
"Oh,... A...aku hanya sedang mengungkapkan kebahagiaan kita." Andra terlihat gugup, tapi kemudian meraih tangan Hafizah agar mendekat dengan Indri, duduk di kursi menggantikan dirinya.
Dengan sedikit bingung, mencoba meyakinkan apa yang baru saja di dengarnya. "Seharusnya Kak Indri bahagia mendengar kabar kehamilan mu Sayang. Dulu dia begitu menginginkan aku memiliki seorang kekasih dan menikah." Andra memeluk tubuh Hafizah dari belakang, mengelus perut yang masih rata itu penuh kasih sayang. Tidak mau istrinya memikirkan ucapannya yang tidak sengaja.
Diam sejenak, menatap Indri yang tak kunjung sadar, hanya denyut alat medis yang terdengar mewakili nafas wanita berusia tiga puluhan itu. Sungguh kasihan.
"Mas, apakah Kak Indri pernah melakukan hal yang menyakiti seseorang?" Hafizah memegang tangan Indri yang terasa hambar namun masih terasa denyut kehidupan yang tipis.
"Siapapun pernah melakukannya." jawab Andra seperti sedang berpikir.
"Apakah itu kesalahan yang sangat besar?" tanya Hafizah lagi mendongak wajah Andra.
"Ya, menyebabkan nyawa seseorang meninggal tanpa sengaja."
Menoleh lagi kepada wajah yang masih di perban, walau tidak tertutup seperti awal setahun lalu ia ikut melihat keadaan Indri, sebagian wajahnya sudah membaik. Hanya bekas lukanya masih jelas terlihat.
Beberapa menit tak ada yang bersuara.
"Mas Azzam." gumam Hafizah pelan, tanpa sengaja ia mengucapkan apa yang sedang ia pikirkan.
"Jangan membahas Azzam untuk saat ini."
Tangan Andra yang tadi memeluk bahu Hafizah kini mengendur.
"Maaf." menyadari bahwa suaminya tersinggung, atau cemburu, Hafizah tidak tahu. Yang jelas Andra tidak suka nama Azzam di sebut, dan itu sangat tidak biasa.
"Kita pulang." ajak Andra seperti kehilangan kebahagiaan tiba-tiba.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, Andra tampak fokus dengan jalanan yang padat di pukul enam sore itu.
"Kita akan kemana Mas?" tanya Hafizah.
"Ke pondok Sayang, kita akan meminta Ningrum menginap di rumah mulai besok, kau tidak bisa sendirian saja." Andra meraih tangan Hafizah dan menggenggamnya.
"Aku tidak sendirian Mas, ada Bibi dan Ara di rumah, juga banyak asisten rumah tangga yang selalu menemaniku."
"Berbeda jika itu adalah Ningrum, aku akan lebih tenang."
"Tapi kau lelah Mas, biar aku yang akan mengubungi Abi, juga Ningrum melalui telepon saja. Tak perlu harus ke pondok malam ini."
"Apakah Abi akan mengizinkan jika hanya melalui telepon?" Andra menoleh istrinya.
__ADS_1
"Tentu saja, atau Mas bisa mengubungi Abi langsung."
Andra melambatkan laju mobilnya. "Aku merasa kurang sopan jika menghubungi Abi lewat telepon."
"Abi tidak seperti itu, jangan terlalu sungkan dengan ayah mertuamu sendiri, lagipula ini untuk ku Mas."
Andra tersenyum, menoleh wanita yang selalu saja membuat tenang hatinya.
"Ya, kita pulang."
***
Dua hari yang sepi, menunggu Andra pulang memang begitu menyiksa bagi Hafizah yang sedang hamil muda. Teringat drama sebelum berangkat, pria itu seperti enggan meninggalkan. Bahkan Hafizah sengaja berbohong bahwa dia tidak apa-apa. Sungguh hatinya pun ingin ikut dimanapun Andra berada.
Bila hari-hari biasanya ponselnya hanya tergeletak di kamar atau di ruang tamu, berbeda kali ini ia memegangi benda pipih itu nyaris tak melepaskannya kecuali ketika sudah larut malam Hany untuk menunggu kabar dari Andra.
"Aku akan pulang nanti sore." ucap Andra melalui video call di pagi sekali.
"Alhamdulillah, apakah semua sudah selesai?" tanya Hafizah menatap wajah di layar ponsel tersebut.
