
Karena kondisinya yang sangat lelah, dan ia tak henti-hentinya meneteskan air mata, hal itu sempat membuat Lyna tak sadarkan diri di tempat pemakaman ayahnya, dan ia langsung dibawa kembali kerumahnya dengan bantuan teman-temannya, terlihat Aron yang juga ikut mengantar Lyna pulang.
Setelah beberapa menit, akhirnya Lyna sadarkan diri. Ia melihat Etta, Liona, dan juga Dion yang sedang menemaninya di kamarnya. Tak lama setelah itu ia melihat kehadiran Aron yang membawakan segelas air untuknya. Lyna merasa bingung, karena Aron juga ada disana.
Dengan wajah yang masih sembab Lyna berusaha untuk tidak laut dalam kesedihan, tetap tersenyum agar teman-temannya tidak merasa cemas pada dirinya.
“Terima kasih, kalian sudah menemaniku. Terima kasih juga pak Aron atas kehadirannya” ucap Lyna
“Iya, kamu istirahatlah dan untuk beberapa hari kedepan kau tak perlu memikirkan pekerjaan. Sekarang kamu sudah sadar, saya permisi” ucap Aron
Sebenarnya Aron ingin menemani Lyna, menghiburnya dikala sedih. Tapi ia tahu ada teman-temannya disana untuk menemaninya, dan Aron takut mereka akan berfikiran yang macam-macam dan membuat Lyna merasa tak nyaman jika ia terus berada di sana dan terlalu mencemaskan keadaan Lyna.
__ADS_1
Keesokan harinya
Masih dalam suasana berduka, hanya Lyna dan ibunya, dan sekarang tinggal mereka berdua. Setelah menyelesaikan pekerjaannya Aron menyempatkan untuk mampir ke rumah Lyna untuk bertemu dengannya melihat keadaannya dan ibunya juga. Namun yang ada di rumah hanya Ibu Lyna saja. Kemana Lyna???
Aron pun bertanya pada ibu Lyna, setelah mengetahu kemana Lyna pergi, ia pun langsung bergegas pergi untuk menemuinya. Aron tiba di tempat yag diberitahukan ibu Lyna dan di sana ia melihat Lyna yang sedang menangis di depan makam ayahnya, Aron lalu menghampirinya dan merangkulnya, menenangkannya dengan menepuk lembut pundaknya.
“Kalau kau ingin menangis, menangislah sekencang-kencangnya. Aku akan ada untukmu” ucap Aron
Lyna tidak mengetahui kedatangan Aron pada saat itu, ia tapi mendengarkan apa yang di katakan Aron padanya dan akhirnya kata-kata Aron membuat Lyna dapat meluapkan kesedihan yang ia rasakan, ia menangis dengan kencang.
“Bagaimana kabarmu sekarang? Apakan perasaanmu sudah lebih baikan?” tanya Aron
“Maaf, aku tidak menyadari kedatangan anda. Terima kasih kau telah kemari...Aku pikir sekarang lebih baik, dan harus lebih baik. Karenaa aku sendiri juga tidak ingin larut dalam kesedihan” sahut Lyna
__ADS_1
“Baiklah, kalau kau sudah selesai disini aku akan mengantarmu pulang” ucap Aron
Meraka pulang bersama, dan di perjalanan Aron mengatakan penyesalannya dan meminta maaf kepada Lyna, karena waktu acara makan bersama ia memaksa Lyna untuk ikut dengannya
“Waktu itu aku terlalu egois, aku tidak mengetahui mengenai kondisimu saat itu. Aku minta maaf padamu” ucap Aron
“Ahh, sudahlah. Saya sama sekali tidak mempermasalahkan mengenai kejadian itu” sahut Lyna
Mereka sampai dirumah Lyna, dan ibu Lyna mengajak Aron makan bersama karena melihat sikap Aron yang sangat baik padanya dan juga pada Lyna.
“Iya, kau makanlah bersama kami. Aku sangat senang jika kau tidak menolaknya” ucap Lyna
Aron ikut makan bersama Lyna dan ibunya, ia sangat menikmati makanan tersebut, suasana yang begitu lama belum ia rasakan, yaitu suasana kekeluargaan yang sederhana, namun sangat bermakna.
__ADS_1
Semenjak masuk kuliah Aron memilih untuk tinggal terpisah dari orang tuanya dan ia tinggal sendiri di sebuah apartment mewah, mengurus dirinya sendiri.
“Nak Aron apa kau menikmati makanannya?” tanya Ibu Lyna