Sekretaris Sang Prsedir

Sekretaris Sang Prsedir
Bab 08


__ADS_3

Sementara itu Kirana berusaha menahan emosi nya dengan mengepal kan tangan.


"Terima kasih banyak bibi,tapi aku tidak memerlukan itu semua, aku juga sudah mendapatkan pekerjaan di perusahaan terbesar kota ini dan gaji nya juga cukup mahal,aku masih akan fokus dulu dengan karir tidak terburu-buru untuk mencari pasangan."Jawab Kirana dengan tegas nya.


"Wahh, sangat keren, itu pasti ajaran dari kakak!"Ucap bibi nya Kirana bertepuk tangan sambil tersenyum miring.


Sementara mama Lita hanya tersenyum saja.


"eh aku permisi ke toilet dulu ya."Ucap bibi nya Kirana.


"Aku juga."Ucap ibu-ibu lain nya.


"ya, silahkan."Ucap mama Lita.


"Kirana sayang, jangan dengar kan ucapan mereka,bagi mama kau adalah segalanya,mama tidak peduli apa yang akan mereka ucapkan kau tetap kebanggaan mama, sayang kapan kau mau pulang ke rumah lagi? Rumah terasa sepi tanpa mu."Ucap sang mama sambil mengengam erat tangan putri nya.


"Aku baik-baik saja ma, mama tidak perlu khawatir, aku akan mandiri, lain kali aku akan pulang, ma aku ke toilet dulu."Ucap Kirana sambil tersenyum tipis.


Mama Lita pun mengangguk kan kepala nya pertanda jika dia mengerti dengan apa yang di katakan oleh anak nya itu,dia juga tidak bisa memaksa Kirana untuk kembali ke rumah dengan cara kasar.


Sementara itu Kirana berjalan menuju toilet dan menguping pembicaraan bibi nya dan juga teman-teman nya.


"Apa gunanya pekerjaan dan gaji yang besar,dia juga tidak ada yang mau."Ucap teman-teman bibi nya.


"Ya aku tau, dia berbeda jauh dengan putri ku."Jawab sang bibi.


"Kalau aku punya anak perempuan yang seperti Kirana,aku pasti akan sangat malu."Gumam mereka.


"Aku dengar selingkuhan calon suaminya itu sudah hamil,haha malang sekali."Tutur mereka bergosip di dalam toilet.


Perlahan bulir bening itu mengalir deras membasahi pipi Kirana, ia bingung dengan orang-orang yang mengunjing nya, padahal di sini dia yang di hianati,bukan nya mendapatkan keadilan malah dia yang di hujat habis-habisan.


Ia yang tidak tahan pun kembali keluar dari dalam toilet tersebut sambil menyeka air matanya,agar sang mama tidak curiga.


"Ma,aku harus kembali dulu, ada hal penting yang harus aku kerjakan, sampai kan salam ku kepada kakak sepupu,lain kali kita bertemu lagi."Ucap Kirana kepada itu nya sambil mengambil tas nya yang ada di atas meja bulat yang besar itu.

__ADS_1


"Lah, Kirana, acara nya bahkan belum di mulai nak, mengapa kau malah pergi."Ucap mama Lita.


Namun Kirana tidak mendengar kan nya, dia terus berjalan keluar dari gedung dengan mata yang semabab.


Sementara itu di sisi lain.


"Boss,kita pulang sekarang?"Tanya Fey kepada Firgo.


"Ya, semuanya sudah selesai."Jawab Firgo.


Hari ini Fey dan Firgo meganda kan rapat penting, dia juga mendapat sebuah proyek sebesar sepuluh milyar.


Mereka berharap keluar dari kantor dan kemudian masuk ke dalam mobil.


"Tuan, masalah dinas ke luar kota, untuk proyek sepuluh milyar ini, apa kau akan mengajak wanita ceroboh itu?"Tanya Fey sambil fokus menyetir mobil nya.


"Ya, ini hanya tiga hari, tidak masalah."Jawab Firgo singkat.


