Separuh Nyawa Suamiku

Separuh Nyawa Suamiku
Bukan Saingan Azzam


__ADS_3

Kedua asisten itu memijat kepala setelah berbicara dengan Andra.


"Aku siap menghadapi apapun." Andra keluar dari lift tersebut, membiarkan kedua asistennya berdiri pasrah.


"Kalau cinta sudah bicara."


"Kau benar, jangan takut untuk berjuang. Seperti Andra memperjuangkan janda cantik bernama Hafizah, aku juga tidak mau ketinggalan untuk memperjuangkan posisi adik ipar Bos kita." Mingho melenggang keluar lebih dulu setelah lift kembali berhenti di lantai Dasar.


"Aku tidak yakin." Tomi bergumam, tersenyum mengejek dengan niat rekannya tersebut.


"Kau lihat saja nanti, dia akan terpesona kepadaku." Mingho berjalan dengan bangga, membenarkan kerah bajunya.


"Hah! Bahkan dia tidak sudi melirik mu." Tomi tertawa mengejek.


"Eh, itu hanya permulaan. Lihat saja nanti setelah bertemu selanjutnya. Dia yang akan mengejarku." ucap Mingho bangga.


"Aku percaya jika itu bukan anak Kiyai Marzuki. Tapi untuk yang satu ini, aku berani bertaruh jika yang terjadi selanjutnya adalah sebaliknya."


***


Andra tersenyum-senyum sendiri di pagi sekali ia duduk di balkon rumahnya. 'Sejak sering bersama, ada yang berubah di dalam diriku. Kehadiranmu membuat aku tidak merasa sendiri.'


Sesekali ia menoleh halaman kiri dan kanan di bawah sana, membayangkan kehadiran Hafizah di rumah itu.


Taman yang yang hijau dengan bunga berwarna-warni itu akan lebih indah jika ada seorang wanita dengan pakaian anggun, wajah ayu dan tutur kata yang halus.


Tiba-tiba saja, ulu hatinya menghangat mengingat senyum yang begitu manis dengan gigi rapih berhiaskan lesung pipi.


Begitu pula dengan kamar di belakangnya, ranjang yang luas akan terasa panas di pagi ini jika sosok sempurna yang dia bayangkan ada di sana.


Mendadak telinga yang berdengung sepi itu di penuhi canda tawa oleh suara halus menggoda, tiba-tiba saja mata yang kemarin sayu berganti dengan binar cinta menyala terang membayangkan indahnya hidup bersama.


"Aku tidak akan menerima uangnya, biarlah mereka hidup dengan rasa bersalah selamanya!"


Dan tiba-tiba pula suara tangis Hafizah mengiang memecah khayalan bahagianya.


"Astaga." Andra mengusap wajahnya berkali-kali. Sungguh dia tidak bisa tenang semenjak hari bertemu dengan Hafizah.


"Sarapan Mas Andra." ucap seorang asisten rumah tangga menghampirinya.

__ADS_1


"Tidak Bi." Andra beranjak meraih kunci mobil dan segera pergi.


Begitu cepat hari berlalu, tidak terasa sudah hampir satu tahun kepergian Azzam, dari sejak Ara masih menyusu, kini sudah lancar bicara dan berlari.


Dan masih saja, kaki kecilnya berlari senang ketika melihat Andra datang dengan tawa di wajah tampannya. Keduanya semakin terlihat tak mau berpisah, itu membuat Hafizah semakin bingung. Di tambah lagi perhatian Andra yang belakangan semakin terlihat jelas.


"Assalamualaikum Kiyai." suara Andra kembali terdengar berkunjung, dan tanpa canggung setiap kali datang dia menemui Kiyai Marzuki terlebih dahulu, meminta izin bertemu Ara.


"Nak Andra. Boleh Abi bicara sebentar." pada akhirnya Kiyai Marzuki ingin memperjelas hubungan Andra dan putrinya.


"Iya Kiyai." Andra menurut, duduk di ruang kerja pemilik pondok tersebut berhadapan.


"Maaf jika Abi terkesan ikut campur, akan tetapi rasanya ini sudah terlalu lama, kalian sudah seperti sebuah keluarga." begitu awal Kiyai Marzuki berbicara kepada Andra.


"Benar Kiyai, aku mengakui hubungan aku dan Hafizah sangat dekat, melampaui seorang atasan dan juga bawahan. Namun tidak melanggar apapun." Andra menjawab sangat yakin.


Demikian pula Kiyai Marzuki mengangguk paham, dia yakin dengan ucapan Andra benar adanya.


