Separuh Nyawa Suamiku

Separuh Nyawa Suamiku
Saingan Terberat Andra


__ADS_3

"Aku mengadu dengan dosaku ya Allah, sungguh tak hanya Kak Indri tapi di hatiku ada dosa yang sulit aku ungkapkan kepada istriku. Aku salah! Aku salah telah menikahinya tanpa berkata jujur terlebih dahulu. Ku pikir dengan pernikahan yang bahagia semuanya akan lebih mudah, ku pikir dengan membuat istriku bahagia maka rasa bersalahku padanya akan menghilang begitu saja, ternyata tidak. Aku tidak punya tempat bercerita, aku tidak punya tempat untuk mengadu, bahkan aku tidak menemukan jalan keluar dari kesalahan ini. Dan sungguh Engkau tahu bahwa aku sangat mencintai istriku."


Andra tertunduk, masih enggan beranjak dari sajadah. Menoleh wajah dua orang yang tertidur pulas di atas ranjang besarnya, keduanya adalah wanita istimewa, yang tiba-tiba menjadi bagian hidupnya, belahan jiwanya, awalnya masih tak berubah, tidak akan pernah bisa di ubah, yaitu kecelakaan Indri yang menewaskan Azzam.


Andra beranjak, mendekati kedua makhluk indah yang tak juga bergerak dari posisi tidur miringnya.


"Maafkan Ayah." ucapnya mengusap kening Ara, lalu mengecup kening anak kecil menggemaskan itu dan berpindah kepada Hafizah, wanita yang sudah memenuhinya hatinya.


Andra menarik nafas berat, lalu mulai tidur di belakang Fiza, memeluknya dari belakang, sedikit mengusap perut yang masih rata, ada kehidupan di sana.


"Hemmm..." dia menggeliat.


Merasa ada yang mengusik tidurnya, tangan hangat seseorang yang sangat familiar.


"Tidurlah Sayang." ucap Andra mengecup kening istrinya yang saat ini berhadapan, memeluknya agar kembali tertidur nyenyak.


***


"Kau telat!" ucap Mingho kepada Andra yang langsung menemui asistennya.


"Ya, aku benar-benar lelah." jawab Andra lalu duduk di depan Mingho.


Hening, meskipun mereka saat ini bertiga, Tomi juga sudah masuk bekerja.


"Ada apa?" Mingho melihat wajah-wajah muram dari orang tersebut.


Andra melirik wajah Mingho.


"Apa yang kau bicara kepada istriku kemarin?"


Tomi langsung menoleh, dia yakin sekali kedua orang yang lebih muda darinya itu sebentar lagi akan saling beradu mulut.


"Tidak ada." jawab Mingho tetap fokus pada pekerjaannya.


"Tidak ada katamu! Jelas sekali Fiza bilang padaku bahwa dia akan menemui wanita yang kau ceritakan itu!"

__ADS_1


"Ya, aku memang menceritakan itu_"


"Untuk apa kau membahas hal seperti itu dengan istriku!" kesal Andra.


"Dia yang bertanya terus menerus! Asal kau tahu bahwa dia juga sudah curiga sebelum aku datang. Dia mendengar kau berbicara dengan Indri."


Andra mengusap kasar wajahnya. "Harusnya kau bisa menghindari pembicaraan itu? Kau bisa membuat alasan yang lain tidak harus mengatakan soal wanita, aku jadi pusing karena pembicaraanmu itu!"


"Aku juga pusing harus menghadapi Hafizah dengan banyak sekali pertanyaan. Dan jujur saja aku muak harus berbohong, ingin rasanya aku mengatakan hal yang sebenarnya agar semuanya selesai."


"Selesai seperti apa yang kau maksudkan?" bentak Andra, membuat kedua asistennya sangat terkejut.


"Berbohong itu berat Andra."


"Berat katamu? Kau tidak lihat saat ini aku sudah menikah dengan Hafizah, dia istriku, Ara anakku sekarang. Dan yang lebih penting lagi, Hafizah sedang mengndung anakku."


Mingho cukup terkejut, juga Tomi yang tak juga bicara.


"Jika kau bilang berbohong itu berat? Ya, itu benar. Lalu berat mana jika istriku marah dalam keadaan mengndung anakku? Kau pikirkan sendiri bagaimana selanjutnya! Jangan mengira kata maaf itu bisa ku dapatkan dengan mudah. Bahkan Kak Indri yang seperti mayat hidup itu bisa saja karena Hafizah masih belum mengikhlaskan kepergian Azzam."


