
"Terimakasih Mas." suara halus Hafizah terdengar merdu di siang itu, keduanya masuk ke kamar yang sama setelah akad yang penuh hikmat.
"Untuk apa?" tanya Andra duduk di ranjang empuk di kamar Hafizah, memandang wajah ayu yang masih berdiri.
"Untuk semuanya, sudah membuatku bangga." ucap Hafizah menunduk wajah di hadapannya.
Andra tersenyum lembut, satu tangannya terulur membelai pinggang ramping Hafizah. "Sama sekali tak sebanding dengan kebahagiaanku bisa menjadi suamimu. Hafizah, anak seorang kiyai yang terkenal dengan kebaikannya."
"Itu berlebihan." Hafizah tertawa sedikit.
"Itu benar Sayang." Andra menarik pinggang Hafizah semakin mendekat, mengusapnya hangat.
Hafizah meraih tangan kanan Andra, mengangkat dan mengecup punggungnya. Hingga saling memandang kagum sejenak.
"Gantilah pakaianmu, kita akan pulang."
"Pulang?"
"Ya, ke rumah kita. Kita akan memulai semuanya, kehidupan baru untuk kita berdua. Dan Ara."
"Aku bahkan tidak tahu rumahmu." tak melepaskan tangan Andra.
"Rumah kita. Dimana setiap hari semenjak aku mengenalmu, aku selalu berkhayal kau akan ikut tidur di ranjang yang sama bersamaku."
ucapan yang semakin membuat Hafizah tersenyum, tersipu mendengarnya.
"Aku akan menemui Abi." Andra beranjak, sekilas mengecup pipi Hafizah yang sejak tadi sudah bersemu merah. Itu membuat Andra harus lebih bersabar.
Sementara Andra menemui ayah mertuanya untuk berpamitan.
Suara merengek Ara terdengar memenuhi ruang tamu, kedua putri Kiyai Marzuki sedang sibuk menggoda keponakannya yang sudah tak sabar bertemu Andra, sejak datang ia bahkan hanya bisa melihat pria itu dari jauh.
Dan tak luput dari penglihatan kedua asisten Andra duduk di ruang yang lain mendengarkan kehebohan di ruang tamu tersebut.
"Ini kesempatanmu." Tomi menyikut lengan Mingho yang sejak tadi duduk, dari pintu yang terbuka tampak Ningrum sedang kesulitan merayu Ara.
"Aku harus bagaimana?" tanya Mingho membalas Tomi.
"Kau ajak Ara kemari, dan Ningrum akan mengikuti mu." desak Tomi lagi.
"Kau tahu darimana?"
Tomi berdecak kesal. "Kau tidak lihat bagaimana Andra mendapatkan Hafizah? Dia mendapatkan hati Ara terlebih dahulu, dengan begitu ibunya hanya akan menurut."
"Benarkah?" Mingho berpikir sejenak. Kemudian tersenyum lebar dan beranjak.
"Heh, mendadak dia butuh saran dariku ." Tomi terkekeh memandangi rekannya yang memberanikan diri masuk ke ruang tamu.
"Maaf, apakah aku boleh mengajaknya?" tanya Mingho sedikit gugup.
Ningrum menoleh. "Jika dia mau?" tanpa tersenyum.
"Ah, aku akan membujuknya." Mingho tersenyum penuh semangat, mulai mengulurkan tangan.
"Ara, ayo ikut Paman, kita akan menunggu ayah di dalam mobil."
__ADS_1
"Tidak mau." rengek Ara.
"Aihh, kau membujuk anak-anak seperti seorang penculik." Ningrum yang sejak tadi lelah membujuk malah semakin kewalahan karenanya.
"Tidak, kita akan ke rumah Ayah bersama-sama. Paman, bibimu, ayah dan ibu." bujuk Mingho tidak menyerah.
"Tidak mau." tetap dengan jawaban yang sama. Ara meluk Ningrum tak mau turun hingga tubuh rampingnya terkadang terhuyung-huyung.
"Astaga Sayang, kasihan Bibi mu, tubuhnya sangat kecil dan harus menggendongmu cukup lama, dia bisa sakit pinggang."
"Apa kau bilang?"
Mingho terkejut dengan ucapan menyentak disertai tatapan tajam dari Ningrum. "Ma... Maksudku ingin membujuknya, agar dia mau bermain. Aku tidak tega melihat mu keberatan seperti itu."
"Kau mengatai aku kurus? Aku bahkan bisa menahan tubuh dua orang keponakan seperti dia!"
"Aku tidak mengatakan kau Kurus, hanya kau terlalu kecil dan_"
"Itu sama saja!" kesal Ningrum kemudian melepaskan Ara di lantai dan Ara semakin menangis.
"Tidak! Sayang aku mohon jangan salah paham."
"Apa katamu!" Ningrum menyingsingkan lengan bajunya, menarik gaun panjang yang menyentuh lantai itu sedikit hingga terlihat jeans panjang di dalamnya. Sungguh kata sayang membuatnya emosi.
