
Bahagia.
Ungkapan untuk menggambarkan kehidupan Hafizah bersama Andra, tak lagi ada jarak ketika harus bercanda dengan Ara yang entah sampai kapan akan menganggap Andra ayahnya.
Sesekali melintas kesedihan atas keadaan bahagia yang tercipta secara tiba-tiba, Andra hadir sebagai pengganti Azzam. Sedikit penasaran. 'Apakah di hati terdalam Ara masih ada Mas Azzam?'
Hafizah memandang halaman rumah mewah Andra yang luas, ada taman yang nyaman untuk sejenak bersantai dan asisten rumah tangga yang selalu sedia melayani keduanya. Dia seperti seorang ratu di sana.
"Terkadang aku merindukan pekerjaan di kantor." ungkap Hafizah di sore itu Ara bermain dengan asisten rumah tangga muda dengan penuh tawa, dan i duduk berdua dengan Andra.
"Untuk apa?" tanya Andra kemudian duduk dekat dan memeluk Hafizah.
"Hanya mencari kesibukan, lagipula di rumah aku tidak melakukan apa-apa."
"Tomi bilang, saat kau menikah dengan Azzam dia tidak mengizinkanmu bekerja. Dia juga bilang seorang penghafal Al-Qur'an tidak boleh lelah, takut melupakan hafalannya." dia berbicara seperti bertanya.
"Mas Azzam sering mengatakan itu." Hafizah menunduk, ada rindu ketika mendengar nama Azzam di sebut.
"Ya. Kau tidak boleh mengerjakan apapun. Apalagi setelah kau hamil nantinya, aku ingin kau menjaga Ara, juga anak kita agar menjadi seperti mu." Andra mengecup pucuk kepala Hafizah.
"Bukan bekerja yang menghilangkan hafalan Mas, tapi pikiran negatif dan makanan yang tidak halal. Aku pernah mendengar dari temanku saat di Mesir. Walaupun aku belum pernah membuktikannya." dia terkekeh.
"Makanan?" tanya Andra begitu heran.
"Ya, selama kau mendapatkan uang yang halal, maka seluruh keluargamu akan senantiasa dekat dengan Allah, anak-anakmu akan baik perilakunya, menurut pada orangtuanya, cerdas cara berpikirnya, dia akan mengajakmu selalu pada kebaikan, menuju surganya Allah. Tapi jika seorang laki-laki, menafkahi keluarganya dengan rizki yang tidak halal. Maka yang terjadi adalah kebalikannya. Anakmu, akan membawamu kepada keburukan, senantiasa akan mengajakmu menuju neraka yang penuh siksa. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari keluarganya tidak akan memiliki ketenangan. Musibah, bertengkar, saling membenci, rumah tidak terasa aman, miskin kasih sayang, dan sakit."
"Itu menakutkan." Andra bergidik mendengarnya.
"Mengapa harus takut?" Hafizah tertawa.
"Aku tidak bisa membayangkan rumah yang seperti itu. Lalu bagaimana dengan sakit seperti Kak Indri?" Andra menoleh wajah Hafizah.
Hafizah menatap halaman luas itu. "Aku tidak tahu Mas, bukankah Kak Indri adalah orang yang baik?" tanya Hafizah, sesuai dengan apa yang ia dengar ketika berbicara dengan Tomi.
"Ya, itu benar. Tapi aku merasa ada yang sedang di inginkan kakak ku. Dan aku tidak tahu." Andra berpikir. "Menurutmu, apa saja yang membuat seseorang berada dalam kondisi seperti itu?"
__ADS_1
Hafizah Kembali berpikir. "Bisa jadi ada urusan dunia yang belum terselesaikan."
"Contohnya?" Andra sungguh ingin tahu.
"Hutang?"
Andra menarik nafas. "Rasanya tidak mungkin jika Kak Indri memiliki hutang, dia tidak seperti itu."
"Hutang ada banyak sekali, salah satunya memang uang, dan itu tidak lunas meskipun meninggal dalam keadaan syahid. Tapi ada banyak hutang yang lain, mungkin janji atau hal lain yang begitu diinginkan Kak Indri. Misalkan dia ingin seseorang ada di bersamanya, atau ada seseorang yang dia ingin bertanggung jawab dengan sakitnya, kita tidak tahu Mas. Kita hanya bisa berdoa agar Allah menunjukkan kebenaran, juga kebaikan untuk Kak Indri dengan segera."
