
“Asami-chan!” aku memekik kaget. Aku melihat Asami dan Shigeru bergandengan tangan. Aku buru- buru menutupi wajah sensei. Bisa mati mendadak aku kalau mereka melihatku dan Sensei di sini.
“Hei hei hei, kau ini kenapa?” Tetsuya Sensei berusaha menyingkirkan tanganku dari wajahnya.
“Itu ada Asami, bagaimana kalau dia melihat kita?!” Sahutku tak sabar/
“Memangnya kenapa kalau dia melihat kita?” Sensei mantapku aneh.
“Bagaimana kalau dia mengira kita berkencan?” Aku sudah ketakutan setengah mati, bagaimana Sensei bisa setenang ini.
“Dan kau tinggal menyangkalnya, tenanglah, disini ramai, tak mungkin dia
sempat memperhatikan kita” kata sensei kalem.
"Tapi bukankah Sensei sendiri yang mengatakan kalau jangan sampai teman- temanku di sekolah tahu kalau Sensei menjadi Tutorku? termasuk Asami dan Nao?" Aku coba mengingatkan Tetsuya Sensei.
"Wakatta... wakatta, mari jalan lagi," Ajak Sensei.
Kami mulai berjalan kembali. Semakin sore taman hiburan semakin ramai pengunjung. Aku mengulurkan tangan untuk menggandeng tangan Sensei. Tapi kutarik kembali tanganku, aku takut sensei menolaknya.
“Sini, jangan sampai terpisah” Sensei memegang tanganku.
Deg… deg… deg… lagi-lagi Sensei membuat jantungku berasa meledak.
“Wah ramai sekali, akan repot jika terpisah,” kata Sensei sambil mempererat pegangannya.
“Photobox!!!” aku segera berlari ke salah satu photobox di sana. “Sensei, tunggulah disini aku aku akan mengambil photo dulu” aku segera masuk ke photo box itu.
“Waaaa” Sensei mengagetiku dengan mendadak masuk ke photobox, tepat saat itu mesin photobox mengambil photo kami.
“Ah Sensei, kau merusak photoku” kataku sambil mengipas- ngipaskan photo itu agar cepat kering.
“Bukankah kau harusnya bersyukur? Siapa murid di sekolah yang bisa berfoto denganku, bahkan mungkin memiliki fotoku saja susah” kata Sensei dengan narsisnya.
“Asami punya, dulu waktu Sensei menghukum kami, dia diam- diam mengambil foto sensei”
“Bukankah yang seperti itu kau juga punya?”
“Aku? iie,” jawabku pendek. Bisa tambah narsisnya kalau tahu aku pernah memotret Sensei waktu tidur di rumahku.
__ADS_1
“Aku minta” kata Sensei.
“Eh…” aku melongoh memandang Sensei. Sensei mengambil foto itu dari tanganku.
“Kamu dua, aku dua” kata Sensei sambil memasukkan foto itu ke saku jaketnya.
Kami mulai berjalan lagi. Seorang anak membawa boneka lobak. Aku terhenti, dan menuju mesin boneka yang ada di seberang.
“Kau mau boneka lobak juga?” Tanya sensei.
“Iie, aku mau semangka, musim panas kan enak makan semangka,” jawabku sambil mengeluarkan koin.
“Berikan itu, akan aku dapatkan untukmu”.
Tapi malang bagi Sensei, lima kali mencoba dia tak satupun berhasil.
“Sudahlah Sensei…” Aku tak tega melihat sensei tegang demi mendapatkan boneka semangka itu.
“Iie, aku akan mendapatkannya untukmu” kata Sensei bersikeras. Kali ini Sensei sukses, sebuah boneka semangka didapatkan Sensei.
“Bukankah itu Mayu?” Sensei menunjuk ke arah seberang. Nampak lah Mayu dan Takahasi san sedang duduk
bersama.
“Jadi mereka bohong, onii-chan tak bersama mereka, tapi mereka berdua berkencan” aku segera berjalan, aku
ingin memarahi Mayu.
