Separuh Nyawa Suamiku

Separuh Nyawa Suamiku
Dua Puluh Bulan.


__ADS_3

Di sebuah restoran ternama, Tomi baru saja melakukan temu janji kepada sang manager bersama Nur. Tak main-main keduanya langsung mendapatkan rekan yang memiliki banyak sekali cabang dan tentunya membutuhkan pasokan sayur mayur yang berkualitas dalam jumlah banyak.


"Alhamdulillah, terimakasih Mas Tomi." ucap Nur sungguh sangat bahagia.


"Tidak perlu berterima kasih Nur, aku turut senang bisa membantu kau yang memegang tanggung jawab begitu besar, terutama anak-anak yang menetap di pondok pesantren ayahmu."


"Ya, semoga Allah membalas semua kebaikan kalian semua. Mas Tomi, Mas Andra, juga Mingho."


Tomi terkekeh seraya kembali meneguk kopi yang masih setengahnya.


"Ah, sejujurnya aku ingin meminta balasan darimu." menatap Nur yang ternyata juga tak kalah cantik dari Hafizah, hanya sedikit tirus mungkin karena terlalu keras berpikir, atau terlalu lelah dengan pekerjaan yang diakui Tomi tidak mudah.


"Apa itu? Mas Tomi katakan saja."


"Tidak banyak, namun menuntut keikhlasan mu." Tomi kembali menatap Nur.


"Ya."


"Besok aku akan ke Singapura untuk melihat keadaan Indri. Aku ingin kau turut mendoakan kesembuhannya. Aku sangat ingin melihat dia membuka mata walaupun sehari saja." menunduk sendu.


Dapat Nur rasakan Tomi menyukai Indri, tepatnya seperti dia yang juga... Dia menggeleng cepat.


"Tentu saja aku mendoakan kesembuhan Kak Indri. Andai ada hal yang bisa ku lakukan, tapi sayangnya aku tak bisa apa-apa." suara halusnya terdengar tulus.


"Aku selalu berduka dengan keadaannya yang tak berdaya." Tomi melanjutkan ungkapan kesedihannya.


"Aku akan ikut, lagipula lusa adalah hari libur. Aku dan Ningrum juga ingin melihat kondisi Kak Indri. Mewakili Kak Fiza yang sedang hamil besar, dia tidak mungkin kemana-mana dengan keadaan seperti itu."


"Kau serius?" Tomi tak percaya.


"Ya." jawab Nur yakin.


Hingga esok hari kemudian.


"Aku juga akan ikut." Mingho baru saja tahu Ningrum akan pergi.


"Tidak, yang boleh pergi hanya Tomi, Nur dan Ningrum. Kau harus menyelesaikan pekerjaan mu." Andra tak memberi izin.


"Astaga Andra, bisakah kau sedikit memberiku kesempatan untuk dekat dengan adik iparmu?" Mingho sedikit merengek.


"Ya, tapi tidak pergi bersama seperti orang yang sedang pacaran."


"Kami berempat!"

__ADS_1


"Tidak!" jika kau memang menginginkan Ningrum, silahkan berbicara kepada ayahnya, bukan mengikutinya kemana-mana!" tegas Andra.


"Itu tidak mungkin! Dia masih belasan tahun." Mingho terlihat putus asa.


"Itu bukan alasan. Mau belasan tahun atau puluhan tahun, jika kau benar-benar ingin mendapatkan seorang gadis cara yang paling tepat adalah memintanya kepada ayahnya. Bukan merayu dan menguntit kemanapun dia pergi!"


"Masalahnya_"


"Kau tidak punya keberanian!" Andra mendorong dada Mingho dengan telunjuk, dan meninggalkannya.


"Bagaimana jika aku di tolak?" dia berdiri bingung.


Sementara ketiga orang yang baru saja mendarat di Singapura itu, mulai melaju menuju rumah sakit dimana Indri di rawat. Dengan perawatan dan pengobatan terbaik tentu saat ini Indri sedang menunjukkan kemajuan walaupun belum sadar.


"Semoga Allah memberikan kesembuhan untuk Kak Indri." ucap Ningrum ketika mereka memasuki rumah sakit bertingkat tersebut.


"Aamiin, tentu saja kita semua mengharapkan hal yang sama." Nur menyahuti.


Tomi berjalan lebih dulu hingga tiba di sebuah kamar.


"Dokter, kami keluarga Indriani." Tomi tersenyum ramah seraya berjabat tangan dengan dokter yang baru saja keluar dari ruangan tersebut.


"Oh, syukurlah kalian datang. Baru saja kami memeriksa pasien yang dalam beberapa hari ini menunjukkan kemajuan." jelas dokter tersebut dengan sedikit kaku, berusaha berbicara dengan bahasa Indonesia.


"Benarkah Dok?"


Tomi melangkah mengikuti dokter dengan raut wajah yang tak bisa di kata. Wajahnya yang terlalu dewasa dengan mata yang berbinar namun berkaca-kaca.


