
"Keputusan apa?" Mingho yang tiba-tiba masuk membuat kedua orang yang terlihat canggung itu sedikit terkejut.
"Astaga." kesal Andra yang hampir saja bisa mendesak Hafizah, malah terganggu dengan kehadiran Mingho.
"Kalau begitu aku selesaikan berkas ini." Hafizah segera beranjak membawa berkas yang di berikan Andra.
"Tidak... tidak." Andra ikut beranjak, mendorong Mingho meraih berkas dari tangan Hafizah.
"Eh, apa yang ku lakukan?" Mingho mundur dengan paksa.
"Selesaikan ini, jangan ganggu aku apapun alasannya." Meletakkan berkas di dada Mingho dan mendorongnya keluar.
"Hei! Aku ingin berbicara tentang _"
Brak! Andra menutup pintunya.
"Hem, sebaiknya aku juga permisi. Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan." Hafizah melangkah menuju pintu.
"Siapa yang mengizinkanmu keluar?"
Langkahnya berhenti, Hafizah menautkan tangannya sendiri, memejamkan mata dengan sangat gugup.
"Aku ingin kita bicara." ucap Andra pelan, tentu ia tahu Hafizah sedang serba salah.
Memandang wajah yang menunduk, hidungnya meruncing dengan wajah halus tak terdapat satupun lipatan kecuali sudut bibirnya jika sedang tersenyum. Jantungnya sedang tidak aman, hatinya ingin terburu-buru memiliki.
"Hafizah." panggil Andra lagi.
"Ya." jawab Hafizah semakin tak mampu bergerak menghadap pintu keluar. Dalam keheningan di ruangan itu semuanya terdengar jelas, termasuk nafas hangat yang berhembus dari hidung Andra.
"Aku yakin Ayahmu telah berbicara tentang lamaran ku, dan sungguh aku sudah tidak sabar mendengar jawabanmu."
Sekarang jantung Hafizah yang sedang berpacu, memikirkan harus menjawab apa. Tentu untuk menikah lagi dia harus benar-benar mengambil keputusan yang tepat, dan terbaik untuk semuanya.
"Bisakah kita membesarkan Ara bersama-sama?" tanya Andra lagi.
Hafizah berbalik kali ini, mata beningnya menatap Andra yang sejak tadi banyak berbicara.
"Kau tahu? Andaikan Ara bisa jauh darimu. Aku tidak ingin mengenal laki-laki lain lagi selain hanya Mas Azzam di sepanjang hidupku, selamanya." ucap Hafizah menjelaskan perasaannya.
"Ya." tatapan Andra berubah sendu mendengar pengakuan yang begitu dalam.
"Dan Ara?"
"Ara putrimu bersama Azzam, itu tidak berubah. Dan aku tahu sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa menggantikan Azzam sebagai ayah sebenarnya untuk Ara. Juga di hatimu." sahut Andra cepat.
Menggenang pula air matanya, sungguh rasa cintanya kepada Azzam masih begitu besar.
__ADS_1
"Aku sangat sadar bahwa aku sama sekali tidak akan bisa menggantikan Azzam, sungguh aku bukan apa-apa di bandingkan suamimu. Bahkan keseharian ku yang jauh dari Tuhan. Dan dengan tidak tahu malunya aku ingin menjadikanmu istriku. Berharap ada sedikit tempat di hatimu untuk memerimaku. Aku ingin membuat kau dan Ara bahagia walau tidak pantas." Andra menunduk.
"Kalau begitu pantaskan dirimu."
Andra mengangkat wajahnya, menatap wajah wanita yang baru saja bicara.
Hafizah tersenyum sedikit, walau tidak tahu darimana asalnya ia berbicara seperti itu. Percaya bahwa apapun yang terucap adalah yang terbaik, sudah kehendak Allah semata.
Tok...tok...tok. Terdengar ketukan di balik pintu.
Andra seperti masih ingin bicara tapi Hafizah membuka pintunya.
"Ada yang mencari mu." kali ini Tomi yang muncul dengan melirik keduanya bergantian.
"Siapa?" tanya Hafizah merasa heran, bahkan ia tak punya teman yang akan mendatanginya di tempat bekerja.
"Adik suamimu." ucap Tomi melirik Andra lagi.
"Ahmad." gumam Hafizah hanya mendapat anggukan dari Tomi.
Hafizah berlalu meninggalkan Andra dan Tomi yang sepertinya berbicara lewat pandangan mata.
Dengan wajah kesal Andra juga melangkah, tak senang rasanya membiarkan Hafizah dan Ahmad berbicara berdua saja.
Tapi tangan Tomi segera menahannya, membuat Andra menoleh kesal. "Bagaimana dengan tujuan awal mu?"
