Separuh Nyawa Suamiku

Separuh Nyawa Suamiku
Bagaimana Jika Itu Kak Indri?


__ADS_3

Tak ada pembicaraan selanjutnya, Ningrum yang sempat menduga-duga akhirnya memilih pergi ke kamar mandi. Sedangkan Nur masih tertegun dengan pembicaraan mereka yang akhirnya ia mengingat hal yang mungkin saja ada hubungannya.


'Tapi, tidak mungkin rasanya Mas Andra tidak jujur kepada Kak Fiza.'


Mencoba mengingat hari itu ketika Fiza begitu histeris menangis atas meninggalnya Azzam.


'Orang yang menabrak Mas Azzam sedang kritis.' suara Ahmad masih mengiang ditelinga Nur, kala itu ia juga berada di ruang tamu rumah Azzam, menghibur Ara yang menangis.


"Tidak, ku rasa ini hanya sebuah kebetulan." Nur menarik nafas, mencoba kembali berpikir positif.


Dua hari di negeri orang, kedua anak gadis kiyai Marzuki ikut merawat Indri, termasuk ketika sholat keduanya melaksanakannya di ruang rawat Indri. Tak lupa waktu senggang mereka habiskan hanya untuk duduk membaca Al-Qur'an di samping Indri.


Hingga sore di hari kedua tersebut, mereka berkemas meninggalkan Singapura.


Pesawat mulai lepas di udara dengan rasa yang lega sudah melihat keadaan Indri. Tampak dari jendela awan berbaris di kejauhan, bahkan seperti asap tipis terkadang di lewati. Entah di berapa ketinggian sehingga Nur merasa mereka terlalu jauh dengan bumi.


"Di belahan bumi yang mana kau sedang berada, rasanya aku memang harus menghubungimu." Nur berpikir, lalu menyandar dan kemudian terlelap memikirkan Ahmad.


"Kita sudah sampai Kak." Rasanya baru sebentar, lalu kemudian ia dibangunkan Ningrum.


Taksi yang mereka tumpangi melaju sedang. Nur sedikit melirik Tomi, merasa butuh bicara namun ragu memulai darimana. Sungguh angka dua puluh itu mengganggu pikiran Nur saat ini.


"Sebaiknya kami pulang ke pondok terlebih dahulu." Nur membuka obrolan di mobil yang sejak dari bandara terasa sunyi.


"Baiklah. Aku akan kerumah Kakakmu terlebih dahulu, dia harus tahu perkembangan Indri." Tomi melirik kaca spion depan, berbicara dengan Nur yang mengangguk.


"Semoga setelah ini kesehatan Kak Indri terus membaik. Aku yakin sekali dia adalah sosok yang baik." Nur mulai memancing arah pembicaraan.


"Itu benar, dia adalah sosok yang baik, sama seperti Andra. Aku berharap dia masih memiliki kesempatan untuk hidup." Tomi menyandar.

__ADS_1


"Seperti apakah Kak Indri kecelakaan sehingga membuat ia terluka begitu parah?" wajah Nur terlihat serius.


"Saat itu, dia baru saja kembali dari luar kota. Dengan perasaan kacau dia menyetir sendiri. Hingga akhirnya kehilangan kendali dan kecelakaan tak bisa dihindari, mobilnya menabrak tiang listrik hingga hancur di bagian depan, beruntung tidak meledak."


"Astaghfirullah." ucap Nur akhirnya membuat si bungsu urung terlelap. "Dimana kecelakaan itu terjadi?"


Tomi menatap Nur seperti terkejut. Jelas terlihat dari kaca depan wajah Nur sangat ingin mendengar jawabannya.


"Apakah ada korban lainnya?"


"Ah, itu..." Tomi terlihat berpikir. "Sebaiknya untuk hal itu kau tanyakan langsung kepada Andra, Hatiku selalu saja merasa bersalah jika mengingat hati itu, aku sering menyalahkan diriku sendiri karena saat itu aku malah tertidur di hotel tempat Indri dan mantan suaminya bertemu. Harusnya aku bersamanya." wajahnya terlihat menyesal.


Ternyata tidak semudah itu mencari jawabannya. Dan Tomi akan curiga jika terus dipaksa.


'Tapi, harusnya seseorang yang memiliki beban akan merasa senang jika memiliki tempat untuk berbagi, tapi sepertinya tidak dengan Tomi. Andaikan itu benar, bagaimana mungkin Mas Andra bisa setega itu, bagaimana dengan Kak Fiza?'


