
"Wanita Siapa? Bahkan sebelum kita menikah aku tidak punya teman wanita." Andra mendekati Hafizah, memeluk dan mengecup keningnya namun tak juga merubah wajahnya yang menatap tanpa tersenyum.
Tadinya tergesa-gesa, namun tak tenang dengan sikap Hafizah yang baru pertama ia melihatnya demikian.
"Sayang." panggil Andra menatap wajahnya lagi.
"Siapa rekan bisnis yang akan rapat denganmu?" tanya Fiza.
"Dia orang Indonesia, Hanya saja sudah mengembangkan bisnisnya di Singapura sehingga dia sudah menetap di sana. Jadi rapatnya harus pagi-pagi sekali." terang Andra tapi tak juga melihat senyum dan sikap mesra istrinya.
"?"
Andra semakin heran. "Jangan sering ini Sayang, apa yang semalam masih kurang?" berbisik menggoda.
Fiza menarik nafas, tangannya memeluk Andra tapi tak juga tersenyum.
Andra tersenyum membalas pelukan Hafizah. "Aku akan segera pulang."
Ketika akan masuk ke dalam mobil pun Andra masih menoleh lantai dua di mana kamar mereka berada. Belum lagi Hafizah tidak mengantar seperti biasanya. Dia khawatir istrinya sedang marah, tapi apa penyebabnya? Mendadak bertanya tentang wanita? Wanita siapa?
Andra melaju menuju arah dimana tempat ia akan rapat, dia sudah tidak punya banyak waktu. Sedangkan Hafizah masih saja banyak berpikir.
Seperti janjinya, hanya sepertiga hari saja ia bekerja lalu akan pulang untuk bermain bersama Ara. Pria yang masih berjas rapi itu keluar dari mobilnya sedikit tergesa-gesa.
"Bibi, dimana istriku?" tanya Andra sambil berjalan.
"Di atas Mas Andra, sejak pagi Mbak Fiza belum turun, bahkan belum makan." lapor seorang asisten rumah tangganya.
Andra semakin berlalu cepat.
"Sayang_"
Tampak Fiza sedang khusyuk mengaji, Al-Qur'an di hadapannya terbuka, namun membacanya dengan menutup mata.
Andra tersenyum, memelankan langkahnya memasuki kamar tersebut. 'Aku merasa sedang menikahi bidadari.' gumamnya di dalam hati.
Hingga suara merdu itu mengakhiri mengajinya, tepatnya dengan hafalannya.
"Mas."
Panggilnya segera menutup Al-Qur'an dan melepaskan mukenanya.
Andra tersenyum lagi, tak henti kekaguman di dalam hatinya, menatap wajah yang semakin berseri tanpa berdandan sekalipun.
Fiza meraih tangan Andra dan mengecup punggung tangan Andra penuh kasih sayang, mencerminkan istri yang menurut juga setia. Andra sangat menyukainya.
"Apakah pekerjaanmu sudah selesai?" tanya Fiza melepaskan jas suaminya.
"Ya." jawab Andra singkat.
Mata bening bak kristal itu menatap sejenak. Tak ada pembicaraan lagi selanjutnya, Fiza mendadak berubah pendiam.
"Sayang?" Andra meraihnya, menahan Fiza di dalam pelukan hangatnya.
"Ada apa Mas?" menghindari wajah Andra yang begitu dekat.
"Apa yang sedang kau pikirkan? Mengapa tadi pagi menanyakan soal wanita?"
__ADS_1
Hafizah masih enggan menatap wajah Andra, padahal ingin mencari jawaban sendiri jikalau Andra berbohong.
"Kau bertemu dengan siapa pagi ini?" Fiza mengulang pertanyaannya sambil melihat kancing kemeja yang sejajar dengan wajahnya.
"Dengan rekan bisnis kita." Andra meyakinkan.
"Wanita?" begitu pula ia mengulang.
"Tidak, laki-laki Dua orang. Dan iya, dia membawa putrinya yang_"
Hafizah melepaskan pelukan Andra, berbalik menjauh.
"Kami bertemu di satu meja, membahas pekerjaan."
Fiza tak menyahut.
Andra semakin bingung mendekati Fiza lagi dan memeluknya. "Apa istriku sedang cemburu?"
Terdengar tarikan nafas yang berat.
"Aku hanya mencintaimu. Tidak ada siapapun yang lebih menarik bagiku."
"Tapi mengapa tidak jujur Mas, bahkan Mingho bilang kalian akan menemui Nona cantik!"
Andra seolah sedang salah mendengar. "Mingho?"
"Dia menelepon mu, juga mengirim pesan tentang Nona Cantik yang akan kalian temui pagi-pagi sekali." ada kecewa di raut wajah Hafizah, sungguh jelas terlihat dari samping.