Tomi tersenyum kecut, menutup pintunya dan duduk di sofa.
"Kau tidak membayangkan bagaimana akhirnya jika dia mengetahui yang sebenarnya?" Tomi masih mengajaknya bicara.
"Aku membayangkannya, tapi aku lebih tidak sanggup membayangkan dia menikah dengan orang lain setelah waktu yang sudah ku lalui bersamanya selama ini. Wajahnya membuat aku semakin tidak waras. Berkhayal setiap akan tidur, dilanjutkan dengan mimpi dan kemudian setelah bangun dia juga tidak mau pergi dari kepalaku ini! Aku benar-benar sudah tidak bisa menahannya."
"Lalu?"
"Aku akan menikahinya."
"Pikirkan lagi!" ucap Tomi menekan ucapannya.
"Aku sudah memikirkannya berulang kali, dan aku tetap ingin menikahinya."
"Bagaimana dengan Indri kakakmu?" Tomi menatap khawatir.
"Apa yang bisa ku lakukan? Hanya berharap semuanya akan berakhir baik." Andra menepuk pundak Tomi dan berlalu keluar.
Dia tahu Tomi masih menaruh hati kepada kakak perempuannya itu, bahkan dia begitu bersedih ketika Indri mengalami kecelakaan.
Jodoh dan cinta memang tak selalu seiring sejalan, tapi Andra yakin bahwa cinta akan mengiring ketika jodoh sudah memihak padanya.
__ADS_1
Dia tidak akan menyerah.
"Aku akan kembali ke bataliyon hari ini."
Suara Ahmad terdengar dari balik dinding ruangan depan, Hafizah dan Ahmad sedang duduk bersama di sofa berjarak di lobi kantor besar itu.
"Jaga dirimu baik-baik, Kakak tahu persis kau sangat sibuk." Hafizah berkata halus, tentu sebagai kakak ipar harus tetap memperlakukannya dan memerhatikannya. Sama seperti ketika Azzam masih hidup.
"Tentu saja Kak, itu sebabnya aku datang menemuimu. Aku merasa ada yang harus aku bicarakan kepada Kak Fiza." ungkapnya terlihat sedikit memaksakan keberanian.
"Apa itu?" tanya Hafizah tetap dengan suara halusnya.
Sejenak ia terlihat ragu untuk bicara.
"Katakan saja agar tidak menjadi beban pikiran mu ketika sudah kembali bekerja."
Ahmad menatap Hafizah. "Apakah Kak Fiza akan menikah lagi?"
Pertanyaan yang membuat tercekat Hafizah, dia tak bisa menjawab.
"Apakah, tidak bisa menunggu ikatan dinasku selesai, dan... Aku ingin menggantikan posisi Mas Azzam." Ahmad menunduk begitu dalam.
Mata yang tadinya jelas memandang, mendadak mengabur mendengar penuturan yang seolah mengorek hati. Luka yang sebenarnya tak pernah sembuh, rasanya perih kembali. Hafizah sungguh bersedih melihat keinginan tulus Ahmad kepadanya.
"Ingatlah Arafah akan lebih baik bersamaku, bersama kita, daripada dengan orang asing yang baru saja terasa dekat." jelasnya lagi mengingatkan tentang Andra.
Dan lagi, mata yang mirip Azzam itu sungguh membuat Hafizah meneteskan air mata. Belum lagi mengingat Ara yang memang sebenarnya akan lebih baik bersama Ahmad.
"Aku mohon Kak Fiza akan memikirkannya lagi." ucap Ahmad kemudian beranjak dari duduknya.
Hafizah ikut beranjak dengan mengusap butir air mata yang sudah mengalir.
"Beri aku jawaban setelah aku di sana. Karena diawal bulan berikutnya aku akan bertugas di perbatasan jika Kak Fiza tidak memilih aku."
"Berapa lama?" tanya Hafizah cepat.
"Satu tahun, atau lebih." Ahmad berdiri memandang wajah Hafizah sejenak lalu mengalihkan pandangannya kepada ransel yang mulai diangkat.
"Apapun yang terjadi, aku tetap Kakak mu, kita tidak boleh berjarak hanya karena jodoh yang merupakan rahasia Allah." ucap Hafizah mengiringi langkah Ahmad keluar dari kantor Andra tersebut.
"Ya, aku minta doamu Kak." ucapnya kembali menoleh wajah Hafizah.
"Doaku bersamamu." jawab Hafizah pelan.
Ahmad tersenyum. "Terimakasih, assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam."
__ADS_1
Salam yang menghantar kepergian Ahmad, rasanya seperti kehilangan.