"Sejujurnya, aku mencintai putri Kiyai, aku ingin menikahi Hafizah." lanjutnya lagi merasa sudah waktunya menjelaskan perasaannya.


Kiyai Marzuki tersenyum tipis, dia sudah menduganya akan perasaan Andra yang jelas sudah bertahan mendekati putrinya selama hampir satu tahun.


"Aku akan menanyakan kepada Hafizah. Dan kau harus siap dengan jawaban darinya."


Andra keluar dengan perasaan lega sudah berbicara tentang perasaannya kepada Kiyai, namun ada perasaan takut akan jawaban Hafizah nantinya.


"Bagaimana jika dia menolak?" Andra bergumam sendiri, jujur saja dia tidak siap kehilangan Hafizah.


Dan terkejut dengan seseorang yang tiba-tiba berdiri menghadang langkahnya menuju halaman belakang, dimana Ara sedang bermain bersama pengasuhnya.


"Belum tentu Kak Fiza mau menerimamu." ucap Ahmad yang sepertinya baru saja tiba.


Andra terdiam. Dia cukup sadar diri, sama sekali tak sebanding dengan Azzam, juga Ahmad yang juga tak kalah baik dari Azzam.


"Kita sedang menginginkan orang yang sama. Kau mendekati keponakanku, yang jelas sekali bahwa aku adalah walinya, ayah kedua bagi Ara, anak almarhum kakakku, Azzam."


"Aku tahu." jawab Andra singkat, jujur saja dia seperti tak berkutik berhadapan dengan Ahmad, namun mengingat bahwa dia sudah jatuh cinta kepada Hafizah, tentulah dia tak akan menyerah. Terlebih lagi dia punya Ara.Ya... Hanya Ara yang menjadi harapan untuk Andra.


"Bagus jika kau tahu, Ara akan selamanya menjadi anakku, kami memiliki darah yang sama." ucap Ahmad kemudian berlalu menuju ruangan Kiyai Marzuki.

__ADS_1


Andra menoleh pria yang baru saja menatap tajam padanya. Mengakui bahwa Ahmad pun memiliki tempat yang khusus bagi Kiyai Marzuki, mengingat Azzam adalah menantu pertama, harapan dan kesayangan Kiyai kala itu.


"Rasanya aku ingin pulang, menyerah dan..." Andra memejamkan matanya sejenak. Merasa seperti orang sangat miskin ketika berhadapan dengan orang-orang beriman. Dan dia? Sholat pun hanya di waktu Maghrib saja.


"Ibu." suara Ara memanggil ibunya, sudah pasti Hafizah juga sedang ada di halaman belakang.


Mengesampingkan nyali yang sudah menciut, mencoba datang sebagai atasan.


"Assalamualaikum Ara Sayang."


Ketiga wanita itu menoleh, Hafizah, Nur, dan Ara tentunya.


"Ayaaah." Suara menggemaskan itu terdengar berteriak, tubuh kecilnya meronta ingin lepas dari pelukan Nur.


"Apa kabar Sayang?" tanya Andra ketika gadis kecil itu mendekat, memeluk Andra.


"Ayah lama." celotehan itu menyampaikan protes, satu Minggu mereka tidak bertemu.


"Maaf, Ayah sibuk, bekerja bersama Ibu." Andra menunjuk Hafizah yang selalu terlihat malu jika Andra menunjuknya sebagai Ibu.


"Kelja?" tanya gadis itu lagi.


"Ya." Andra mengangguk seraya mengangkat tubuh yang sudah gemuk sejak beberapa bulan terakhir.


"Ala ikut." pintanya memeluk leher Andra.


"Boleh, Ara boleh ikut bersama Ibu. Atau Ara tinggal bersama Ayah. Mau?" ucap Andra seraya melirik Hafizah yang semakin memalingkan wajahnya.


"Mau." jawab Ara polos.


Nur memandangi kedua orang itu dengan senyum, dia tahu arah ucapan Andra. Namun Hafizah memilih pura-pura tidak mendengar.


"Assalamu'alaikum."


Ahmad menyapa semua orang terkecuali Andra, dia enggan meliriknya.


"Wa'alaikum salam Ahmad." Nur dan Hafizah menyahut bersamaan.


"Kapan kau datang?" Hafizah beranjak dari duduknya, memutar arah duduknya agar lebih berhadapan dengan Ahmad. Tentu sebagai keluarga yang tersisa dari Azzam ia harus lebih menghargai kepulangan Ahmad.

__ADS_1


"Baru saja Kak, aku rindu dengan kalian." ucapnya menatap wajah Hafizah, namun jelas membuat Nur memalingkan wajahnya.


__ADS_2