
Akhir Desember terasa hambar bagi Daniel, dia benar-benar fokus mempersiapkan pertandingan berikutnya melawan Ipswich town. Dua hari liburan, dia hanya di temani dokumen pemain dan rancangan taktik Palace.
Dengan Keluarganya yang ada di Paris, N'golo Kante memilih pulang ke kampung halaman. Sebenarnya penghasilan Kante akan cukup untuk dia menyewa apartemen sendiri, tapi Daniel berkata lebih baik menunggu akhir musim saja.
Dan setelah mendapat telepon dari Neil Warnock, Daniel sekarang selalu mengecek siapa saja pemainnya yang diminati oleh tim lain, dan benar saja. Setelah Morgan Schneiderlin, ada beberapa lagi pemain yang sudah di dekati klub lain.
Seperti Victor Moses, Ryan Shawcross, Alan Lee, N. Clyne, bahkan N'golo Kante juga. Nama-nama ini adalah yang sudah di tanyakan klub lain lewat Crsytal Palace, dia tidak mengetahui mereka yang di dekati dibelakang klub.
Dan Daniel juga tidak hanya diam saja melihat pemainnya di buru oleh klub lain, dia lewat Joey Collins sepupunya. Mencari pemain berbakat yang dia ingat dari masa depan. Seperti Joe Allen dari Swansea city, lalu Dani Rose Tottenham Hotspur dan Andy Carroll yang akan di beli puluhan juta oleh Liverpool di masa depan.
1 Januari 2010.
Pukul 10.30 pagi, tim memulai latihan. Volume latihan pagi hari tidak terlalu besar, karena ada permainan di sore hari, latihan pagi hari terutama untuk pemanasan semua orang dan mengetahui status pemain.
Pukul tiga sore, Stadion Selhurst Park sudah penuh dengan penonton seperti biasa, para penggemar pertandingan hari ini memiliki ekspektasi yang lebih besar, karena lawan mereka kali ini Ipswich Town sedang dalam performa buruk. Dan sudah ada isu bahwa pelatih Roy Keane menghadapi pemecatan, karena rentetan hasil mengecewakan Ipswich.
Setelah pertandingan terakhir, Crystal Palace mencetak tiga poin lagi, mengumpulkan 40 poin, dan mencapai posisi ke-5. Sedangkan Ipswich Town kini memiliki 26 poin, peringkat ke-19 klasemen sementara.
Crystal Palace ingin naik ke liga premier Inggris, wajib mengumpulkan sebanyak mungkin poin. Jika ada satu peluang lagi untuk menang, Palace harus terus menginjak lawan dengan keras. Sebaliknya, Ipswich Town juga berpikir demikian. Mereka membutuhkan kemenangan untuk tidak terjerembab di jurang degradasi.
Pelatih kepala Ipswich Town adalah bintang Manchester United yang terkenal Roy Keane. Daniel baru saja mengambil alih tim dalam dua pertandingan terakhir, dia bertemu dengan bintang Manchester United yang terkenal. Dibandingkan dengan Barnsley asuhan Mark Robbins, Ipswich Town di bawah Roy Keane selalu bermain dengan cara kasar dan militan.
Dalam jumpa pers sebelum pertandingan. Daniel masih menganut kebiasaan berbicara seadanya, tanpa adanya kata-kata setinggi langit. Sedangkan Roy Keane dengan sesumbar mengatakan akan menghabisi pelatih amatir dan timnya di Stadion Selhurst Park.
Daniel hanya tertawa kecil mendengar perkataan tinggi Roy Keane, dia tidak terpancing omongan orang ini. Semuanya sudah tahu bahwa pelatih Ipswich town sekarang hanya bisa berbicara besar, untuk menutupi kegagalannya dalam melatih.
Crsytal Palace kembali menurunkan formasi andalan mereka 4-2-3-1, formasi ini sudah terbukti mampu menghancurkan formasi klasik khas Inggris 4-4-2 yang di pakai oleh Ipswich Town kali ini.
__ADS_1
Sepertinya Roy Keane tidak belajar dari pertandingan sebelumnya melawan Barnsley, kedua tim sama menggunakan formasi klasik Inggris. Dengan mengandalkan bola-bola panjang langsung menuju striker jangkung, kemudian memantulkannya ke striker bertipe kecepatan.
Dibandingkan dengan pertandingan melawan Barnsley, pemahaman diam-diam pemain Crystal Palace telah meningkat. Ini masih babak pertama, tetapi rasanya sedikit berbeda. Para pemain bergerak lebih luwes, saling menutupi pergerakan masing-masing.
Bermain serempak mengikuti arahan strategi dari Daniel, saling berganti posisi untuk menekan lawan Mencari celah dengan diam seperti hewan buas yang memburu mangsanya.
