
Aku berjalan dengan cepat ke sekolah. Karena terlalu memikirkan perkataan sensei beberapa hari yang lalu, aku
menjadi sulit tidur. Beberapa kohai juga berlari tergesa- gesa. Sepertinya mereka juga takut terlambat. Dari kejauhan terlihat Tetsuya sensei lah yang menjaga gerbang bersama Yoh.
"Kalau Tetsuya Sensei yang menjaga gerbang okelah, tapi kenapa makhluk itu juga ada sih" gumamku dalam hati. Aku masih tidak nyaman melihat ataupun bertemu Yoh, ya... karena masalau kami berdua itu.
“Ohayo gozaimasu sensei” aku berlalu di samping sensei.
“Kimiko-san”
Aku menoleh, Yoh lah yang memanggilku. “Kurasa kita bukan orang yang saling mengenal dengan baik untuk bisa memanggil nama depan” balasku sinis.
“Kurasa kita teman” balas Yoh, ada suara mengejek dalam suaranya.
“Baiklah Yoh-kun, dou shita?” aku menatapnya tajam.
“Betulkan dasimu” kata Yoh sambil menyentuh dasiku dengan ujung penggaris yang dibawanya, aku menatapnya dengan penuh kemarahan. Aku membetulkan dasiku, dan segera berlalu.
__ADS_1
Asami berangkat bersama Shigeru. Aku melihat ke arah mereka yang bergandengan tangan, ada sedikit rasa iri yang bergelayut di hatiku, kalau Asami dan Shigeru bergandengan, aku bergandengan dengan angin, aku membuka dan menutup telapak tanganku.
“Dan kapan kalian resmi berkencan?” tanyaku.
“Etto, sekitar dua hari yang lalu” jawab Asami tersipu malu.
“Dan, apa tepatnya yang membuatmu luluh terhadapnya?” kini Nao menginterogasi.
“Aku baru tahu saat Watanabe-kun berkata kepadaku kalau dia sering mengganggu waktu makan siang kita karena dia ingin makan bersamaku, dan kebaikannya”
Nao dan Asami menoleh, mendadak aku teringat pesan sensei kalau tak ada satupun yang boleh tahu kalau Tetsuya sensei kini menjadi tutorku. “Eh, nandemonai” aku menyilangkan tanganku, terpaksa aku menahan mulutku, padahal aku sudah ingin sekali memamerkan kalau Tetsuya Sensei adalah tutorku. Mereka menatapku aneh dan kini memandang meja masing masing.
Hari ini ada pelajaran olahraga, jam terakhir. Ini masih musim semi dan udara tak terlalu panas.
“Tetsuya sensei!!!!” beberapa teman perempuan sekelasku berteriak- teriak memanggil Tetsuya sensei yang tampak dari jendela lantai dua. Tetsuya balas melambaikan tangannya dengan gaya sok gantengnya, tapi sensei memang ganteng sih. Gerakan kecil dari Tetsuya sensei membuat mereka berteriak- teriak. Akhirnya mereka kena hukuman, mereka berlari mengelilingi lapangan dua kali.
__ADS_1
"Kasihan mereka, cuma diberi lambaian tangan saja sudah bahagia, aku bisa belajar bersama Tetsuya Sensei" Pikirku.
Aku mendongak menatap dimana sensei berdiri. Memang sensei masih muda, dia baru lulus kuliah dan langsung menjadi sensei di sekolah ini, sensei juga cukup tampan, jadi wajar kalau dia langsung popular. Dia menjadi sensei saat aku kelas sebelas. Tapi sesungguhnya teman- temanku ini tak pernah melihat siapa Daichi Tetsuya sesungguhnya, seorang yang galak. Aku menghela nafas. Tetsuya sensei melihatku dari jendela.
“Masafumi-san!!! Mengapa kau melamun?!!!”
Suara Sensei Olahraga mengagetkanku.
“Gomenasai, tapi saya tak melamun” belaku.
“Lalu apa yang kau lakukan?” memang sensei yang mengajar olahraga ini agak disiplin.
“Saya hanya merasa hari ini sangat panas” jawabku asal, bodohnya diriku, ini kan musim semi, bagaimana bisa panas.
“Kalau begitu, sepulang sekolah, dinginkan pikiran mu dengan membersihkan kolam renang” Kata Sensei olahraga yang tahu kalau aku sedang tidak fokus.
__ADS_1
“Eh, sensei…” kata-kataku terputus. Tapi aku tahu kalau perintahnya tak bisa dibantah.