Separuh Nyawa Suamiku

Separuh Nyawa Suamiku
Jangan buat putriku menangis


__ADS_3

Suara langkah kaki pelan mendekat. Ternyata sosok yang berwibawa itu telah berdiri di belakang Hafizah ketika ia mendongak langit sendirian, Kiyai Marzuki meletakkan dua tangannya berpangku di belakang.


"Abi." panggilnya kemudian kembali pada pemandangan di atas sana.


"Sekiranya menikah tak membuatmu bahagia maka Abi akan selalu mendukung keputusanmu."


Hafizah kemudian menunduk menatap kedua ujung telunjuknya bertaut dan saling memegang ujung kuku.


"Pernikahanmu hanya tinggal esok pagi."


"Aku sudah siap Abi, Mas Andra adalah orang yang baik. Walaupun iya, aku harus bersabar mengajaknya agar menjadi lebih baik lagi." jawabnya masih dengan menunduk.


"Tapi Abi melihat ada yang sedang menjadi beban pikiran mu."


"Aku hanya masih memikirkan Mas Azzam." begitu jelas ucapan itu terdengar.


"Ya, Abi tahu rasanya mencintai orang yang sudah tidak ada. Seperti Abi mencintai Ibumu, tak lekang oleh waktu, batas kehidupan pun tak mengurangi kerinduan yang semakin tua usia Abi, semakin dekat pula rasanya kami akan segera bertemu."


Tangan kanannya terangkat meremas kerah baju yang tertutup hijab tersebut, merasakan hal yang sama tapi berbeda. Hatinya sedang merintih, andaikan bisa seperti ayahnya yang setia hingga menua, menunggu ajal dengan gembira.


"Apakah ada alasan lain anakku?" tanya Kiyai Marzuki sekali lagi.


"Tidak ada Abi."


Kiyai Marzuki menghembus nafas dengan pasrah. "Semoga Allah memberikan yang terbaik untukmu. Suka duka hanyalah warna didalam kehidupan, maka bersabarlah dengan kedua keadaan yang tentu akan datang bergantian, kemudian berlalu seiring usia yang semakin berkurang."


"Aku akan selalu mengingat nasihat Abi."


Seorang gadis sedang berdiri di balik pintu, niat hati ingin menemani sang kakak, tapi urung sebab ayahnya sedang berbicara berbagi rasa kepada Hafizah.


Sedikit menelaah ucapan sang ayah. Apakah Ahmad juga menjadi pertimbangan utama pernikahannya?


Nur mengangkat tangan yang sejak tadi menggenggam benda pipih. Nama Ahmad jelas tercatat di deretan paling atas diantara nama orang-orang yang penting di dalam sana, namun tak juga mendapatkan kabar, bahkan sepenggal pesan pun ia belum menerimanya.


"Apakah dia masih memikirkan Kak Fiza." bergumam pelan. Menatap punggung kakak tertuanya yang masih enggak beranjak di teras dengan berdiri.


Malam berlaku juga, tak urung mata hari merangkak di ufuk timur. Di rumah mewah itu seorang laki-laki masih saja berdiri gugup. Bahkan bibirnya terus berkomat-kamit kemudian melafazkan nada bak seorang yang sedang mengaji.


"Apakah belum hafal juga Mas Andra?"


Seorang asisten rumah tangga yang sudah sepuh masuk membawa jas yang sudah rapi.

__ADS_1


"Sudah Bi, hanya sedang melancarkan setiap bait-baitnya."


Wanita tua itu tersenyum. "Itu bukan puisi Mas Andra."


"Iya Bi. Aku hanya ingin Hafizah langsung menerimanya tanpa mengulang." jawab Andra meletakkan handuk yang sudah lembab.


"Mahar yang istimewa, dan hanya orang istimewa yang meminta mahar seperti itu." Bibi menyiapkan keperluan Andra.


"Itu sebabnya aku sangat ingin menjadikan dia Istriku. Walaupun..."


Bibi melirik majikannya yang terlihat sedih.


"Jalani dan terus berdoa. Allah maha mengetahui." ujar Bibi lagi membentang kemeja putih untuk Andra.


"Terimakasih Bibi, siapkan kamar ini sebaik-baiknya. Aku ingin istriku bahagia."


"Mas Andra tidak perlu khawatir, semuanya sudah Bibi siapkan."


"Dan jangan lupa siapkan kamar untuk Ara."


"Ya." Bibi tersenyum haru, melihat bagaimana seorang Andra sudah tumbuh dewasa tanpa orang tua. Hanya memiliki sang kakak sebagai tempat mengadu tapi kini Indri malah tak sadarkan diri. Satu tahun terbujur kaku, membuat Bibi berpikir tentang hal apa sekiranya yang membuat majikannya demikian.


