Separuh Nyawa Suamiku

Separuh Nyawa Suamiku
Bimbang


__ADS_3

Bimbang, setelah sebuah kata untuk Andra, malah Ahmad juga menyatakan perasaannya.


Hafizah pikir hanya Andra saja yang sedang memperjuangkan keinginan penuh tekad, nyatanya Ahmad pun datang mendekat.


Langit senja begitu cerah, tapi hatinya seperti berduka. Hafizah melaju pulang dengan mobil berwarna merah pemberian Andra sebagai fasilitas kantor tersebut,


sengaja melewati area pemakaman umum dimana Azzam sudah beristirahat di sana.


Ingin bertemu.


Seperti ketika Azzam masih hidup, hanya dia tempat berbagi resah, tempat bercerita tentang rasa yang sulit diucapkan dengan kata-kata. Tapi hilang ketika cinta bersemi indah lengkap dengan kehadiran Arafah ketika itu. Kini ia hanya menjumpai rumput yang daunnya bagaikan menari ketika angin bertiup, ikut menyejukkan wajah lelah Hafizah. Tangan halusnya mulai meraih rumput setinggi mata kaki itu, menyisakan anak-anaknya berjarak di atas makam Azzam.


"Assalamualaikum Mas." ucapnya halus, angin bertiup kembali seolah menyahut.


"Hari ini Ahmad datang padaku." ucapnya, terasa nyeri ketika mengadu sehingga kemudian memilih diam sambil terus meraih rumput.


Lama, hingga rasanya tak mau pulang. Sejuk dan tenang berada di makam Azzam, bagaikan sedang melepas rindu tapi hanya sendiri. Sungguh kematian benar-benar memisahkan, tapi hati masih saja merasa dekat.


Hingga lepas suara adzan Maghrib Hafizah baru saja tiba di pondok. Ara menangis di Maghrib itu sehingga Nur harus merayunya terlebih dahulu menunda sholat.


"Ada apa Nak?" tanya Hafizah pelan, meraih tubuh gemuknya dari pelukan Nur.


"Tidak tahu Kak, sejak tadi siang dia rewel." ungkap Nur lalu meraih mukena di atas meja.


"Mungkin Ara sedang bosan. Besok Ibu tidak bekerja. Kita jalan-jalan ya?" bujuk Hafizah kemudian duduk di sofa memangku Ara.


"Ayah..." rengeknya kembali menangis, memeluk Hafizah dengan gelisah.


"Ara Sayang, Ayah sudah pergi." ucapnya membuat Nur kembali menoleh, tangan yang sedang memakai mukena itu urung sejenak.


Yang terjadi malah Ara semakin menangis, suaranya semakin keras memenuhinya ruangan itu.


"Sini, biar Ningrum yang mengajak Ara ke asrama putri." Ningrum meraih Ara yang sempat memberontak marah, entah apa yang sedang dipikirkan anak kecil itu sehingga terlihat begitu gelisah dan memanggil Ayah. Tentulah ayah yang di maksud adalah Andra.


"Kak." Nur memanggil Hafizah seraya menunjuk sajadah yang masih terbentang di sudut ruangan.


"Baiklah." ia beranjak, sekilas masih menoleh Ara yang diluar sana masih menangis.


Hanya lima menit saja, sholat yang hanya tiga rakaat itu tak menyita waktu.

__ADS_1


"Nur ingin bicara."


Suara Nur tak menghentikan tangan yang melepaskan mukena itu. Hafizah kemudian beranjak duduk di dekat Nur adiknya.


"Kak Fiza bisa memilih Ahmad."


Hening.


"Paling tidak agamanya tidak kalah dari Mas Azzam, akan bisa mengimbangi mu, dan mencintaimu." ucap Nur menunduk.


Hafizah masih tak menjawab, sedikit menebak jika kedatangan Ahmad tadi siang adalah atas dukungan Nur adiknya.


"Pesantren butuh sosok pemimpin yang beragama, bukan hanya sekedar memiliki kedudukan dan harta." lanjut Nur lagi.


"Bagaimana jika bukan Kakak yang memegang pesantren ini?" ucap Hafizah pelan.


"Kak Fiza anak tertua, tanggung jawab Abi akan jatuh ketangan Kakak jika suatu saat Abi ingin istirahat. Seperti ketika Abi menikahkan mu dengan Mas Azzam, Abi sudah mengatakan untuk menyerahkan pondok pesantren ini kepada Kak Fiza dan Mas Azzam."


"Dan Mas Azzam pergi." lirih Hafizah menyahut ucapan adiknya.


"Ahmad bisa menggantikannya." sahut Nur lagi menoleh ke arah berlawanan dengan Hafizah, menahan air mata yang mulai menggenang.


