Sensei to Atashi

Sensei to Atashi
Episode 14


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang ke rumah aku memikirkan interaksi Tetsuya Sensei dan Itamura Sensei.


"Cih, apanya yang tidak apa- apa, buktinya mereka pulang bersama, dan memang Tetsuya Sensei tak wajib berkata jujur kepadaku kan," aku berbicara dengan diriku sendiri.


 


"Okaeri!" aku masuk rumah dan segera membanting tubuhku ke kasur. "Lha kalau mereka ada hubungan kenapa? kenapa kamu bingung, memangnya kamu ini siapanya?! kamu itu muridnya! muridnya!" aku berbicara kepada diriku sendiri, rasanya menyebalkan, sesak, ini ada apa sih pikirku dalam hati.


"Aaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!" aku berteriak untuk mengurangi rasa sesak di dadaku.


"Kamu ini apa- apaan?!!" Okasan muncul di pintu kamarku dan memulai omelannya yang panjang lebar dan tanpa henti.


Lagi- lagi aku terkena masalah karena Tetsuya Sensei, mungkin memang dia pembawa sial untukku.


 


*****


"Hei...." aku berlari dan muncul tepat di antara Asami dan Nao. "Apa yang sedang kalian bicarakan?" sambungku.


 


"Musim panas, sebentar lagi kan musim panas," kata Nao.


 


"Iya juga..." kata- kataku terputus saat melihat Tetsuya Sensei. Jas milik Sensei belum ku kembalikan, dan Beliau juga belum memberikan tutor lagi, aku tak mau membuat hidupku beresiko dengan menyerahkannya di sekolah, kalau menyerahkannya di sekolah, bisa- bisa aku dijambak dan dicakar oleh penggemar- penggemarnya. Hiiii ngeri pokoknya. Aku berdigik sendiri membayangkan itu.


 


"Nande?" Asami kaget melihat tingkahku. Aku cuma menggelengkan kepala. "Oh ya, apakah kau sudah dapat pengganti untuk tutormu?" lanjutnya,


 


"Ah itu? sudah" jawabku pendek, aku ingin sekali menyombongkan pada sahabat- sahabatku ini kalau Tutorku yang baru itu Guru yang Kakkoi tapi juga menyebalkan.


 


"Siapa? ganteng?" tanya Asami dengan matanya yang berbinar- binar.


"Otosan yang mencarikan untukku," jawabku, dan aku tidak berbohong, karena memang Otosan yang meminta Tetsuya sensei menjadi tutorku. "kalau masalah ganteng, ganteng sih, keren juga, dewasa juga" tambahku.


"Kenalkan dong..." pinta Asami.


 


"Lalu Shigeru- kun akan membunuhku? tidak, terima kasih aku masih ingin hidup" candaku, dan Nao tertawa.


 

__ADS_1


"Memang sudah ada Shigeru-kun tapi, mataku ini masih butuh vitamin yang lainnya" Asami mengedip-ngedipkan bulu matanya yang memang panjang tanpa maskara itu.


 


"Memanng Shigeru-kun kurang ganteng sih ya," kataku sambil pura- pura berpikir.


 


"Enak saja!! dia tetap pahlawan super buatku,"


 


"Hai... hai..." godaku dan Nao


 


Bel pulang sudah berbunyi daritadi, dan karena Shigeru-kun sekarang bersama Asami aku harus pulang sendiri. Mereka  tak membuangku sih, tapi sepanjang perjalanan aku harus melihat kemesraan mereka, jadi lebih baik pulang sendiri saja.


 


"Kimi- chan," sebuah mobil berjalan pelan di sisiku. Aku menoleh, dan ternyata Tetsuya Sensei. "Naiklah!" perintahnya.


 


"Tidak terima kasih," jawabku sambil terus berjalan. Namun mobil Sensei masih mengikutiku.


 


 


Aku tak mengindahkannya dan segera mempercepat langkahku, karena sudah dekat dengan rumah. Aku segera masuk rumah dan bergegas untuk belajar. Tak lama kemudian terdengar suara pintu kamar diketuk, dan munculah Tetsuya sensei.


 


"Selamat Datang Sensei," ucapku sambil mengeluarkan buku untuk pelajaran hari ini. Sensei menatapku aneh, tapi aku tak perduli.


Setelah selesai belajar aku mengeluarkan paper bag dan menyerahkan kepada Sensei.


 


"Oh, Jasku," kata Sensei begitu melihat isi paper bag. "Dan kenapa kau ini, ku lihat seharian kau terlihat aneh?"


 


 Aku menghela nafasku, kemudian menggeleng. "Gomenne baru bisa mengembalikan jas Sensei,"


 


"Ah itu yang membuat kau aneh, tidak apa- apa, lagipula jasku banyak," kata Sensei sambil mengusap- usap kepalaku dan membuat rambutku berantakan. Seketika aku lupa kenapa aku bersikap konyol seperti ini, kenapa, apa penyebabnya, kan memang aku muridnya, dan cuma muridnya, Sensei menganggapku anak kecil, kenapa aku harus marah kalau Tetsuya Sensei berkencan dengan Itamura Sensei. Tanpa sadar aku tersenyum.

__ADS_1


"Nah, tersenyumlah..." kata Sensei lirih. "Kenapa kau daritadi bersikap aneh?" Sensei tak menyerah dan masih terus mendesakku.


 


"Etto...." Aku ragu- ragu menjawabnya, bagaimana jika sensei salah paham dan mengira aku sedang cemburu.


"Katakanlah," kata Sensei.


 


Aku menatapnya kemudian memberanikan diri untuk mengatakannya. "Pada waktu insiden kolam renang itu saya ingin segera mengembalikan jas sensei, tapi pada waktu saya berada di dekat ruang guru, saya mendengar Itamura sensei sedang mengajak sensei pulang bersama, jadi saya tidak jadi mengembalikan jas Sensei."


Tetsuya sensei manggut- manggut mendengar penjelasnku.


 


"Lalu kau langsung pulang?"


Aku mengangguk.


 


"Mana Ponselmu?!" . Aku menatap sensei bingung. "Kemarikan." tangan sensei diulurkan kepadaku. Mau tak mau aku memberikan ponselku padanya, kemudian Sensei mengetikkan sesuatu. "Ini!" dia menyerahkan Ponsel ditanganku. "Lain kali langsung hubungi aku, jangan bermain dengan asumsimu itu!" Sensei mengetuk kepalaku dengan pensil yang dipegangnya.


 


Aku mengelus kepalaku. Aku melihat ponselku yang sudah berada ditanganku.


[KAKKOI SENSEI]. Aku tersenyum melihat kontak telepon baru yang ditambahkan Sensei.


" Itu nomor teleponku, kau bisa mengirim pesan, dan menelepon, tapi jangan sering"


"Hai' Sensei" jawabku bersemangat.


 


"Dan malam itu aku tak pulang bersama Yui, aku menunggumu" kata Tetsuya Sensei.


 


"Hontou???!!!"


 


"Tentu saja, kau kan membawa Jasku," jelas Sensei.


 


"Ahh, begitu rupanya, " aku manggut- manggut

__ADS_1


__ADS_2