
"Begitulah kehidupan, padahal Indri sudah berusaha baik-baik saja dengan kehidupan yang sebelumnya juga tak kalah buruk. Suaminya selingkuh dan dia begitu terpuruk. Beruntung ada Tomi yang selalu membuatnya kuat, Tomi asisten satu-satunya Indri saat itu, aku masih baru bekerja." jelas Mingho lagi.
"Apakah mereka dekat?"
Mingho seperti tidak percaya, ternyata si kecil yang bengis ini ingin mengetahui banyak hal.
"Ya, Tomi menyukai Indri sejak lama, dia menyayangi dan mengagumi Indri tapi tidak mengusiknya." Mingho tersenyum-senyum menjelaskan hal itu.
"Wah, itu namanya cinta dalam diam. Rasanya pasti indah sekali, sedih, suka, duka dan rindu menyatu di dalamnya." dia sedikit tersenyum.
"Kau menyukai kisah cinta?" tanya Mingho memberanikan diri, lagipula gadis itu sudah terlalu banyak bertanya.
"Tentu saja, semua wanita seperti itu." Ningrum menyandar dengan wajah kembali datar.
"Kalau begitu kapan kau jatuh cinta?" Mingho semakin menanyainya.
"Hah!"
"Aku ingin tahu." ucap Mingho lembut, lengkap dengan tatapan tak kalah lembut.
"I...itu. Nanti saja, aku takut dengan kisah cinta yang tragis." jawab Ningrum kemudian.
"Tragis bagaimana?" Mingho terkekeh.
"Seperti Kak Indri, kecelakaan hingga tidak sadarkan diri selama 16 bulan, itu menakutkan!"
"16 bulan?" tanya Fiza tiba-tiba membuat kedua orang itu menoleh.
"Fiza." Mingho berdiri setengah terkejut, kehilangan tawanya.
Hafizah duduk seraya berpikir, dua hari lalu Andra juga mengatakan hal yang janggal kepada Indri. Ia jadi tertarik dengan kisah kecelakaan kakak dari suaminya itu.
"Mingho, coba ceritakan padaku seperti apa sebenarnya kecelakaan Kak Indri. Aku merasa ada yang masih menjadi beban baginya, terlebih lagi Mas Andra yang sempat mengatakan bahwa harusnya Kak Indri sudah tidak memiliki beban, karena Mas Andra sudah membuatnya bahagia. Siapa yang dimaksudkan Mas Andra sudah membuatnya bahagia?" tanya Hafizah seperti sudah memikirkannya sejak lama.
"Oh, itu..."
Hafizah menatap wajah Mingho yang terlihat berpikir.
"Tolong kau tanda tangani dulu berkas ini." Mingho membuka berkas yang di bawanya, menyodorkan kepada Fiza dengan segera.
"Mingho?" tanya Fiza seraya menyerahkan berkas lagi kepada Mingho.
"Mungkin keluarga korban yang meninggal saat Kak Indri kecelakaan?" sahut Ningrum begitu saja.
__ADS_1
"Tapi mengapa Mas Andra yang harus membuatnya bahagia? Bukankah ada cara untuk memberikan tanggung jawab."
Dengan rasa curiga dan cemburu ia masih menuntut penjelasan dari Mingho yang semakin kebingungan.
"Apakah dia seorang wanita?"
Pertanyaan yang beruntun itu membuat Mingho dan Ningrum tak sengaja saling menatap. Gadis kecil itu kemudian membuang pandangannya. Dapat di lihat dari samping dia sedang mengulum senyum.
"Iya, dia seorang wanita." jawab Mingho setenang mungkin, atau semuanya akan menjadi kacau.
"Berapa usianya?" tanya Hafizah semakin terlihat khawatir.
"Enam puluh dua." bohong Mingho, padahal wanita itu memiliki usia kebalikannya.
Terdengar hembusan nafas lega dari Hafizah, begitu juga Ningrum yang ikut khawatir.
"Dimana dia tinggal Mingho?"
Kembali Mingho menelan paksa ludahnya, ternyata serangan batinnya belum berakhir.
"Dia berada di luar kota. Maaf, Fiza, aku harus kembali ke kantor. Bisakah kau mengambilkan Map berwarna biru?" pintanya ingin segera pergi.
"Baiklah."
Sementara Ningrum mulai mengemas mainan Ara yang berantakan. Dan Mingho ikut memungut mainan membantu Ningrum.
"Ku dengar, kau terpaksa tidak melanjutkan kuliah demi untuk mengurus ayahmu." Mingho memulai pembicaraan yang pelan.
Tangan kecil Ningrum berhenti sejenak.