"Itu hanya sebuah perasaan. Kau dan pesantren ini lebih penting bagiku, seperti Abi yang selalu berusaha mempertahankan pesantren ini, walau dalam keadaan apapun. Bahkan kesehatannya nomor dua setelah para santri yatim piatu yang butuh hidup dan pendidikan yang layak."


Hafizah meraih bahu adiknya agar berhadapan. Tampak mata bening Nur telah basah tak kuat menahan hati yang terkoyak sendiri.


"Aku tidak hidup sendirian, ada kau juga Ningrum. Kita akan bersama-sama melanjutkan perjuangan Abi, seperti juga Mas Azzam yang berjuang dengan dakwahnya, memperjuangkan cita-cita Ahmad adiknya, dan mencintai aku hingga ajalnya. Aku tidak akan mengecewakan siapapun."


"Setiap pilihanmu akan ada hati yang terluka." ucap Nur lagi setengah berbisik, dadanya terasa semakin sesak.


"Tapi bukan adikku." jawab Hafizah begitu halus, mengusap air mata Nur.


"Dan Ahmad yang akan terluka?" tanya Nur lagi terisak kali ini.


"Dia akan menggantikan Mas Azzam, bersama dirimu. Nur Handayani adikku, juga Ahmad Hairudin adikku." membuat bahu yang di pegang Hafizah bergetar.


Tangis Nur pecah menghambur memeluk Hafizah, bahkan setelah kepergian ibunya, Nur begitu kuat. Tak pernah goyah hatinya, tak pernah jatuh air matanya.


Suara tangis lepas menggema di ruangan itu, kedua saudara berpelukan dengan segala rasa menyatu dalam air mata, rengkuhan hangat seorang saudara begitu menenangkan, menguatkan jiwa yang rapuh.

__ADS_1


"Abi akan meminta Ahmad untuk menjadi menantu. Dia akan menggantikan Azzam." Kiyai Marzuki yang sengaja mendengarkan di balik pintu ikut terharu dengan keputusan putri pertamanya yang menurutnya benar-benar memikirkan hati semua orang.


"Fiza meminta restu Abi, untuk membawa Mas Andra juga menjadi menantu. Doakan Fiza, agar selalu berada di jalan Allah, dan meraih surga bersamanya." ucap Fiza kemudian setelah menyapu air matanya.


"Ya, Abi setuju."


"Ayaahh...." suara Ara kembali menggema, Ningrum sampai berkeringat menggendong anak kecil itu kesana-kemari.


"Sebaiknya Kak Fiza menelepon ayahnya. Aku benar-benar lelah." Ningrum memberikan Ara kepada Fiza.


"Baiklah Sayang." Fiza mengusap kepalanya juga wajah Ara yang sudah basah.


Usai tangis haru dan bahagia, tapi di sisi lain seorang laki-laki masih dengan pakaian bekerja duduk melamun di ruangan rumah sakit, memandang tubuh yang terbujur kaku, tak juga bergerak walaupun sudah satu tahun.


"Kak, aku sudah melamar wanita yang suaminya tewas karena kecelakaan itu." ucapnya sedih.


Tubuh di hadapannya tak mungkin merespon.


"Tadinya aku hanya berpikir untuk membuat keluarga laki-laki itu mendapatkan kehidupan yang baik, secara diam-diam agar dia tetap berada dalam tanggung jawab kita."


Andra menarik nafas berat.


"Tapi, pada akhirnya dia membuatku jatuh cinta. Dan ku pikir tak hanya aku, laki-laki manapun akan jatuh cinta jika mengenal wanita seperti dia. Dan aku sudah memutuskan untuk memperjuangkan cintaku, membesarkan anak yang tiba-tiba kehilangan ayah karena kecelakaan itu, dan sepertinya takdir sudah berkata baik, Ara menganggap ku ayahnya."


Andra tersenyum sedikit. "Walaupun aku punya saingan."


"Aku berharap, setelah semua ini, Kak Indri bisa melewati masa sulit ini." Andra meraih tangan yang pucat itu, menggenggamnya lama.


Dan suara ponsel membuyarkan lamunan panjang Andra.


"Assalamualaikum." begitu halus suara seseorang di seberang sana.


"Wa'alaikum salam Fiza." Andra melepaskan tangan Indri dan meletakkan lurus.


"Ara ingin bicara denganmu, Mas."


Andra tersenyum ketika mendengar kata Mas di ujung kalimat sedikit terpisah.


"Sebentar lagi aku akan tiba di sana." jawab Andra kemudian beranjak keluar.

__ADS_1


Sejak sore memikirkan cara untuk bertemu, wajah yang kusut memikirkan Hafizah itu kini cerah mendadak mendapat alasan untuk datang bertamu. Putaran roda yang nyaris tak terlihat itu terasa kurang cepat bagi Andra untuk segera tiba bertemu Hafizah.


__ADS_2