Separuh Nyawa Suamiku

Separuh Nyawa Suamiku
Bahagia


__ADS_3

Hari-hari berlalu cepat, sejak awal berpapasan yang terlalu dekat di rumah Andra, Mingho semakin tidak bisa berhenti memikirkan Ningrum. Bahkan tugas ke Singapura untuk mencari rumah sakit dan dokter terbaik pun dilakukan oleh Tomi sendiri.


Sesuai rencana Andra, dia tak mungkin menyerah dengan keadaan Indri yang belum juga ada perubahan, hanya pernah merespon ketika Hafizah menjenguknya, dan itu sudah lama.


"Kau urus perusahaan untuk beberapa hari, aku akan ke Singapura menyusul Tomi." ucap Andra di hari itu.


"Baiklah." Mingho yang semakin galau hanya menjawab pasrah.


"Jika ada yang mendesak, kau datang saja ke rumah. Bicarakan pada Fiza, dia sedang kurang enak badan dan akan ditemani adik bungsuku."


"Ningrum?" dia berkata sangat antusias.


"Ya." Andra tak mau bergurau, dia beranjak pulang untuk segera berbicara kepada Hafizah perihal kepergiannya.


"Ya Allah, semoga ini adalah jalan yang Engkau berikan untuk aku mendekati Ningrum." ucap Mingho mendongak langit-langit ruangan Andra.


Sementara Andra menyetir sendiri menuju rumahnya. "Ini sudah satu tahun lebih." gumamnya sendiri.


"Apakah sangat mendadak Mas?" tanya Hafizah yang memang tidak mengetahui rencana Andra sebelumnya.


"Tidak juga Sayang. Tomi sudah berangkat lebih dulu untuk memastikan rumah sakit yang cocok untuk merawat Kak Indri."


"Apakah aku boleh ikut Mas?"


Pertanyaan yang begitu halus. Andra menoleh istrinya yang menatap penuh harap, menggigit bibirnya yang sedikit pucat sejak pagi tadi.


Andra meraih Fiza ke dalam pelukannya. "Aku tidak akan lama."


"Tapi... Aku merasa berat ditinggalkan olehmu." jawab Fiza lagi, membuat Andra semakin mengeratkan pelukannya.


Baru saja berencana pergi untuk beberapa hari, hati Andra sudah sangat berat meninggalkan Hafizah, belum lagi rengekan yang ingin selalu bersama.


"Kita ke rumah sakit, kau harus periksa." selepas memberikan kecupan di wajah ayu istrinya, ada keringat dingin di anak rambut Hafizah.


Hafizah menggeleng, memang dia tidak sakit. Namun entah mengapa beberapa hari terakhir ia merasa tidak nyaman di saat tidur, bahkan merasa demam di siang hari. "Aku tidak sakit Mas." Hafizah menolak.


"Tapi wajah mu pucat sayang." sambil mengelus wajah Fiza dengan jarinya.


"Aku tidak apa-apa."


"Istirahatlah, setelah isya kita akan ke rumah sakit. Melihat keadaan Kak Indri sekalian kita periksa kesehatanmu. Bisa jadi tekanan darah mu rendah."


"Aku rasa tidak Mas, aku bahkan tidak pernah bekerja yang berat, juga_"


"Kurang istirahat." Andra menebak dengan sikap menggoda.

__ADS_1


"Kau yang membuat ku kurang istirahat." Hafizah berkata sambil menyembunyikan wajahnya di dada Andra.


"Maaf, aku terlalu menggilai mu."


Hafizah semakin memeluknya erat, menikmati rayuan Andra yang membuat hatinya berbunga-bunga.


"Atau?" Andra ingin menebak.


"Atau apa?" Fiza mendongak wajah yang lebih tinggi darinya itu.


"Atau Ara akan segera punya adik?"


Sejenak saling menatap, Andra sibuk memikirkan akhir-akhir ini sikap Hafizah memang berbeda, sensitif dan selalu ingin di manja. Sedangkan Hafizah sendiri sedang mengingat waktu tamu bulanannya.


"Mas, sepertinya tamu ku telah lewat." ucapnya terus menatap wajah Andra.


"Benarkah?"


"Ya, aku ingat bulan lalu kau memberikan uang bulanan. waktu itu aku langsung meminta Sri untuk membeli pembalut."


"Dan Minggu lalu?" Andra juga tak mengalihkan pandangannya, matanya berkaca-kaca.


"Aku telat satu Minggu Mas."


"Kau hamil Sayang." Andra memegang pundak Hafizah sedikit membungkuk agar sejajar dengan wajah istrinya.


