Separuh Nyawa Suamiku

Separuh Nyawa Suamiku
Mengakui


__ADS_3

Ternyata pertemuan itu tidak sesuai dengan apa yang di harapkan, Ningrum terkesan sedang menekan dirinya. Dan pada akhirnya Mingho menceritakan semuanya.


"Darimana saja?" Wajah Tomi dan Andra terlihat serius menyambut kedatangan Mingho yang keluar cukup lama.


"Aku baru saja bertemu dengan adik iparmu." wajahnya tak kalah serius. Bahkan lebih terkesan khawatir dari dua orang di hadapannya. Tak luput dari tatapan Andra yang kemudian memicingkan mata.


Pulang dan katakan yang sejujurnya kepada Fiza, bahwa Kak Indri dan dirimu adalah_"


"Apa yang kau katakan kepada Ningrum?" Andra bisa menebak jika Asistennya tersebut sudah mengatakan sesuatu.


"Aku mengatakan semuanya."


Brugh!


Sekuat tenaga Andra mendorong tubuh Mingho hingga tersudut di dinding.


"Andra!" Tomi mencoba melepaskan cengkeraman tangan Andra di dada Mingho.


"Itu sama sekali bukan hak mu. Kau tahu kalau Istriku sedang mengandung!"


"Ya, aku tahu. Tapi Ningrum sudah tahu sebelumnya, juga Nur. Sekalipun aku tidak bicara semuanya mereka tetap akan terungkap dan mungkin lebih parah jika kedua adik iparmu datang dan berbicara langsung kepada Hafizah. Aku berkata sebenarnya, juga membuat Ningrum mengerti bahwa kalian tidak sepenuhnya bersalah. Terutama kau yang sangat mencintai istrimu."


"Itu benar, sebaiknya kau tidak marah-marah. Ungkapkan pelan-pelan dan yakinkan Fiza. Seperti yang kau dengar tadi, di perjalanan pulang dari Singapura saja mereka mulai menyelidiki aku."


Andra melepaskan cengkeraman tangannya, lemas dan khawatir juga sangat bingung.


"Tidak selamanya kau bisa menutupi semua ini. Yakinlah setelah jujur kau akan mereka lebih baik." nasehat Tomi masih memegang pundak Andra.


"Tapi istriku sedang hamil, aku takut_"


"Percayalah... dia akan baik-baik saja."


Setelah diam beberapa saat, Andra berusaha menguasai dirinya. Mengumpulkan segenap keberanian untuk membicarakan semuanya.


"Sayang, kau bilang ingin bertemu dengan orang yang menjadi penyebab Azzam meninggal."


Tak berani bicara, dia mengirim pesan kepada Fiza.


"Iya Mas. Dimana dia berada? Ternyata secepat itu kau menemukan mereka?" balasnya.


"Ya, Sayang."


Beberapa hari berlalu, memutuskan untuk membawa pulang Indri dan merawatnya di rumah sakit Raffles hospital Singapura, yang ada di Jakarta.


Dokter ahli di Singapura menyarankan untuk melanjutkan perawatan di sana, sedangkan obat-obatan tetap akan di kirim dari Singapura.


"Kak Indri pulang Mas?" tanya Fiza begitu berbinar.


"Ya sayang." Andra memeluk Fiza, mengelus perutnya yang buncit, mengecup kening dan pipinya begitu hangat.


"Kita akan ke rumah sakit." Andra tak juga melepaskan Fiza, bahkan sepanjang jalan ia memeluk istrinya begitu erat.

__ADS_1


"Malu Mas." Fiza menunjuk sopir di hadapannya, meski tak dipedulikan Andra.


"Aku sangat mencintaimu." bisiknya kemudian melihat senyum begitu manis di bibir Hafizah.


"Aku juga sangat mencintaimu Mas, kau suami terbaikku. Terimakasih sudah membaut aku selalu nyaman, bahagia dan..."


"Dan apa?" Andra mengadu keningnya dengan Fiza, memandangi wajah cantik itu dari dekat.


"Dan..."


"Dan tertidur lemas hingga bangun kesiangan?" Andra menggodanya, hingga tawa mesra menghias, wajahnya semakin membuat gemas.


Fiza tersipu malu, memeluk Andra dan bersembunyi di dadanya.


"Berjanjilah untuk selalu bersamaku, bersama anak-anak kita. Aku akan membuatmu bahagia hingga maut memisahkan kita." bisik Andra lagi begitu bahagia memeluk Hafizah.


Hanya tangan halusnya mengusap punggung Andra.


"Mengapa tidak di jawab?" Andra menunduk wajah yang detik berikutnya mendongak.


"Kalau aku bicarakan hal yang romantis, kau akan khilaf." dia terkekeh.


"Hahah... itu benar." Andra tertawa lepas, walau kemudian diam dan memejamkan matanya.


