipun.
Setelah selesai menyantap hidangan miliknya. Alex pun mengangkat tangan kanannya, menandakan kalau ia ingin membayar.
Yuri yang duduk di sofa karena kelelahan setelah membereskan meja pengunjung. Beranjak dari tempat duduknya, setelah melihat tangan Alex. Ia segera mengambil catatan makanan yang dipesan oleh Alex. Untuk melihat berapa total Alex berbelanja di tempat itu.
Setelah membayar, tidak lupa Yuri mengucapkan terima kasih kepada Alex dengan senyum manisnya.
"Sudah lama bekerja disini?" Alex memberanikan diri untuk bertanya kepada Yuri.
"Tempat ini baru buka pak, saya dan teman saya yang mengelola. Jadi, tidak ada bos atau pun karyawan." Jawab Yuri.
Ia menjelaskan panjang lebar, dengan mulutnya yang tidak bisa dikendalikan dengan mudah. Selesai berbicara, Yuri selalu memberikan senyuman manis kepada Alex. Membuat Alex salah tingkah dan ingin rasanya mencubit pipi Yuri saking gemasnya.
Namun, Alex bisa mengendalikan niatnya itu. Setelah selesai dengan urusan makan Alex pun beranjak menuju mobilnya.
Didalam mobil Alex hanya senyum-senyum tidak karuan mengingat kejadian tadi. Bodyguarnya pun tersenyum tipis, melihat tuan mudanya senyum-senyum tidak jelas.
Namun, tidak dengan sang sopir. Ia bahkan terlihat bingung melihat tingkah tuan mudanya itu. Apalagi bodyguardnya yang untuk pertama kalinya tersenyum.
"Bagaimana kalau kita tinggal disini selama beberapa hari? Mungkin seminggu atau dua minggu?" Alex refleks melontarkan pertanyaan tidak masuk di akal itu.
"Saya sudah menduga tuan. Kalau anda pasti ingin berlama-lama tinggal disini. Saya harus cepat mengambil tindakan. Bisa-bisa, hanya karena satu gadis. Anda bisa memindahkan perusahaan anda ke kota kecil ini." Batin Jordan yang sudah mengira-ngirakan kelakuan tuan mudanya kelak nanti.
"Hhm baiklah tuan." Tanpa berpikir panjang Jordan menyetujui kemauan tuan mudanya, karena ia tidak pernah menolak apapun keinginan tuan mudanya.
Keesokan harinya, ia pergi lagi ke tempat makan sekaligus tempat nongkrong tersebut, dijam yang sama. Dan mencari informasi mengenai tempat itu. Tentunya, informasi gadis manis yang bernama Yuri. Tidak luput dari daftar pencarian yang ditugaskan Alex kepada Jordan.
Sudah beberapa hari ia pergi ke tempat tersebut, hanya untuk melihat gadis yang ia sukai. Sampai-sampai tanpa sengaja ia sudah menjadi pelanggan tetap di tempat tersebut.
Walaupun urusan meeting sudah selesai dari beberapa hari yang lalu. Namun, Alex masih tinggal di kota itu untuk waktu yang cukup lama.
*****
(Di Perusahaan)
__ADS_1
Banyak karyawan di kantornya kebingungan akan hilangnya CEO tersebut. Karena ia tidak memberi tahu bahwa ia akan tinggal beberapa hari di kota tersebut. Bahkan, ia sengaja mematikan ponselnya agar tidak ada yang mengganggunya.
Setelah beberapa hari ia tinggal disana, dan dirasa susah cukup mendapatkan informasi mengenai gadis tersebut. Ia pun merasa senang. Intinya informasi yang paling ia ingin tahu, yaitu bahwa gadis tersebut belum memiliki pasangan. Ia sangat senang sampai-sampai ingin segera mengutarakan isi hatinya kepada sang gadis.