Sensei to Atashi

Sensei to Atashi
Bab 3


__ADS_3

“Bagaimana hukuman kalian kemarin?” Nao yang datang langsung menanyaiku.


 


Aku hanya tertawa. “Hei, Kimiko, mengapa kau tertawa?” kata Nao.


 


“Karena itu hukuman yang menyenangkan, kami bisa bertemu Tetsuya Sensei lebih sering daripada yang lain,” kata Asami.


 


“Oh ya Nao-chan, bukankah kau sekarang terlalu rajin?” tanyaku. Nao tampak kaget.


 


“Apa maksudmu Kimiko?”


 


“Iya, aku juga merasakan hal yang sama,” sahut Asami.


 


“Apa orang tuamu seperti orang tuaku yang menuntutmu?” tanyaku.


 


“Iie,” Nao menggeleng.


 


“Ceritalah kalau kau ada masalah,” Asami memeluk Nao.


 


“Bukan sesuatu yang seperti itu,” kata Nao sambil tersenyum.


 


“Kalau begitu ceritalah,” kata Asami galak


 


“Baiklah, ada seseorang yang kusukai..” belum sempat Nao menyelesaikan kalimatnya, aku dan Asami sudah berteriak.


 


“Hei, kecilkan suara kalian!” tegur Nao, karena seisi kelas sedang memandang kami. Aku tersenyum malu.


 


“Siapa dia? Siapa dia?’ tanyaku penasaran.


 


“Aku ingin nilai-nilaiku bagus, agar nanti aku bisa masuk ke universitas yang sama dan bahkan ke jurusan yang sama,” kata Nao. Asami segera memeluknya, memang Asami orang yang ekspresif sekali.


 


“Kau romantis sekali Nao-chan, aku juga ingin menjadi guru agar bisa bersama Tetsuya Sensei,” kata Asami.


 


“Heish, apaan kau itu,” kataku sambil memukul pelan jidat Asami. Dia tertawa-tawa.


 


Tak lama setelah itu pelajaran dimulai. Memang Nao tampak lebih serius daripada biasanya. Tak seperti aku dan Asami yang memang tipikal orang yang kurang seius, Nao lebih serius dan sedikit lebih dewasa dari kami.


 

__ADS_1


“Kami pergi dulu!” kataku bersemangat pada Nao. Nao tertawa. Asami segera menarik tanganku menuju ruangan Sensei.


 


“Kalian sudah datang, kalian bisa mulai mengurutkan berkas di laci itu sementara Sensei menilai test kalian tadi pagi,” kata Tetsuya Sensei.


 


Aku dan Asami cukup kewalahan karena berkas Sensei cukup banyak. Setelah selesai aku dan Asami duduk di sudut ruangan sambil memperhatikan Sensei, dia begitu tampan sekali. Tiba- tiba Asami mengeluarkan ponselnya dan memotret Sensei. Sukses, aku ingin menjitak kepalanya, tapi juga kagum dengan keberaniannya. untung Sensei tak menyadarinya.


 


“Nee Masafumi- san, bisa kesini sebentar,” panggil Sensei. Akupun berjalan mendekatinya. “Apa yang terjadi denganmu, mengapa kau bisa salah mengerjakan soal ini” Sensei menunjuk soal yang kukerjakan. Sensei yang


mengajar bahasa inggris ini memang agak galak jika kami salah mengartikan sebuah kata. Dari kejauhan Asami menertawakanku.


 


“Kau juga Kazuha-san!” kata Sensei. Kini giliran aku yang tertawa. “Apa yang ada dibenak kalian, kalian sudah di tingkat akhir, masih saja tak bisa mengerjakan soal seperti ini”.


 


“Sumimasen Sensei, lain kali saya akan berusaha lebih keras” kata Asami sambil membungkuk. Aku kaget sekali dengan anak itu. “Saya juga Sensei” kataku.


