Separuh Nyawa Suamiku

Separuh Nyawa Suamiku
Wanita Cantik


__ADS_3

Kali pertama melihat wajah Andra mendadak dingin. Hati Fiza sedikit nyeri membayangkan hal itu kalau sampai berlangsung lama. Saling berdiam sejenak, lalu Hafizah mulai merayunya, berusaha.


"Mas." panggilan yang pelan, sengaja sedikit lebih menempel dan menyusupkan tangannya diantara lengan Andra.


Dia tidak menjawab, sepertinya masih teramat kesal dengan telepon Ahmad yang menurutnya hanya alasan.


"Apakah Mas tahu, setiap hari aku merasa khawatir akan kehilanganmu. Membayangkan betapa tampan suamiku dan di luar sana ada banyak wanita-wanita yang akan bersedia mengejarnya." menyandar dan memeluknya mesra.


"Tapi tidak seperti dia, berani sekali menghubungimu padahal sudah jelas kau sudah menikah denganku." kesal Andra.


"Tidak seperti dia?" gumam Hafizah dengan mulut terbuka, artinya apa yang di ucapkan Hafizah baru saja benar. 'Ya Allah.'


Mendadak ada rasa yang mengganggu ketika mendengarnya. Dengan penampilan Andra yang begitu tampan dan kaya, tentu saja akan ada banyak wanita yang menyukainya. Dan pastinya mereka juga orang berkelas, berduit, dan... masih gadis.


Hafizah berpikir begitu banyak sambil mendongak wajah tampan Andra, meskipun sedang menjadi agresif, memeluknya hingga tak ada yang berjarak tapi rasa khawatir tetap selalu ada.


Dari pemikiran sederhana hingga yang luar biasa, bahkan sampai membayang jika sampai seorang wanita itu merayu suaminya dan akhirnya Andra...?


"Mas." Hafizah memeluknya semakin erat, hingga kancing kemeja Andra lepas akibat tarikan Hafizah.


Andra menunduk heran, belum lagi Hafizah sedikit merengek membenamkan wajahnya di bahu kanannya. "Ada apa Sayang?" tanya Andra lembut, setelah menghempas nafas yang berat.


Namun tak mendapat jawaban, hanya tetap bersembunyi di dada dan memeluknya. Hingga senyum seringai terbentuk di bibir Andra, sambil membalas pelukan Hafizah.


"Ayah...!" teriakan kecil itu membuat Andra menoleh, lupa jika mereka sedang menemani Ara bermain.


"Sini Sayang." Andra mengulurkan satu tangannya menggapai tangan kecil yang sedang berlari Padanya.


"Ibu kenapa?" tanya Ara polos, ikut menyandar kepada Andra.


"Ibu pusing, sakit kepala." bohong Andra. Hafizah segera melonggarkan pelukannya melihat Ara juga Andra bergantian.


"Ibu sakit?" Ara mengulurkan tangannya.


"Ah, tidak Sayang." Hafizah meraih dan memeluknya tanpa merubah posisi keduanya berada dalam pelukan Andra.


"Ayah akan menemani Ibu sebentar. Boleh?" tanya Andra membujuk.


"Mas." Hafizah ingin protes.


"Boleh." Ara mengangguk dengan wajah cerianya.


"Ayah sudah pesan mainan untuk Ara, 30 menit lagi akan datang." ucap Andra melihat jam ditangannya.


"Mainan apa?" tanya Ara memeluk leher Andra yang menunduk.


"Bebek yang besar, untuk berenang. Kita akan main di kolam setelah Ayah mengantar Ibu kekamar."

__ADS_1


"Oke." Ara mengangguk layaknya anak yang sangat pintar seusianya.


"Ini gambar bebeknya." Andra memperlihatkan ponselnya yang menyala.


"Horeeee..." dia berlonjak senang.


"Mas."


"Ara pegang handphone Ayah. Tunggu disini sambil makan ya?"


"Ya." dia mengangguk senang.


"Ara benar mau makan?" tanya Hafizah tidak yakin.


"Ya, Ara harus kenyang agar bisa lama bermain dengan Ayah." dia tertawa bahagia sambil memiringkan kepalanya, melirik Andra.


"Anak pintar, I Love you sayang." Andra mengecup dan mengusap kepala Ara.


"I love you Ayah." jawabnya berlari menyusul suster yang mengambil makan untuk Ara.


"Kau menyogoknya." Hafizah masih saja protes.


"Aku merindukanmu." Andra mengecup pipi istrinya sejenak, lalu mengajaknya masuk.