Sedangkan di rumah Andra, laki-laki tampan itu tak henti mengucap syukur selepas mendengar kabar dari Tomi. Denyut nadi yang kembali normal pun adalah sebuah keajaiban baginya. "Semoga Kak Indri bisa sadar, dan sembuh dari tidur panjangnya." ucap Andra menggenggam tangan Fiza yang masih duduk di sofa setelah Tomi pamit pulang.


"Terimakasih Sayang, kehadiran mu membuatku bahagia, juga menguatkan aku yang kehilangan arah. Tak terbayangkan jika di dunia ini tak ada dirimu. Entahlah." Andra memeluk erat Hafizah.


Sejenak saling memeluk, Hafizah seolah larut dengan ingatan masa lalu.


"Ada apa Sayang?" Andra melonggarkan pelukannya.


"Tidak ada Mas, aku hanya mengingat sesuatu"


Menautkan alisnya. "Apa itu Sayang?"


Fiza tertawa lalu kembali memeluk Andra dengan hangat. "Tidak ada Mas." terdengar begitu merdu, perut besarnya hangat menyentuh lengan Andra.

__ADS_1


"Sayang. Apakah aku boleh menanyakan sesuatu?" bisik Andra mengecup telinga yang terbungkus kerudung tersebut.


Dia mengangguk, tanpa beranjak dari pelukan Andra.


"Apakah kau sangat membenci orang yang membuat Azzam meninggal?"


Sejenak mencerna, kemudian melepaskan pelukan Andra, keduanya saling menatap.


"Kak Indri ada di posisi itu." ucap Andra lagi, begitu pelan.


Wajah cantiknya mendadak sendu, hatinya seolah terseret ke masa lalu. Tapi kemudian bayangan Indri yang tak berdaya juga membayang bergantian.


"Maaf jika selama ini aku egois, tidak suka mendengarmu berbicara tentang Azzam. Sejujurnya selain cemburu aku juga merasa posisi kita seperti bertentangan." bisik Andra terdengar sedih. Tapi wajah tampannya begitu menikmati kecantikan juga keindahan wajah yang mendongak tak mau berpaling.


"Aku tidak membencinya Mas." jawaban singkat, namun tidak membuat Andra bahagia.


Terdiam lalu terdengar tarikan nafas yang berat. "Hanya saja, aku terlanjur kecewa dengan mereka yang tidak peduli sama sekali dengan nyawa yang sudah melayang... Tidakkah mereka merasa bersalah walaupun sedikit saja? Ataukah mereka tidak punya perasaan sehingga nyawa Mas Azzam hanyalah seperti tikus yang terlindas di jalanan."


"Fiza!" menghentikan namun tidak membentak.


"Aku tahu aku harus ikhlas Mas."


"Kalau kau tahu, lalu mengapa kau tidak mengikhlaskannya? Bukankah mendendam itu hanya akan mengotori hatimu?" tanya Andra berusaha sepelan mungkin.


Fiza menunduk lebih dalam, benar kata Andra, bahkan karena hatinya yang terlalu lama menyimpan marah, dia kesulitan mengendalikan dirinya sendiri. Ketika hati sudah di huni oleh dendam dan kebencian, maka tak ada lagi ketenangan, kebencian akan terus mengganggu jiwanya, mengotori hatinya, mengusik pikirannya.


"Ku dengar, mereka juga memberikan santunan untuk kelanjutan hidup kau dan Ara? Bukankah artinya mereka masih memikirkan mu?"


"Alangkah baiknya jika mereka datang dan bertemu denganku Mas! Tidak kah ada itikad baik sebagai sesama manusia yang mungkin iya! Tanpa sengaja menewaskan Mas Azzam, dan orang yang menabraknya juga terluka parah. Dan seandainya mereka datang maka aku akan menerimanya dengan ikhlas, aku tidak akan marah, aku tidak akan membencinya, aku juga tidak meminta apapun. Bukan mengganti nyawa Mas Azzam dengan uang."

__ADS_1


Seketika lemas seluruh tubuh Andra, ternyata kecelakaan itu masih membuat hati istrinya sangat terluka.


"Fiza... Bagaimana jika orang yang menabrak Azzam adalah Kak Indri, apakah kau masih tetap tak mau memaafkan dia?"


__ADS_2