Separuh Nyawa Suamiku

Separuh Nyawa Suamiku
Dia Sholat!


__ADS_3

Usai bermain sambil berenang, kedua ayah dan anak itu mulai naik, membiarkan air turun dari Pakaian mereka, terutama Andra yang tanpa mengganti kemejanya langsung ikut berenang bersama Ara.


"Mereka sudah selesai Kak." Nur melirik ke arah luar.


Tanpa bicara lagi Hafizah segera beranjak menuju kolam renang yang tak berjarak lebih sepuluh meter dari ruang tengah itu. Sungguh memiliki keluarga baru bersama Andra adalah kebahagiaan, benar kata Nur jika ia sudah lupa bersyukur. Terlepas dari apa yang membuatnya cemburu, cinta sudah bertahta jelas di hatinya atas nama Andra Syahreza, menguasai sebagian hatinya setelah nama Azzam yang mungkin abadi.


"Ara masih mau main Ayah..." rengekan Ara terdengar sambil memeluk Andra.


"Besok lagi Sayang, ini sudah siang. Ara harus makan dan istirahat." bujuk Andra mengusap air di wajah Ara.


"Ayaahh..." dia masih merengek.


"Sudah Nak, mandilah dulu. Bukankah masih ada besok, lagipula bebeknya tidak akan pergi." bujuk Hafizah menggoda putrinya. Seraya memberikan handuk kecil dan di sambut Bibi segera mengajaknya mandi.


"Besok Ayah akan pulang setelah makan siang." Andra sedikit berteriak. Punggungnya yang basah sudah terselimuti handuk, tangan halus yang tadi melepaskan pelukannya kini sedang membantunya mengusap air di rahangnya.


"Sayang." Andra meraih pinggang ramping Hafizah, mengunci di dalam lingkaran tangan kokoh Andra.


"Ada Nur dan Ningrum di dalam." sedikit berusaha melepaskan pelukan Andra.


"Biarkan saja." Andra berbisik begitu dekat sekaligus mencuri ciuman di wajah cantik yang sepertinya sudah tak begitu marah.


"Mas..."


"Maaf, aku berjanji lain kali akan melaporkan setiap siapapun yang akan bertemu denganku. Agar istriku tidak cemburu."


"Mas aku jadi basah semua." Hafizah mendorong dada lebar Andra.


"Jangan marah lagi." tentu dia tak akan melepaskan.


"Mas!"


"Aku mencintaimu."


"Mas..." kali ini memohon untuk di lepaskan.


"Jawab dulu." Andra semakin tak melepaskan hingga pakaian Hafizah ikut basah sampai ke bagian yang menyentuh kaki.


"Jawab apa?"


"Aku mencintaimu." seakan tak peduli dengan siapapun Andra tetap memeluknya seperti sedang meluapkan rindu.


"Baiklah..."


"Apa?"


"Mas!"


"Aku mencintaimu."


"Aku juga mencintaimu Mas, apakah rasa kesal ku ini masih belum menjelaskan kalau aku mencintaimu."

__ADS_1


"Aku menyukainya, tapi sangat khawatir." Andra menenggelamkan tubuh ramping dan halus itu lebih dalam.


Sementara di dalam rumah itu kedua adik Hafizah itu sedang melihat lalu memalingkan wajahnya.


"Mereka halal." Ningrum tertawa.


Tapi Nur malah menunduk, mengingat hingga hari terakhir ia akan berangkat, Ahmad masih tak juga memberi kabar.


'Apakah kau masih memikirkan Kak Fiza yang sudah jelas begitu bahagia bersama keluarganya?'


Siang itu berlalu dengan sholat bersama, ketiga putri Kiyai yang jarang bersama semenjak Hafizah menikah itu kini terlihat begitu menikmati kebersamaan hingga sore menjelang.


"Dik, kemarin Ahmad memberi kabar, dia ingin Kakak menyampaikan kabar bahwa besok akan berangkat bertugas. Sesuai dengan apa yang Kakak sampaikan kepada Abi."


Mereka bertiga duduk di halaman samping bersama Andra juga ikut duduk agak berjauhan sambil mengotak-atik laptop yang sengaja ia bawa sambil menunggu Mingho datang.


"Entahlah Kak, aku akan ikut kemana Allah akan mempertemukan aku dengan jodohku. Hanya bisa berdoa agar aku dipertemukan dengan jodoh yang terbaik." jawab Nur berusaha bijak berpikir.


"Apakah kau menyerah Dik?"


"Aku tidak tahu Kak, berusaha menyelamatkan perasaan agar tidak terlalu berharap, bukankah berharap kepada manusia itu rentan dengan kekecewaan."


"Tentu saja, bersabarlah dengan rasamu, jika jodoh sudah bicara, maka Allah akan mendekatkan kalian berdua."