"Tapi kepala menejer?"Ucap Fey yang tau jika kepala menejer agak lain terhadap Kirana.


"Tapi boss."Bantah Fey.


"Bisa tidak jangan membantah, cepat pulang perasaan ku tidak enak."Tutur Firgo lagi.


Fey pun terdiam dan sekarang fokus mengemudi mobil untuk kembali ke villa.


Tidak butuh waktu lama, mereka pun akhirnya tiba di villa.


"Aku kembali ke apartemen boss."Ucap Fey kepada Firgo saat setelah Firgo turun dari mobil nya.


"Baik lah."Jawab Firgo singkat dan kemudian berjalan masuk ke dalam villa.


"Firgo, sejak ada wanita itu bersama nya, dia malah sering pulang lebih cepat, apa ada sesuatu di hati keras nya itu?"Batin Fey sambil tersenyum kecil dan kembali menyala kan mesin mobil nya dan melaju kembali ke apartemen.


Sementara itu Firgo masuk ke dalam villa, suasana begitu gelap, entah karena mati lampu atau sengaja di matikan.

__ADS_1


"Ayo minum! Minum lagi!"Suara berat khas mabuk dari arah ruang tengah villa.


Firgo yang mendengar itu pun berjalan cepat menuju ruang tengah villa nya.


Tidak ada seorang pun di atas sofa ruang tengah, karena gelap, Firgo pun menyalakan lilin khusus di siapkan jika lampu sedang mati.


Alangkah kagetnya dia, benar tidak ada orang di atas sofa, melainkan di bawah depan sofa itu.


"Kirana? Apa yang kau lakukan? Mengapa kau minum begitu banyak?"Tanya Firgo kaget sambil melewati beberapa botol bir yang sudah kosong akibat di minum Kirana.


Kirana pun menatap Firgo yang berdiri di samping nya.


Ia kembali mengingat bagaimana orang-orang di toilet tadi membicarakan tentang dirinya dan sang mama.


"Kenapa aku gagal nikah? Mereka bahkan mempermalukan mama ku, mama ku adalah mama terbaik, aku tidak mau dia terus di gunjing orang seperti ini, mama ku setelah cerai, bekerja keras, jual makanan buat menghidupi aku,tapi mengapa? Mengapa aku malah membuat nya malu seperti ini, aku sangat ingin mama ku bangga kepada ku, bukan di perlakukan karena aku gagal nikah, ini kan bukan salah ku!"Ucap Kirana dengan air mata yang membasahi pipi nya.


Ya dulu,saat mama dan papa nya Kirana berpisah, Kirana ikut mama nya, dari sini lah dia melihat setiap detik perjuangan sang mama yang bekerja keras untuk membiayai kebutuhan nya dan menyekolahkan nya, dari situ lah Kirana ingin sekali mama nya bangga memiliki anak seperti nya,tapi sampai saat ini semua itu belum terwujud.


Firgo yang mendengar kan ucapan Kirana merasa sedikit tersentuh, dia tau bagaimana sulit nya Kirana yang baru berusia dua puluh empat tahun menjalani pahit nya dunia.


Firgo juga tau, saat ini mungkin Kirana mabuk karena ingin melampiaskan semua kemarahan nya.


"Sudah habis."Ucap Kirana selesai menguk bir terakhir yang ada di dalam gelas nya.


"Tunggu sebentar."Ucap Firgo beranjak dari ruang tengah menuju dapur.


Firgo pun mengambil bir termahal yang pernah di pegang oleh Kirana dan membawa nya ke ruang tengah untuk di minum bersama dengan Kirana.


"Aku tau, saat ini hanya ini yang bisa membuat mu meluap kan semua kekesalan mu,ayo minum lagi."Tutur Firgo sambil menuangkan bir itu ke gelas Kirana dan juga gelas nya.


"Hahah, cirs!"Gelak Kirana yang sudah mabuk berat.


Firgo menatap nya dalam, semakin hati rasanya dia semakin tertarik dengan perempuan itu.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2