
Tidak tertahankan rasa gelisah di hati Ahmad semenjak beberapa jam lalu ia mendengar Andra melamar Hafizah langsung kepada Kiyai Marzuki. rasanya dia tidak rela jika Hafizah yang sejak lama mengisi hatinya akan di pinang oleh orang lain.
Sungguh Ahmad menyadari, jika posisi Andra memang layak menjadi suami Hafizah yang di matanya sangat istimewa. Anak seorang Kiyai pemilik pondok pesantren, siapapun yang akan menikahinya pastilah akan sangat bangga. Tak terkecuali Andra yang kaya raya.
Belum lagi wajahnya yang teramat cantik meskipun sudah pernah menikah, tapi auranya seperti seorang gadis yang belum tersentuh, sungguh memandangnya membuat siapa saja berangan-angan untuk hidup bersama.
Bukan hanya khayalan. Tapi secara langsung Ahmad menyaksikan bagaimana seorang Hafizah begitu sempurna ketika menjadi istri Azzam, wajahnya menyenangkan, suaranya halus menenteramkan, tatapannya membuat Azzam selalu jatuh cinta, tingkahnya manja dan selalu memanjakan.
Namun untuk bicara berdua rasanya Ahmad masih saja tak punya keberanian. Belum lagi status militer yang terikat dinas masih 2,5 tahun tersisa, seorang sersan tak mungkin melanggar walaupun bisa saja terjadi seandainya Hafizah bersedia menikah dengannya.
"Apakah jika Aku bicara, Kak Fiza akan bersedia menjadi istriku?" gumam Azzam duduk sendiri memandang jalanan yang masih ramai di lepas isya tersebut.
Sedangkan di dalam rumah besar Kiyai Marzuki. Ketiga anaknya sedang berkumpul menikmati makanan ringan dan mendengarkan celotehan Ara.
"Abi ingin bicara kepada kalian semua, terutama Hafizah, putri sulung Abi." begitu ucapan kiyai Marzuki ikut duduk bersama.
"Ya Abi." jawab Hafizah lebih mendekat kepada ayahnya.
Kiyai Marzuki tersenyum lembut. "Ini perihal kau, Andra, dan Ara."
Hafizah sedikit terkejut dengan apa yang di katakan ayahnya, namun tak heran mengingat Andra sering datang, bahkan sudah seperti orang terdekat bagi Kiyai Marzuki dan Ara yang tak juga mau lepas dari Andra.
"Adapun pertemuan, pastilah ada perpisahan, begitupun sebaliknya." ucap Kiyai itu lagi, memulai bicara tentang perpisahan Hafizah dan Azzam. "Dan tidak satupun hal yang terjadi adalah satu kebetulan. Semuanya sudah diatur oleh Allah SWT."
Hening.
"Andra menyukaimu, ingin menjadikan kau dan Ara bagian dari hidupnya, menjadi istrinya." lanjut Kiyai Marzuki lagi.
Hafizah menunduk memikirkan ucapan ayahnya. Dan Ara, anak kecil yang tidak tahu apa-apa itu selalu saja membuat hangat hatinya ketika sedang berbicara dan bercanda bersama Andra.
Awalnya hanya mengingatkan dengan Azzam, tapi lama kelamaan ada kekaguman lain ketika kedua orang asing itu akhirnya dekat, bahkan begitu dekat seperti sebuah keluarga yang lengkap.
"Keluarga yang lengkap, adalah ketika ada Ibu, anak, dan Ayah yang melindungi keduanya." Kiyai Marzuki memeluk Ara mengisyaratkan bahwa Ara tahu kepada siapa ia ingin bersama. "Dan itu sudah berlangsung sejak beberapa waktu, kau ibunya, dan atasanmu itu menginginkan menjadi ayah untuk Ara. Dan Abi yakin, di sebagian hatimu juga menginginkannya."
Sedikit tersentak, tapi benar! Hafizah tak bisa menyangkal.
__ADS_1
"Dia melamar mu langsung kepada Abi." ucap Kiyai Marzuki pada akhirnya.
Hafizah menautkan kedua tangannya, merasa tak siap, tapi juga ada sedikit bahagia mendengar keberanian Andra yang langsung berbicara kepada Kiyai Marzuki.
"Agamanya tak sebanding dengan Mas Azzam Abi." Sahut Nur mengingat tentang Azzam, tentu dia pun ingin mendapatkan kakak ipar yang baik, akhlaknya juga agamanya.
"Ya, tak ada yang sempurna di dunia ini anakku, jika ada yang sempurna itu hanyalah milik Allah saja, seperti Azzam. Dia terlalu sempurna dimata kita semua, dan Allah mengambilnya begitu cepat." ucap Kiyai Marzuki tersenyum tapi juga sedih.
