Separuh Nyawa Suamiku

Separuh Nyawa Suamiku
Di gigit Serangga


__ADS_3

Lumayan lelah, perjalanan yang hampir satu jam tak terasa, saling berpegangan tangan dengan tubuh kecil Ara duduk menyandar hingga tertidur lelap.


"Mas."


Panggilan lembut wanita di sampingnya terdengar halus.


"Ya." Andra menoleh wajah yang begitu dekat dengan pundak.


"Aku ingin mengajak Bibi pengasuh untuk Ara." ucapannya berhenti sejenak. "Agar ada yang menemani saat ia tidur dan..."


"Apakah yang kau maksud adalah Bibi yang mengasuh Ara di rumah Azzam?" tanya Andra.


Hafizah mengangguk. "Dia sudah di pondok Mas, mengasuh Ara kalau Ningrum atau Nur sedang mengajar."


Andra tersenyum, meraih pundak Hafizah agar lebih menempel padanya. Matanya melihat ke depan, Tomi sedang memutar setir agar sedikit menanjak sebelah kiri.


"Kita sudah sampai." ucap Andra.


Hafizah melihat ke depan, ada dua orang asisten rumah tangga yang sudah bersiap di depan pintu, dan dua orang satpam berjaga seraya memberi hormat ketika mobil mereka masuk di halaman rumah mewah Andra.


"Ini rumahmu Mas?"


"Ya, rumah kita." Andra mengeratkan genggaman tangannya sejenak, lalu turun lebih dulu bersama Ara.


Tak lama kemudian mobil yang dikendarai Mingho juga tiba.


"Biar Ara bersamaku." pinta Hafizah kepada Andra.


"Tidak perlu, nanti dia akan tidur di kamarnya, bersama Bibi." ucap Andra menoleh mobil Mingho yang sedang terbuka kedua sisi pintu mobilnya.


"Bibi!" Hafizah memanggilnya setengah memekik.


Wanita paruh baya itu segera mendekat sambil tersenyum senang. "Sini Bibi yang menggendong Ara."


Andra memberikan Ara kepada Bibi, masuk ke dalam rumah mewah itu.


"Sebaiknya kita pulang saja, rumah ini tidak butuh obat nyamuk." sindir Mingho kepada Andra.


"Silahkan saja. Kalian tidak di butuhkan saat ini." Andra mengusir kedua asistennya tersebut.


"Dia keterlaluan, dasar atasan durhaka!" umpat Minho lagi. wajahnya lebih banyak di tekuk semenjak pulang, tentu dia semakin galau setelah bertemu Ningrum.


"Ayo kita pergi." ajak Tomi yang selalu lebih dewasa.


"Baiklah, kita akan menghabiskan senja bersama, melamunkan cinta yang tidak sampai." Mingho memakai kaca mata dan berjalan lebih dulu ke mobilnya.


"Jangan seperti itu Mas." Fiza duduk di ranjang luas di kamar Andra.

__ADS_1


"Aku sedang tidak mau di ganggu." Andra langsung memeluknya.


"Apakah itu juga alasanmu mengajak Bibi?" Fiza menatapnya sambil terkekeh.


"Iya, salah satunya." Andra mengaku dengan tertawa lepas. Tentu itu benar karena saat ini Ara tidur di kamar yang lain bersama Bibi menemaninya.


"Kau bahkan sudah berpikir sejauh itu." Hafizah ikut tertawa.


"Tentu saja Sayang." Andra semakin memeluknya, menatap indah wajah Fiza dari dekat. Sesekali dia menutup dan membuka kembali matanya, memastikan bahwa dia sedang tidak bermimpi.


"Mas Andra mau mandi?" tanya Hafizah halus.


"Nanti, setelah aku membuatmu ikut berkeringat." Andra menggodanya, menciptakan blush on alami di wajah ayu istrinya.


"Ini masih sore." jawab Hafizah melihat jendela, Cahaya matahari masuk sebagian memberi penerangan berwarna orange di ruangan luas itu.


"Bagiku sore dan malam sama saja." Andra mengusap wajah ayu Fiza dengan punggung jarinya. Menghadirkan desiran hebat yang membuat Hafizah sedikit gugup.


Meskipun pernah melakukannya, tapi bersama Andra ada yang berbeda. Jika Azzam begitu halus dan sopan, justru Andra adalah kebalikannya. Terlihat tak sabar, dan sepertinya kasar bermain, membuat gelisah hatinya.


Tangan Andra mulai menarik Bros tusuk di leher Hafizah pelan.


Dan perlahan pula kerudung persegi itu terbuka memperlihatkan anak rambut dan leher jenjang Hafizah. Menariknya pelan, hingga rambut yang hitam sedikit bergelombang namun halus terawat, tergerai bersama kerudung yang lepas.


