Sensei to Atashi

Sensei to Atashi
Episode 22


__ADS_3

Aku telah tiba di depan apartemen sensei, apartemen elit, yang memang terlalu wah untuk seorang guru SMA biasa. Tak lama kemudian Tetsuya sensei membukakan pintu.


 


“Sumimasen Sensei, Okasan memintaku mengantarkan unagi[1] ini untuk Sensei,” aku menyerahkan belut itu.


 


“Masuklah” Sensei membuka pintunya lebar.  Setelah ragu sejenak, Aku segera masuk dan mengamati apartemen Sensei. Apartemen yang cukup luas untuk seseorang yang tinggal sendirian, ada satu ruangan yang sepertinya untuk kamar tidur, satu ruangan kamar mandi, dapur, dan ruang tamu.


 


“Dimana harus ku letakkan sensei?” Aku berbalik menghadap Sensei, aku tak tahan berlama- lama berdua dengan Tetsuya Sensei.


 


“Kimiko-chan, bisakah kau memasakkannya untukku? Badanku agak tak enak," Kata Sensei sambil duduk, memang wajah Sensei agak memerah.


 


“Hai' Sensei,” Aku tak bisa tidak memenuhi perintah guruku kan. Unagi paling enak di panggang, dan dimakan dengan nasi panas. Aku segera mengecek nasi, sensei masih punya. Kemudian aku menyiapkan bahan untuk memasaknya, dan mulai memasak,sementara sensei menungguku di kursi ruang tamu yang memang menghadap langsung ke dapur.


 


“Sudah jadi, sensei silahkan di cicipi”. Aku membawa masakanku ke meja di depan Sensei. “Sensei…” panggilku, tapi Sensei diam saja, “sensei, apa kau tidur?” Aku melihat wajah sensei yang memerah. Aku tak berfikir banyak, aku langsung menelepon dokter keluargaku.


 


“Sensei…” panggilku pelan. Perlahan- lahan sensei membuka matanya. “Sensei terkena demam musim panas, butuh istirahat dan vitamin," Jelasku, aku tahu karena dokter keluargaku sudah memberi tahuku.


 


“Arigatou Kimiko-chan,” Ucap Tetsuya Sensei.


 


“Karena sensei sakit, aku mengganti nasi dengan bubur” Aku berusaha menyuapi sensei.


 


“Aku bisa sendiri,” sensei makan dengan lahap. Sementara aku merutuki diriku sendiri yang berusaha sok baik karena mencoba menyuapi Sensei malah berujung kepada penolakan.

__ADS_1


Aku harus segera menelpon Okasan karena terlalu lama aku berada di apartemen Sensei.


 


“Okasan,” Panggilku.


 


“Dou shita?”


 


“Maaf aku lama, Sensei sakit, aku baru saja memasakkan bubur untuknnya, dia terkena demam musim panas” Jelasku, daripada aku diomeli lagi, lebih baik aku menerangkan yang terjadi.


 


“Masakkan bubur dengan daun bawang,” Kata Okasan dari seberang telepon.


 


“Hai' , tadi sudah makan bubur dan unagi,” Jawabku.


 


 


Aku mencoba mencerna perkataan Okasan.


 


“Besok?!! Apa maksud Okasan?!!” Aku tak percaya apa yang telah aku dengar.


 


“Menginaplah disitu untuk merawat Tetsuya san!” Perintah Okasan.


 


“Apa Okasan bercanda???!” Aku tak habis pikir dengan ucapan ibuku sekarang ini.


 

__ADS_1


“Apa kau pikir ibumu ini sedang bercanda? Salah siapa Tetsuya-san sakit? Itu karena mengantarkanmu ke taman hiburan!!” teriakan Okasan begitu memekakkan telinga. Okasan sudah mulai dengan jurus mengomelnya.


 


Aku tahu, mungkin sensei demam karena aku, tapi apakah mungkin aku harus menginap disini? Okasan begitu membuatku kesal. Apa sedikitpun dia tak memikirkanku? memikirkan perasaanku yang harus  berduaan dengan pria lajang, dia memang guruku, tapi dia tetap pria dewasa. Namun tetap saja aku tak berani membantah Okasan.


 


"Ano Sensei Okasan meminta saya di sini untuk merawat Sensei selama sensei demam," kataku penuh harap, aku berharap Sensei menolakku.


 


"Wakatta..." Jawab Sensei.


 


Entah aku harus bahagia atau bersedih, atau jangan- jangan Okasan dan Sensei bersekongkol di sini.


 


Sensei sudah selesai makan dan pergi ke kamar tidurnya, aku mengikutinya untuk memastikan dia baik-baik saja. Kamar tidur sensei luas juga, satu tempat tidur, TV dan sofa,lemari, serta meja kerja dalam satu ruangan. Setelah di kamar sensei segera tidur kembali, aku merapikan selimutnya.


 


Setelah selesai mencuci piring dan berbenah sedikit, aku masuk kamar sensei untuk mengecek suhu tubuhnya. Sudah agak turun.  Karena tak ada kamar lain, aku akhirnya tidur di Sofa depan TV.


Apakah aku harus bersedih atau berbahagia disini, entahlah, aku sendiri tak tahu dengan jalan pikiran ibuku yang tersayang itu.


 


 


 


 


 


 


[1]belut

__ADS_1


__ADS_2