Separuh Nyawa Suamiku

Separuh Nyawa Suamiku
Apakah Masih Mendendam


__ADS_3

"Kak Ningrum, apakah setelah tamat Madrasah Aliyah kami harus meninggalkan pesantren ini?" suara seorang anak berusia 10 tahun bertanya kepada Ningrum yang sejak tadi hanya duduk di luar aula.


"Jika kau sudah memiliki pekerjaan Dik, maka kau boleh meninggalkan pesantren ini. Dan apabila tiba-tiba kau kehilangan pekerjaanmu, kau tak punya tempat lain sebagai tujuan, maka kau boleh kembali, ini rumahmu juga." menatap wajah sedih anak yatim piatu yang sejak berumur satu tahun di rawat dan bersekolah di sana.


"Bagaimana jika Aku tidak mendapatkan pekerjaan diluar sana?" tak disangka anak bernama Tasya tersebut sudah jauh-jauh memikirkan masa depannya.


"Kalau begitu tinggallah di sini." jawab Ningrum enteng.


"Aku akan menjadi beban untuk Kak Ningrum, juga yang lain bila tetap berada di sini." jawaban yang membuat hati Ningrum tersentak.


"Tentu saja tidak." Ningrum tersenyum hangat.


"Aku pernah mendengar Ustadzah Ida berbicara dengan Ustadzah Arini, Ustadzah Ida bilang, Kak Ningrum tidak bisa melanjutkan kuliah karena keuangan pondok sedang menipis, Kiyai sakit-sakitan, juga banyaknya anak-anak yang sengaja di tinggalkan di pondok pesantren oleh orang tua yang tidak bertanggung jawab, seperti aku."


Ningrum membulat matanya, bibir mungilnya juga terbuka mendengar kata-kata yang seolah menghujam ulu hati. "Itu... tidak benar Dik." jawab Ningrum pelan, membuang pandangannya yang mulai mengabur.


"Nanti, kalau sudah besar. Tasya akan bekerja mencari uang untuk membantu orang-orang di Pondok Pesantren ini." sambung anak kecil itu.


"Ah, Tasya. Pondok masih memiliki tabungan, juga hasil perkebunan yang di olah para santri. Kau tidak perlu khawatir tentang makanan. Kita memiliki banyak lumbung padi dan sayur mayur, juga ikan dan telur hasil ternak yang tidak akan habis. Kau hanya perlu berdoa, agar kita semua selalu berada dalam lindungan Allah SWT, dan di berikan rezeki yang baik."


"Kami selalu berdoa Kak."


"Baiklah, masuklah dan belajar yang baik." perintah Ningrum kepada anak perempuan tersebut.


Dia berlari meninggalkan Ningrum yang menarik nafas berat, memikirkan anak-anak seperti Tasya.


"Assalamualaikum." dua suara bersamaan menyapa Ningrum.


"Wa'alaikum salam." dia berbalik dan begitu terkejut ketika melihat orang yang datang bersama seorang santriwati.


"Paman ini ingin bertemu Kak Ningrum." ucap santriwati tersebut menunjuk Mingho dengan ibu jarinya.


Ningrum tak menyahut, hanya melihat sekilas laki-laki yang di sebut paman oleh santrinya juga menatap dirinya, lalu mengambil kertas dari balik jasnya. "Seperti yang ku katakan padamu kemarin. Aku membawakan ini untukmu."

__ADS_1


Tangan kecil Ningrum meraih lembaran kertas tersebut dari tangan Mingho tanpa berkata apa-apa.


"Andra bilang, dia akan membiayaimu untuk menempuh pendidikan di Mesir seperti kedua kakakmu." masih diam dua wanita tersebut.


"Maaf jika aku lancang datang kemari dan... Semua keputusan ada padamu." lanjutnya lagi.


Entah apa yang membuat Ningrum masih tak juga bicara. Dia menunduk seraya melihat kertas bertuliskan syarat-syarat masuk di sebuah fakultas terbaik itu, mungkin juga memikirkan apa yang di bicarakan Mingho.


"Aku permisi. Assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam warahmatullaah." barulah ia menjawab nyaris tak terdengar.


"Dia menyukaimu Kak."


***


Bulan berikutnya, Andra dan Tomi kembali ke Singapura untuk mengantarkan Indri kerumah sakit terbaik di sana. Setelah pemeriksaan ketat yang dilakukan selama dua hari. Sedikit harapan muncul ketika seorang dokter ahli yang memeriksanya mengatakan masih ada harapan untuk sadar, walau entah kapan.


"Alhamdulillah." kedua laki-laki itu mengucap syukur.


