Sensei to Atashi

Sensei to Atashi
Bab 2


__ADS_3

Hari lumayan cerah untuk memulai hari. Aku berjalan menuju ke sekolah.


“Kimi-chaaaaaan…”


“Kimiko-chaaaan”. Dari kejauhan aku mendengar ada yang memanggilku, aku melihat dua sahabatku berlari menghampiriku. Aku merangkul mereka


“ohayo” sapa ku.


“ohayo” jawab mereka bersemangat.


“bagaimana Kimiko? Apakah semua berjalan baik?” Tanya Asami,


“tak ada yang baik untukku sekarang ini, orang tuaku malah meminta tutor mengajariku” kataku lemas.


“sama dengan orang tuaku” sahut Nao,


“oh ya?! Kita mengalami penderitaan yang sama, tapi tetap saja mereka hanya memperbolehkanku main dua minggu sekali”.


“nani???????!” mereka berteriak bersama membuat beberapa orang menoleh.


“sssh, iya, tapi itu bisa berubah kalau nilai- nilaiku berubah”.


“mari kita berusaha bersama” kata Asami, aku dan Nao tersenyum.


“apa kalian memendekkan rok kalian?”, mereka berdua mengangguk, aku tertawa.


Kami sampai pada loker, beberapa anak sudah mengganti sepatunya. “bug bug…” kaget mendengar suara itu aku segera menoleh. Ternyata Itamura Sensei sedang memukul pantat kedua temanku dengan penggaris panjang.


“kalian, mengapa kalian memendekkan rok kalian?!” tanyanya galak.


“ayolah Sensei, ini hanya beberapa centimeter” Asami mencoba membela diri, tapi Itamura Sensei malah memukulnya lagi, aku tertawa.


“baiklah Sensei, besok kami perbaiki” kata Nao.


“baiklah, besok aku akan melihat kalian lagi” kata Itamura Sensei sambil beranjak pergi.


“hei, Kimi-chan jangan tertawa kau” tegur Asami.


“nee nee Kimiko, bukankah kau juga ingin memendekkan rokmu pada awalnya?” Tanya Nao,


“iya, aku juga ingin, tapi kau tahu jika aku melakukannya, aku pasti tak akan selamat sampai di sekolah, karena Okasan pasti memukulku lebih dulu” jawabku, mereka tertawa.


Beberapa cewek-cewek berteriak, spontan aku menoleh. Ternyata Shigeru-kun, temanku sejak di sekolah menengah pertama. “haish mereka itu, tak bosan- bosannya setiap hari seperti itu” kata Asami jengkel.


“entahlah, kurasa Shigeru-kun dulu tak sepopuler itu, bahkan aku tak tahu sejak kapan dia menjadi popular” kataku.


“bukankah aku sejak dulu popular Kimiko-chan” kata Shigeru mendekatiku.


“jangan dekat-dekat, aku tak mau salah satu dari mereka datang dan memukulku” kataku sambil menunjuk beberapa cewek yang memandang Shigeru dari kejauhan.


“ pilihlah salah satu dari mereka Watanabe-san, agar mereka tak berisik tiap pagi” saran Asami.


“bagaimana ya, aku masih memilih siapa yang pantas menjadi kekasih cowok popular seperti aku” kata Shigeru sok keren.


“aaaarrrgggh pergi sana” aku menarik rambut Shigeru-kun. Dia berlari sambil tertawa.


“kalian dekat sekali ya Kimi-chan” kata Asami.


“hahaha, kami teman sejak sekolah menengah jadi kurasa itulah yang membuat kami dekat” jawabku.


Asami melihatku, “kau tahu Kimi-chan, beberapa kohai mengagumi Watanabe-san” katanya.


“iya, mungkin beberapa dari mereka akan mengira kalian berkencan Kimiko” kata Nao


“eeeeh, apa mereka bodoh?” aku kaget sekali, “bagaimana mereka bisa berfikir dangkal seperti itu”


“Kimi-chan, kalian itu dekat, dan dia akrab sekali denganmu, kurasa itu membuat beberapa orang salah paham” jelas Asami


“biarlah, asalkan mereka tak mulai menjambak rambutku” sahutku asal.