Suasana pondok pesantren begitu ramai di hari ini, para santri yang telah berkumpul, sebagiannya ikut menyiapkan meja hidangan untuk pernikahan sederhana sesuai keinginan Hafizah.


Tak ada pesta seperti pernikahan orang kaya sekelas Andra.


"Assalamualaikum." seorang manager cabang paruh baya sengaja di minta Andra untuk ikut.


"Wa'alaikum salam warahmatullaah." serentak jawaban dari orang-orang Soleh tersebut, Andra merasa hatinya tersentuh, tanpa orang tua ia datang hanya bersama beberapa orang penting, termasuk Mingho dan Tomi tak ketinggalan mendampingi.


Belum lagi wajah-wajah berseri para ustadz ustadzah berbaris menyambut, sungguh membuat nyalinya menciut, semakin gugup.


Tak menunda waktu, sejenak kemudian Hafizah pun sudah siap didampingi Nur dan Ningrum bersamanya, akad dilaksanakan di masjid pesantren tersebut.


Tangan kedua laki-laki itu bertaut dengan Hafizah duduk berjarak dari Andra.


Syahadat dan istighfar menggema di dalam masjid pesantren tersebut, suara khas kiyai Marzuki seolah menyita semua perhatian hingga keluar mesjid. Ijab pun terucap lantang.


"Saya terima nikah dan kawinnya Hafizah binti Marzuki dengan mas kawin tersebut di bayar tunai!"


Sah!

__ADS_1


Serentak pula jawaban yang mengakhiri status kesendirian keduanya.


"Alhamdulillah." ramai suara hamdalah menyahut hingga keluar masjid terdengar.


Andra menoleh Hafizah yang sejak tadi menunduk, jelas terlihat wajahnya yang elok dengan make up tipis tapi begitu sempurna dipandang mata. Andra tak kalah bersyukur dapat memilikinya.


Dengan tarikan nafas yang lumayan panjang, tak menunda waktu untuk segera membayar mahar sesuai keinginan istrinya. Diawali dengan bismillah yang sedikit bergetar.


"Ar Rahmaaaan...."


Semua mata tertuju pada laki-laki tampan berkulit putih tersebut.


Begitu pula Hafizah yang tampak ragu, ia mengisyaratkan Nur untuk memberikan Alqur'an di hadapan Andra agar tidak terlalu gugup dan bisa sedikit membaca.


Namun diluar dugaan, semakin banyak ayat terbaca, Andra malah menutup mata.


Bacaannya terdengar lantang, merdu dan penuh perasaan. Semakin lama semakin menyentuh hingga tak teras jatuh air mata di wajah tampannya.


Duduk sedikit di belakang Andra membuat Hafizah hanya bisa memandang satu sisi wajah Andra.


Semakin suaranya menggema, semakin penuh pikirannya dengan nama Andra, hatinya bergetar hebat, ingin rasanya memeluk pria itu segera. Tak lagi Azzam yang mendominasi di dalam hati, namun Andra yang sekarang memenuhi.


"Dia benar-benar mencintaimu Kak." bisik Nur ikut memandang takjub punggung Andra sambil menyapu air mata yang tak terasa jatuh dengan sendirinya.


"Dia mengagumkan." bisik Ningrum pula di sebelah kiri Hafizah.


Hanya tujuh menit saja suara Andra menggema, berakhir dengan menunduk dan mengusap air mata yang mengalir hingga kerah bajunya.


"Aku serahkan anak tertuaku padamu, sekarang kau seorang suami, penuh tanggung jawab dan juga beban. Teruslah berada di jalan Allah agar pernikahan mu bahagia, selamat dunia dan akhirat." Kiyai Marzuki berkata penuh wibawa, setetes air matanya kembali jatuh setelah pernikahan pertama Hafizah dengan Azzam, dan sungguh berbeda kali ini, Andra membuatnya kagum dengan begitu besar kesungguhannya untuk menikahi Hafizah.


"Insyaallah Kiyai." jawab Andra yakin.


Marhaban dan sholawat menggema dari banyak suara atas pernikahan keduanya, diiringi doa-doa syukur mereka panjatkan.


Hafizah mendekati Andra hingga sejajar ketika keduanya meminta restu kepada Kiyai Marzuki.


Laki-laki tua itu menangis tersedu, dia sungguh bersedih melepaskan Hafizah kali ini.


"Terimakasih atas restumu Abi." Andra memeluk tubuh berwibawa Kiyai Marzuki.


"Jangan buat putriku menangis." tuturnya kepada Andra terdengar menahan sesak.

__ADS_1


__ADS_2