
***
“ohayo” sapa Nao.
“oha” jawabku.
“bukankah hari ini akan ada test bahasa inggris?” Tanya Nao. Aku
mengangguk. “kau sudah mempersiapkan dirimu pastinya?”.
“tentu” jawabku semangat. “aku sudah mulai pelajaran dengan Takahasi Sensei, tutorku”
“apaaa, kalian sudah bertemu?!” teriak Asami yag baru datang memekakkan
telingaku.
“hai, kami sudah mulai
pembelajaran kami, dia ternyata lebih ganteng daripada di foto”
Mata Asami berbinar-binar. “ijinkan aku menginap saat kalian sedang
belajar” katanya sambil memegang tanganku.
“baiklah, tapi sepertinya bukan
dalam waktu dekat” jawabku.
“aku juga” sahut Nao.
“baiklah baiklah, kalian boleh menginap, nanti kuberitahu kapan kalian
bisa menginap”
“Asami-chan, apakah kau
memendekkan rokmu lagi?” Tanya Nao sambil memperhatikan seragam Asami.
“ssshhh” Asami menempelkan telunjuknya di bibirnya.
“ah” aku teringat sesuatu. “apa itu karena ucapan Tetsuya Sensei?”. Asami mengangguk, aku tertawa.
Nao kebingungan karena tidak tahu cerita itu. Akhirnya aku menceritakannya.
“semua duduk kita akan memulai testnya” kata Tetsuya Sensei.
“arigatou” kataku setelah
menerima kertas test.
Soal yang ada di test lumayan mudah karena aku sudah mempelajarinya
bersama Takahasi Sensei.
“bagaimana, apakah kalian yakin kalian akan sukses di test kali ini?”
tanyaku.
“tentu” jawab Nao.
“tentu aku sukses” sahut Asami.
“ngomong-ngomong, apakah kau sudah dapat nomor ponsel atau email
tutormu?” Tanya Nao, aku menggeleng lemah.
“baka!! Kenapa kau tak minta!”
kata Asami.
“lagipula kami baru bertemu, jadi aku akan menunggu waktu yang tepat” jawabku,
“yah, walaupun dalam hati aku sangat menginginkan nomor ponselnya”
__ADS_1
“tenang Kimiko, akan selalu ada waktu” kata Nao sambil menepuk- nepuk
pundakku.
“yo!” teriak Shigeru.
“kenapa sih kau ini?! Kenapa selalu ke sini saat istirahat makan siang,
apakah kau tak punya teman?” omelku.
“betul kata Kimiko, kau terlalu sering ke sini Shigeru-kun” sahut Nao
Shigeru tertawa seolah- olah tak ada apa-apa.
“lihat itu Kimiko-chan” teriak Shigeru
sambil menunjuk keluar. Yoh Watanabe,
ketua komite murid sedang berjalan, mungkin dia sedang melakukan inspeksi
kedisiplinan.
“bukankah dia sepupumu?” Tanya Asami. Shigeru mengangguk.
“aku heran, kenapa orang sepertimu memiliki saudara seperti dia” sahutku
ketus.
“ah, sepertinya kau masih menyukainya” ledek Shigeru. Nao tertawa.
“berhenti tertawa kalian berdua”. Mereka temanku di sekolah menengah
pertama, tak seperti Asami yang berteman saat di sekolah menengah atas.
Shigeru dan Nao masih tertawa saja. “nee nee, memangnya ada apa?” Tanya Asami.
“cukup kalian berdua!” bentakku. Tapi mereka masih saja tertawa.
“jadi dulu waktu…” belum selesai Shigeru menjelaskan pada Asami aku
Bukankah menyebalkan sekali, ku akui, aku dulu menyukai Yoh Watanabe, dan
saat aku mengungkapkannya, dia menolak dan mempermalukanku, sekarang mereka
bahas lagi. Aku terus berjalan tak tentu arah, aku hanya tak ingin bersama
mereka dulu.
“Masafumi-san”. Aku menoleh karena ada yang memanggil. Ternyata Tetsuya Sensei.
“apakah kau sedang sibuk? Bisa membantuku sebentar?”
Tentu saja aku langsung masuk ke ruang laboratorium bahasa. “apa yang
bisa saya bantu Sensei?” kataku.
“bisakah kau bantu mengurutkan file- file itu?”
“hai Sensei”. Aku tahu, ketika
nanti aku keluar dari ruangan ini mata semua siswa wanita itu akan
memelototiku, tapi aku juga tak bisa menyia-nyiakan kesempatan ini, Tetsuya Sensei, guru paling kakkoi di sekolah, semua wanita berlomba- lomba mendekatinya,
bahkan diajak berbicarapun mereka sudah bahagia. Tak mungkin kan aku melewatkan
waktu untuk bersama dengan Sensei.
Aku membaca sekilas file yang kuurutkan. “ano[1].. Sensei, apakah ini yang akan kita
pelajari di pertemuan berikutnya?”
“tepat sekali Masafumi- san”. Aku melanjutkan pekerjaanku. Aku ingin
__ADS_1
sekali memotret Sensei, tapi
bagaimana lagi, aku tak punya keberanian seperti yang dimiliki Asami.
Tak lama kemudian bel berbunyi. “kau boleh kembali ke kelasmu”.
“hai Sensei”
Begitu memasuki kelas Nao langsung menghampiriku. “gomenne Kimiko” katanya. Aku diam sambil kembali ke kursiku.
“aku tak marah dengan kalian, aku hanya kesal dengan Shigeru-kun” kataku,
“kalian tahukan rasanya ditolak, dipermalukan didepan umum, dan dia saat itu
menertawakanku, saat dia tertawa tadi, aku teringat saat dulu dia
menertawakanku” tambahku.
“kami tak akan melakukannya lagi” kata mereka bersamaan.
Saat perjalanan pulang aku mengingat kejadian itu, saat itu aku masih
kelas 8, aku menyatakan rasa kepada Yoh Watanabe, seorang pemain basket saat
klub basket sedang latihan. Tapi bukannya menerima atau menolak, dia malah
berteriak kepada teman- temannya, bahwa aku cewek yang biasa saja ini berani
menyatakan rasa kepada pemain basket top di sekolah, hampir semua anggota tim
basket tertawa termasuk Shigeru.
“Kimiko –chan” . aku menoleh,
ternyata Shigeru. “gomenne” katanya.
“sudahlah, kita bukan anak- anak lagi, memang aku marah untuk sesaat,
teringat saat kau ikut menertawakanku dulu” jawabku.
“yah, entahlah, mengapa aku dulu tertawa, tapi apakah kau masih
menyukainya?”
“baka! Bagaimana bisa aku tetap
menyukainya jika dia melukaiku seperti itu dimasa lalu, apalagi sekarang dia
ketua komite, pasti dia mengharapkan seseorang yang lebih”
“aku juga tak tahu, dulu dia sering keluar dengan cewek-cewek popular,
kesenangan sesaat sepertinya” kata Shigeru.
“itu urusannya, aku tak peduli”
“ah iya”
Shigeru terdiam. Akhirnya kami pulang dalam keadaan saling diam.
[1]
__ADS_1
Ehm/ eh