Separuh Nyawa Suamiku

Separuh Nyawa Suamiku
Datang ke Pondok Pesantren


__ADS_3

Gedung yang menjulang dengan lebih dari seribu pegawai dan karyawan itu terlihat ramai, berbagai macam aktivitas yang dilakukan di sana dari pegawai inti hingga pegawai di luar gedung semuanya terlihat sibuk di pagi itu.


"Kita akan kunjungan ke hotel baru Kita." Mingho dan Tomi berjalan menuju ruangan direktur.


"Sebaiknya bersama dia." Tomi menunjuk ruangan di hadapannya.


Keduanya masuk ke ruangan Andra.


"Kau sudah siap?" tanya Mingho berdiri di hadapan atasannya tersebut.


"Kalian saja yang pergi." jawabnya bahkan tak menoleh.


"Baiklah, kalau begitu aku akan mengajak Hafizah saja."


"Dia tidak masuk." sahut Andra cepat, membuat kedua asisten tampan itu saling berpandangan.


"Ternyata itu penyebabnya." Ucap Mingho terkekeh geli melihat atasannya tidak bersemangat.


"Apa maksudmu?" kesal Andra menoleh kedua asistennya tersebut.


"Tidak ada, aku hanya berpikir jika saat ini Hafizah sedang berbincang hangat bersama adik iparnya itu, sambil bercanda dengan keponakannya yang menggemaskan. Ah, itu sungguh terlihat seperti keluarga yang utuh."


"Dan itu memang pantas, mengingat Ara adalah anak almarhum kakaknya." Tomi menyahut seraya duduk santai bertopang satu kaki.


"Keluar atau ku lempar?" Andra meraih miniatur hotel di atas mejanya.


"Tidak, bukan begitu. Maksudku setelah kita ke hotel kita akan mendatangi pesantren milik Hafizah, aku punya uang sedikit, ingin menabung pahala untuk anak-anak penghafal Al-Qur'an di sana." Mingho mengeluarkan seikat uang sekitar lima juta.


Andra menatap tajam, tapi kemudian beranjak meraih jas dan memakainya.


Tomi tersenyum, segera beranjak lebih dulu, dapat dipastikan mereka akan pulang sore jika sudah berkunjung ke rumah Hafizah. Ikatan antara anak kecil dan atasannya adalah hal yang rumit, sulit di cerna dengan logika namun nyata di pandang mata. Drama mereka sudah berjalan cukup lama, dan membentuk kekhawatiran sendiri bagi Tomi yang tahu semua berawal dari mana, yaitu kecelakaan Azzam.


Sore selepas Azhar, kebahagiaan di pondok pesantren itu masih begitu kental terasa. Belum ada aktifitas yang rutin untuk hari ini, semua jadwal belajar anak-anak di kosongkan hanya di isi dengan ibadah saja. Sungguh Kiyai Marzuki ingin melepaskan rindunya dengan ketiga anak-anak perempuannya.


"Ternyata adik bungsu kita ini sangat bisa diandalkan untuk menjaga Abi." puji Hafizah kepada Ningrum adik bungsunya.


"Benar sekali, aku tidak menyangka. Bahkan kesehariannya dia adalah orang yang tidak sabar, dan suka berkelahi." Nur setengah berbisik di akhir ucapannya.


Keduanya terkekeh geli, tidak terkecuali Kiyai Marzuki ikut tersenyum melihat ketiga anaknya bercanda.

__ADS_1


"Aku betah di sana, bahkan hampir lupa dengan bahasa Indonesia." sahut Ningrum semakin membuat kedua kakaknya tertawa. Mereka tahu persis adiknya menahan bosan sekuat hati di negeri orang tersebut.


"Maaf, Kami tidak bisa menggantikan mu." Hafizah meraih pundak adik bungsunya.


"Dan maaf dari Kakak juga, karena kau mengurus Abi pendidikan mu jadi tertunda." Nur ikut mengusap pundak Ningrum yang seharusnya saat ini ia sedang kuliah Semester dua, dan terpaksa mengalah demi mengurus ayah mereka.


"Tidak masalah, Aku tak kalah hebat dengan kalian berdua bukan?"


"Tentu saja Adikku." Hafizah memeluk Ningrum dengan hangat.


"Kalian adalah bidadari-bidadari Abi." puji ayah mereka sambil memeluk Ara cucu satu-satunya.


"Ayah." ucap anak kecil itu kemudian membuat Kiyai terkejut, termasuk Ahmad yang duduk jauh tapi masih bisa mendengar mereka.


"Ayah?" tanya Kiyai mengulang.


"Ayah...!" panggilnya semakin jelas dengan terus menatap ke arah gerbang depan, membuat semua orang menoleh.


"Pak Andra." gumam Hafizah tak percaya laki-laki yang menjadi atasannya itu kini berjalan mendekat ke arah mereka bersama ustadz Arifin salah satu pengajar di sana.