"Ini sudah pukul lima." Hafizah melirik jam dinding di kamar mereka.


"30 menit saja Sayang, bukankah tadi kau yang menginginkannya?" Andra begitu senang melihat Hafizah tersipu. "Aku tidak mau istriku memikirkan hal-hal yang merusak kebahagiaan kita, baik itu Ahmad atau siapapun. Sejak kita menikah kau hanya milikku, istriku."


Belum lagi kegiatan mesra yang sulit di jelaskan dengan kata-kata jika Andra sudah memulai, bahkan cacing kepanasan saja kalah dengan reaksi Hafizah saat bersamanya.


"Ayaaaahhh... Ayaaahhh..." teriakan Ara terdengar sedang bahagia itu mengejutkan Andra yang masih terengah-engah.


"Mas?"


"Cepat sekali Mingho yang bodoh itu mengantarkan mainan." kesalnya, bahkan posisinya masih begitu malas beranjak.


Hafizah terkekeh mendengarnya. "Dia tidak salah Mas, kmu bilang hanya 30 menit." Hafizah menunjuk jam dinding yang menunjukkan pukul 17:45.


"Hanya 45 menit, itu saja masih kurang." Andra tak mau kalah.


"Masih ada nanti malam." bujuk Hafizah lagi memeluk Andra seperti sedang memulihkan tenaganya.


"Baiklah." Andra segera beranjak ke kamar mandi dengan mandi kilatnya.


Tak lama setelahnya, suara Ara terdengar memenuhinya ruangan rumah besar itu, Hafizah bergegas mandi dan memakai pakaian tak lupa kerudung dengan segera. Sudah pasti Ara akan bertanya tentang serangga jika Andra sudah menggila.


"Sayang, besok kita berenang bersama." Andra langsung berbicara kepada Hafizah ketika istrinya keluar kamar.

__ADS_1


"Ya, asalkan Ayah tidak sibuk ya Nak." bujuk Hafizah tidak mau membebani Andra.


"Besok aku akan pulang cepat Sayang." Andra meraih pinggang Hafizah agar duduk dekat dengannya.


"Apakah besok kau tidak sibuk Mas? bukankah awal pekan pekerjaanmu banyak sekali?"


"Tidak. Hanya ada rapat di pagi hari." Andra satu tangan Andra menggoyang-goyang bebek yang baru saja di pompa.


"Asyik, berenang bersama Ayah." Ara melompat-lompat lalu memeluk Andra lagi.


"Kita sholat dulu Sayang. Ayo!" Andra mengajak putri kecilnya.


"Ayo." jawabnya meraih tangan Andra.


Hanya senyum syukur yang semakin sulit di jelaskan, hatinya hangat, juga sedih di satu sisi lainnya. Sangat bersyukur bisa mendekatkan keduanya agar tidak ada jarak, dan sungguh tak hanya Ara, tapi juga dirinya ikut menikmati kebahagiaan ini.


"Mas Azzam, Aku tidak setia kepadamu. Tapi aku juga bahagia bisa melihat putri kita seperti itu." lirihnya menahan air mata.


***


Pagi-pagi sekali Andra sudah bangun. Tidak seperti biasanya, dia akan sedikit mengulur waktu setelah lelah percintaan semalam. Pagi ini ia tergesa-gesa.


Hafizah yang sejak tadi kembali masuk ke dalam selimut setelah sholat, harus kembali bangun karena ponsel Andra tak henti berdering.


Melihat kamar mandi masih belum juga terbuka, Fiza mengangkatnya. "A-"


Panggilannya sudah berakhir.


Tak begitu lama notifikasi pesan terdengar. "Andra, apakah kau sudah bangun? Kita harus cepat karena Nona cantik itu akan kembali ke Singapura pukul delapan."


Mulut Hafizah terbuka dengan mata berhenti berkedip.


"Nona cantik" gumamnya pelan, dia mengingat-ingat.


"Sayang." Andra keluar dengan tissue di tangannya, mengelap hingga pergelangan tangan.


Hafizah masih terdiam, dia bingung harus bertanya tau membiarkan saja karena belum jelas dan takut salah paham.


"Sayang." Andra meraih pundaknya agar berhadapan.


"Mas, kau pergi sepagi ini mau kemana?"


Andra yang sedang memakai jam tangan menoleh dengan heran.


"Aku akan bekerja Sayang." Andra juga meraih beberapa berkas yang sepertinya penting.


"Bukan bertemu dengan wanita cantik kan Mas?"

__ADS_1


"Wanita?" Andra begitu terkejut.


"


__ADS_2