
Langkahnya sedikit terburu-buru, lelah di perjalanan dari Surabaya membuat ia bangun kesiangan. Pulang dengan rasa tak enak hati, tapi lega setelahnya sudah berbicara langsung dengan Ahmad.
Dan hanya butuh waktu yang tepat, untuk memberi jawaban kepada Andra. Tidak baik menunda perasaan yang semakin waktu berjalan semakin menggebu rasa merindu yang kemudian berubah menjadi khayalan. Bahkan rasa yang keterlaluan bisa di sebut zinah pikiran.
Langkahnya terhenti.
Mata beningnya melihat kiri dan kanan di dalam kantor besar itu, semua orang terlihat mengherankan. Tatapan mereka membuat tak nyaman, belum lagi sebagian berbisik sambil memperhatikan kedatangan Hafizah.
Berusaha tak peduli dan kembali melangkah, sambil kembali menoleh memastikan semua pegawai tidak sedang bergosip tentang dirinya. Jika iya, apa yang membuat mereka demikian?
Dan dari kejauhan sosok yang ada di dalam pikirannya sedang berjalan menuju ke arahnya. Sungguh di pagi ini dia terlihat sangat tampan. Bibirnya tertarik sedikit mengingat kemarin pria itu mengirim pesan begitu romantis, bahkan kata-katanya masih terbayang-bayang.
"Selamat pagi." sahut Andra, menatap wajah yang semakin serba salah.
"Selamat pagi." jawab Hafizah menjadi gugup, mundur beberapa langkah ketika Andra berhenti terlalu dekat. "Maaf, aku terlambat."
"Aku sengaja menunggumu." Andra mengeluarkan tangan di balik punggung dengan seikat bunga begitu indah, memberikannya kepada Hafizah.
Serba salah, tak menyangka mendapatkan perlakuan seperti itu, apalagi dari seorang CEO. Belum lagi semua orang sedang menatap kearahnya.
"Menikahlah denganku. Jadilah Istriku. Mendampingiku hingga menua bersama. Membesarkan anak-anak kita dengan utuh, penuh kasih sayang, hingga menjadi seorang yang istimewa seperti dirimu." ucap Andra lagi seraya membuka kotak cincin sederhana tapi bertengger berlian di atasnya.
"Ta...tapi."
Andra maju selangkah, lebih mendekati Hafizah yang semakin gugup.
"Jangan menolak. Karena aku tidak akan pernah berhenti untuk mendapatkan mu."
"Harusnya kau berpikir lagi, status kita berbeda." Hafizah merasa tidak percaya diri dengan perlakuan berlebihan menurutnya.
"Artinya kau sudah menerimaku?" Andra tersenyum dan meraih tangan Hafizah, memasangkan cincin di jari manis yang ternyata sangat pas.
"Aku belum menjawab." Hafizah masih ingin protes, meraih jari lentiknya namun percuma.
"Benarkah? Harusnya kau katakan tidak sejak tadi." Andra tersenyum lagi, memandangi wanita yang nyalinya menciut dihadapannya.
"Dua Minggu lagi kita menikah."
"Itu terlalu cepat!"
"Baiklah, Minggu depan."
"Hah!"
__ADS_1
"Mulai sekarang Hafizah berhenti dari kantor ini, karena dia akan segera menjadi istriku. Semua urusan kantor akan ditangani oleh Tomi. Silahkan menyelesaikan pekerjaan dengannya." dia berkata seperti sedang membuat pengumuman kepada seluruh karyawan kantornya.
Dan mendapat anggukan dari semua orang. "Baik Pak, selamat untuk Anda, untuk kalian berdua."
"Terimakasih." ucap Andra senang.
"Ini masih awal bulan." Hafizah masih ingin protes.
"Kau di pecat." ucap Andra melepaskan jari manis yang sejak tadi dalam genggamannya. Ia berlalu meninggalkan Hafizah yang masih terpaku dengan seikat bunga.
"Selamat Hafizah." ucapan selamat dari seorang teman kerjanya. Begitu banyak dan bergantian. Dia berdiri linglung.
Usai drama di pagi itu, Hafizah duduk di ruangan kerjanya dengan melamun.
"Sayang rasanya berhenti bekerja, dengan gaji yang lumayan harusnya aku bisa membantu anak-anak yatim piatu untuk membeli banyak keperluan." gumamnya sendiri, tak sadar seseorang sudah berdiri di ambang pintu mendengarkan ungkapan pelannya, juga semua gerak-geriknya.
Tangan kecilnya meraih buku agenda.
