
"Apakah itu tidak berlebihan Mas? Aku tidak mau merepotkan mu. Bukankah saat ini juga Kak Indri sedang membutuhkan biaya yang sangat banyak."
Sore itu di taman tak jauh dari rumah besar Andra, keduanya sedang berbicara sambil menikmati suasana sore, sesekali teriakan Ara terdengar senang, bermain bersama anak-anak tetangga yang juga sedang berjalan-jalan di taman tersebut.
"Tapi Ningrum juga butuh pendidikan Sayang. Kau bisa bayangkan bagaimana perasaannya, kau dan Nur lulus di fakultas Mesir."
"Aku tidak yakin Ningrum akan menyetujuinya."
"Baiklah, kalau begitu kita akan mengunjungi Abi sekalian membicarakan banyak hal."
Kemudian terdengar Andra mengubungi seseorang yang entah siapa, membicarakan tentang bisnis juga pondok bersamaan.
Tak berhenti di situ saja, bahkan seperti Andra begitu sibuk dalam beberapa hari. Hingga di akhir pekan Andra mengajak anak dan istrinya mengunjungi pesantren.
Sesuai tujuan awal, Andra ingin menyampaikan niatnya, untuk membantu pendidikan Ningrum, juga memberikan sumbangan yang lumayan kepada pondok. Dan tidak disangka niatnya tidak berjalan sesuai keinginan.
"Maafkan Abi, bukan maksud menolak kebaikan Nak Andra. Tapi Abi juga tahu Nak Andra sedang butuh banyak biaya untuk kesembuhan Nak Indri. Dan untuk pendidikan Ningrum, silahkan bertanya kepada Ningrum saja." jawab Kiyai Marzuki halus.
"Ningrum juga tidak akan melanjutkan pendidikan di Mesir Mas Andra." jawab Ningrum sedikit membuat tercengang Andra.
"Ningrum akan melanjutkan pendidikan di sini saja." lanjutnya lagi.
Andra terdiam dengan berpikir keras, bagaimana mungkin dua niat baiknya ditolak langsung dalam satu waktu. Atau Ningrum sudah terkena bujukan Mingho?
"Tapi Nur butuh bantuan Mas Andra." sahut Nur seketika membuat semua orang menoleh ke arahnya.
"Apa? Katakan saja." Andra berharap bisa membantu kali ini.
__ADS_1
"Kami memiliki hasil sayur yang melimpah, bisakah Mas Andra mencarikan ku rekan bisnis yang membutuhkan sayur organik. Aku akan menjamin kualitas dan harga terjangkau juga dalam jumlah yang banyak. Aku rasa itu adalah solusi untuk semuanya."
Andra sedikit tercengang dibuatnya, ternyata Nur memang bisa diandalkan dalam mengambil keputusan. Tidak salah jika Fiza menyerahkan tanggung jawab kepadanya.
"Berapa banyak kau bisa menyediakan sayuran setiap harinya." tanya Andra langsung mencerna apa yang di bicarakan adik iparnya tersebut.
dalam tiga bulan ini aku hanya bisa menyediakan satu Ton untuk satu Minggu. Tapi beberapa bulan ke depan akan meningkat karena para santri baru saja menanam bibit sayur cukup banyak." jelas Nur lagi.
"Baiklah, aku akan meminta Mingho dan Tomi mencarikan rekan bisnis yang tepat untukmu. Sebagai permulaan kau bisa mengirim sayur berkualitasmu ke hotel milik Kak Indri. Di sana semua pengunjung selalu mengutamakan hidangan sehat." jawab Andra langsung menawarkan hotel milik kakaknya sebagai pembeli pertama.
"Mas Andra serius?" Ningrum menyahut tak percaya.
"Ya, pastikan sayur darimu berkualitas baik. Agar Koki di sana bisa menyesuaikan rasa dan kualitas, sekaligus akan dipakai untuk promosi. Mungkin nanti akan dilirik pemilik hotel yang lain. Mengingat hotel Kak Indri sering di jadikan tempat perayaan bagi orang-orang elite." jelas Andra kepada semuanya, Kiyai Marzuki mengangguk dan hanya menjadi pendengar, sepertinya dia tidak mau terlibat dalam diskusi anak muda. Sehingga memilih menjadi pendengar saja.