 


“Bagus” kata Sensei sambil tersenyum. Melihat senyuman Sensei kurasakan kakiku menjadi lemas, sungguh kakkoi. Sedangkan wajah Asami merona merah. Aku menginjak kakinya untuk menyadarkannya, dia setengah melamun. “Awww!!!” teriak Asami.


 


“Ada apa Kazuha-san?”. Asami menggeleng, kemudian dia memukul pundakku setelah Sensei menghadap ke mejanya lagi.


 


“Tok… tok…” seseorang mengetuk pintu.


 


 


“Mengapa mereka di sini?”. Mendengar pertanyaan Itamura Sensei, Asami semakin cemberut.


 


“Mereka membantuku mengerjakan beberapa hal, dou shita?”.


 


“Iie, bagaimana kalau pulang bersama?” tawar Itamura Sensei. Mulutku terbuka secara otomatis.


 


“Boleh, tunggulah sebentar, pekerjaanku hampir selesai”. Mendengar jawaban Tetsuya Sensei, mulutku semakin terbuka lebar. Asami menutup mulutku membuatku kaget, aku memelotinya.


 


“Hai” jawab Itamura Sensei sambil berjalan duduk di kursi dekat Tetsuya Sensei. Aku kesal sekali, dan pasti Asami merasakan hal yang sama.


 


“Kulihat kau sudah membetulkan rokmu Kazuha-san” kata Itamura Sensei. Aku menjadi teringat dulu Itamura Sensei memukul pantat Asami dan Nao karena memendekkan roknya.


 


“Kau jangan terlalu keras Sensei, bukankah mereka terlihat menarik saat roknya lebih pendek” kata Tetsuya Sensei sambil tertawa.


 


“Sensei!! Jangan bicara begitu di depan siswa!” tegur Itamura Sensei. Aku dan Asami dari tadi terdiam.


 

__ADS_1


“Kalian boleh pulang kalau sudah selesai,” kata Tetsuya Sensei.


 


“Arigatou Sensei” aku membungkuk memberikan hormat kemudian menarik Asami keluar.


 


Kami menuruni tangga. “Kita pulang lebih awal, tapi rasanya tak beruntung ya,” kata Asami


 


“Apa menurutmu mereka berkencan?” tanyaku. Asami berhenti, wajahnya tampak kaget.


 


“Apa kau bercanda?” dia malah balik bertanya.


 


“Kenapa mereka pulang bersama?”


 


“Dame! Bukankah sekolah melarang Sensei saling berkencan?” kata Asami.


 


“Baka[1]! Yang dilarang Sensei dan siswa, kalau sesama Sensei tentu saja boleh,”


 


“Dame da yooooo[2], cintaku dan Sensei tak akan bersatu” Asami menempelkan kepalanya ke tembok. Aku menggeleng- gelengkan kepalaku melihat kelakuan sahabatku itu. “Dan lagi, kenapa harus Itamura Sensei!” teriaknya sambil mengepalkan tangannya.


 


“Karena kalau aku, kau dan aku akan bersaing” jawabku asal.


 


“Lebih baik kamu yang jadi sainganku daripada Itamura Sensei, karena aku lebih cantik daripada kamu!” jawab Asami. Aku tertawa.


 


“Aku minta foto Sensei di ponselmu,”. Asami menggeleng. “Ayolah!!” aku merengek.


 


“Dame!” kata Asami sambil berlari. Aku pun mengejarnya berlari.


 


“Hei, kenapa kalian baru pulang?”


“Oh Shigeru-kun!” Sapaku.


 


“Nee- nee Watanabe-san, siapa yang lebih cantik, Itamura- Sensei atau aku?” Tanya Asami.


“Eeeeeh, Itamura Sensei itu wanita dewasa yang cantik” jawab Shigeru. Dia tiba- tiba menjadi gugup melihat mata Asami memandangnya galak. “Tapi kau lebih cantik” jawab Shigeru, mungkin dia takut kalau mata Asami mengeluarkan laser dan membakarnya. Asami tersenyum.


“Mari kita pulang!” aku menarik tangan mereka.


 


 


 


[1]bodoh

__ADS_1


[2]jangan


__ADS_2