Separuh Nyawa Suamiku

Separuh Nyawa Suamiku
Iya, Imanku!


__ADS_3

"Assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam." Nur dan Kiyai Marzuki menoleh laki-laki yang memakai kemeja putih tanpa jas, sepertinya Andra belum pulang sejak dari kantor.


"Maaf aku datang malam-malam begini." ucap Andra sungkan melihat Kiyai Marzuki sedang menggendong Ara.


"Masuklah." Kiyai Marzuki mempersilahkan Andra, terlebih lagi Ara sudah lebih dulu menggeliat dengan tangan kecilnya membentang ingin segera bersama Andra.


"Apakah Ara sakit?" tanya Andra mendekati Kiyai dan meraih tubuh Ara.


"Mungkin lelah bermain, maaf sudah membuatmu datang. Nak Andra pasti sangat sibuk." ucap Kiyai Marzuki lagi.


"Tidak Kiyai, tadi aku baru saja akan pulang. Dan Ayah juga merindukan Ara." Andra juga merayu Ara yang matanya masih basah.


Hanya terdengar rengekan manja dari bibir mungil Ara, memeluk Andra dan menyandarkan kepalanya.


Kiyai Marzuki memandang takjub, hubungan tanpa ikatan antara Ara dan Andra sungguh membuatnya tak percaya, tapi anak balita tentu dapat merasakan hati seseorang yang benar tulus atau hanya berpura-pura. Sejenak ia duduk, menoleh putri sulungnya yang juga menunduk dengan menautkan kedua tangannya. Hafizah sedang merasakan hal yang sama, merasa tak enak hati, malu, dan entah apalagi.


Hanya sejenak di ruang tamu, langkah Andra begitu pelan mengusap dan mendekap Ara di pelukannya, dia sudah tertidur lelap.


"Ara sudah tidur." ucapan yang kemudian membuat Hafizah juga Ningrum menatap padanya.


Tangan kecil yang sempat memberontak itu lunglai dengan wajah mendongak, pipi halus Ara menempel di dada Andra.


"Terimakasih Nak Andra." sebuah ucapan dari seorang Kiyai padanya.


Andra pulang membawa banyak harapan akan hidup bersama Hafizah. Wajahnya terlalu cantik ketika di pandang di malam hari. Tentu malam ini, dan malam selanjutnya akan habis dengan khayalan indah tentang Hafizah.


"Aku benar-benar sudah gila." Andra mengusap wajahnya berkali-kali bahkan setelah mandi. Tidur dengan memeluk guling begitu erat, menutup mata dan membayangkan guling akan berubah hangat dan membalas pelukannya hingga pagi dan selamanya.


***


Setelah Keputusan yang menurut Hafizah sudah benar, sholat malam, dan istiqarah yang semakin meyakinkan hati.


Pagi-pagi sekali Hafizah meluncur ke Surabaya. Kebetulan Kiyai Marzuki sedang akan memenuhi undangan dari seorang kerabat yang juga berada di Surabaya. Sesuai janji Hafizah akan memberikan jawaban, sekaligus memintanya untuk menjadi pengganti Azzam dan menikah dengan Nur. Sepanjang jalan terus berdoa, semoga Ahmad bersedia.


Surabaya.


"Apakah sebaiknya kita langsung ke bataliyon Mas Ahmad saja?" tanya Ningrum menunggu dengan gelisah.


"Tidak, sebaiknya disini saja. Bataliyon Ahmad tak seberapa jauh." Hafizah meletakkan lagi ponselnya yang baru saja menerima pesan dari Ahmad.


Suasana di sebuah cafe terbuka, latar belakang perkebunan dan banyak pohon hias hijau membuat suasana di sana begitu menenangkan.


"Kak."

__ADS_1


Hafizah menoleh adik bungsunya yang terlihat sedang berpikir.


"Apakah Mas Ahmad akan kecewa?" tanya Ningrum.


"Kita serahkan kepada Allah, Kakak hanya ingin yang terbaik untuk semua orang." jawab Hafizah tersenyum lembut.


"Andaikan Kak Nur tidak mencintai Mas Ahmad, apakah Kak Fiza akan menerimanya?" Ningrum terus bertanya, begitulah kebiasaan adik bungsunya itu meski hanya mendapat senyuman sebagai jawaban.


Dan sosok yang di tunggu akhirnya datang.


Tubuhnya gagah, wajahnya tampan dengan rambut rapi, lengannya terlihat kokoh dengan jam tangan melingkar khas militer sungguh mengagumkan.


"Assalamualaikum Kak." Ahmad duduk di di kursi bersebelahan dengan Hafizah.