"Apakah kau tidak mau kuliah di kota ini saja, kau bisa masuk di fakultas terbaik." lanjut Mingho lagi.
Sementara Ningrum belum memberikan jawaban apa-apa, walaupun dia terlihat sedang berpikir.
"Ku lihat banyak siswa dan siswi sedang sibuk mengambil formulir pendaftaran untuk kuliah, jika kau mau aku akan membantumu masuk ke fakultas tersebut, kau juga tak perlu jauh dari ayahmu."
Ningrum mengangkat wajahnya yang sejak tadi menunduk, hingga mata keduanya saling menatap.
"Besok aku akan mengirimkan formulirnya ke pondok." Mingho tersenyum lembut, walaupun tak di balas oleh Ningrum, gadis itu kembali menunduk dan menyelesaikan mengemas mainan Ara.
"Mingho, ini berkasnya." Hafizah membawakan berkas yang diminta Mingho.
Pria yang sedang berjongkok dari kursinya itu kini berdiri, meletakkan beberapa mainan Ara di atas meja lalu mengambil berkas dari tangan Hafizah.
__ADS_1
"Terimakasih." Mingho menyimpannya bersama berkas yang lain.
"Sama-sama. Suatu saat aku akan menemui wanita yang kau ceritakan tadi, aku ingin berbicara dengannya dari hati ke hati." ucap Fiza membuat Mingho kembali terkejut.
"Ya, kau pasti akan melihatnya nanti. Asal kau tahu kecelakaan itu bukan sepenuhnya kesalahan Indri. Tapi begitu akhirnya, Allah memisahkan dia dengan suaminya. Dia kehilangan, dia juga kebingungan, kehilangan tumpuan hidup juga sosok seorang suami sekaligus ayah. Seperti halnya dirimu Fiza, kau kehilangan Azzam, Ara kehilangan ayahnya. Tapi kemudian Tuhan mempertemukan dirimu dengan Andra, ku rasa kau mendapatkan kebahagiaan itu lagi." jawab Mingho terdengar begitu bijak.
"Ya." Fiza menoleh Ara yang berjalan agak menjauh.
"Dia sangat mencintaimu, percayalah."
Nyaris tak percaya seorang Mingho yang bisanya hanya merayu hari ini terlihat serius.
Jika mengingat ketika Azzam pergi maka seolah tak akan ada hari ini. Dunia terasa gelap, dan sempat berpikir bagaimana besok dia masih hidup. Bahkan nyawa di tubuhnya seolah tinggal sedikit.
Dan soal kata ikhlas? Fiza jadi berpikir jika perempuan yang di ceritakan Mingho tentu belum ikhlas walaupun Andra dapat menjamin seluruh kebutuhannya. Tapi mungkin, perlahan mereka bisa memaafkan bila Andra bersungguh-sungguh. "Aku akan menemuinya suatu hari nanti, mana tahu itu bisa membuat Kak Indri segera sembuh."
Pukul 20:00, Ara sengaja belum tidur meskipun sudah beberapa kali menguap, ia sengaja duduk di sofa ruang tamu sambil menghadap pintu.
Tak lama kemudian terdengar pintu itu terbuka, dan mata bening Ara terbuka sempurna ketika sosok Andra berdiri dengan tas di tangannya.
"Ayaaaahhhh.....!" dia turun dari sofa empuk itu, berlari tak sabar memeluk Andra.
"Assalamualaikum Sayang." sapa Andra kepada gadis kecil itu.
"Wa'alaikum salam Ayah." jawabnya dengan suara menggemaskan. tangan kecilnya memeluk Andra, menyerahkan keningnya agar segera di cium.
"Mengapa belum tidur?" tanya Andra. Tampak Fiza mendekat dengan senyum penuh rindu, wajah yang meneduhkan dan tak lupa suaranya yang lembut.
"Mas." panggilnya segera di raih Andra masuk ke dalam pelukan hangatnya.
"Aku sangat rindu." bisiknya lalu mengecup kening keduanya bergantian.
Tak berapa lama kemudian Ara sudah tertidur pulas, bahkan Andra baru selesai mandi.
"Apakah Mingho datang kemari?" tanya Andra setelah mengeringkan rambut dengan handuk, duduk di samping Ara.
"Iya Mas, kami juga sempat bercerita tentang wanita yang ditinggalkan suaminya karena kecelakaan Kak Indri.
"Uhugh...uhugh..." Andra tersedak hebat, teh hangat yang baru saja di teguk menjadi sesuatu yang menyakitkan di tenggorokannya.
"Mas."
"Tidak apa-apa." Andra berusaha mengatur nafasnya. "Lalu?"
__ADS_1
"Aku ingin bertemu dengannya."