"Ah, itu ide yang bagus. Bolehkah aku menjadi salah satu pegawai di sana?" tanya Ningrum kepada Andra. Membuat kedua kakaknya menatap tajam.
"Kau masih kecil, sebaiknya kau selesaikan pendidikanmu. Baru kemudian bisa bekerja dengan layak. Kau bisa memilih jabatan dan gaji yang besar seperti Kakakmu nanti." Andra merangkul Hafizah yang sejak tadi juga hanya menyimak.
"Maaf! Itu benar sekali Abi." jawab Andra membuat semua tertawa, terutama Kiyai yang jarang sekali diajak bercanda, kini ikut tertawa dengan sikap Andra yang apa adanya.
"Modus." gumam Ningrum masih dapat didengar Andra.
Andra terkekeh pelan menoleh Hafizah yang semakin tersipu malu tanpa bisa mengekspresikannya. Begitu sungkan karena Kiyai ada di hadapan mereka.
"Begitulah seorang laki-laki, mereka akan melakukan segala cara untuk mendapatkan wanita yang menurutnya istimewa, cinta seorang laki-laki selalu diikuti nafsu dan ambisi, berbeda dengan wanita yang berhati lembut, kalian terlalu memakai perasaan."
Nur kemudian menunduk, dia teringat Ahmad yang tidak menunjukkan sikap seperti Andra, dia semakin yakin jika laki-laki yang dikaguminya itu tidak benar-benar menerima keinginan ayah dan kakaknya.
__ADS_1
Hari-hari berlalu, Minggu dan bulan akhir pergi dan datang bergantian. Nur sengaja sibuk dengan bisnis yang tentu saja Andra juga ikut campur tangan di dalamnya. Terkadang Nur juga datang ke kantor Andra untuk bertemu rekan bisnis Andra yang sama-sama mengelola hotel dan restoran ternama.
Tak hanya image seorang anak Kiyai yang disandang adik beradik itu saat ini, melainkan adalah adik ipar seorang Andra yang merupakan salah satu pembisnis ternama.
Semua berjalan baik, kehamilan yang semakin hari semakin menunjukkan perkembangannya, sungguh kebahagiaan sedang berpihak kepada Andra. Hingga beberapa tiga bulan kemudian, sebuah pesan masuk di ponsel Hafizah.
Tentu tak ada rahasia bagi kedua suami istri yang selalu mabuk cinta tersebut, Andra membuk kunci layar yang berkedip.
"Assalamualaikum Kak Fiza. Ahmad akan pulang di akhir bulan ini."
Andra meluruskan jari yang baru saja mengetik layar menyala tersebut. Matanya menatap tajam pada satu titik tapi pikirannya berkelana.
"Ya." Andra membalas pesan Ahmad.
"Semoga Kak Fiza dan Ara selalu dalam keadaan sehat. Aku sudah mengirimkan uang ke rekening Kak Fiza."
Degh..
Mendadak jantung Andra berpacu membaca pesan dari Ahmad, rasanya dia tidak terima Ahmad mengirimkan uang untuk Ara, walaupun itu merupakan nafkah wajib dari keluarga laki-laki. Andra paham itu tidak salah.
Tapi rasa tidak terima itu lebih menuntut, benci dan cemburu jelas bersarang di dalam hatinya.
"Sebaiknya kau simpan saja uangmu, Ara tidak kekurangan suatu apapun di sini. Dia baik-baik saja, sehat dan bahagia tak terkecuali Hafizah. Mereka akan selalu bahagia bersamaku. Andra."
Dengan nafas yang memburu ia segera mengirimkan pesan tanpa ragu-ragu.
"Oh, Mas Andra. Tapi aku wajib mengirimkan uang untuk Ara, dia keponakanku, satu-satunya keluargaku. Terimakasih untuk semuanya, tolong sampaikan kepada Kak Fiza bahwa aku akan pulang akhir bulan." ulang Ahmad lagi.
__ADS_1
"Sebaiknya kau memberi kabar kepada Nur."
Tak ada pesan selanjutnya, entah dia tersinggung atau apapun, Andra tidak peduli. Bahkan jika Ahmad tidak menghubungi Fiza lagi, itu lebih bagus.