
Tok.. tok.. tok.. mendengar suara pintu diketuk aku dan sensei pura-pura belajar.
“Kimi-chan, aku harus menemani ayahmu ke luar kota urusan bisnis, Kei-kun sedang di tempat Yuuta-san, dan kau
harus menjaga Mayu-chan” kata Okasan.
“Hai’ “ jawabku pendek
“Oh ya, Tetsuya sensei, tolong jaga mereka sampai kami kembali” kata Okasan.
“Hai” jawab sensei.
“Arigatouu gozaimasu” Okasan .
“*Yamete!!!*Okasan, kenapa sensei harus di sini? Aku bisa kog menjaga Mayu sendirian”. Yang benar saja Okasan
ini, bagaimana bisa membiarkan laki- laki di rumah yang terdapat dua anak perempuannya.
“Tidak bisa, dan kau akan keluar pergi jalan- jalan karena kami tak di rumah?” Okasan menatapku dengan tatapan mengancam.
“Iie, tapi kenapa harus sensei…” aku masih mencoba bernegosiasi.
“Sudahlah, kalian perlu orang dewasa untuk mengawasi kalian, dan tak ada bantahan lagi, kami sudah terlambat” Okasan segera keluar.
“Memangnya ada apa kalau aku menjaga kalian?” tanya Tetsuya Sensei.
Apa yang dipikiran Okasan, kalau sensei di sini, aku harus bagaimana.
“Kimiko-chan!” panggilan sensei mengagetkanku, aku segera menoleh.
“Masafumi,” aku membetulkan sensei memanggilku, kami tak begitu dekat sehingga dia bisa memanggilku dengan nama depan.
“Iie, kalau di luar sekolah, aku akan memanggilmu Kimiko” Kata Tetsuya Sensei bersikeras.
“Shiranai!” jawabku malas.
“ Kau belum menjawab pertanyaanku, memangnya kenapa kalau aku menjaga kalian?”
__ADS_1
Aku menghembuskan nafasku dengan keras. “Tentu saja aku merasa tidak enak dengan Sensei, lagipula ini kan malam weekend, siapa tahu sensei ada janji,”
“Oh itu, santai saja, tidak ada yang seperti itu,” jelas Sensei.
"Jadi Sensei kesini karena merasa tidak ada kegiatan?" gumamku dalam hati
“Apakah adikmu sakit?” Tanya sensei tiba- tiba.
“Ehm, Mayu sakit sejak dia kecil, dia tak bisa terlalu capek atau stress, jadi kami harus menjaganya,” aku berusaha menerangkan kepada sensei. “Ah sudah waktunya makan malam, aku harus membuat makan malam, tunggulah di sini sensei."
Aku segera turun. Kali ini aku akan masak omurice, karena itu masakan favorit Mayu.
Setelah selesai memasak dan menata meja aku segera memanggil Mayu dan sensei.
“Sensei.. makan malam sudah si…. Ah sensei tertidur, pasti lelah,” aku segera mengambilkan selimut untuk sensei. Aku memandangi wajah senseiku yang tampan itu.
“Sensei, kalau kamu tidur itu galakmu hilang,” aku bicara sendiri. Kemudian muncul ide gila dalam otakku. Aku segera mengambil ponselku, ku potret sensei yang sedang tertidur, kapan lagi aku bisa mendapatkan kesempatan langka seperti ini, Asami pasti akan menjambak rambutku jika dia tahu Sensei tertidur di kamarku, aku tersenyum ngeri membayangkan itu.
Aku segera turun dan menemani Mayu makan malam
“Itadakimasuuu”. Mayu mulai memakannya dengan lahap.
“Kalian sudah makan” kata sensei yang baru saja tiba di ruang makan, saat kami sudah makan setengah jalan.
“Sensei, gomen ne, tadi aku naik ke atas, tapi sensei tidur,"
“Daijoubu, daijoubu” kata sensei mengambil tempat duduk di sebelahku.
“Tetsuya sensei, cobalah masakan onee-chan, enak hlo,” kata Mayu.
“Hontou?” Sensei mencoba bersikap ramah kepada Mayu.
“Hai', apa lagi omuricenya, itu spesialis onee-chan” tambah Mayu.
__ADS_1
“Sudahlah Mayu, cepat habiskan dan tidur,” kataku. Mayu nyengir dan kembali makan.
“Wah, kamu betul Mayu, oishi desu[1]” kata Tetsuya. Aku senang sekali dengan pujian sensei, kapan lagi sensei akan memujiku.
Tak lama kami selesai makan. Aku segera menyuruh Mayu tidur, dia pergi ke kamar sambil menggerutu.
“Aku akan mencuci piring dulu,” aku segera membereskan meja.
“Sini aku bantu,” sensei membantuku mencuci piring.
"Tidak usah Sensei," kataku tidak enak.
"Sudahlah, biar cepat selesai," kata Sensei memaksa. Aku terdiam dan membiarkan saja, walau dalam hati aku berteriak- teriak gembira.
“Sensei mau minum sesuatu?” Aku membuka kulkas. “Ternyata bahan makanan menipis” gumamku. “Sensei, aku akan belanja ke toserba ujung jalan, tolong jaga Mayu ya!”
“Apa kau tak perlu bantuanku?”
“Iie, sensei di sini saja menemani Mayu” kataku sambil berlari ke pintu depan.
Jarak rumah ke toserba itu tak jauh, dan bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Suasana jalan juga belum sepi karena ini weekend. Setelah dapat yang ku inginkan aku segera pulang.
Aku segera menaruh belanjaanku di kulkas. Setelah cuci tangan aku segera mengecek Mayu. Dia telah tidur,ponselnya di pegang dalam genggaman. Sekilas ku baca dia sedang berkirim pesan dengan Takahasi-san.
“Ah iya sensei” gumamku. Aku segera naik ke kamar, aku belum menunjukkan di kamar mana sensei bisa tidur, bisa saja sensei tidur di kamarku.
“Sen.. sei” kamarku kosong. Aku bingung, dimana sensei. Aku segera ke ruang keluarga. Sensei tertidur disana, sementara tv masih menyala. Aku segera mengambil selimut untuk sensei dan memakaikannya.
“Sensei, kau hansamu[2]sekali kalau tak pakai kacamata” kataku sambil menatap lekat-lekat sensei yang tidur sambil melepas kacamatanya. “Wuaaa” tiba- tiba sensei menarik tanganku. Ada apa ini. Apa dia tak tidur?. Setelah menarik tanganku, terdengar dengkuran pelan. Aku segera berlari ke kamar. Jantungku berdegup kencang sekali. Ini kedua kalinya sensei membuat jantungku serasa mau pecah.
****
__ADS_1
[1]lezat
[2]tampan