Separuh Nyawa Suamiku

Separuh Nyawa Suamiku
Jatuh Cinta Tak Butuh Alasan


__ADS_3

Di rumah sederhana itu, Hafizah sedang duduk termenung setelah pembicaraan seriusnya dengan Ahmad. Lagi-lagi ia berandai-andai membayangkan Azzam masih ada. Hingga suara ponselnya berdering mengganggu.


Hafizah Segera meraih benda pipih tersebut. "Nur." gumamnya.


"Assalamualaikum Kak." suara Nur dari seberang telepon.


"Wa'alaikum salam warahmatullaah."


"Kak, besok Abi akan pulang. Sebaiknya Kak Fiza menginap disini bersama Ara." ucap Nur memberitahukan.


"Alhamdulillah, akhirnya Abi bisa pulang." ungkapnya sangat bahagia.


"Ya, dan kita harus berkumpul, menyambut kedatangan Abi dan juga saudara kita yang gemar berkelahi." Nur sedikit terkekeh.


"Benar sekali, suasana akan sangat ramai jika dia sudah pulang." Hafizah ikut tertawa senang.


"Baiklah, itu saja. Assalamualaikum." Nur mengakhiri.


Suasana hatinya sedikit membaik mendengar kabar kepulangan Ayah dan juga saudaranya. Dia bergegas menyiapkan pakaian untuk menginap di pesantren bersama Ara.


Enam bulan sudah ia tidak bertemu dengan ayahnya yang menjalani perawatan dan operasi satu ginjal di Singapura, dan itu alasan mengapa Ayahnya tidak pulang ketika Azzam meninggal.


"Kakak mau kemana?"


Begitu terkejut Ahmad melihat Hafizah membawa tas besar ketika keluar dari kamarnya.


"Ah, Kakak akan pulang ke pesantren bersama Ara." jawab Hafizah seperti biasa, halus dan pelan.


"Apakah Kak Fiza sedang tersinggung dengan pembicaraan kita?" Ahmad menatap Hafizah dengan banyak berpikir.


"Hemm, Kakak hanya..."


"Maaf, aku minta maaf Kak. Aku tidak bermaksud untuk melarang atau membuat Kak Fiza tersinggung. Aku hanya ingin mengingatkan bahwa dia adalah orang asing untuk Kak Fiza."


"Aku tahu." jawab Fiza pelan. "Bukan hanya dia yang orang asing, tapi saat ini kita juga adalah orang asing." jawab Fiza.


"Kak_"


"Semenjak Mas Azzam pergi, kita pun tidak boleh tinggal seatap tanpa ada orang lain sebagai mahram ku." lanjut Hafizah lagi.


"Kalau begitu aku yang akan pulang ke Batalyon, Kakak di sini saja." ucap Ahmad pelan.


"Tapi Kakak memang harus ke pesantren, bukan karena kehadiranmu. Ini rumahmu juga Ahmad." Fiza sedang menjelaskan.


"Tidak Kak, sungguh aku minta maaf. Aku mohon jangan pergi dari rumah ini, ini milikmu."


Entah hanya perasaan saja, atau memang benar Ahmad menaruh hati pada Hafizah, itu membuat Hafizah semakin serba salah.

__ADS_1


"Kak." panggil Ahmad lagi.


"Abi akan pulang." jawab Hafizah menjelaskan alasan kepulangannya.


"Abi?"


"Ya." jawab Hafizah senang, tentu itu meluruskan sedikit salah faham diantara mereka.


"Aku ikut."


***


"Dia menyukai Hafizah." suara Mingho memecah hening di dalam mobil itu. "Ku rasa kau juga menyukainya." ucapnya lagi.


"Kau tahu apa alasan kita menerima dia bekerja." jawab Andra menoleh, lalu kembali melihat jalanan.


"Ya, tapi jatuh cinta juga tidak butuh alasan."


"Aku tidak yakin." jawab Andra tak peduli.


"Kalau begitu kau bersiap untuk menerima undangan dari Hafizah dan adik suaminya itu."


"Kau tahu darimana?" Andra berdecak kesal.


"Sejak kapan aku tidak tahu semua yang berhubungan denganmu, termasuk Hafizah dan Sersan muda itu. Ku rasa dia akan melamar Hafizah dalam waktu dekat."


"Omong kosong."


"Kita ke rumah sakit." perintah Andra tak mau membahas tentang Hafizah lagi.


"Kalau kau suka jangan berlagak tak suka, karena bagi seorang lelaki jodoh harus di kejar, bukan menunggu dan berharap." Mingho masih saja berbicara, tak peduli apa reaksi atasannya itu. Dia yakin sekali kebaikan Andra tak hanya karena sebuah alasan, tapi sudah bercampur perasaan.