"Wa'alaikum salam Ahmad Adikku." terdengar begitu merdu, tapi tersirat makna berbeda di telinga Ahmad, hatinya sudah tak yakin.


"Begitu jauh Kak Fiza datang kemari." ucap Ahmad lagi, menggenggam tangan Ara yang asyik dengan makanan ringan, duduk bersama Ningrum.


"Sesuai janji, Kak Fiza ingin memberikan jawaban." ucapnya halus.


Hening sejenak hingga Ningrum beranjak berpindah di meja yang lain bersama Ara.


"Kita sudah menjadi saudara." ucap Hafizah membuat mata Ahmad sendu.


"Kakak tidak sedang menolakmu Ahmad. Justru aku sedang memintamu menjadi pengganti Mas Azzam untuk melanjutkan pemilik pondok pesantren sesuai keinginan Abi, jadilah ayah kedua bagi Ara, jadilah penjaga bagi kami semua. Jadilah laki-laki hebat kesayangan Abi, dan jadilah adikku yang selalu ada di dalam doaku."


Ahmad menatap Fiza dengan banyak pertanyaan.


"Menikahlah dengan Nur, kau akan mendapatkan semuanya."


Sungguh terhenyak hati seorang Ahmad, tak disangka kedatangan Hafizah menginginkan ia menikah dengan wanita lain, meskipun dengan wajah yang tak kalah cantik, tapi Hafizah sudah terlanjur membuatnya tertarik. "Apakah Kak Fiza..."


"Andaikan aku memilihmu, kau Hanya akan mendapatkan posisi kedua, bahkan bayangan Mas Azzam tidak pernah pergi. Aku akan bersamamu tapi hanya mencintai Mas Azzam, dan selalu seperti itu."


Ahmad menunduk, memikirkan ucapan kakak iparnya yang memang benar.


Sedikit pertimbangan, daripada menikah dengan orang lain, Nur lebih baik dan dia tidak akan kehilangan Ara.


"Assalamu'alaikum."


Kiyai Marzuki datang setelah usai urusannya di rumah kerabat yang tak jauh dari cafe tersebut.


"Wa'alaikum salam Abi." serentak mereka semua menjawab.


Suasana tak berubah dengan kedatangan Kiyai. Kemudian dilanjutkan dengan ungkapan tegas.

__ADS_1


"Abi sengaja menemuimu. Sekiranya kau tidak keberatan Menikah dengan Nur Handayani putri kedua Abi agar kita semua tetap menjadi sebuah keluarga yang utuh. Sungguh Abi begitu berharap." Wajah tua seorang kiyai berwibawa itu membuat Ahmad terharu. Mengingat bagaimana laki-laki itu tak keberatan anak perempuannya hidup pas-pasan bersama sang Kakak.


"Baiklah Abi, aku tidak akan mampu menolak. Aku akan menemui Nur setelah aku pulang dari perbatasan."


"Berapa lama?"


"Satu tahun."


Begitu akhirnya, Allah memudahkan urusan dunia yang terdengar rumit. Dan menjadi begitu mudah setelah ungkapan tulus dari hati ke hati.


"Alhamdulillah."


Mobil merah milik Hafizah melaju menuju jalan keluar Kota Surabaya, meninggalkan Ahmad yang juga kembali ke bataliyon dengan hati yang sesak tapi kemudian ikhlas.


"Nur." ucapnya pelan.


Dan tak lepas dari pengawasan Andra, laki-laki yang sedang gelisah itu mengirim pesan yang membuat Hafizah mengulum senyum. "Segeralah pulang, aku tidak bisa berpikir jernih di saat kau sedang bersama orang lain."


"Aku sudah akan pulang." balas Hafizah.


"Ya, pulang dan segeralah menjadi milikku."


"Ahh..." Hafizah menutup mulutnya sendiri seraya tersenyum.


"Kak?" Ningrum menatapnya heran.


"Tidak." jawab Hafizah menutup layar ponselnya.


Ningrum meraih ponsel tersebut, dengan rasa penasaran ia ingin tahu apa yang membuat kakaknya tersenyum sendiri.


"Darimana dia tahu tentang kepergian kita?" tanya Ningrum.


"Entahlah, sepertinya dia memiliki mata-mata." Hafizah terkekeh sendiri.


"Aku mencintaimu, calon istriku."


Pesan masih berlanjut, membuat Ningrum membulatkan matanya.


"Iya imanku." Ningrum langsung membalasnya tanpa meminta izin Hafizah.


"Dik, itu tidak baik." tegur Hafizah.


"Biarkan dia berteriak dan melompat bahagia."


"

__ADS_1


__ADS_2