Separuh Nyawa Suamiku

Separuh Nyawa Suamiku
Seperti Menyimpan Bom


__ADS_3

Andra memeluk tubuh yang berdiri mematung atas pertanyaannya. Tubuh yang mulai berisi sebab mengandung anaknya itu kaku seolah enggan bergerak, entah jika pikirannya sedang kembali ke masa itu. Masa dimana ia kehilangan Azzam.


"Katakan padaku." bisik Andra semakin erat memeluknya.


Dapat ia dengar berat tarikan nafas yang naik turun di dada Hafizah.


"Apakah aku sangat buruk dibandingkan Azzam sehingga kau masih saja tidak bisa melupakan semuanya? Apakah hubungan ku dengan Ara tak cukup membuatmu yakin Bahwa aku benar-benar ingin membuatmu bahagia? Apakah aku_"


"Mas!" dia terisak di dada Andra.


"Aku sangat mencintaimu Hafizah, aku harus apa agar kau berhenti mengingat tentang kecelakaan Azzam. Apakah aku harus pergi dari dunia ini terlebih dahulu agar kau juga bisa mencintai ku seperti kau mencintai Az_"


"Mas...! Aku mencintaimu. Jangan pernah berkata untuk pergi aku tidak menginginkan itu, aku ingin selalu bersamamu, bersama membesarkan anak kita." Hafizah mendongak wajah yang terlihat begitu kecewa, dia meraih tangan Andra, menurunkannya hingga menyentuh perut yang mulai penuh.


"Aku minta Maaf Mas. Aku tidak akan mengulangi ucapan ku tentang apapun yang tidak kau suka. Aku janji, tidak akan mengulanginya." membelai satu sisi wajah Andra, menatapnya dengan tulus.


Andra tak menjawab, terenyuh hatinya mendengar tangis juga janji dari wanita yang harusnya tidak merasa bersalah. Namun untuk mengatakan yang sebenarnya dia masih belum mampu.


Tanpa kata ia mengecup hangat pipi sebelah kiri Hafizah, tapi kemudian berlalu begitu saja.


"Mas..."


Dia tidak juga berhenti, berjalan menuju halaman depan.


"Mas!"


"Mbak Fiza."


Suara Bibi mengejutkan Hafizah, wanita yang sudah senior di rumah Andra itu sepertinya mengerti apa yang sedang mereka bicarakan.


"Mas Andra Bi." ucap Fiza khawatir.


"Mas Andra hanya butuh waktu sebentar." Bibi mengajak Fiza duduk di sofa ruang tengah.

__ADS_1


"Bi, aku takut dia marah dan..."


"Ga usah mikir yang macam-macam, Mas Andra sangat mencintai Mbak Fiza. Suami Bibi saja dulu waktu muda enggak seperti itu, padahal ngakunya sayang, cinta mati. Tetep saja kalau dibandingkan sama Mas Andra, jauuhhh......! Kalah." Bibi terkekeh.


Dan berhasil membuat Fiza akhirnya ikut tersenyum sedikit, diantara wajah yang masih khawatir mandnagi pintu depan.


"Maaf, tadi Bibi sempat dengar. Sebenarnya Mas Andra itu takut kalah saing sama almarhum suaminya Mbak Fiza, alias cemburu." Bibi tersenyum lagi.


"Tidak ada persaingan Bi, Dalam segi agama mungkin Mas Azzam lebih dari Mas Andra, itu wajar karena dia memang seorang pendakwah. Tapi dalam mencintaiku, Mas Andra lebih tahu. Dan jujur saja, untuk pertama kalinya aku merasakan cemburu, curiga, dan...aku tidak percaya diri menjadi istrinya." pelan diakhir ucapannya.


Bibi kembali terkekeh. "Itu kalian berdua sama saja." seraya menggeleng-geleng kepala.


Hafizah menunduk malu.


"Mas Andra juga sama, merasa tidak percaya diri mendampingi Mbak Fiza yang merupakan anak dari seorang Kiyai. Dia berusaha sebaik mungkin mencintai Mbak Fiza, pagi bangun langsung buatin susu, malam juga begitu. Siang bela-belain pulang hanya untuk memastikan Mbak Fiza makan. Sama sekali tidak merasa capek, kesana-kemari seperti setrikaan panas, belum lagi harus mengurus Mbak Indri."


Hafizah menatap Bibi, mendengar nama Indri dia masih saja memikirkan banyak hal. "Bi, aku hanya merasa senasib dengan seorang janda yang suaminya meninggal karena kecelakaan Kak Indri."


"Hah!" mata Tua pengasuh Andra itu terbelalak dibuatnya.


"Mbak Fiza." Panggil Bibi sedikit bergetar.


"Sebaiknya aku tidak mengingat itu, Mas Andra akan marah jika mendengarnya." Hafizah mengusap air matanya. Dia tidak tahu jika Andra sedang berdiri mendengarkan dia bicara dengan mata terasa pedas.