"Aku ingin Kakak ku sembuh." ucap Andra pelan.


"Itu sulit, walaupun bisa saja keajaiban terjadi." jawab Mingho.


"Aku akan tetap berusaha." dia menyandar sedih.


***


Suasana pesantren yang menyejukkan, pemandangan yang tidak di dapat dimana saja ketika para santri dan santriwati sedang memakai seragam panjang yang membuat teduh mata memandang. Belum lagi suara merdu mereka mengaji, tentulah membuat Hafizah merasa nyaman di pagi pertama ia menginap di sana.


"Siapa yang menjemput Abi Nur?" ucap Hafizah ketika Nur sudah pulang dari mesjid.


"Biar aku dan sopir saja." Nur meletakkan mukenanya di atas meja kayu.


"Kakak ingin ikut." ungkapnya seraya menggendong Ara.

__ADS_1


"Kakak tidak bekerja?" tanya Nur menatap wajah ayu Hafizah.


"Sebaiknya aku minta izin hari ini." Hafizah meraih gagang telepon ruangan itu.


"Sampai hafal nomor ponselnya." gumam Nur seraya berlalu.


Hafizah menoleh sambil menunggu panggilan tersambung.


"Assalamualaikum Pak, ini saya Hafizah. Apakah saya boleh meminta izin sehari ini untuk tidak masuk bekerja?" tanpa basa-basi ia segera bicara pada intinya.


"Ada apa?" begitu pertanyaan singkat Andra.


"Abi baru saja pulang dari Singapura, beliau sakit sejak lama dan Alhamdulillah sekarang sudah pulih kembali." jelas Hafizah.


"Benarkah?" sepertinya Andra sedang berpikir.


"Benar Pak, saya sedang berada di pesantren di rumah Abi. Apakah saya boleh izin satu hari ini?" ulangnya sedikit gugup.


"Baiklah."


"Terimakasih banyak Pak, assalamu'alaikum." menutup ponselnya.


Sedikit melirik asrama depan, tampak Ahmad sedang melepas kopiah dari kepalanya, berdiri memandang ke arah rumah Hafizah. 'Lama-lama dia mirip Mas Azzam.'


Hafizah menggeleng pelan, tidak mau membayangkan bagaimana kebersamaan dengan Azzam, dan mulai sadar bahwa Ahmad bukanlah adik yang seperti ia kenal ketika menikah dengan Azzam. 'Mungkin pulang ke pesantren untuk sementara adalah pilihan terbaik.'


Kerumunan anak-anak santri mulai terlihat memenuhi gerbang depan menyambut kedatangan Kiyai pemilik pesantren tersebut. Tak terkecuali Hafizah dan para ustadz ustadzah ikut berdiri di barisan paling depan memanjang. Hingga mobil berwarna hitam memasuki halaman pesantren yang luas itu.


"Assalamualaikum Kiyai." suara mereka menyapa ketika pintu mobil mulai dibuka oleh sopir keluarga.


"Wa'alaikum salam warahmatullaah." jawabnya dengan perlahan ia melangkah.


Tangan para ustadz bergantian menyambut, kecuali para Ustadzah dan santriwati yang hanya menangkup tangan di dada seraya berdoa yang terbaik untuk kesehatan Kiyai pembimbing mereka.


"Abi." panggil Hafizah pelan.


Mata tua Kiyai tersebut berkaca-kaca ketika melihat wajah putri sulungnya yang sedih bercampur bahagia menyambut kepulangannya.


"Maaf, Abi tidak di sisimu ketika Azzam pergi." ucapnya kemudian memeluk erat Hafizah, mengelus pundaknya mengisyaratkan kata sabar ya menguatkan.


"Fiza ingin pulang Abi." lirihnya di dada ayahnya.


"Ya, kau sudah kembali menjadi milik Abi setelah suamimu pergi. Pulanglah ke rumahmu."


Tangis haru itu menyebar kepada banyak orang di sana, ikut merasakan bagaimana sedihnya kehilangan sosok Azzam yang merupakan seorang ustadz muda di sana.


"Aku bersamamu Kak." adik bungsu bernama Ningrum itu ikut memeluk keduanya.

__ADS_1


"Kakak juga." Nur tak mau ketinggalan.


Namun hanya sebuah tatapan sulit di jelaskan yang bisa di berikan Ahmad, ingin sekali menjadi bagian dari keluarga Almarhum kakaknya, yang sungguh ia mengagumi sejak lama.


__ADS_2