Sensei to Atashi

Sensei to Atashi
Episode 21


__ADS_3

Musim panas yang cerah, bunga- bunga matahari bermekaran dimana-mana. Di kamar onii-chan sudah ada satu pak kembang api. Mayu dan onii-chan sudah berencana untuk ke pantai, tapi karena PR ku banyak, aku di rumah saja. Dan karena PR yang diberikan guru itulah Tetsuya sensei juga tak libur menjadi tutorku.


 


“Kimi-chaaan!!” Asami masuk kamarku tanpa mengetuk dulu.


 


“Eh, kau di sini?!” Aku kaget karena dia tak mengabari akan main ke rumahku.


 


“Jangan kaget donk, Nao-chan juga,” kata Asami. Nao dan Asami datang menggunakan celana pendek dan kaus pendek, tak heran di cuaca sepanas ini mereka berpakaian seperti itu. Sejujurnya aku masih kesal dengan Nao, tapi Tetsuya sensei berkata kalau mungkin saja Nao hanya menemani Mayu, aku tak lagi marah.


 


“Apa kau tak menghabiskan waktu dengan Shigeru-kun? Apa kalian tak ke pantai?” tanyaku.


 


“Umm, orang tua-ku melarangku pergi berdua dengan Watanabe-kun, bagaimana kalau kau ikut Nao-chan?” Asama menatap Nao dengan pandangan memohon.


 


“Iie, aku harus belajar,” kata Nao.


 


“Kurasa orang tuamu benar  Asami-chan, di taman hiburan saja kalian berani kissu[1], apalagi di pantai berdua,” godaku.


 


“Apa maksudmu??” teriak Asami dengan wajahnya yang memerah.


 


“Ahahaha, lupakan, mengapa kalian kemari?” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.


 


“Ano... Sebagai permintaan maaf kami tentang kemarin, bagaimana kalau kita ke taman hiburan sekarang?” kata Nao.


 


“Tidak perlu,” jawabku singkat.


 


“Apa kau benar-benar marah pada kami Kimiko-chan?” Asami segera memelukku yang masih tiduran.


 


“Iie,” aku tertawa. “ Aku sudah ke taman hiburan kemarin,” tambahku.


 


Asami melebarkan matanya. “Jadi benar, yang ku lihat kemarin dulu adalah kamu?!”


 


Aku kembali tertawa melihat Asami wajahnya memerah. Aku juga tertawa karena menutupi kecanggunganku, kalau Asami tahu aku ke taman hiburan berarti dia juga melihat aku dan Tetsuya Sensei kan?

__ADS_1


 


“Jadi betul bahwa kau dan Shigure-kun…?” Nao menutup mulutnya tak melanjutkan kata- katanya.


 


“Ssshhhh!!” Asami meletakkan jari di mulutnya. Aku kembali tertawa. “Sudahlah sudah, aku sudah dewasa, apa salahnya aku melakukan itu”  Asami cemberut. “Dan kau?! Dengan siapa kau ke taman hiburan?” Asami beralih kepadaku.


“Eh.. ano… ada lah pokoknya,” jawabku asal. Asami menatapku curiga tapi memilih untuk menerima jawabanku.


 


“Kau dapat ini di mesin boneka di sana?” Asami memeluk boneka semangka yang didapatkan sensei untukku. Nao duduk terdiam di sudut tempat tidurku, dia seolah-olah tak ingin ikut pembicaraan.


 


“Hai' ” jawabku pendek.


 


“Sayang sekali,  Watanabe-kun gagal mendapatkan satu untukku” Asami memeluk erat boneka itu.


 


“Dame!!” Aku merebut bonekaitu, rasanya tidak rela melihat boneka yang didapatkan sensei dipeluk orang lain.


 


“Etto... Kimi-chan, apa ini teman yang kau maksud?” Nao mengambil fotoku dan sensei di taman hiburan yang kuletakkan di mejaku.


 


MATI AKU!!!!. aku segera bangkit dari tempat tidur untuk merebutnya. Namun terlambat, foto itu kini berpindah ke tangan Asami.


 


“Nee nee Nao-chan, sepertinya kita pernah melihatnya disuatu tempat ya?” Asami memperlihatkan foto itu kembali kepada Nao.


 


“Sudah kembalikan!” aku merebut kembali foto itu. Tepat saat itu Mayu masuk membawa semangka, sayangnya perhatian Nao dan Asami tak teralihkan.


 


“Nee Mayu-chan, kau tahu siapa yang mendapatkan boneka lobak ini untuk Kimi-chan?” . Aku segera menggelengkan kepalaku dengan cepat, untung Mayu cepat tanggap.


 


“*Iie*, gommene Asami nee-chan” kata Mayu.


 


“Sudahlah, mari kita nikmati semangkanya” ajak Nao. Aku menghela nafas lega.


 


Kami asik menikmati semangka yang menyegarkan di hari yang panas itu.


 


“Etto, bagaimana kalau kita menginap, dan masing- masing membuka rahasia?” usul Asami.

__ADS_1


 


“Kau belum menyerah Asami-chan?” tanyaku.


“Aku sangat penasaran” kata Asami. Tapi aku dan Nao menolak ide Asami.


 


Hari sudah menjelang sore, Asami pergi ke rumah Shigeru-kun yang terletak tak jauh dari rumah, dan lagi lagi onii-chan mengantarkan Nao.


 


Aku merebahkan diriku diatas kasur sambil memegang fotoku dan sensei.


 


“Hampir saja sensei,” gumamku.


 


“Kimiko!” Suara Okasan terdengar dari balik pintu kamar. Aku segera memasukkan foto itu di bawah bantal.


 


“Hai' Okasan!" Aku Segera menemui Okasan.


 


“Antarkan belut ini ke tempat Tetsuya-san!” perintah Okasan. Aku memandang ibuku dengan tatapan tak percaya.


 


“Darimana kita dapat belut?” Seingatku kami tak belanja belut hari ini.


 


“Ayahmu mendapatkannya dari seorang koleganya, cepat antarkan sekarang!!” Kata Okasan tak sabar.


 


“Suruh saja onii-chan, lagipula kenapa sensei harus diberi?!”  Lama- lama aku meragukan statusku sebagai anak kandung di sini, sepertinya Okasan suka sekali memaksaku melakukan banyak hal.


 


“Kakakmu sedang mengantarkan Nao-san, apa kau lupa? Sudah antarkan saja, sebagai ucapan terima kasih kita, alamatnya tak jauh juga dari rumah kita!” aku tahu perintah Okasan tak dapat dibantah lagi. Dengan langkah gontai aku berjalan menyusuri jalan menuju apartemen sensei.


 


Ibuku tersayang ini sepertinya tak khawatir sama sekali denganku, anak gadisnya, bisa- bisanya disuruh ke tempat seorang pria single. Percaya sih percaya, tapi tetap harus ada batasnya.


 


 


 


 


 


[1]berciuman

__ADS_1


[2]siapa


__ADS_2