Sensei to Atashi

Sensei to Atashi
Episode 23


__ADS_3

“Ohayo Kimiko-chan,” Aku bermimpi melihat Sensei menyapaku.


 


“Sensei, yokatta!” Aku melingkarkan tanganku di lehernya.


 


“Bagaimana jika orang lain yang melihat ini?” kata Sensei dengan nada santainya seperti biasa. Aku membuka mataku dan mengerjap-kerjapkannya.


 


“Sensei!!!” teriakku sambil mendorong tubuh Sensei. “Gomenne, gomenne!” aku membungkuk berkali-kali. Ya Tuhan setan apa yang merasuki ku sampai aku melingkarkan tanganku ke lehernya! Mungkin jantungku akan benar- benar berhenti berdetak kalau seperti ini.


 


Sensei tertawa. “Daijoubu” jawab sensei. Bisa- bisanya Sensei santai sekali, dan tertawa dalam situasi seperti ini.


 


“Sensei, anda jangan bangun dulu,” Aku mendorong Sensei kembali ke tempat tidur karena kurasakan tangannya masih agak panas. “Sensei harus cepat sembuh agar aku bisa cepat pulang!” imbuhku.


 


“Nande?” Sensei menatapku keheranan.


 


“Kata Okasan sensei sakit karena mengantarku ke taman hiburan, jadi aku harus merawat sensei,” Aku segera bangun.


 


“Baiklah, aku akan segera sembuh” kata sensei. “kalau kau mau mandi kau bisa pakai kaosku” kata sensei sambil menunjuk lemari. Aku mengambil kaos dan segera pergi mandi. Selesai mandi aku segera membuatkan sensei bubur daun bawang seperti perintah Okasan.


 


“Nee Sensei, bukankah sudah lunas hutangku padamu? Sensei sudah ku masakkan,”. Sensei mengangguk. Aku menemani Sensei makan, peralatan makan Sensei tak begitu banyak, dan di lemarinya tak ada pakaian perempuan, pasti Sensei tak pernah membawa pulang pacarnya. Aku segera cuci piring, karena aku berniat untuk pulang hari ini. Kalau terlalu lama disini nanti aku bisa sakit jantung dan pulang tinggal nama.


 


 


“Daichi-kuuuun!!!!” tiba-tiba seorang perempuan agak tua masuk ke rumah Sensei. Spontan aku kaget. Dia berdiri di depan pintu, di belakangnya ada dua orang berjas hitam dan berkaca mata hitam. Baik aku, Sensei, maupun wanita itu berdiri mematung.

__ADS_1


 


“Are…Daichi-kun siapa gadis itu???!” teriak wanita itu, meski aku tak tahu dia ada hubungan apa dengan Sensei, tapi kurasa mereka cukup dekat karena dia bisa masuk ke apartemen sensei yang menggunakan pengaman.


 


“Hajimemashita,watakushi wa Kimiko Masafumi desu, yoroshiku” aku membungkuk memberikan hormat. Aku segera memperkenalkan diri, aku tak mau ada kesalahpahaman di sini.


 


“Aaaah, Masafumi-chan rupanya” dia memandangku dari atas ke bawah. "Kau berani sekali Daichi-kun, membiarkan seorang gadis tidur di apartemenmu,” kata wanita itu sambil tertawa kecil.


 


“Anoo, anda salah paham, saya tidak melakukan apa-apa dengan Sensei, saya hanya merawat sensei yang sedang sakit,” kataku gugup.


 


“Daijoubu.. daijoubu… tak perlu malu,” ujar wanita itu.


 


Malu? Ya Tuhan, ada apa dengan orang- orang disekelilingku ini.


 


 


“Eh… Okasan…” Aku terbengong.


 


“Kimiko-chan, masuk kamar, aku ada kepentingan dengan ibuku!” Sensei menarik tanganku dan mengunciku di kamarnya. Aku berusaha menguping apa yang mereka bicarakan, tetapi apartemen Sensei kedap suara, tak heran ini begitu mahal. Karena pembicaraan yang lama aku pun melihat-lihat kamar Sensei. Tak ada foto perempuan atau apapun yang menunjukkan sensei punya pacar. Akhirnya aku berguling di tempat tidur Sensei.


 


“Kimiko-chan,” Sensei masuk. “Gomenasai, ibuku memang wanita yang seperti itu, suka menyimpulkan sendiri” sensei duduk di tepi tempat tidur.


 


“Daijoubu,eh gomenne” aku langsung bangkit dari tempat tidur sensei. “Awalnya aku


kaget, tapi kurasa Sensei sudah menjelaskannya,” Aku tak mau ada kesalahpahaman terhadap Ibu Sensei tentu saja.

__ADS_1


 


“Kalian di tempat tidur bersama??!” teriak ibu sensei yang ternyata masuk lagi. “Masafumi-chan, ku nanti pertemuan kita selanjutnya” dia melambaikan tangan.


Aku hanya terbengong.


 


“Katanya ke sini menjengukku, tapi malah memperparah keadaanku!” Gerutu Sensei.


 


“Eh, sensei demam lagi?” aku meletakkan tanganku di  jidat sensei. “Tidak panas,” gumamku.


 


Tanganku ditarik sensei hingga jarak kami sangat dekat.


“Sensei!!!” teriakku. Kemudian Sensei tertawa.


 


“Kau mudah sekali digoda Kimi-chan” kata sensei sambil tertawa.


 


Jantungku detaknya sudah diluar batas normal, tapi Sensei bisa- bisanya bercanda.


 


“Shiranai!!!” aku segera mengambil tasku dan pulang. Sensei selalu seperti itu, dia membuat jantungku doki-doki [1] tak karuan, setelah itu membuat lelucon tentangnya.


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


[1]Deg-deg-an


__ADS_2