"Kita akan kerumah sakit sekarang juga." Andra memeluknya berkali-kali, mencium kening dan pucuk kepala yang tertutup kerudung itu begitu lama.


"Ya Allah." gumam Andra duduk di depan setir dengan perasaan bahagia membuncah, jantungnya seolah tak sanggup menahan rasa bahagia.


"Aku tidak yakin Mas." Hafizah tidak mau Andra kecewa.


"Tidak Sayang, aku sangat yakin. Aku hafal seperti apa tubuh istriku, akhir-akhir ini kau berbeda." Andra menggenggam tangan Hafizah, mengecup berkali-kali.


"Semoga saja benar Mas, aku ingin sekali menjadi ibu dari anak-anakmu." sungguh ungkapan halus Hafizah membuat Andra semakin melayang.


"Akulah yang sejak lama ingin menjadi ayah dari anak-anak kita, kau ibu yang sempurna, istri yang sempurna. Aku sungguh-sungguh mencintaimu, tidak mau kehilanganmu. Jangan sampai kehilanganmu." Andra memeluknya erat, ada setitik air mata yang tanpa terasa jatuh, selain bahagia yang tidak terkira, ada ketakutan tersendiri yang Hafizah tidak akan mengerti.


"Aku istrimu Mas, mana mungkin kau akan kehilangan aku. Aku milikmu dan akan selamanya bersamamu."


"Ya Sayang. Kau milikku."


Sepanjang jalan tangan Andra tak berhenti menggenggam jari halus dan lentik istrinya, sesekali mengecup dan menoleh wajah yang semakin cantik di matanya.


Tiba di rumah sakit, langsung menuju ruang dokter kandungan. Tak mau menunda rasa ingin tahunya, ia mengabaikan apapun.

__ADS_1


"Bagaimana Dok?" Andra sungguh-sungguh tidak sabar.


"Istri Anda sehat." Dokter wanita itu tersenyum.


Andra melihat wajah Hafizah, menahan rasa ingin tahu apakah istrinya benar-benar hamil.


"Selamat, anda akan menjadi seorang ayah." sambung dokter itu melepaskan alat di telinganya.


"Hah!" Andra membuka mulutnya seperti sedang kesulitan bicara.


"Usia kandungan istri Anda sudah menginjak Minggu ke Empat."


"Artinya istriku sudah hamil satu bulan?" Andra meyakinkan dirinya sendiri.


Dokter itu mengangguk.


"Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah ya Allah." Andra memeluk Hafizah yang masih berbaring merapikan pakaiannya.


"Mas."


"Terimakasih Sayang. Terimakasih." Andra tak berhenti mengecup pipi dan seluruh wajah Hafizah, hingga perut yang masih rata itu tak lupa ia peluk dan mengucap syukur disana.


"Maaf." Hafizah tersenyum kaku kepada dokter wanitanya yang hanya tersenyum melihat Andra yang begitu bahagia.


"Terimakasih Dokter." Andra mengakhiri luapan bahagianya.


"Sama-sama Pak, ini kehamilan pertama?" dokter itu menjawab seraya menulis.


"Yang kedua Dok, putriku sudah berumur tiga tahunan." jawab Andra membuat Hafizah menoleh.


"Baiklah." Dokter itu terus menulis resep vitamin untuk Hafizah.


Usai setelah pemeriksaan tersebut, kedua orang yang sedang bahagia itu langsung menuju ruangan dimana Indri di rawat.


"Mas, aku ke toilet sebentar." Hafizah menuju toilet di kamar rawat tersebut.


"Hati-hati Sayang." Andra mengikutinya hingga di depan pintu toilet.


Menoleh tubuh yang tak juga bergerak. Andra mendekat dan duduk di dekat Indri.


"Kak, aku ingin memberikan kabar bahagia. Istriku hamil! Aku akan segera punya anak dari wanita yang amat aku cintai. Aku sangat bahagia, meskipun aku juga bersedih kau tak kunjung sadar. Aku ingin kau juga menyaksikan bagaimana aku sedang bahagia, aku juga sudah membuatnya bahagia. Harusnya Kak Indri tidak memiliki beban apapun lagi, itu bukan sepenuhnya kesalahanmu. Bangunlah Kak, jangan seperti ini." sepasang mata hitam pekat itu kembali berkaca.


"Mas."


Andra begitu terkejut, menoleh Hafizah yang ternyata sudah berdiri di belakangnya.

__ADS_1


"Sa... Sayang."


"Siapa yang Mas Andra maksudkan?"


__ADS_2