Sekretaris Sang Prsedir

Sekretaris Sang Prsedir
Bab 06


__ADS_3

"begini kan bagus."Ucap Kirana sambil memasukkan bungga itu ke dalam pot bunga keramik yang ada di meja depan sofa tempat Firgo duduk.


"Jangan sentuh." Tutur Firgo.


"Aku, aku hanya memasukkan bungga."Ucap Kirana.


"itu pot bunga keramik dari luar negeri, harga nya satu miliar."Ucap Firgo dengan mata yang masih menatap buku nya.


"Apa? Sa,satu miliar?"Kaget Kirana sontak buru-buru menaruh pot bunga keramik tersebut kembali ke tempat nya seperti semula dan mencabut bungga yang sudah dia letakan tadi.


Dia yang kaget pun kembali ke dapur dan membuang bungga itu ke dalam tong sampah, setelah itu dia pun kembali berjalan ke ruang tengah.


Namun ia kembali melihat beberapa bir yang ada di sebuah meja tak jauh dari ruang tengah itu.


"Yang di bawah, kau boleh minum, tapi yang ada di atas jangan menyentuh nya."Ucap Firgo menatap perilaku Kirana dari jarak jauh.


"Hah? Mengapa?"Tanya Kirana yang selalu di selimuti rasa ingin tau.


"Yang di atas itu bir mahal, dari lair negeri, yang di bawah kau boleh mencicipi nya."Tutur Firgo kembali fokus ke buku nya.


"Astaga, di villa ini, semua barang luar negeri kah? Aku heran apakah kehidupan orang kaya harus seorang ini?"Gumam kecil Kirana.


Karena bosan, Kirana pun kembali ke dalam kamar nya untuk segera tidur.


Karena jika dia masih berkeliaran itu akan sangat berbahaya, menyentuh barang-barang luar negri milik Firgo akan membuat nya kehilangan dua ginjal untuk membayar itu jika sampai rusak.


"Huhh, nasip buruk ini,kapan akan berakhir?"Batin Kirana yang kini duduk di tepi ranjang dan hendak bersiap-siap untuk tidur.


Namun, baru saja dia ingin merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk itu, ponsel nya pun berdering, menandakan ada sebuah panggilan masuk.


Kira pun kembali meraih ponsel nya dan terlihat nama mama di layar ponsel.


Kirana pun buru-buru mengeser tombol hijau untuk mengangkat panggilan tersebut.


Call on.


"Hallo nak."Ucap sang mama dari sebrang telpon.


"Iya ma, ada apa?"Tanya Kirana sambil menempelkan ponsel itu ke telinga nya.


"Kirana, besok malam kakak sepupu mu tuanangan, kau jangan lupa datang ya."Tutur mama nya kepada Kirana.

__ADS_1


"Hmm, iya ma, aku tau,aku akan datang."Jelas Kirana dengan suara sedikit sedih.


"Baik lah, kalau begitu mama matikan dulu, ada banyak hal yang ingin mama urus."Tutur sang mama yang kemudian mematikan telepon secara sepihak.


"Hmm, aku tau nasip kakak sepupu lebih baik dari ku, tapi sudah lah, jalani saja."Ucap Kirana yang kemudian meletakkan ponsel nya ke atas nakas dan kemudian tidur.


Keesokan harinya.


"Hey, bangun! Apa kau tidak mau bekerja?"Ucap Firgo menarik selimut yang menutupi tubuh Kirana.


"Huaaam!"Kirana menguap besar sambil membuka mata nya.


"Aaaaa! Pak Presdir! Apa yang anda lakukan di kamar ku!"Ucap Kirana kaget dan kembali menarik selimut menutupi tubuh nya.


"Jangan kepedean, aku tidak tertarik dengan cicak, ayo cepat beres-beres, jika tidak kau akan ke kantor jalan kaki."Tutur Firgo yang kemudian berjalan keluar dari kamar Kirana.


"Aduh, aku ini sudah gila ya? Huh setiap hari bukan nya memperbaiki masalah, malah membuat malu diri sendiri, cicak-cicak, aku ini kelinci, kelinci imut, bukan cicak, dasar boss buaya!"Umpat Kirana yang kemudian beranjak turun dari ranjang nya dan bergegas ke kamar mandi.