“Yamete!!” Sensei menarik tanganku, “Lihat di sampingnya, tak jauh dari mereka” . Aku melihat ke arah yang ditunjuk Sensei. Kemarahan memuncak di hatiku. Nao dan onii-chan sedang bergandengan tangan. Mereka terlihat mesra sambil sesekali Onii chan tertawa dengan ucapan Nao, entah apa, aku tak bisa mendengarnya karena jarak yang terlalu jauh.
“Pengkhianat” kataku.
“Nani?”
“Aku tak ingin sahabatku menjadi pacar kakakku, Nao tak jujur selama ini, mereka tak bercerita apapun, mereka pengkhianat” kataku menahan amarah.
“Sudahlah, bukankah itu hak mereka?” kata Sensei, “Semua orang punya alasannya sendiri dalam melakukan suatu hal” tambah Sensei.
" Ya, tapi aku tak suka!" Aku masih cemberut saja.
__ADS_1
“Jeeez, kalau kau membuat wajah seperti itu, aku nyaris lupa kalau kau adalah muridku” kata Sensei, aku tersenyum sedikit karena gurauannya. “Sekarang lupakan mereka, nikmati saja hari ini” lanjut Sensei. Aku mengangguk. “Tunggu di situ, jangan kemana-mana” Sensei berlari entah menuju kemana.
Amarah memenuhi diriku, sejak kapan Onii chan dan Nao berkencan, kalau Mayu dan Takahasi- san aku sudah tak peduli lagi, tapi ini sahabat dan kakak ku mengkhianati ku, mereka jalan diam- diam dibelakangku.
“Ini, untuk mengembalikan senyumanmu” Sensei ternyata membelikanku gula kapas. Senyum terkembang di bibirku, Aku sangat menyukainya.
“Mari naik kincir angin Sensei” Ajakku sambil menarik Tetsuya Sensei ke dalam antrian panjang orang yang ingin naik kincir angin . Kincir angin sangat popular, banyak pasangan yang menaikinya. Aku dan Sensei terjebak dalam antrian panjang itu.
“Bagus ya Sensei” kataku sambil melihat keluar, melihat suasana dari atas. Saat berada di atas kincir, seluruh kota terlihat. Lampu yang berkelip seperti bintang di angkasa. “Sensei itu Asami!!!” aku menunjuk ke dua gerbong di atasku. “Eh, mereka berpelukan!” celetukku.
“Kalau aku melihat mereka seperti itu aku akan menghukumnya,”
“Tapi sensei, kalau di sekolah tak mungkin aku akan bersama dengan Sensei seperti ini” kataku.
“Hahaha” Sensei menertawakanku.
Saat mencapai puncak, aku melihat Asami dan Shigeru berciuman.
“Sensei!!!” aku berusaha melepaskan tangan Sensei yang menutup mataku.
“Jangan dilihat!” kata Sensei.
"Tapi aku ingin lihat!" kataku sambil berusaha menyingkirkan tangan Sensei.
"Tak boleh!!" Sensei bersikeras dan tak melepaskan tangannya.
“Baiklah, baiklah” jawabku sambil mengalihkan pandangan saat Sensei melepas tangannya.
Karena sudah malam, aku dan Sensei pulang. Sensei mengantarkanku sampai depan rumah.
“Arigatou Sensei” Aku tersenyum dan melambaikan tanganku kepada Tetsuya Sensei.
Setelah sampai kamar dan mandi aku duduk dan memandang boneka semangka yang didapatkan Sensei untukku. Tak kusadari senyum mengembang di bibirku.
“ Bisa dikatakan aku hari ini ngedate dengan Tetsuya Sensei kan? Walaupun Sensei tak menyadarinya, biarlah…” gumamku sendirian sambil memeluk boneka itu.
__ADS_1
Semalaman aku tak bisa tidur dan cengar- cengir sendiri mengingat kejadian hari ini.