
"Bagaimana jika orang yang menabrak Azzam adalah Kak Indri? Dan orang memberikan santunan padamu itu adalah aku?"
"Mas!" mendadak jantungnya berdegup seperti menghantam dada.
Itu bukan hanya sekedar kata-kata, tapi seolah-olah yang sebenarnya terjadi.
"Dan aku adalah laki-laki yang mencintaimu, sangat mencintaimu. Kau dan Ara, juga anak kita." Andra turun dari duduknya, menekuk lutut di lantai dan mengusap perut Fiza.
"Itu berbeda Mas, Kau orang baik. Kau mencintaiku juga anak Mas Azzam."
"Ya. Apakah maaf mu tak juga bisa kau berikan?"
"Mas..." wajahnya tegang, matanya mulai basah membayangkan apa yang di katakan Andra.
"Kecelakaan tidak menguntungkan siapapun, baik Azzam juga Kak Indri. Andaikan aku bisa memilih, lebih baik kak Indri seperti Azzam yang kemudian langsung meninggalkan dunia ini tanpa harus menderita. Dia sudah tenang di sana. Sedang Kak Indri, kau bisa lihat bagaimana keadaannya. Bahkan uang yang sudah begitu banyak tak juga bisa membuat ia bangun bahkan untuk membuka mata. Apakah penderitaannya masih belum cukup?" Andra terus berbicara sambil menyentuh pipi istrinya. Seperti tak mau Fiza berpaling menyudahi pembicaraan ini.
Kali ini dia benar-benar menangis.
"Aku hanya butuh kau ikhlas, agar Kak Indri mendapatkan jalan yang mudah, baik itu akan hidup atau akan pergi."
"Cukup Mas, Kak Indri bukan dia. Jangan samakan mereka dengan kau dan Kak Indri." Hafizah beranjak, menepis tangan Andra.
"Sayang..."
Hafizah enggan mendengar, berlalu menuju kamarnya.
"Fiza." Andra mengejar istrinya yang tergesa-gesa menaiki anak tangga.
"Aku mengantuk Mas." masuk ke kamar, menuju ranjang dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Sayang..." Andra terus memanggil dan meraih bahu yang memunggunginya.
***
Matahari mulai menyingsing, malam berlalu begitu saja dengan sejuta pikiran yang membuat gelisah.
"Aku berangkat ke kantor Sayang." Andra merangkak naik ke atas ranjang, mengecup kening dan pipi istri yang hari ini kesiangan.
"Mas." panggilnya lembut.
"Ya..." jawab Andra begitu pelan.
"Aku sudah memikirkan semuanya."
Andra menautkan alisnya, menatap ambigu.
__ADS_1
"Kau benar, kecelakaan tidak menguntungkan siapapun, baik Mas Azzam ataupun orang yang menabraknya."
Andra duduk dan mengelus kening Hafizah, menyibak rambut dan Menatapnya lembut.
"Aku ingin bertemu dengan orang itu."
Seketika elusan tangan Andra terhenti. Kalau sudah begini, siapa yang belum siap? Bahkan nyalinya tidak cukup untuk mengakui semuanya dengan jelas kepada istrinya.
"Mas, bisakah kau mempertemukan aku dengan mereka?"
Dan lagi, Andra menelan paksa ludahnya. Bagaimana caranya?
"Ba... baiklah." untuk sementara hanya kata-kata itu.
"Terimakasih." Hafizah memeluk Andra begitu erat, posisi tidur miring yang manja itu mengangkat kepalanya, masuk ke dalam pangkuan Andra. Sementara tangan Andra balas memeluk sambil merasakan sedikit pening di kepalanya.
Sementara di pondok pesantren, Nur baru saja keluar dari ruang rapat, selain karena bisnisnya mulai naik pesat setelah memasuki bulan ke empat, mereka baru saja kedatangan seorang ustadz muda, anak seorang Kiyai dari luar kota itu sengaja menjadi seorang pengajar di sana, tertarik dengan banyaknya anak-anak yatim piatu yang tinggal di pondok pesantren milik Kiyai Marzuki, dia ingin menyumbangkan ilmu dan tenaga di sana.
"Kak, ustadz muda itu lebih tampan dari Mas Ahmad." bisik Ningrum kepada Nur, berjalan menuju rumahnya.
Nur tertawa. "Kau masih kecil, jangan terlalu cepat menilai seseorang."
"Ah, iya. Sebenarnya aku ingin membahas sesuatu.
"Apa?" Nur berhenti di depan rumah mereka.