"Tapi sepertinya hanya aku yang berusaha mendekat, dia tidak."


Terdengar helaan nafas berat dari Hafizah, dia bingung harus bagaimana. Andaikan bisa membantu adiknya, lalu dengan cara seperti apa? Jika ia menghubungi Ahmad maka itu akan merusak hubungannya dengan Andra. Tentu ia tak akan melanggar apa yang suaminya tidak suka.


"Tidak!" ucapan itu terdengar bersamaan. Nur juga Andra.


Ketiga wanita itu menoleh Andra yang tiba-tiba menyahut.


"Laki-laki yang mencintai seorang wanita, akan selalu berusaha untuk mendekati dan mendengar kabarnya. Mengejar dan berusaha untuk mendapatkannya. Sesulit apapun itu dia akan tetap berusaha, bukan malah membiarkan tanpa kepastian."


"Itu benar." Nur menyahuti ucapan Andra, senyum getir juga menghias di bibirnya.


"Jika dia hanya berdiam saja, lebih baik kau berhenti Memikirkannya, sebelum dia sendiri yang memintamu untuk berhenti memikirkan dia, itu akan terasa sangat menyakitkan." lanjut Andra lagi kepada tiga wanita cantik dengan hijab sama panjang itu sejak tadi berbicara perihal Ahmad.


"Apakah kau juga seperti itu?" tanya Ningrum ingin mengetahuinya.


"Tentu saja, aku laki-laki. Aku tidak akan menyerah sampai akhirnya mendapatkan Kakakmu." Andra tertawa kali ini, diikuti tawa tanpa suara dari ketiganya.


"A... assalamualaikum."


Salam yang terdengar gugup itu membuat keempat orang menoleh bersamaan.


"Wa'alaikum salam warahmatullaah."


"Akhirnya kau datang juga." Andra memintanya duduk bersamanya.


Menoleh gadis kecil yang duduk tak acuh, Mingho berusaha tersenyum sopan, menyapa kedua kakaknya, sedikit mencari perhatian.

__ADS_1


"Sayang, ini laki-laki yang mengirim pesan padaku, tanyakan padanya apakah gadis yang disebutkan itu benar-benar cantik?" Andra mengangkat alisnya sambil menatap tajam Mingho. Dia tahu Mingho tidak akan berani berkutik, terlebih lagi ada adik bungsu yang sejak lama di incarnya.


"Ah,... I...itu. Dia bukan apa-apa. Maaf Fiza, aku hanya bercanda." ucap Mingho gugup terlebih lagi mata bulat dengan bola hitam pekat milik Ningrum menatap lurus padanya.


"Bercandamu keterlaluan. Awas saja kau mengulanginya, aku pastikan _"


"Ini proyeknya." Mingho segera membuka berkas yang di bawanya.


"Aku belum selesai _"


"Kau bisa diam tidak?" setengah berbisik Mingho mengeratkan giginya.


"Kau!"


"Kau bisa lanjutkan besok saja ocehan mu itu. Aku tidak mau harga diriku jatuh dihadapan Ningrum."


Andra menatap wajah asistennya itu, lalu melirik Ningrum yang tampak tak peduli.


"Berikan padaku." kesal Andra lalu sibuk membaca berkasnya.


Mingho beranjak dari duduknya.


"Kau mau kemana?"


"Aku permisi ke toilet sebentar." jawabnya tanpa menoleh.


"Sebaiknya kita pulang Dik, Abi pasti sudah menunggu." ajak Nur kepada Ningrum.


"Baiklah, aku mengambil tas dulu Kak." Ningrum beranjak masuk.


Langkah yang pelan itu sedikit linglung mencari keberadaan tasnya. "Ah, mungkin di ruangan sholat."


"Ningrum melangkah menuju ruangan yang sengaja di desain seperti musholla itu.


"Allah hu Akbar."


Ningrum berhenti melangkah mendengar suara seseorang sedang membaca takbir singkat.


"Tidak mungkin jika itu Mas Andra"


Dengan rasa penasaran ia maju beberapa langkah, melihat dari dinding penyekat dan...


"Dia."


Ningrum berdiri nyaris bersandar di dinding. hanya mendengarkan bisik-bisik bacaan sholat lalu kemudian berhenti. Tak ubahnya bagaikan terkena hipnotis, dia sungguh heran laki-laki menyebalkan baginya itu sedang melaksanakan sholat.


Sejenak, lalu tersadar jika tujuannya adalah mengambil tas miliknya.


"Eh!"


Nyaris keduanya bertabrakan, entah Mingho yang sholat terlalu cepat, ataukah Ningrum yang terlalu lama melamun.

__ADS_1


__ADS_2