“ apa kau benar kau tak memiliki rasa untuk Watanabe-san?” Tanya Nao

__ADS_1


“ya, memang ku akui Shigeru-kun itu popular diantara cewek-cewek, tapi apa daya aku tak tertarik” jawabku. Mereka tertawa.


Pelajaran berjalan seperti biasanya, hingga tak terasa bel waktu menunjukkan waktu makan siang pun berbunyi.


“kalian bawa obento?” Tanya Asami, aku mengangguk dan Nao mengeluarkan o-bento miliknya.


“mari kita buka” kataku sambil membuka tempat makan kami masing- masing.


“wah, kau buat obento mu sendiri Kimi-chan?” Tanya Asami. Aku mengangguk bangga.


“sejak masih di sekolah menengah pertama Kimiko selalu mendapat nilai yang bagus untuk pelajaran home economic, jadi dia bisa memasak sendiri” kata Nao.


“nee nee, bagaimana kalau kita bertukar lauk” usul Asami.


“boleh saja” lalu kami bertukar makanan. Tak lama terdengar teriakan dari luar kelas. Ternyata itu Tetsuya Sensei.


“seperti biasa” kataku.


“bukankah kau juga beranggapan kalau Tetsuya Sensei kakkoi?” goda Asami.


“ayolah, bukan hanya aku, kalian berdua pun sama” balasku. Aku melihat keluar kelas, seorang kohai memberikan o-bento kepada Tetsuya Sensei, dan Sensei menerimanya, pipi anak itu merona merah.


“cemburu Kimi-chan?” goda Asami,


“iie, aku hanya penasaran kenapa berisik sekali”.


“hmm, Sensei masih muda, dia baru lulus kuliah dan langsung mengajar disini, tentu saja murid- murid perempuan kebanyakan tergila- gila” kata Nao.


“sudah- sudah, mari habiskan makan siang kita” ajakku.


****


“coba kalian lihat” aku memperlihatkan foto di ponselku kepada dua sahabatku.


“woaaa… kakkoiiiii” teriak mereka. “siapa dia? siapa dia?” Asami merebut ponselku.


“dia tutorku” jawabku bangga.


“kalau begitu aku belajar bersamamu” sahut Asami mantap. Nao tertawa keras sekali.


“Kimi-chaaaaan” Asami merengek seperti biasanya. Aku menggeleng.


“nani? Nani” Shigeru yang baru datang ikut berusaha melihat ponselku.


“nandemonai” jawab Asami sambil berusaha menyembunyikan ponselku.


“haaa” Shigeru menutup mulutnya, “kalian melihat sesuatu yang ecchi ya?”.


“anata no baka” aku memukul kepalanya.


“ouch! Sakit Kimi-chan” dia mengelus elus kepalanya sendiri.


“Kimiko, lihatlah penggemar Watanabe-san seperti hewan yang siap mencabik-cabikmu” kata Nao sambil mengedikkan kepalanya ke pintu.


“aduh” aku memegang jidatku. “buanglah mereka kalau kau ingin ke sini” kataku.


“mereka mengikutiku tanpa kusuruh, apakah itu termasuk salahku” jawabnya.


“mereka menggangguku yang ingin makan” sahut Asami.


Shigeru berdiri kemudian berbicara sebentar kepada para kohai itu dan kemudian mereka pergi.


“mari kita makan” kata Shigeru semangat.


“apa kau tidak punya teman? Kenapa harus kesini?”


“sudahlah Kimi-chan, tak apa- apa kan sesekali makan bersama idola sekolah” kata Asami.


“baiklah”. Akhirnya kami makan bersama.


***

__ADS_1


Waktu pergantian pelajaran telah tiba, Tetsuya Sensei sudah memulai pelajarannya. Aku, Nao dan Asami asik mengobrol mengenai Yuuta Takahasi.


“kira- kira sabtu nanti apakah dia akan secakep fotonya ya?” kata Asami.


“entahlah, kuharap onii-chan tak berbohong kepadaku”, kini ponselku pindah ke tangan Asami.