"Astaga!" Mingho menutup wajahnya dengan tangan, tapi tidak dengan matanya.
"Ibu..." rengekan Ara membuat Ningrum dan Mingho menoleh bersamaan, berhenti dari suasana sengit.
"Sayang." Mingho meraih tubuh kecil Ara yang mulai menangis.
Geram Ningrum meminta Mingho tidak menyentuh Ara.
"Ba... baiklah." Mingho berdiri.
Nur datang mendekati Ara. "Ibu akan segera turun."
"Kau tidak boleh marah seperti itu, tidak baik di dengar anak-anak."
"Keluar!" kesal Ningrum benar-benar kesal.
"Tapi-"
"Ke-lu-ar!"
"Ningrum." Nur menghentikan ketegangan diantara keduanya.
"Dia menyebalkan!" masih dengan tatapan menghunus, membuat Mingho semakin bergidik di buatnya.
"Maafkan adikku." Nur berbicara kepada Mingho.
"Tidak apa-apa, aku tahu hatinya sangat baik." diantara kegugupannya Mingho melirik Ningrum sedikit.
"Jangan sok tahu!" semakin marah.
"Baiklah, aku keluar." Mingho berbalik menghampiri Tomi yang sejak tadi terkekeh mendengar dan melihat perjuangannya yang sia-sia.
__ADS_1
Mingho duduk dengan wajah tak berdaya.
"Bagaimana?" Tomi sengaja menanyainya.
"Bagaimana apanya, kau lihat sendiri dia begitu berbeda dengan kedua kakaknya." dengan kening berkerut.
"Tidak juga, dia cantik dan masih sangat muda. Pasti menyenangkan ketika kau bisa mendapatkannya, dia gadis yang pintar, dan anggun." ucap Tomi sambil terkekeh.
"Dia memang terlihat pintar! Cantik dan menggemaskan. Tapi dibalik pakaiannya yang anggun, ada celana jeans yang menantang"
Tomi terkekeh geli, ingin rasanya pria yang sudah sangat dewasa itu tertawa terbahak-bahak, dan mengingat sekarang dia berada di rumah Kiyai, dia harus menahannya.
"Itu akan membuatku sangat kesulitan." ucap Mingho dengan wajah bingung.
"Celana Jeansnya?" sahut Tomi lagi.
Mingho berdecak kesal, dia sungguh tidak tahu caranya mendekati si bungsu yang menurutnya sangat liar. Satu tahun ia berusaha mencari celah untuk bertemu atau hanya sekedar mengobrol. Hingga saat ini bahkan belum ada kesempatan yang menghampirinya.
"Baiklah, aku harus menyiapkan mobil." Tomi menepuk pundak Mingho.
Tak lama kemudian suara beberapa orang keluar dari rumah itu. Sepertinya Andra dan Fiza sudah siap.
"Jangan lupa datang mengunjungi kami semua." suara Kiyai Marzuki terdengar.
"Tentu saja Abi, Mas Andra bilang jarak rumahnya tidak terlalu jauh." Hafizah asyik berbicara sambil berjalan keluar.
"Jangan lupa merindukan Kakek." Kiyai Marzuki pula mengeratkan pelukannya kepada Ara dan mencium keningnya.
Kelima orang itu berdiri di halaman pesantren, menunggu Andra yang masih di dalam.
"Kami akan merindukanmu Kak." Ningrum memeluk Hafizah.
"Kami akan menyempatkan waktu untuk datang setiap akhir pekan." Andra yang baru saja keluar menyahut sambil merapikan lengan bajunya.
"Baiklah, jangan ingkar janji." Ningrum memastikan, membuat semua orang tertawa.
"Kami pulang Abi." Andra meraih tangan Kiyai Marzuki.
"Ya." ucapnya tanpa berkata panjang lebar setelah janji Hafizah dan Andra untuk sering datang, bagi orang tua itu adalah harapan.
"Ayo Sayang." Andra meraih Ara dan menggendongnya, tentu dengan senang hati Ara memeluk Andra seperti biasa.
"Aku pergi Abi." kali ini Hafizah yang meriah tangan Kiyai.
"Ya, doa Abi menyertai kalian semua." mengusap kepala Hafizah.
Setelah berpamitan kepada semuanya.
Andra meraih tangan Hafizah berjalan menuju mobil yang sudah di siapkan Tomi, satu tangan menggendong Ara, satu tangannya menggenggam tangan Hafizah berjalan.
Indah di lihat, bahagia di rasa, haru tersisa di hati kiyai dan semua orang di pondok pesantren tersebut.
Dari belakang terlihat begitu kokoh pundak Andra untuk kedua orang wanita tersebut menggantungkan hidup.
Dan semakin membuat kiyai merasa sesak ketika Andra menoleh sebelum masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Aku seperti melihat Azzam." suaranya bergetar.