Sedangkan sisi Ipswich Town. Bola terbang berputar-putar di langit, Daniel benar-benar tidak bisa berkata apa-apa. Apakah para pelatih di liga Inggris, ini begitu suka bermain mengandalkan bola atas seperti ini.
Apakah mereka tidak melihat Manchester United yang terbenam oleh Arsenal di awal tahun 2000-an lalu, 4-4-2 yang membawa anak asuh Sir Alex Ferguson menjuarai tiga piala sekaligus di tahun 99. Di hancurkan dengan permainan indah the Gunners asuhan Arsene Wenger.
***
Inilah yang tidak disukai oleh Daniel, pertandingan baru berjalan 20 menit tapi Ipswich Town sudah melakukan lebih dari sepuluh pelanggaran. Dengan dua kartu kuning di terima tim anak asuhan Roy Keane, sebenarnya Daniel senang saja mendapatkan lawan seperti ini.
Dengan emosi yang mudah memuncak dia bisa memanipulasi pemain lawan untuk mendapatkan kartu merah. Tapi ada juga sisi buruknya dari bertemu lawan seperti ini, tim akan cenderung lebih mudah cedera. Karena harus banyak berbenturan dengan tim lawan.
Akhirnya kebuntuan terpecah di menit ke-32. Derry yang menguasai bola di tengah memberikan umpan terobosan ke sisi kiri lapangan, Ambrose melewati penjagaan bek lawan menerobos dan mengirimkan umpan mendatar ke Alan Lee di tengah kotak penalti. Striker bernomor punggung 9 itu menyelesaikan tugasnya dengan baik, bola melesat melewati penjagaan penjaga gawang Ipswich Town.
Alan Lee yang mencetak gol ke 11 di musim ini, melesat berseluncur di pojok lapangan pertandingan. Rekan-rekannya mengikuti di belakang.
Setelah unggul 1 gol, Daniel mengintruksikan para pemainnya untuk menurunkan tempo pertandingan. Karena Crsytal Palace memimpin, mereka tidak terburu-buru untuk kembali menyerang.
Roda sekarang berputar ke Ipswich Town, apakah mereka memilih untuk menyerang membabi-buta, atau dengan tenang menahan agar tidak kebobolan gol lagi.
Dari situasi inilah Daniel bisa belajar apakah Roy Keane yang di hadapinya adalah pelatih hebat, atau hanya omong belaka. Jika Keane terburu-buru menyerang, Daniel tidak akan segan-segan menghancurkannya.
Tidak hanya pelatih yang bisa di nilai dari situasi ini, pemain pun juga bisa. Contohnya Sean Derry, gelandang tengah Palace ini dengan sabar dan penuh pengalaman mengontrol ritme pertandingan.
__ADS_1
Dia lah yang menentukan dari mana serangan Palace di mulai, walaupun bakatnya di nilai pas-pasan. Tapi pengalaman pemain berusia 32 tahun ini bukan main-main, dia bisa melihat celah hanya dari sekilas. Awal dari gol Palace sebelumnya juga dari keahliannya.
Jika Daniel di suruh memilih siapa pemain yang paling penting musim ini di Crsytal Palace, dia akan tanpa ragu memilih Sean Derry.
" BAJINGAN ".
Pemikiran Daniel teralihkan dengan suara kutukan keras dari bangku cadangan tim lawan.
Karena sekarang duet lini belakang Crsytal Palace adalah Shawcross dan McCarthy. Lawrence lebih banyak mengarahkan para pemain, sedangkan Daniel mengawasi jalannya pertandingan dan mencari celah strategi lawan.
Jadi dia tidak tahu siapa yang mengumpat tadi, Ternyata tidak sulit menemukan. Karena orang tadi mengumpat kembali kali ini tidak kalah kerasnya dari yang pertama.
" Pakai matamu, BODOH ". Roy Keane mengumpat pemain belakangnya yang tertipu gerakan Moses.
" Singkirkan kakinya ".
" Benar begitu, BODOH ".
Daniel melihat Victor Moses di tekel keras oleh pemain belakang lawan, seketika emosinya meledak.
" HEI. BAJINGAN, jaga pemainmu ". Kata Daniel langsung.
" HA, KAU YANG BAJINGAN ". Roy Keane, tidak terima.
Kedua pelatih langsung berhadap-hadapan saling memaki, Daniel yang di tarik oleh Lawrence sempat mengatakan. " Ajari para pemain mu bermain yang benar. Bajingan ".
" Apa yang kau tahu soal bermain, hah, aku sudah bermain semenjak kau masih meminum susu." Balas Roy Keane.
__ADS_1
Kedua pelatih akhirnya di pisah oleh staf masing-masing. Daniel dan Keane, keduanya mendapat peringatan dari wasit kepala.
Babak pertama di akhiri dengan tensi tegang antara ke dua tim, Crsytal Palace masih memimpin 1-0 dari tamunya Ipswich Town.