Dan sebuah tangan pula meraih buku agenda tersebut, meletakkan lagi pada tempatnya.
Hafizah mendongak.
"Kau hanya akan mengurus Ara. Tetaplah di rumah seperti dulu ketika Azzam memperlakukan dirimu dengan begitu istimewa. Aku pun akan memperlakukan mu dengan lebih istimewa."
"Kau tahu darimana?" pertanyaannya terdengar halus.
"Apa yang membuatmu ingin menikah denganku? Sudah jelas bahwa aku bukanlah setara dengan dirimu yang merupakan Pemilik perusahaan, beberapa hotel dan tentu banyak sekali wanita yang menginginkanmu. sedangkan aku hanyalah seorang janda miskin yang memiliki banyak sekali tanggung jawab. Ayahku bukanlah orang kaya, dia hanya seorang yang sedang berjuang mengangkat derajat anak-anak yang tidak memiliki orang tua, atau juga tidak memiliki ayah. Seperti Ara." terdengar sedih di ujung ucapannya.
"Aku ayahnya sekarang, apakah kedekatan kami selama satu tahun belum cukup membuatmu yakin bahwa aku juga menyayanginya?" tanya Andra terdengar serius.
"Aku yakin, tapi aku merasa tidak pantas menjadi istrimu."
"Kata Siapa?"
"Aku." jawab Hafizah menatap Andra.
"Tidak bagiku, kau sangat istimewa. Aku sungguh-sungguh menginginkanmu. Apapun yang terjadi aku tidak akan melepaskan mu. Berjanjilah untuk selalu bersamaku." pinta Andra pelan.
Pada akhirnya Hafizah tersenyum haru, sungguh dia sedang merasa begitu berharga untuk Andra, semua kata-katanya begitu menyenangkan.
Begitulah kodratnya seorang wanita, menyukai keindahan. Pujian dan perhiasan, kedua hal itu akan selalu membuatnya bahagia.
"Aku bukan wanita sempurna, bahkan Mas Azzam masih ada di hatiku."
__ADS_1
"Aku tahu." Senyum tulus terukir di wajah tampan Andra, tak henti menatap wajah Hafizah mencari dan ingin menyelam di bola matanya.
Terburu-buru mengalihkan pandangan, Hafizah jadi membayangkan bagaimana nanti jika mereka menikah. Sungguh mata elang Andra membuatnya merasa dikuasai bahkan sebelum benar-benar menjadi miliknya.
'Astaghfirullah.' berusaha sadar dari bayangan wajah tampan Andra yang belakangan menggoda.
***
Semuanya berjalan baik.
Satu Minggu itu tidaklah lama, namun begitu menyiksa bagi Andra yang sudah tidak sabar memiliki Hafizah. Siang itu ia menunggu Hafizah datang ke sebuah butik.
"Assalamualaikum Mas."
Membuat girang hati Andra ketika ucapan Mas terdengar begitu mesra. Meskipun sering terdengar kata 'Mas', tapi menjelang hari pernikahan malah rasanya seperti aliran listrik yang menyentuh kepala.
"Wa'alaikum salam Sayang."
Rupanya tak hanya Andra, bahkan jantung Hafizah menggila saat mendengar panggilan sayang dari calon suaminya tersebut.
"Istighfar!" Mingho yang sengaja ikut menyahut cepat.
"Bilang saja kau sedang mencari perhatian adik Iparku." bisik Andra melirik Ningrum yang terlihat tak peduli.
"Itu benar sekali." jawab Mingho juga berbisik.
"Selamat berjuang." Andra melewati Mingho sambil menepuk bahu asistennya tersebut.
"Mas, kita memakai warna putih saja ya?" pinta Hafizah halus.
"Ya, apapun yang kau mau Sayang." Andra sengaja merayunya, karena untuk menyentuhnya tentu dia harus menahan.
"Kau suka?" tanya Hafizah lagi.
"Aku menyukai yang kau suka, dan membuatmu bahagia." Andra menolehnya hingga saling menatap sejenak.
"Itu kotak maharnya." Mingho menunjuk sebuah kotak yang bagus.
"Ah, aku sampai lupa mahar apa yang kau minta dariku." tanya Andra begitu dekat kali ini, membiarkan Hafizah memilih model kebaya panjang.
"Aku akan menerima apapun yang Mas Andra berikan."
"Aku akan memberikan segalanya untukmu." Andra merayunya lagi.
__ADS_1
"Aku hanya meminta surah Ar Rahman sebagai mahar pernikahan kita."
"A...Ar Rahman?"