"Kau cantik sekali." puji Andra, terlebih lagi sepasang mata bening yang selalu berlari ketika di pandang itu kini lurus menantang, menakjubkan bak kristal yang mahal.


Entah bagaimana ia memulai, seperti sedang lapar ia tak mau meninggalkan wajah itu barang secenti saja.


"Mmmm Mas." Merasa tak di beri jeda, ingin rasanya Hafizah beristirahat untuk menarik nafas.


Namun dengan bangga laki-laki yang sudah menjadi suamimu tak memberi kesempatan, bahkan hembusan nafas keduanya beradu saling menghangatkan.


Tak peduli cahaya mata hari di luar sudah beralih naik ke satu sisi ranjang, Andra terus saja membuat ranjang yang rapih itu kini berantakan. Tak peduli kata memohon atau meminta, baginya semua terdengar sama saja. Semakin istrinya memohon, semakin puas pula ia tersenyum, sesekali menyeringai ingin mengalahkan, bahkan membuat wanita cantik dalam pelukannya semakin tak berkutik.


"Aku mencintaimu."


Akhir dari kegiatan yang hampir satu jam, Kata cinta dan kecupan hangat tak henti menghuni wajah ayu Hafizah yang lelah.


"Sayang." panggi Andra kemudian setelah beberapa menit tetap memeluknya.


"Hemm..." hanya menjawab sedikit, lemas dan mengantuk setelah prosesi pernikahan dilanjutkan dengan menunaikan tugasnya sebagai istri.


Andra mengecup pipinya lagi. "Tidurlah." memeluknya begitu erat, dia benar-benar bahagia hari ini, mendapatkan Hafizah secara sah, dan menuntaskan rasa yang sejak lama membuatnya gelisah.


Hari-hari selanjutnya akan bahagia, malam-malam juga tidak akan gelisah. Memeluk erat Hafizah bersamanya, tidak akan melepaskan walau apapun yang terjadi.


"Semoga saja kau langsung mengandung anakku, anak Kita." Andra memeluk lagi, mengusap perut yang sedikit kasar di bagian bawahnya. Bisa di lihat jelas jika tiga tahun yang lalu ia melakukan Caesar ketika melahirkan Ara.

__ADS_1


***


Adzan Maghrib berkumandang membangunkan dua insan yang kelelahan sehabis memadu cinta.


Tubuh yang bergulung selimut itu bergerak, sambil melihat langit-langit kamar Andra, menoleh dan kemudian mendongak wajah yang juga terlelap di sampingnya, setengah memeluknya.


Hafizah memperhatikan wajah yang memiliki raham kokoh dengan kulit putih bersih itu, kumisnya tipis, bibirnya merah sekali.


Ah, teringat beberapa saat lalu. Hafizah meraba bibirnya sendiri, Andra begitu ganas menyesap bagian itu hingga terasa bengkak.


Dia tersenyum lalu memeluk Andra pelan. Memikirkan bagaimana laki-laki tampan itu menguasainya, dia melakukannya dengan sangat gila, Hafizah menggeleng.


Usai sholat tiga rakaat berdua, seseorang di luar sudah tak sabar ingin bertemu dan masuk.


"Sepertinya Ara." ucap Andra melipat sajadahnya.


"Benar." Hafizah segera beranjak dengan mukena masih terpasang rapi.


"Ibu." suara Ara terdengar jelas ketika pintu di buka. Anak kecil itu sedang di gendong Bibi.


"Terimakasih Bibi." Hafizah membawa Ara masuk.


"Hai Sayang!"


"Ayah!" Ara berteriak, berlari ingin memeluk Andra.


"Oh, anak Ayah sudah besar sekali." Andra mengangkatnya tinggi.


"Ala mau bobo di sini." ucapnya dengan suara khas.


"Boleh, di sini." Andra menunjuk tengah-tengah ranjang luas itu.


"Bukankah Ara sudah besar?" Hafizah menggoda anaknya, dengan rambut yang masih lembab ia ikut berguling di atas ranjang.


"Lehel ibu sakit!" pekiknya mengarahkan telunjuk di leher Hafizah.


"Hah?" meraba lehernya dengan bingung.


"Ah, emmm... i..itu di gigit Serangga." Andra menyahut gugup.


"Selangga!" mata bulat Ara tak berkedip, kemudian melihat sekeliling kamar Andra.


Hafizah terburu-buru bangun dan bercermin. "Astaghfirullah."


Andra mengulum senyum sambil terus berceloteh dengan Ara, hanya melirik Hafizah yang sibuk mencari kerudung yang bisa segera di pakai.


"Kamal Ayah banyak selangga."

__ADS_1


__ADS_2