"Assalamualaikum Kiyai." salam dari Ustadz Arifin, diiringi salam dari ketiga laki-laki tampan di belakangnya.


"Ayah." panggil Ara lagi, mengulurkan tangannya ke arah Andra hingga tubuh kecilnya sedikit melampaui pelukan Sang kakek.


Sementara kedua asisten Andra saling menyikut dengan mata keduanya tak lepas dari wajah cantik kedua saudara Hafizah.


"Ma...maaf." ucap Andra kemudian mengulurkan kedua tangannya ingin menggendong Ara.


"Oh." Kiyai Marzuki menyerahkan cucunya dengan bingung.


"Apa kabar Sayang?" ucap Andra seraya mengangkat tubuh kecil Ara sejajar dengan wajahnya.


"Dia adalah atasan Fiza di kantor Abi." jelas Hafizah atas kebingungan ayahnya. "Dan mereka adalah asisten Pak Andra, teman kerja Fiza." jelasnya berdiri seraya tersenyum ramah.


"Benar Kiyai, kami mendengar bahwa Anda baru saja pulang dari Singapura, dan kami sekalian ingin berkunjung." Tomi menjelaskan kedatangan mereka, kemudian berjabat tangan bergantian.


Suasana ramai diantara banyak laki-laki itu membuat Kiyai merasa senang, tak kalah menarik perhatian Ara yang terlihat tidak mau lepas dari Andra. Membuat Kiyai Marzuki merasa ada yang janggal diantara Andra, Ara, dan putrinya Hafizah.


Dan sejak tadi hanya memperhatikan, berpura-pura asyik mengobrol dengan para ustadz muda akhirnya Ahmad habis kesabaran juga. "Sayang, mari ikut Paman."

__ADS_1


Namun Ara menggeleng, malah semakin menyandar di dada Andra.


"Bisakah Anda membujuk keponakan ku ini agar bersedia ikut denganku?" pinta Ahmad dengan tatapan tak suka kepada Andra.


Andra melirik semua orang yang tiba-tiba membuat dirinya objek yang menghentikan waktu.


"Beri waktu sebentar." jawab Andra kemudian.


Benar saja, setelah beberapa saat dan Andra membawanya ke dalam mobil, memberikan banyak mainan lalu membujuknya untuk menemui Hafizah.


"Berikan ia kepada Fiza." pinta Andra kepada Ahmad.


"Aku tahu." kesal Ahmad meraih tubuh kecil Ara, dan berlalu masuk ke dalam rumah itu.


"Berikan padaku." pinta Nur yang sejak tadi mengintip di balik tirai menyaksikan wajah Ahmad terlihat masam.


"Tidak perlu, biarlah Ara bersamaku." ucapnya kemudian memilih duduk di teras samping rumah itu.


Hening sejenak, hanya suara Ara terdengar sedang memainkan mainan dari Andra.


"Kau menyukai Kak Fiza."


Ahmad menoleh Nur yang tiba-tiba menebak apa yang sedang ia rasakan. "Aku hanya memiliki Ara." ucapnya fokus kepada wajah keponakannya lagi.


"Tentu saja, bahkan ketika Ara menikah dirimu lah yang akan dia cari." jawab Nur sedikit melirik wajah tampan Ahmad.


"Aku tidak mau kehilangan keluargaku, kau tahu aku sudah kehilangan Mas Azzam."


"Aku tahu, bukan hanya dirimu tapi kami juga." sahut Nur.


Ahmad masih terlihat berpikir.


"Tapi alangkah baiknya jika kau ikhlas, tidak memaksakan apapun selain berusaha dan berdoa semoga semuanya baik-baik saja."


"Aku selalu berdoa agar aku tidak kehilangan Ara juga Kakakmu." ucap Ahmad semakin menjelaskan perasaannya.


"Memang benar jika doa orang yang sungguh akan terkabulkan, tapi jangan lupa bahwa doa tidak mengubah takdir. Bahkan ketika Abi begitu bahagia mendapatkan menantu seperti Mas Azzam, dia selalu berdoa agar Mas Azzam selalu dalam lindungan Allah SWT. Tapi nyatanya kita kehilangan Mas Azzam juga. Berusaha dan berdoalah, tapi jangan lupa sertakan ikhlas kepada yang memberi hidup. Dia tahu yang terbaik untuk kita, yang sangat ingin kau miliki belum tentu yang terbaik untuk dirimu nanti. Dan diantara apa yang kau harapkan, ada orang lain pula berharap akan kebahagiaan yang sama. Dan itu juga sedang berpasrah kepada Allah saja, berharap mendapatkan orang yang tidak mengharapkan dirinya."


Nur beranjak meninggalkan Ahmad tanpa menoleh, entah apa yang sedang dipikirkan gadis berkerudung panjang itu hingga seperti sedang kecewa.

__ADS_1


__ADS_2