Mingho terdiam, dia merasa bersalah.


Andra menyandar lemas, mengusap wajahnya.


"Sudahlah, itu hanya kekhawatiranmu yang berlebihan." Tomi menepuk pundak Andra.


"Aku sadar, tak akan selamanya aku berbohong." jawab Andra sedih.


"Ya, tapi sekarang keluargamu sedang baik-baik saja, bukankah kalian sedang berbahagia? Fiza dan Ara sangat mencintaimu. Jadikan itu jalan untuk membuatnya lupa akan kesedihan atas kehilangan Azzam. Berikan cinta yang lebih besar dari apa yang dia dapat dari Azzam. Anggaplah Azzam adalah sainganmu."


"Dia sudah meninggal." Andra tersenyum sinis.


"Perlu kau tahu Andra, saingan yang paling berat adalah sosok yang sudah meninggal, bukan orang yang kehidupannya melampaui dirimu."


Ucapan yang membuat Andra berpikir.

__ADS_1


"Aku izin keluar sebentar." Mingho beranjak dari kursinya.


Andra menatap tajam.


"Aku harus ke pondok, mengantarkan ini untuk adik ipar mu." Mingho memperlihatkan selembar kertas yang bertuliskan nama sebuah fakultas terbaik.


Andra langsung meraihnya, sejenak membaca. "Fiza dan Nur adalah lulusan fakultas Mesir. Rasanya tak adil jika Ningrum hanya bisa kuliah di sini."


"Dia tidak ingin jauh dari ayahnya. Sambil tetap kuliah ku rasa bukan ide yang buruk." sahut Mingho mengambil kembali lembaran kertas tersebut dari tangan Andra.


"Aku sudah berencana untuk membiayainya kuliah di Mesir."


Langkah Mingho berhenti, dia jadi ragu untuk menyerahkan lembaran formulir tersebut.


"Pergilah, laki-laki hebat tidak akan menyerah." Sahut Tomi meyakinkan Mingho yang sempat ragu.


"Lalu kau?" Andra menoleh Tomi yang selalu terdengar bijak.


"Aku juga tidak akan menyerah. Andaikan Tuhan memberikan kesempatan untuk kakak mu membuka mata walaupun sehari saja." jawabnya kemudian berlalu keluar mengikuti Mingho.


"Aku berharap juga seperti itu." gumam Andra.


Sementara di pondok pesantren, siang itu semua santri berkumpul di aula besar tepat di samping rumah Kiyai Marzuki. Tampak Nur sudah berdiri di depan disampingnya juga berdiri dua orang ustadzah muda.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokaatuh."


Sahut salam ramai terdengar dari banyak santri yang duduk rapi.


Sejenak doa dan puji syukur kepada Allah SWT mereka panjatkan.


"Saudaraku sekalian." suara halus Nur berhenti sejenak. "Terutama untuk para santri yang sudah lulus Madrasah Aliyah. Aku mewakili Kiyai Marzuki, ayahku. Menyampaikan maaf untuk dua puluh orang santriwati, mungkin dalam beberapa tahun kita bersama, ada kekurangan dalam memberikan bimbingan, atau kekhilafan kata yang menyakitkan hati, kami semua memohon maaf, dan tak lupa memohon ampun kepada Allah SWT, sungguh kami bukanlah manusia yang sempurna, sejatinya kesempurnaan itu hanya milik Allah semata."


Hening kemudian diantara para santri, semakin banyak Nur berbicara, semakin menunduk kepala mereka. Hingga salam penutup terucap dari bibir Nur dan tersenyum hangat.


Tapi bukannya menjawab salam, dua puluh orang santri itu beranjak dan memeluk Nur bersamaan.

__ADS_1


"Terimakasih Ustadzah, terimakasih sudah bersedia menerima kami yang tidak punya siapa-siapa ini."


Tangis haru terdengar memenuhi aula itu. Diantara dua puluh orang tersebut, Empat orang adalah yatim, ibu mereka adalah seorang janda. Dua orang lainnya korban perceraian, dua orang yatim piatu yang sejak kecil tidak punya orng tua. Satu orang lagi sengaja ditinggalkan di pesantren dan di rawat hingga dewasa. Baru sisanya adalah anak yang memiliki orang tua. Dan hanya dua orang yang berasal dari keluarga berada.


__ADS_2