Jika pagi ia terbangun dengan matahari bersinar hangat, pelukan dan ciuman hangat, lalu siang ia beristirahat dengan senyum yang selalu terukir, Andra selalu meluangkan waktu untuk pulang demi menemaninya makan siang yang hanya sedikit. Begitu pula ketika sore menjelang, mereka berjalan di sekitar taman, membeli makanan dengan suasana mesra, penuh cinta, dia benar-benar menjadi seorang tuan putri dibuatnya. Hingga malam menjelang, terlelap dalam dekapan hangat yang tidak berhenti menjaga dan memeluknya sepanjang malam.


"Sayang, ini sudah bulan ketiga. Kita akan kerumah sakit untuk memeriksakan anak kita, aku khawatir karena akhir-akhir ini kau sering memakan buah yang masih mentah." ucap Andra di pagi itu.


"Tidak perlu terburu-buru Mas, aku sehat. Mual di pagi hari itu sungguh biasa."


Hafizah membelai wajah Andra, menjelaskan bahwa ia baik-baik saja. Hanya merasa Andra terlalu khawatir, padahal hanya sering makan buah-buahan yang segar untuk menghilangkan mual, tidak tergolong asam tapi begitu paniknya laki-laki tampan itu, hingga membatasi porsi makan pedas dan asam yang tak seberapa.


"Aku takut kau sakit perut Sayang." jawabnya mengusap sisa bumbu rujak menempel di bibir Hafizah.


"Dokter bilang, makan apa saja yang enak, tidak ada pantangan untuk ibu hamil. Buah seperti ini adalah makanan kesukaan kami. Bahkan seorang wanita yang memiliki asam lambung, ketika hamil memakan mangga muda dia tidak merasakan sakit perut. Itulah kenikmatan yang diberikan Allah untuk wanita yang sedang mengandung. " jelas Hafizah kepada suaminya yang akhir-akhir ini benar-benar memperhatikan segala hal hingga sangat detail sekali. Dia tak tidur nyenyak hanya karena takut Hafizah tidur dalam posisi yang salah, dia juga rela kram otot sepanjang malam hanya karena Fiza tidur nyenyak dalam pelukannya.


"Aku ingin kau selalu baik-baik saja Sayang. Sehat dan bahagia tanpa merasa ada yang kurang sedikitpun." Andra menggenggam tangan Hafizah yang masih membelai wajahnya.

__ADS_1


"Terimakasih untuk semuanya Mas, aku sangat bahagia menjadi istrimu. Kau suami terbaik, kau ayah terbaik untuk Ara dan anak kita. Aku sangat bersyukur dengan kehidupan ini, aku ingin selalu bersamamu." ucap Hafizah tulus dan memuja.


"Berjanjilah tetap bersamaku." pinta Andra bukanlah untuk yang pertama kali.


"Ya, kita akan selalu bersama. Jangan pernah berpaling, apalagi pergi Mas, aku tidak mau." luruh tubuh yang mulai berisi itu masuk ke dalam pelukan Andra.


'Tentu saja, setiap doaku aku ingin bersamamu. Karena sejujurnya akulah yang sedang takut kehilanganmu Sayang.' batin Andra.


Kekhawatiran itu tak juga pergi hingga hari ini.


"Mas."


"Hem."


"Bukankah kemarin kita akan mendatangi rumah wanita yang suaminya adalah korban kecelakaan Kak Indri?"


Andra terkejut Hafizah masih mengingatnya. Dia menarik nafas berat. "Sayang, sebaiknya kita tidak terlalu memikirkan tentang wanita itu. Kita doakan saja tentang Kak Indri yang sedang dalam perawatan dan pengobatan."


"Aku tahu Mas. Tapi tetap saja menjadi beban pikiran untukku. Apakah Mas tidak berpikir bahwa bisa saja mereka belum mengikhlaskan kecelakaan yang menimpa mereka."


"Fiza!"


Sedikit menyentak suara Andra, sungguh nada sedikit meninggi itu tak biasa di telinga Hafizah.


"Ma...ma....maaf." ucapnya gugup, matanya berembun hampir menangis.


"Sayang..." Andra ikut gugup dan menyesal.


"Maksudku... Hanya ingin bicara dengan mereka Mas." Fiza menunduk.


Andra memijat keningnya dengan rasa bercampur aduk.


"Aku tahu rasanya menjadi keluarga korban, apalagi mereka bahkan tidak memperlihatkan batang hidungnya."

__ADS_1


Mendengar itu, Andra juga berusaha menguasai diri, mengatur nafas dan...


"Apakah kau masih mendendam dengan orang yang menyebabkan kecelakaan Azzam?"


__ADS_2