
****
Di ruang tamu tampak kedua keluarga duduk berkumpul. Ditemani dengan hidangan yang sudah disiapkan, kedua keluarga mulai membicarakan pernikahan putra-putri mereka.
"Alhamdulillah Semua Sudah sepakat untuk menuju ke jenjang pernikahan,kini semuanya diserahkan kepada Husna,"ucap Abi sembari melemparkan pandangan kearah putrinya itu.
"Nak Husna menginginkan apa untuk dijadikan mahar? tanya pak Aditya.
" Setelah saya sah menjadi istri dari Raka,maka sepenuhnya diri saya adalah milik dari suami saya."
"Oleh karna itu, saya ingin mengajukan beberapa syarat."
"Dimana syarat ini akan menjadi syarat sahnya pernikahan kami nantinya," jelas Husna dengan nada yang sangat tenang.
" Apa syaratnya?" tanya Raka dengan nada ketus.
Sebenarnya ia sudah muak berada di tempat itu. Ia ingin sekali meninggalkan rumah Husna. Kemudian membatalkan perjodohan yang dilakukan kedua orang tuanya. Namun, Raka tidak cukup punya keberanian untuk melakukannya. Karena hal itu sama saja dengan ia tengah membangun jalan menuju tempat pengasingan yang sudah dipersiapkan oleh sang ayah. Ia benar-benar mengenal bagaimana ayahnya yang cukup tegas ketika memberikan hukuman pada siapapun yang membantah keputusannya. Tak terkecuali pada anak-anaknya sekalipun.
"Syarat yang pertama, Raka harus berjanji, jika selama pernikahan, saya masih sanggup untuk melaksanakan tugas saya sebagai seorang istri, maka Raka tidak akan menikah dengan perempuan lain."
"Dan Syarat yang kedua, Raka juga harus berjanji, Dia tidak akan pernah mengkhianati pernikahan kami dengan melakukan perselingkuhan."
"Itu saja syarat yang saya minta."
"Jika memang setuju, maka acara pernikahan bisa dipersiapkan,"ucap Husna.
" Bagaimana Raka apa kamu setuju?" tanya pak Aditya pada putranya.
Raka hanya mengangguk sebagai jawaban tanda setuju untuk syarat yang diajukan oleh Husna.
Akhirnya pembicaraan malam itupun selesai. Kini hanya tinggal mempersiapkan segala keperluan untuk proses pernikahan. Mereka sepakat acara pernikahan akan di gelar di kediaman Husna.
Setelah pembahasan pernikah sudah selesai, Ibu fatimah dan kedua anaknya berpamitan untuk mempersiapkan hidangan makan malam untuk pak Aditya dan keluarga.Sementara pak Irwan masih duduk menemani para tamunya itu.
Husna terlihat bolak-balik dengan cekatan menghidangkan beberapa makanan yang telah mereka siapkan. Berbagai masakan telah selesai ditata dimeja makan.
Husna melangkah menuju ruang tamu untuk mempersilakan abi dan juga keluarga pak Aditya untuk menikmati hidangan makan malam.
__ADS_1
" Maaf...makanannya sudah siap. Umi meminta abi dan yang lainnya ke ruang makan,"ucap Husna.
" Mari pak Aditya,bu Dewi,nak Raka dan nak Riko kita makan dulu,"ucap abi pada tamunya.
Pak Aditya dan keluarga berjalan kearah ruang tamu. Di sana sudah terlihat Hafiza dan buk Fatimah yang tengah menunggu kedatangan mereka.
"Mari semua silahkan duduk," Ucap bu Fatimah mempersilahkan tamunya.
Sementara itu, Husna sendiri yang tadinya berniat untuk kembali ke ruang makan, mengurungkan niatnya setelah mendengar suara seseorang tengah memberi salam.
Tok...tok..suara pintu diketuk.
"Asalamualakum ...,"terdengar suara seseorang memberi salam dari luar.
"Waalaikumsalam,"jawab Husna.