"Apakah sebuah kata maaf juga termasuk sebagai hutang?" tanya Andra dengan mata sendu juga cemas bercampur aduk.
"Dia butuh jalan yang tenang untuk melangkah meninggalkan dunia yang hanya sementara ini, bisa jadi sebuah kata maaf membuatnya ikhlas untuk pergi." ucap Hafizah pelan dan halus sekali.
Andra mengusap wajahnya, melepaskan pelukan dari bahu Hafizah, mendadak gelisah dan sungguh sedang menahan beban yang berat.
"Mas Andra, ada apa?" tanya Hafizah lagi dengan suara halus, tangannya memeluk lengan Andra.
"Tidak apa-apa Sayang." ucapnya menoleh Hafizah, berusaha tenang dan memeluknya lagi.
"Aku rasa, Kak Indri sedang berada dalam kesulitan ketika kecelakaan itu terjadi."
"Benarkah?" Hafizah merubah posisi duduknya agar berhadapan dengan wajah Andra.
"Ya, Kak Indri begitu terpukul ketika mengetahui perempuan itu sedang mengandung anak dari Kakak Iparku. Terakhir mereka bertemu di sebuah pesta di luar kota, Kakak Iparku ingin minta maaf dan aku curiga kecelakaan kak Indri ada hubungannya dengan kakak Iparku. Dia sempat datang ingin memimpin perusahan, tapi Kak Indriani memberikan kuasa kepadaku, bukan kepadanya. Dia marah dan sangat membenciku. Tomi curiga saat memeriksa rem mobil Kak Indri tidak berfungsi di hari kecelakaan itu, tapi tidak ada bukti lain lagi. Ponsel kak Indri hilang di tempat kecelakaan, tapi tidak menemukannya, ponselnya mati."
Hafizah kembali mengingat kecelakaan Azzam, dia menarik nafas sejenak.
"Dimana kecelakaan itu terjadi?" pertanyaan yang mengejutkan Andra.
"A_" Andra urung bicara.
Hafizah masih menunggu dengan penasaran.
"Di..."
__ADS_1
"Dimana Mas?"
"Mbak Fiza, ponselnya berbunyi terus sejak tadi." Bibi keluar dari rumah besar itu membawa ponsel di tangannya.
"Siapa Bi? Hafizah berbalik, melihat kedatangan Bibi di belakangnya.
"A..." Bibi menyipitkan matanya yang sudah rabun, membaca nama di ponsel Hafizah. "Ah...mad."
Membuat Andra menoleh cepat.
"Oh." Hafizah meraih ponselnya, kemudian melihat wajah laki-laki disampingnya. "Mas, boleh aku bicara dengannya?"
Dengan menahan rasa tak suka, Andra mengangguk pada akhirnya.
Hafizah tersenyum dan mulai bicara. "Assalamualaikum Ahmad."
"Wa'alaikum salam Kak. Dua hari lagi aku akan berangkat ke perbatasan, aku meminta doamu agar aku bisa pulang dengan selamat."
"Ah, itu pasti Dik. Aku akan selalu berdoa untuk keselamatan kita semua. Hemmm... Apakah ada pesan untuk Nur?" menunggu jawabannya.
"Tidak kak, hanya memberitahukan kepadamu, dan beritahukan padanya aku akan pergi dua hari lagi." jawabnya.
"Apakah sebaiknya kau menghubunginya? Dia akan senang menerima pesan darimu." bujuk Hafizah.
"Baiklah, nanti akan ku coba."
Hingga panggilan tersebut berakhir, Hafizah masih terlihat berpikir, tentu saja dia penasaran dengan perkembangan hubungan adik bungsunya dan Ahmad, tapi sekilas dari pembicaraan mereka Ahmad belum menghubungi Nur sama sekali.
Begitu pula Andra, matanya melirik wajah ayu Hafizah. Dia tahu Ahmad masih memikirkan istrinya, dan sungguh ia menganggap telepon singkat itu hanya sebagai alasan. Dia tidak suka.
"Sebaiknya, dia tidak terlalu sering menghubungimu. Bukankah dia memiliki nomor ponsel Nur?" Andra tidak memiliki kesabaran untuk hanya berdiam.
"Dia tidak punya keluarga selain aku dan Ara Mas, mungkin dia masih sungkan untuk menghubungi Nur."
"Itu hanya alasan." sahut Andra.
__ADS_1
Fiza menoleh wajah yang mendadak tak hangat.
"Aku tidak suka dia menghubungimu."