Tak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di rumah sakit dan berjalan menuju ruangan dimana Indri berada.


Kamar rawat khusus, hening dan terpisah dari kamar rawat yang lainnya.


Senyum yang tadinya mengembang, kemudian memudar dan terlihat berpikir.


"Aku tidak memaksamu untuk memaafkan dia, aku hanya ingin kau menuruti apa yang menurutmu benar. Maafkan jika bisa, jika tidak juga tak apa-apa." Andra mengecup sudut bibirnya, sejenak saling menatap.


Hafizah mengangguk.


"Jangan lupa bahwa aku sangat mencintaimu." Andra merangkul pinggangnya sekaligus memberi kehangatan di sisi kanan perut Hafizah.


Langkah mereka terdengar jelas di ruangan dingin itu. Perlahan tubuh yang tak juga bergerak itu terlihat. Hafizah berdiri di sisi Indri bersama Andra.


"Kak, aku datang membawa istri dan calon anakku." ucapnya.


Sejenak kemudian dia menoleh Hafizah, menarik nafas dan menghembuskan pelan.


"Sayang, dialah orang membuat Azzam meninggal." Andra menunjuk tubuh kaku Indri.


"Hah!" Hafizah masih mencerna ucapan suaminya.


"Kak Indrilah yang membuatmu kehilangan Azzam. Ara kehilangan Ayahnya, dan akulah yang memberikan satu miliar yang kau tolak."


Hafizah menatapnya tak berkedip, merasa sedang berada di dalam mimpi yang mendadak terdengar nyata. Dia sulit mencerna ungkapan yang tidak mungkin bisa dipercaya.


"Sayang..." Andra menyentuh wajah Hafizah, seolah sedang membangunkan dari tidurnya.

__ADS_1


Tangan halusnya terangkat cepat, menepis kasar. Membuat Andra terkejut namun berusaha tenang.


Tubuh yang gemuk berisi itu kini menoleh perlahan, menghadap Indri.


Hening, hanya terdengar alat medis yang terus berdenyut mewakili jantung Indri yang masih bekerja.


Mata beningnya mengabur, wajah cantiknya berubah pias. Seolah sulit bernafas dan begitu asing keberadaannya saat ini.


Tangisnya pecah kemudian, tubuhnya lemas dengan bergetar.


"Sayang." Dia menepis tangan Andra lagi.


Tak ada yang bisa di lakukan Andra selain membiarkannya menangis. Begitu pilu, menyedihkan...


"Mengapa baru sekarang Mas?" lirih dan terdengar sesak. Dia terduduk, merosot seraya berpegangan dengan ranjang Indri dan mengadu keningnya dengan tiang besi di bawah sana.


"Kau menipu aku dan Ara." dia terus menangis teramat menyedihkan.


"Kau membohongiku Mas."


"Tidak Fiza, aku tidak sanggup mengatakan yang sebenarnya karena aku jatuh cinta padamu sejak pertama kali bertemu, dan kali kedua seolah Allah memberikan kesempatan untukku mendekatimu."


"Bohong!" berusaha berteriak tapi tak punya kekuatan.


"Kamu jahat Mas! Kamu jahat!"


Andra tertunduk, tak bisa melakukan apa-apa kalau sudah seperti ini, hanya ketakutan akan kehilangan Hafizah.


"Harusnya kau katakan semuanya dari awal, bukan membawaku dalam bahagia tapi akhirnya kau memberikan rasa sakit dengan kebohonganmu."


"Aku benar-benar mencintaimu, juga Ara. Aku tidak berbohong perihal itu."


"Itu bukan cinta Mas, kamu hanya ingin membuat aku melupakan kematian Mas Azzam."


"Ya, aku memang ingin kau melupakan kematian Azzam. Karena tak adil rasanya kau masih saja bersedih sedang dia sendiri sudah berada di tempat yang baik. Aku ingin kau melupakan semuanya."


"Lupa?" dia terisak lalu berdiri menatap Andra.


"Ya, lupakan semuanya."


"Aku tidak lupa bahwa kaulah yang memberikan uang satu miliar untuk nyawa suamiku!"


"Hanya itu yang bisa kulakukan!"


"Tapi itu_ " dia terisak lebih dalam.


"Aku tahu, kau bilang ingin bertemu dengan keluarga tersangka. Sungguh aku datang dengan terburu-buru setelah aku mengurus kak Indri yang terlihat akan segera mati." menunjuk tubuh kaku Indri.


Hafizah semakin terkekeh dalam tangisnya.


"Aku datang Fiza! Aku datang dan mendengar kau berteriak kepada Ahmad bahwa kau tidak akan memaafkan Kak Indri. Aku mendengarnya. Kau juga hampir jatuh dan aku menangkap tubuhmu yang limbung."

__ADS_1


__ADS_2