"Sudah Sayang. Aku sudah tidak tahan berada di sini, aku ingin segera pulang dan memelukmu." ungkap Andra menatap wajah Hafizah dengan sangat rindu. "Aku sangat merindukanmu." sambung Andra lagi.
Terlebih lagi jari Andra menyentuh layar seolah sedang mengusap wajah Hafizah. Rindunya semakin berteriak ingin segera memeluk Andra.
"Ternyata jauh darimu sangat menyiksaku." ucap Andra lagi membelai layar ponselnya.
"Aku tidak mau ditinggalkan lagi." terdengar manja, dan dia tidak sedang merayu.
"Aku juga tidak mau Sayang, sungguh-sungguh tidak mau jauh dari istriku, dan anak-anak kita."
Jika dulu hanya bermanja-manja dengan Azzam, berbeda kali ini dia harus menahan rindu yang bergejolak luar biasa kepada Andra. Laki-laki ke dua di hatinya itu sungguh membuat suasana hati yang berbeda. Tak hanya sikapnya yang selalu saja melampaui bagaimana Azzam memperlakukannya, tapi semu hal yang ada padanya membuatnya Hafizah merasa takut kehilangan, tidak mau jauh darinya walaupun sebentar saja.
Sedang di bawah sana, seorang laki-laki tampan baru saja keluar dari mobilnya, dengan pakaian rapi, rambutnya rapi, senyum mengembang dan berusaha tidak gugup.
"Aku harus terlihat percaya diri." gumamnya menarik nafas dan membuangnya. "Lagipula dia masih kecil, harusnya dengan mudah aku menaklukkan hatinya."
Dia melangkah masuk.
"Assalamualaikum."
Tepat sekali kedatangan Mingho, gadis bertubuh kecil dengan tinggi tak lebih 160 cm itu sedang duduk di sofa ruang tamu menemani Ara bermain.
__ADS_1
"Wa'alaikum salam." jawabnya dengan suara halus, sekilas mata bulatnya menatap Mingho yang berdiri di ambang pintu, lalu berdiri seolah mempersilahkan laki-laki di depannya segera masuk.
Senyum tipis terbentuk dari bibir Mingho, matanya masih menatap wajah yang biasanya bengis, kini terlihat lebih bersahabat.
"Mas Andra sedang tidak ada di rumah." ucap Ningrum lagi dengan nada tegas, atau memang begitu nada berbicaranya.
"Aku ingin bertemu Fiza, ada berkas yang harus di tandatangani Andra, tapi Fiza juga bisa." Mingho menjelaskan, kedua tangan laki-laki itu memang sedang memegang berkas.
"Duduklah, aku akan memanggil Kakak."
"Tidak perlu, baru saja ku mengirim pesan kalau aku sudah ada di rumah ini." cegah Mingho tak mau kehilangan kesempatan walaupun hanya mencuri pandang.
"Kapan Ayah pulang?" mendengar nama Andra, tiba-tiba saja Ara bertanya kepada Ningrum.
"Nanti malam ayah mu sudah pulang." jawab Mingho kepada Ara.
"Syukurlah." sahut Ningrum tanpa menoleh orang yang berbicara.
"Ya, mungkin selanjutnya aku juga harus ikut, membawa Indri ke Singapura."
Ningrum menoleh pria yang duduk berjarak dengan dua sofa itu.
"Sebenarnya, apa yang membuat Kak Indri kecelakaan hingga separah itu?" tanya Indri kepada Mingho.
Sedikit heran, gadis itu mau berbicara padanya. Apakah ini benar-benar peluang yang di berikan tuhan padanya? Mingho tidak boleh kehilangan kesempatan mendekati Ningrum.
"Kecelakaan." jawab Mingho singkat.
"Kapan?" tanya Ningrum lagi begitu penasaran.
"16 bulan yang lalu."
"16 bulan? "Apakah kecelakaan tunggal?" tanya Ningrum lagi tak habis penasaran.
"Tidak, ada korban lain yang juga terseret dan terbentur jauh."
"Lalu? Apakah dia selamat?"
Saking senangnya diajak berbicara oleh Ningrum, Mingho langsung saja menjawab apa adanya. "Dia meninggal."
"Innalilahi." gumam Ningrum seraya menutup mulutnya, hingga kata-katanya semakin tak terdengar.
__ADS_1