“bagaimana kalau suatu saat aku dan Nao-chan datang ke rumahmu untuk menginap saat tutormu ada disana, aku kan juga ingin melihat mahasiswa yang kakkoi” usul Asami.


“kurasa itu boleh- boleh saja, kau setuju Nao-chan?” aku menoleh kepadanya, tapi dia malah mengisyaratkan aku untuk diam. “ah kau ini” balasku.


“kalau tutornya seperti ini aku tentu semangat” kata Asami sambil melihat ponselku.


“kalau Senseinya seperti ini kalian tidak semangat?”


Sebuah suara mengagetkan aku dan Asami, Nao menepuk jidatnya sendiri.


Aku mendongak, di depan Asami Tetsuya Sensei berdiri sambil memegang buku.


“bletak… bletak” Tetsuya Sensei memukul kami dengan bukunya.


“aaww, gomenasai Sensei” kataku.


“ Kazuha-san dan Masafumi-san, tiga hari dari sekarang, tiap pulang sekolah kalian harus membantuku merapikan ruanganku” kata Sensei. Aku bengong tak percaya hukuman kami.


“tapi Sensei…” aku berusaha melobinya.


“iie, tak ada keringanan”


Aku dan Asami lemas mendengarnya.


Akhirnya bel pulang pun terdengar. “gomen ne, aku harus pulang, tadi aku berusaha memperingatkan kalian, tapi sepertinya kalian terlalu asik” kata Nao.


“daijoubu” jawabku dan Asami bersamaan. Kami kemudian tertawa. Setelah Nao pulang, aku dan Asami segera menuju ruangan Tetsuya Sensei. Sekolah juga belum terlalu sepi, Karena kegiatan club dilaksanakan setelah pulang sekolah.


“tok.. tok.. tok..”


“masuk”,


“apa yang bisa kami bantu Sensei?” kata Asami.


“oh Kazuha-san dan Masafumi-san sudah datang, baiklah, tolong Kazuha-san urutkan tugas itu perkelas, dan Masafumi-san, bantu menyelesaikan material pembelajaran” kata Tetsuya Sensei sambil tersenyum.


“hai’” jawabku. Aku dan Asami mulai mengerjakan tugas yang diberikan Sensei, karena aku membantu menyiapkan material aku duduk di dekat Sensei.


“ehm Sensei, apakah ini diperlukan?” Tanya ku sambil memeganng sebuah kotak. Sensei segera merebutnya. “sumimasen” kataku terkejut.


“bukan, itu bukan kesalahanmu, hanya saja kotak itu berisi barang pribadiku” kata Sensei. Aku memandang Sensei. Tipikal guru ganteng, berwibawa dan berkharisma, cukup popular di kalangan murid wanita, dan selalu menggunakan kacamata.


“Kimi-chan” panggil Asami. “eh..” aku tersadar dari lamunanku.


“cukup untuk hari ini, arigatou” kata Sensei.


“dou itashimashite” jawab kami bersamaan.


Aku dan Asami pulang bersama.


“sebenarnya cukup menyenangkan bertemu Tetsuya Sensei lebih sering” kataku membuka percakapan.


“iya, pasti banyak yang iri dengan kita” jawab Asami.


“tapi mengapa pertemuan kita dengan Sensei merupakan bagian dari hukuman” kataku sambil menunduk. Asami tertawa.


“sudahlah, nikmati saja, siapa tahu kita bisa dapat nomor ponselnya, atau e-mailnya” kata Asami. Aku tertawa.


“kau sudah berlebihan”


Asami tertawa. “kemungkinan itu selalu ada” jawabnya.


“tapi Sensei sudah dewasa, pastilah sudah mempunyai kekasih… kurasa” aku sendiri tak yakin.


“aku mau jadi kekasihnya” kata Asami sambil tersenyum konyol.

__ADS_1


“haish, jangankan kamu, seluruh siswa perempuan di sekolah kita juga mau” sahutku.


“sudah- sudah, aku pulang dulu ya” Asami melambaikan tangannya dan kami berpisah di jalan.


__ADS_2