Nur menjadi serius, dia memilih duduk di bangku kayu berukir di depan rumah itu.
"Kak Indri kecelakaan, menabrak seseorang dan membuatnya meninggal. Aku masih ingat pembicaraan ku dengan asisten Mas Andra beberapa bulan yang lalu, saat aku menginap di sana menemani Kak Fiza."
"Mengapa kau baru bercerita sekarang, bukankah itu menjadi janggal terasa? Kau tahu jika kecelakaan Kak Indri itu sama seperti kecelakaan Mas Azzam. Aku jadi berpikir jika..."
"Aku juga." sahut Ningrum cepat.
"Tomi tidak pernah mau terbuka jika sudah membahas kecelakaan Kak Indri, meminta kita bertanya kepada Mas Andra, bukankah itu tidak sopan."
"Ya, dan Asisten Mas Andra juga sama, seolah menghindari percakapan tentang kecelakaan Kak Indri, padahal Kak fiza juga sangat penasaran."
"Aku rasa mereka sengaja menutupi sesuatu." keduanya saling menatap. "Sekarang bagaimana caranya agar mereka bicara?"
"Aku tahu!" Ningrum tersenyum penuh arti.
"Dik?" Nur menatap curiga, selain berani, Ningrum juga bisa berbuat nekad.
"Tenang saja, aku hanya butuh bertemu dengan asisten Mas Andra." Di tersenyum kaku, seraya meraih ponsel Nur dari tangan kakaknya tersebut.
__ADS_1
"Aku akan menemanimu." Nur menghawatirkan adiknya.
"Tidak Kak, kau harus mengajar siang ini, dan sorenya kau harus melihat pekerja di perkebunan." tolak Nur dengan senyum manis, semakin membuat Nur curiga.
Sedangkan di seberang sana, seorang laki-laki berkulit putih dengan mata menyipit itu sedang terpaku melihat ponselnya yang menyala.
"Assalamualaikum, ini Ningrum. Bisakah kita bertemu? Di taman dekat restoran xxx satu jam lagi, tidak ada penolakan! Aku ingin makan siang di sana."
Wajah yang memang putih bersih itu berubah merah hingga ke telinganya. Dadanya naik turun, mengedipkan matanya berkali-kali. Tapi tubuh tingginya hanya berdiri seperti patung.
"Are you oke?" Tomi menepuk pundak rekannya itu.
"Ya, aku baik-baik saja." jawabnya dengan mata melebar, senyum sumringah dan kemudian meninggalkan Tomi tanpa pamit, berjalan begitu cepat menuju mobilnya, sesekali berjingkrak dan melompat di halaman kantor besar tersebut. Membuat beberapa orang geli melihatnya.
"Apakah dia sedang menang lotre?" Tomi bergumam.
Hingga satu jam kemudian, Mingho sengaja datang lebih awal karena takut Ningrum marah jika harus menunggunya.
"Assalamualaikum." suara halus dari gadis belia bertubuh langsing itu membuat Mingho menoleh. Jangan lupakan penampilan Mingho dengan jas mahal dan penampilan yang selalu memukau. Tentu tatapan Ningrum sedikit sulit berpaling darinya saat ini.
"Wa'alaikum Salam." jawabnya menarik kursi dan meminta Ningrum duduk, taman terbuka di area restoran tersebut memiliki nuansa alam yang menenangkan. Tak salah Ningrum memilih tempat itu.
Suasana canggung mulai memudar ketika dua gelas minuman sengaja di pesan Mingho.
"Ada apa?" Mingho menanyai gadis kecil itu dengan lembut sekali.
"Hemm... sebenarnya memang ada apa-apa." jawab Ningrum melirik Mingho.
"Katakan saja, aku akan membantu apapun masalahmu, apapun maumu, dan apa saja yang kau inginkan dariku." Mingho merayunya dengan tulus.
"Benarkah?" wajah Ningrum terlihat bersemangat.
"Ya."
"Janji?" Ningrum tak mau kehilangan kesempatan.
"Ya, aku janji." Mingho begitu yakin.
"Baiklah, aku hanya ingin kau ceritakan semua yang berhubungan dengan kecelakaan Kak Indri, juga siapa orang yang sudah meninggal karena kecelakaan itu?"
"Hah! Bukankah kau ingin meminta sesuatu dariku?" Mingho mulai kelabakan.
"Ya, ceritakan saja. Kak Indri dan meninggalnya Mas Azzam!" desak Ningrum terdengar tegas.
'Mati aku'
__ADS_1
Mingho merasa ada duri di tempat duduknya, ingin berlari kakinya malah tak mampu.