"Tidak mudah untuk memulihkan keadaan pasien yang sudah koma selama hampir dua puluh bulan. Ini merupakan keajaiban." lanjut dokter itu lagi terdengar bersemangat.


Sementara Tomi semakin mendekati Indri, meraih tangan yang tak juga bergerak itu dan menggenggamnya.


"Indri." bisiknya begitu dekat, dia membungkuk.


Tak juga bersuara Nur dan Ningrum, kedua gadis tersebut sejenak saling memandang.


"Kecelakaan itu begitu hebat, sehingga membuat kaki dan tangannya patah. Beruntung gumpalan darah di otaknya sudah di operasi. Terlepas dari itu semua, hanya tuhan yang menentukan hidup dan mati." Dokter tersebut masih berbicara banyak, kemudian menarik nafas berat melihat Tomi yang selalu saja bersedih setiap kali datang.


"Terimakasih Dokter." ucap Tomi masih menunduk.


"Ya, kalau begitu saya permisi."


'Tidak ku sangka, dibalik kedewasaan dan sikap tenang yang selalu terlihat, ternyata dia begitu rapuh ketika berhadapan dengan Kak Indri yang sudah hampir dua tahun tak sadarkan diri. Baru saja beberapa menit yang lalu dia berjalan begitu gagah, saat ini dia begitu lemah. Jika di setiap pertemuan dengan rekan bisnis dia selalu terlihat tegas dan berani, saat ini dia terlihat takut dan tak mampu berbicara.'

__ADS_1


"Kak."


"Hem."


Kedua adik kakak tersebut sepertinya masih larut memikirkan kisah Tomi dan Indri. Di dalam kamar hotel tak jauh dari rumah sakit itu pun keduanya tidur terlentang dengan menatap langit-langit yang bersih.


"Apakah kisah cinta akan selalu berakhir seperti itu?" si bungsu benar-benar sedang berpikir keras.


Nur terkekeh, kemudian menoleh adiknya.


"Aku hanya memperhatikan sekelilingku, Kau dan Mas Ahmad malah tak kunjung berkomunikasi, aku curiga dia tidak sesungguhnya menerimamu." ungkap Ningrum dengan mata terbuka lebar.


"Ya, lalu?" tanya Nur tidak ingin buru-buru menjawab.


"Kau tidak lihat? Mas Tomi begitu setia dengan perasaannya. Padahal Kak Indri itu adalah seorang janda yang saat kecelakaan mereka baru saja berpisah, karena suaminya selingkuh."


Nur menoleh, lalu memiringkan tubuhnya menghadap Ningrum.


"Dan Mas Tomi itu menyukai Kak Indri sejak lama. Jauh sebelum Kak Indri menikah."


"Kau tahu darimana?" Nur menautkan alisnya.


"Aku tahu ketika kami mengobrol dengan asisten Mas Andra." jawab Ningrum dengan wajah polos.


"Jadi maksudmu Kakak harus melupakan Ahmad, karena mungkin saja dia masih belum bisa melupakan Kak Fiza?"


"Aku tidak berbicara seperti itu." Dia tersenyum kaku. Maksudnya dari ucapannya dapat di tebak.


"Ya... Entahlah. Tapi Kakak melihat hal yang luar biasa dari kisah Mas Tomi. Dia begitu setia dengan rasa yang tidak semua orang memilikinya. Betapa beruntungnya wanita yang dia cintai."


"Aku lebih mengagumi kisah Kak Fiza, Mas Andra dengan berani melamar Kak Fiza kepada Abi, dia begitu mencintai Kak Fiza berikut dengan Ara. Itu sungguh sulit ditemukan. Dan ku rasa Kak Fiza menikmati kebahagiaan yang dia berikan." Ningrum tersenyum-senyum sambil memeluk guling.


"Kalau diingat-ingat, ketika kehilangan Mas Azzam itu sungguh menyakitkan, Kak Fiza seperti akan kehilangan nyawanya." Nur ikut mengenang.


"Sayangnya ketika itu aku dan Abi berada di rumah sakit itu, Abi harus operasi dan di rawat intensif. Padahal November saat itu aku akan melakukan ujian semester." Ningrum juga mengenangnya.


"Ya, Mas Azzam meninggal di akhir Oktober. Tepatnya saat ini sudah hampir dua tahun." sahut Nur.


"Tidak, tepatnya dua puluh bulan, bersamaan dengan berhentinya aku kuliah di Mesir." Nur menghitung seraya menunjuk langit-langit kamar mereka.


"Kau sampai menghitung jumlah bulannya?" Nur terkekeh.


"Ya, karena tadi aku juga mendengar dokter berbicara tentang Kak Indri, dia tidak sadar sudah hampir dua puluh balan." Ningrum beranjak menghadap Nur, dia sedikit tertawa.

__ADS_1


"Artinya kecelakaan Kak Indri hampir bersamaan dengan Mas Azzam." Nur ikut beranjak.


Tapi kemudian keduanya saling memandang.


__ADS_2