Tiga puluh menit kemudian.


"Boss,aku sudah siap."Tutur Kirana sambil menyandang tas kerja nya.


"Boss, dia berangkat kerja bersama kita?"Tanya Fey yang sudah menunggu Firgo di depan pintu villa.


"Ya."Jawab Firgo masuk ke dalam mobil.


"Pagi."Ucap Kirana kepada Fey.


"Pagi, silahkan masuk."Ucap Fey kepada Kirana.


"Fey Tampan?"Tanya Firgo sambil melirik Kirana yang duduk di sebelah nya.


"Ya, eh maksud ku biasa saja."Tutur Kirana.


"Boss ini, mengapa tiba-tiba bertanya begitu? Tapi bukan kah boss benar-benar membenci nya, mengapa dia sekarang malah berubah? Apa ini bagian dari rencana?"Batin Fey sambil fokus menyetir mobil.


Tidak lamaran kemudian mereka pun tiba di kantor.


"Turun."Ucap Firgo kepada Kirana.


"baik boss."Jawab Kirana turun dari mobil itu dengan sedikit mengendap-endap.

__ADS_1


"Boss, mengapa? Apa ya g terjadi? Dia bukan nya wanita yang sudah membuat mu kesal beberapa hari ini? Mengapa kau tiba-tiba baik dengan nya?"Tanya Fey kepada Firgo yang sat itu mereka masih duduk berbincang di dalam mobil.


"Kau tidak mengerti, dia sudah menemani kakek sepanjang hari, aku sempat berfikir dia hanya perempuan nakal yang tidak tau tata kerama, tapi setelah melihat kakek baik-baik saja bersama nya aku jadi tau bagaimana dia sebenarnya, aku juga sudah mendapatkan informasi jika dia sudah membantu Kakek dari pagi."Tutur Firgo kepada Fey.


"Baik lah boss,aku mengerti, ayo masuk."ucap Fey membuka pintu mobil dan mempersilahkan Firgo untuk turun dari mobil nya.


"Heh! Kau, kesini!"Ucap Nita, kepala menejer yang selalu membuat semua pekerjaan Kirana menjadi kesulitan.


"Ada apa buk menejer?"Tanya Kirana kepada Nita.


"Jangan mentang-mentang kau sekretaris pak Presdir ya, kau bisa berangkat ke kantor bersama dengan nya."Ucap Nita dengan wajah marah nya.


"Aku, itu hanya kebetulan saja."Tutur Kirana kepada Nita.


"Ada apa ini?"Tanya Firgo yabg tiba-tiba sudah berdiri di belakang Kirana.


"Eh, boss, selamat pagi boss, maaf, aku hanya memperingati nya, agar tidak lancang menumpang di mobil mu."Ucap Nita sambil tersenyum.


"Kau tidak perlu memarahinya, dia sekretaris ku, aku tidak masalah. Kau tidak perlu menindas nya."Tutur Firgo yang kemudian berjalan masuk ke dalam ruangan nya bersama dengan Fey.


"Wah! Wah, kau mendapatkan belaan dari pak Presdir, apa yang sudah kau lakukan sebelum nya?"Ucap Nita tidak puas menindas Kirana.


"Maaf kepala menejer, aku masih banyak pekerjaan."Tutur, Kirana yabg kemudian kembali ke meja kerja nya dan mulai bekerja.


"Ck,awas saja,aku tidak akan membiarkan dia merebut pak Presdir dari tangan ku."Batin Nita dengan percaya diri yang tinggi.


Siang hari.


"Nona Kirana, boss memangil mu untuk ke ruangan nya sekarang."Ucap Fey menghampiri Kirana.


"Baik."jawab Kirana yang kemudian berdiri dari duduknya dan berjalan pergi ke ruang kerja Firgo.


Tok ... Tok ... Tok


Suara ketukan di luar pintu ruang kerja Firgo.


"Masuk."Jawab Firgo dari dalam ruangan tersebut.


Kirana pun memegang gagang pintu dan membukanya.


Terlihat Firgo yang sedang sibuk menatap layar laptop nya.

__ADS_1


__ADS_2