Ketiga putrinya menunduk, hanya menyerahkan keputusannya kepada Hafizah. Namun ada yang masih mengganjal di hati Nur.
"Abi, ada seorang laki-laki lagi yang ingin menjadi imam untuk kak Fiza."
Ketiga orang itu menoleh, sungguh diluar dugaan Nur akan berkata demikian.
Nur menoleh Hafizah, terlepas dari perasaan yang terpendam, dia tidak ingin menjadi penghalang andaikan Ahmad adalah jodoh kakaknya.
"Ahmad Hairuddin, ingin menikahi Kak Hafizah." ucapnya kemudian menelan paksa ludahnya. Dadanya naik turun menahan gejolak yang tak menentu. Sakit rasanya mengungkapkan perasaan orang yang dicintai malah mencintai kakaknya sendiri.
Kiyai Marzuki menatap dalam wajah Hafizah putrinya yang semakin menunduk.
Kiyai Marzuki beranjak meninggalkan Hafizah yang semakin sulit berpikir, tentulah Ahmad pun menjadi pertimbangan, sebab dia adalah adik dari Azzam yang begitu di sayangi kiyai Marzuki ayahnya.
"Jikalau Ahmad menjadi pilihan kak Fiza, tentu akan sangat menyenangkan hati Abi."
Ningrum yang sejak tadi diam kini angkat bicara.
Tak mau semakin tersakiti dengan perasaan sendiri. "Nur permisi Kak, semoga Allah memberikan jodoh terbaik untuk Kak Fiza."
Nur menggendong Ara dan berlalu dengan langkah sedikit cepat.
"Tapi Mas Andra juga tak kalah baik. Dia akan menjadikanmu ratu di sepanjang hidupnya." Ningrum duduk mendekati Hafizah, wajah yang selalu bersemangat itu membuat Hafizah sedikit tersenyum.
"Kau masih kecil." jawab Hafizah menggoda adiknya.
"Tidak masalah Kak Fiza mengatakan aku masih kecil, tapi kalau boleh aku memilih, aku akan memilih Mas Andra." ucapnya menyandar di bahu Hafizah.
__ADS_1
"Lalu seperti apa pendapatmu tentang Ahmad?" tanya Hafizah penasaran dengan apa yang sedang di pikiran adik bungsunya.
"Dia juga baik." Dan mata bening Ningrum sedikit memutar memikirkan sesuatu. "Tapi Kak Nur mengagumi Mas Ahmad." ucapnya pelan.
"Kakak tahu." Hafizah tersenyum tipis.
"Tapi Kak Nur juga menginginkan Kak Fiza mendapatkan imam yang baik. Percayalah, Kak Nur tidak keberatan." jelas Ningrum lagi seraya bergelayut manja, merasa kakak tertuanya adalah pengganti ibu yang sudah lama meninggal.
Malam akan lama berlalu, sekelebat bayangan Ahmad yang sepertinya malam ini menghabiskan waktu di mesjid saja, mengingatkan ia dengan sosok Azzam. Tapi kemudian melihat ponsel yang menyala, ada foto Andra dan Ara yang begitu mesra seperti ayah dan anak.
***
Malam Berlalu.
Pagi-pagi sekali Andra sudah datang mendahului kedua asistennya. Penasaran dengan apa yang akan terjadi hari ini, setelah ia melamar Hafizah kepada ayahnya. Sungguh tak sabar mendengar jawaban atau malah penolakan yang akan di dapatkan Andra.
Berulang kali ia melirik kaca tembus pandang itu menanti kedatangan Hafizah di pagi ini.
Hingga beberapa saat kemudian sosok anggun dengan pakaian yang selalu tertutup itu datang dan langsung masuk ke ruangan bersebelahan dengan Andra.
"Fiza, keruangan ku sekarang." tanpa membuang waktu Andra ingin segera bertemu, walaupun dengan alasan pekerjaan.
Terdengar pintu di ketuk.
"Masuklah." perintahnya duduk serba salah.
"Assalamualaikum Pak, apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya Hafizah dengan suara khasnya.
"Duduklah." Andra menyodorkan berkas kepada Hafizah. "Periksa dan ambil keputusan yang terbaik." ucap Andra menunjuk berkas pengajuan kerja sama tersebut.
Hafizah memeriksa, hingga beberapa saat kemudian.
"Semuanya baik, Anda bisa menerimanya jika anda merasa cocok." ucap Hafizah menyarankan.
"Aku sudah merasa sangat cocok, hanya sedang menunggu keputusanmu."
__ADS_1
"