"Mingho? Kapan_"
Andra semakin serba salah, dia bingung harus bagaimana terlebih lagi Hafizah meninggalkannya di kamar.
"Mingho." geramnya. Meraih ponsel dan melihat pesan sebelum ia berangkat.
"Dia benar-benar!" Andra menekan nomor asistennya tersebut, dengan beberapa kali mengusap wajahnya dia tak sabar panggilannya tak juga diangkat.
"Halo."
"Apa maksudmu mengirim pesan dan menyebutkan Non cantik di dalamnya!" bentak Andra.
"Hah!"
"Hah apa! Kau sengaja ingin membuat istriku marah dan cemburu! Awas saja kalau Fiza sampai tidak percaya lagi padaku, aku pastikan akan melempar mu dari lantai 10."
"Tapi itu memang benar, dia cantik."
"Cantik menurutmu! Dasar mata keranjang."
"Eh, aku sedang mengerjakan proyek besarmu! Kau tidak boleh marah-marah padaku agar hasilnya bagus." bujuk Mingho.
"Kalau tidak bagus aku akan menurunkan jabatan mu sebagai OB!" kesal Andra lagi tak mau kalah.
"Kau kejam sekali, kau pulang meninggalkan pekerjaan tanpa perasaan, hanya aku yang mengerjakannya sendirian. Kau malah memarahiku seperti ini!" gerutu Mingho di seberang telepon.
"Kau memang pantas di marahi bahkan lebih dari itu!"
Tutt....tutt...tutt...
__ADS_1
"Mingho! Mingho! dasar tidak sopan." kesal Anda melihat layar ponselnya, panggilannya sudah berakhir.
'Bereskan pekerjaanmu dan bawa kesini nanti sore!' Andra menulis pesan untuk Mingho.
Tanpa menunggu balasan, dia tak peduli dan langsung mengejar Hafizah.
"Ayaah..." suara Ara terdengar berteriak ketika Andra menuruni anak tangga. Anak kecil itu sudah memakia baju renang selutut, dan lengan menyentuh siku.
"Ah, Sayang. Kau sudah siap?" Andra menghampirinya, menoleh Hafizah yang baru saja keluar dari ruangan mainan Ara mengambil Bebek berisi angin tersebut.
"Siap!" Ara mengangguk, wajahnya begitu menggemaskan. Matanya bening seperti Hafizah, bibirnya juga ank rambut di keningnya sama persis, hanya hidungnya lebih kepada Ahmad.
Tiba-tiba Andra mengingat adik ipar istrinya itu. Azzam memang mirip dengan Ahmad. Itu pula sebabnya dia sangat cemburu jika laki-laki itu menghubungi Hafizah.
"Ayo Ayah." Ara memeluk leher Andra, sudah menjadi kebiasaan baginya bersikap manja.
Selagi masih kecil, Fiza tak akan melarang. Berbeda jika itu sudah beranjak dewasa, tentu harus ada batasan antara keduanya.
Hafizah mengiringi kedua orang kesayangan itu dari belakang. Membiarkan mereka tertawa dan bermain tapi tak mau bergabung.
"Mbak Fiza." Bibi datang membuyarkan lamunan yang tak tau kemana arahnya.
"Bibi."
"Ada tamu buat Mbak Fiza, Mbak Ningrum sama Mbak Nur datang." ucap Bibi dengan tersenyum.
"Nur dan Ningrum Bi?"
"Iya Mbak." jawab Bibi pengasuh Ara.
Fiza pun bergegas masuk menemui dua saudarinya yang mendadak datang tidak memberi tahu di siang itu.
"Adik-adik ku." gumam Hafizah dengan suara khas yang lembut.
"Assalamualaikum Kak Fiza." keduanya tersenyum begitu manis sekali.
"Wa'alaikum salam warahmatullaah." Fiza mengajak keduanya duduk.
"Dimana Ara?" Nur langsung bertanya.
Hafizah menoleh pintu menyamping yang terbuka lebar. "Mereka sedang berenang."
"Oh, Masya Allah." Nur begitu kagum melihat Andra tertawa lepas bersama Ara yang juga tak mau kalah, dia tertawa begitu senang dengan suara khas yang menggemaskan.
Hafizah tersenyum, tapi kemudian menunduk.
"Itu kebahagiaan yang sulit didapat." ucap Nur memulai pembicaraan setelah melirik kakaknya.
Fiza menatap adiknya, yang mungkin saja sedangkan menebak bahwa perasaan Hafizah tidak baik-baik saja.
"Dan tidak semua orang bisa memilikinya. Bahkan untuk sebuah kata bahagia saja seseorang harus berjuang dengan perasaan, dan menunggu dengan kesakitan."
"Hanya belum waktunya." jawab Hafizah.
"Dan jangan lupa selalu bersyukur." Nur tersenyum kepada Hafizah.
"Astaghfirullah." lirih Hafizah menunduk.
__ADS_1