Sensei to Atashi

Sensei to Atashi
Bab 1


__ADS_3

Aku pergi mengendap- endap ke pintu. Hari ini aku berjanji kepada Asami dan Nao untuk pergi bersama shopping, tapi semua tak semudah dulu.


“KIMIKO!!!!”. Nah itu dia suara yang paling aku takutkan. Aku kaget sekali.


“eh.. Okasan…” aku menoleh dengan takut. Aku tahu apa yang akan terjadi.


“mau kemana kau?” Tanya Okasan. Pandangannya sungguh membuatku gemetaran. “masuk kembali” perintahnya.


“tapi… Okasan, aku sudah berjanji kepada Asami-chan dan Nao-chan untuk pergi, ijinkanlah aku kali ini” aku memandang ibuku dengan wajah memelas.


“kembali ke kamarmu dan belajarlah” . Okasan menarikku kembali ke kamar.


“moshi- mosi Asami-chan, gagal hari ini Okasan mengurungku lagi, gomenasai” aku mematikan ponselku dan melemparkannya. “fuaaah” aku merebahkan diri diatas kasur.


“Kimi-chaaan”. Onii-chan masuk ke kamarku, aku menatapnya dengan pandangan sebal.


“hemm”.


“kau kenapa?” tanyanya tanpa rasa dosa, padahal ini semua salah satu penyebabnya adalah dia.


“onii-chan, jangan bersikap seperti itu, itu semakin membuatku kesal, ini semua karena onii chan” aku meluapkan kekesalanku padanya.


“eh aku?” onii-chan tampak kebingungan.


“tentu saja karena onii-chan, aku menderita karena onii-chan, Otosan dan Okasan menginginkan aku seperti onii-chan, tapi mana bisa, karena onii-chan kuliah di universitas ternama, mereka juga menginginkan hal yang sama dariku” aku berdiri saking kesalnya. Onii-chan tertawa. “jangan tertawa!” aku menatapnya tajam. Onii-chan langsung terdiam.


“masa mudaku… masa mudaku yang indah, harusnya kulalui dengan bersenang-senang dengan teman- temanku, tapi aku harus belajar karena Kei Masafumi!” aku mengguncang-guncang badan onii-chan.

__ADS_1


“hei Kimi-chan, Otosan dan Okasan itu khawatir padamu karena semenjak masuk ke sekolah menengah nilai- nilaimu tak mengalami kenaikan”


“harusnya mereka memahami kalau setiap anaknya itu memiliki kemampuan yang berbeda-beda” aku masih bersikeras.


“mereka Cuma ingin yang terbaik untukmu Kimi-chan”


“hah hah hah hah” aku memukul-mukulkan kepalaku ke bantal karena frustasi.


“lagipula kau di tahun akhir sekolah menengah atas, tahun depan kau harus masuk universitas, sudah wajar jika kau harus mengurangi bermain dan memperbanyak belajar”


“ah cerewet!!!” aku melemparkan semua benda yang ada di sekitarku kepadanya, aku kesal sekali dia banyak bicara.


“baiklah baiklah, aku keluar” terdengar suara pintu ditutup. Memang jika kupikir, nilai-nilaiku tak cukup bagus untuk sekolah di universitas yang sama dengan onii-chan, tapi mereka juga tak buruk. Tapi aku masih saja kesal.


“engh…”. Aku membuka mataku melihat sekeliling, sudah gelap sepertinya sudah malam. Kuraih jam di mejaku, pukul tujuh malam. Aku segera bangun dan mandi, sepertinya aku tertidur karena terlalu kesal.


“itadakimasuuuuu”. aku mulai makan dengan lahap, kalau ingin marah paling tidak perut harus penuh.


“Kimi-chan, kami sudah memutuskan, kau boleh bermain bersama temanmu tiap dua minggu sekali, tapi kau akan menerima pelajaran dari tutor seminggu sekali”


“haaa” mulutku yang masih penuh makanan terbuka secara otomatis.


“apa itu solusi yang terbaik Otosan? Kurasa akan lebih baik jika dia diperbolehkan main seminggu sekali dan seminggu tutor” onii-chan coba membelaku, aku mengangguk-angguk mendukung usul onii-chan.


“kita akan lihat dalam sebulan dulu” Otosan tetap bersikukuh pada pendiriannya. Aku langsung lemas mendengar ucapan Otosan.


“nee nee onee-chan, kalau kau dirumah, kau bisa membantuku mengrjakan tugas” adikku ikut buka suara. Aku memandangnya dengan tatapan hampa, “ayolah onee-chan, tak buruk juga kan bermain bersamaku”. Aku hanya mengelus rambutnya.

__ADS_1


“siapa yang akan menjadi tutorku Otosan?”


“hmmm, dia teman kuliah Kei-chan”


“terserahlah” jawabku putus asa.


Aku menaiki tangga dengan langkah gontai, dan merebahkan badanku ke kasur.


“gomenne Kimi-chan”. Onii-chan ikut masuk ke kamar. “aku pastikan mencarikan tutor yang bagus untukmu, sehingga kau bisa menaikkan nilaimu dan bisa bermain setiap minggu”. Aku diam saja, aku tahu dia sedang berusaha menghiburku.


“onii-chan”


“hai’”


“carikan aku tutor yang ganteng, sehingga aku semangat menerima pelajaran dari dia” tiba tiba aku menemukan ide, tapi onii-chan hanya tertawa.


“kau akan mencari pacar atau mencari tutor?”


“sudahlah, paling tidak kan aku bisa semangat” aku menatapnya dengan pandangan memelas. Onii-chan tersenyum kemudian keluar.


catatan


okasan : ibu


otousan : ayah


oniichan : kakak

__ADS_1


itadakimasu: selamat makan


__ADS_2