Ia sedikit meninggikan suaranya. Ia berharap agar tamunya itu bisa mendengar suaranya. Ia kemudian melangkahkan kakinya ke arah pintu utama di rumahnya itu.
ceklek ... suara pintu dibuka
Dan betapa terkejutnya Husna melihat sosok laki-laki yang kini berada di hadapannya itu.
Tubuh Husna seketika melemas tak berdaya. Entah kemana perginya tenaga Husna setelah melihat sosok Fahri yang saat ini berdiri tegak melemparkan senyuman ke arah dirinya.
"Assalamualaikum bidadari sholehah." "Apa kabar? tanya Fahri ketika ia telah bertemu dengan wanita yang selama ini dirindukannya.
" Waalaikumsalam."
"Alhamdulillah baik,"balas Husna dengan kepala yang kini ditundukkannya.
Fahri dan Husna bertemu saat mereka dulu sama-sama berada di Kairo. Pertemuan yang tidak pernah disengaja.
falsback.
Fahri adalah mahasiswa asal Indonesia yang mendapatkan beasiswa dan berkesempatan untuk berkuliah di kairo.Beasiswa itu didapatkan karna kemampuan hafalan Al-Qur'an dan suaranya yang sangat merdu ketika ia melantunkan bacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an.
Fahri yang bekerja sebagai seorang pelayan di sebuah restoran sering memperhatikan wanita bercadar itu sering datang ketempatnya bekerja.
__ADS_1
Suatu hari Fahri tanpa sengaja melihat buku catatan milik Husna yang saat itu tertinggal di meja restoran.Fahri kemudian berlari menghampiri Husna untuk mengembalikan buku catatan itu.
" Maaf apa ini buku milik anda? " tanya fahri setelah berhasil mengejar Husna yang pada saat itu sudah berada di pintu keluar?
Husna seketika menghentikan langkah kakinya. Ia kemudian mengalihkan pandangan ke arah Fahri yang saat itu terlihat memegang bukunya.
" Ya ini buku milik saya,terimakasih," balas Husna sembari mengambil buku yang ada di tangan Fahri.
Fahri yang pada dasarnya sudah cukup sering memperhatikan Husna dari jauh kini mencoba untuk memberanikan diri untuk bertanya pada Husna.
" Maaf apakah saya boleh mengenalmu?"tanya fahri.
Husna sekilas memperhatikan Fahri. Lalu kembali menundukkan pandangannya. Hatinya berdetak kencang tak menentu mendengar pertanyaan Fahri.
"Sebaiknya Anda terlebih dahulu mengenal seseorang yang lebih berhak atas diri saya,"balas Husna sambil menuliskan alamat dan nomor telepon orang tuanya.
Husna merobekkan kertas itu dan memberikan kepada Fahri. Husna kemudian melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.
Ia meninggalkan Fahri yang masih memperhatikan kertas yang diberikannya.
Semenjak itu Fahri dan Husna menyimpan sebuah rasa dalam diam. Mereka hanya mengutarakan perasaan mereka masing-masing melalui untaian doa disepertiga malam. Berharap suatu saat getaran-getran cinta mereka akan dipersatukan melalui ikatan halal sebuah pernikahan.
Falsback off.
"Husna maafkan mas Fahri yang selama ini tak pernah memberi kabar."
"Namun, Mas Fahri sudah berjanji ketika Mas Fahri sudah sukses, Mas akan kesini untuk melamarmu."ucap Fahri.
"Husna, siapa tamunya?"suara umi terdengar dari arah belakang.
"Umi, kenalin ini mas Fahri yang dulu pernah menelpon ke ruamah,"jelas Husna.
" Assalamualaikum,umi."
" Saya Fahri,"ucap fahri sembari mengatupkan kedua tangannya sebagai tanda memberi salam.
"Silahkan masuk dulu nak Fahri,"ucap umi mempersilakan Fahri.
__ADS_1
Umi mengarahkan pandangannya kearah Husna. Begitupun dengan Husna. Umi sangat memahami perasaan putrinya saat ini. Ia kemudian mengelus punggung Husna berharap apa yang dilakukan itu bisa memberikan kekuatan untuk Husna.
♡ Hapyy reading ya..jangan lupa tinggalkan dukungannya..makasih.♡