"Seandainya Mbak Fiza bertemu dengan orangnya, lalu dia meminta maaf. Apakah Mbak Fiza masih bersedia memaafkannya?" tanya Bibi sengaja seraya memberi kode kepada Andra agar tidak mendekat.


"Itu tidak mungkin Bi, ini sudah lebih satu tahun." Fiza semakin menunduk.


"Ada hikmah dibalik musibah. Andaikan suami Mbak Fiza masih ada, artinya kita tidak akan tinggal di atap yang sama." Bibi tersenyum lembut, memegang tangan Hafizah yang bertaut gugup.


"Ya, pada akhirnya aku bersyukur dipertemukan dengan Mas Andra. Suami sekaligus ayah untuk anak-anakku." seraya memeluk perutnya sendiri.


"Kalau begitu, syukuri kebahagiaan ini. Ikhlaskan semuanya yang sudah terjadi. Ingat ada nyawa yang butuh kasih sayang penuh dari kedua orangtuanya. Arafah juga." tangan hangat yang mulai keriput itu sedikit mengelus sisi perut Hafizah.

__ADS_1


"Bibi benar, aku sedang mengandung buah cinta ku dengar Mas Andra. Harusnya aku tidak membuatnya marah."


"Aku tidak marah." sepasang tangan hangat Andra melingkar, memeluknya dari belakang yang setengah terhalang sofa.


"Mas." panggilnya berbisik.


"Maaf Sayang, akulah yang tidak becus membuatmu nyaman. Maafkan aku." ucap Andra lagi.


Bibi beranjak pergi meninggalkan dua orang yang sedang jatuh cinta itu, bertengkar lalu berbaikan itu sungguh sudah biasa. Namun dalam rumah tangga majikannya ini sungguh membuat jantungnya berolah raga, lantaran dia tahu persis awal dari pernikahan ini terjadi. Indri menewaskan suaminya, lalu Andra datang untuk membayarnya tanpa kejujuran. "Aku seperti sedang menyimpan Bom yang satu detik kemudian bisa saja meledak hebat." gumam wanita paruh baya itu berlalu ke belakang.


Sebenarnya, Andra tak perlu marah atau khawatir tentang apapun, apalagi itu hanya menyangkut cerita tentang Azzam, dia sudah meninggal. Dan tidak ada yang tahu tentang kejadian itu. Hanya saja menyembunyikan hal besar dari istri tercinta membuat kepalanya terkadang terasa mau pecah. Semakin hari cintanya bertambah, semakin hari semakin besar pula rasa bersalahnya. Di tambah lagi kini ia sedang mengandung, bukan kepalang takut akan kehilangan Hafizah beserta anak-anaknya.


"Sebaiknya siapkan dirimu untuk mengakui segalanya, agar kau bisa hidup tenang tanpa beban." saran Tomi di pagi itu, ketiga pria tampan itu sedang duduk di satu ruangan.


"Kau benar, tapi tidak sekarang. Dia sedang hamil muda, dia sensitif dan mudah menangis. Walau begitu aku menyukainya, dia lebih manja dan pencemburu. Artinya dia mencintaiku." Andra tersenyum sedikit, membayangkan bagaimana istrinya akhir-akhir ini.


"Dia memang mencintaimu. Itu sebabnya kau harus bisa membuatnya yakin bahwa kau memang mencintainya. Bukan hanya sekedar karena bertanggung-jawab atas kecelakaan itu." sahut Tomi lagi.


"Ya, aku tahu." Andra menarik nafas, dia hanya perlu berusaha, dan harus bisa.


"Dan kau?" Tomi melempar kertas yang sudah terlipat kepada Mingho.


"Ah, bukankah kemarin kau akan menemui Adik Iparku?" Andra berbicara sambil membuka laptop milik Tomi.


"Ya." Mingho menjawab singkat.


"Lalu?" Tomi jadi penasaran.


"Kau tahu, ternyata si bungsu itu sedang memikirkan banyak hal. Tidak seperti yang terlihat diluarnya, tangguh dan bengis. Hatinya lembut seperti bidadari, bahkan kesedihan dapat disembunyikan sangat rapi."


"Sedih?" Andra menautkan alisnya.


"Ya. Seperti yang kau katakan, keuangan pesantren sedang tidak baik. Dan itu menjadi beban pikiran tersendiri untuk Ningrum. Sebaiknya kau bicarakan rencana mu untuk mengirimnya ke Mesir. Aku sangat yakin dia akan menolak, tapi tak akan menolak jika kita membantu keuangan pesantren." jelas Mingho setelah memikirkan hal itu sejak kemarin.

__ADS_1


"Kau sedang menjadi pahlawan bertopeng?"


Kemudian ketiganya tertawa.


__ADS_2